Billboard Ads

Hoax Menurut Islam, Naudzubillah Ternyata Menyebar Hoax Masuk Kategori Dosa Besar Setingkat Dengan Dosa Pelaku LGBT

Arrahmah.co.id - Sejarah Islam mencatat dan menggarisbawahi tentang bahaya berita bohong (hoax). Berita bohong memang menjadi momok, yang dengan mudah memporak-porandakan tatanan masyarakat. 

Tidak kurang dari seorang istri Nabi yang mulia, ‘Aisyah ra, pernah mendapatkan tuduhan bohong, yaitu ketika beliau tertinggal dari rombongan besar kaum muslimin, setelah di malam hari beliau mencari-cari kalung yang terjatuh.

Beliau akhirnya ditemukan oleh seorang sahabat, dan diantarkan ke rombongan yang sempat meninggalkannya. Namun masyarakat muslim waktu itu sempat kacau karena munculnya desas-desus berupa tuduhan bahwa ‘Aisyah ra telah selingkuh. Beberapa bahkan ada yang meminta Rasulullah menceraikan ‘Aisyah.

Issue ini berakhir setelah Allah SWT menurunkan 10 ayat, sekaligus pembelaan kepada ‘Aisyah. Salah satu ayatnya adalah:

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11)

Ini adalah ayat yang sangat tegas dari Qur’an yang menyatakan besarnya adzab bagi penyebar berita bohong (haditsul ifk), atau dalam bahasa sekarang kita sebut dengan Hoax.

Sebegitu bahanya berita bohong Islam menggarisbawahinya dengan jelas, sementara Islam juga memunculkan sosok Rasulullah SAW, sebagai seorang yang Siddiq, Amanah, Tablik, dan Fatonah, sama sekali jauh dari pribadi yang suka menyebar kebohongan.

Lalu bagaimana pandangan Islam mengenai berita bohong atau hoax? Ustadz Fathuri Ahza Mumtaza secara khusus memberi poin-poin pandangan Islam mengenai hoax, berikut ulasannya:

1. Hoax adalah berita palsu atau bohong, di mana pasti akan tercatat di buku amal kita

Dalam Al-Qur’an disebutkan, “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (An-Nur ayat 15)

2. Berita Hoax dalam Al-Qur’an disebut dengan julukan fahisyah

Disebutkan dalam Al-Qur’an An-Nur ayat 19, “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) yang amat keji (fahisyah) itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.”

Fahisyah atau al-fahsy adalah sesuatu yang sangat buruk, baik berupa perkataan (seperti menyebar berita bohong) maupun perbuatan (seperti zina). Fahisyah dicela dan sangat dilarang agama karena perbuatan-perbuatan itu masuk dosa besar. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, juz 32, hal. 53). Yang termasuk fahisyah adalah liwath, yaitu berhubungan melalui dubur antara laki-laki, seperti kaum Nabi Luth.

3. Menyebar berita bohong bahkan disebut sebagai dosa besar terbesar, selain syirik dan durhaka pada orang tua. 

Dari riwayat Bukhari. Rasulullah bersabda: "Maukah kalian aku beritahu tentang sebesar-besar dosa besar? Yaitu mempersekutukan Allah dan durhaka pada kedua orang tua. Ketahuilah juga, termasuk perkataan/persaksian dusta/palsu.”

4. Menyebar berita bohong tingkatnya hanya sedikit di bawah syirik. 

Al-Haj ayat 30: “Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.”

5. Menyebar berita bohong akan mendapat azab yang pedih dari Allah. 

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji (fahisyah) itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (An-Nur ayat 19)

Karena itu cek dan riceklah sebuah berita, tulisan, foto, atau video. Jika tidak yakin kebenarannya, maka tahanlah jarimu.

Oleh: Ustadz Fathuri Ahza Mumtaza
Editor: Ibnu Yaqzan