Beranda News Nasional Astagfirullah! Lelaki Tua Pengamen Ini Beri Obat Tidur pada Bayi yang Diajaknya...

Astagfirullah! Lelaki Tua Pengamen Ini Beri Obat Tidur pada Bayi yang Diajaknya Agar Tidak Rewel

7
0
Astagfirullah! Lelaki Tua Pengamen Ini Beri Obat Tidur pada Bayi yang Diajaknya Agar Tidak Rewel

ARRAHMAH.CO.ID – Balita yang bersama seorang kakek berinisial Z diduga diberi obat tidur. Diduga pemberian obat itu bertujuan agar kondisi sang bayi tak rewel.

” Nanti tergantung hasil kesimpulan penyidik unsurnya seperti apa, dia ngasih obat tidur unsurnya apakah memang sakit ?” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, baru-baru ini.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Roma Hutajulu mengatakan, Z sehari-hari mengamen dengan membawa suling.

Dia juga mengajak anak bayinya agar orang lain merasa iba sehingga bisa mendapatkan uang lebih banyak.

” Berdasarkan keterangan dari Z, membawa bayinya mengamen agar mendapat penghasilan lebih,” ucap Roma.

loading...

Kasus ini berawal dari unggahan akun Instagram @nanaaelani yang mengunggah video itu hingga menjadi viral.

” Kejadiannya di Sarinah, Jakarta sekitar pukul 22.00 WIB kemarin malam (Rabu, 13 Februari 2018),” kata pemilik akun kepada Dream melalui pesan langsung (DM) Instagram.

Lama Menjadi Kebiasaan Para Pengemis

Ternyata kasus serupa tak hanya dilakukan oleh Z dan menimpa anak yang dibawanya. Demi mendapatkan rupiah lebih banyak, satu modus yang dilakukan adalah menyewa bayi untuk mengemis.

Tujuannya agar masyarakat yang melihat menjadi lebih iba dan memberikan uangnya. Untuk melancarkan aksinya, tidak jarang para pengemis memberikan obat CTM kepada anak sewaan yang dibawanya. Dengan diberi CTM, anak sewaan tersebut akan tertidur dan mudah dibawa untuk mengemis. Beberapa waktu lalu petugas Sudin Sosial Jakarta Pusat melakukan razia dengan sasaran pengemis yang membawa balita.

Dikutip dari Sindonews, ditemukan 17 pengemis ditangkap dengan enam orang di antaranya kedapatan membawa balita. Kepala Sudin Sosial Jakarta Pusat Susana Budi Susilowati mengatakan, pihaknya sudah melihat indikasi ada pemberian obat CTM kepada balita. Untuk itu, pihaknya gencar melakukan razia. Biasanya saat Sudin Sosial gencar melakukan razia, para pengemis mengubah jam operasionalnya.

Sudin Sosial kerap melakukan razia pada pukul 10.00 WIB dan 16.00 WIB. Namun, saat ini para pengemis bergeser ke waktu yang lebih malam antara pukul 18.00-20.00 WIB. ”Kemarin kita menjaring beberapa pengemis dan joki 3 in 1 membawa balita,” katanya pada Rabu (01/04/2015). Untuk mengetahui ada dugaan penggunaan CTM yang digunakan pengemis, Sudin Sosial bekerja sama dengan Sudin Kesehatan.

”Kita sebatas menertibkan PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial). Bila ada dicurigakan penggunaan obat tidur, kita minta dari kesehatan melakukan pemeriksaan,” paparnya. Pemberian CTM, sambung Susan, dilakukan pengemis terhadap balita dengan tujuan agar si anak lelap saat diajak mengemis hingga membuat warga iba. ”Dengan begitu, pengemis juga mendapat uang lebih banyak,” sebutnya.

Warningsih, 35, salah satu PMKS yang tertangkap petugas, membantah dia memberikan CTM kepada balita saat mengemis. ”Ini anak kandung saya Pak. Masak saya tega. Nanti kalau kenapa-kenapa, saya juga yang susah,” ucapnya. Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede mengatakan, Sudin Kesehatan sudah memberikan hasil tes urine terhadap enam balita yang diduga diberikan obat tidur.

Namun, setelah dilakukan tes urine tidak ditemukan zat obat tidur, melainkan obat alergi yakni CTM. Meski hanya obat alergi, efek dari obat tersebut adalah mengantuk. Jika diberikan secara terusmenerus kepada balita tentu akan ada efek sampingnya. Efek samping yang pertama adalah berkurangnya fungsi otak dari anak tersebut.

Ini terjadi karena anak tersebut dipaksa tidur sehingga otak yang seharusnya berkembang tidak bekerja efektif. Efeksampinglainadalahgagal ginjal. Ginjal balita masih terbilang halus, namun terus dimasukkanobatyangmerupakanhasil olahan bahan kimia, tentu akan terjadi efek samping. Lebih lanjut Manggara mengatakan, obat tersebut banyak beredar dan mudah didapat serta murah.

Para pengemis pun bisa mendapatkannya. ”Ke depan kita akan melakukan pembinaan terhadap para pengemis agar tidak menggunakan balita untukmencarirupiah,” ucapnya. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Erlinda mengatakan, menggunakan bayi untuk mengemis sudah merupakan child abuse.

Apalagi memberikan obat agar anak tidak rewel, tentu hal tersebut sudah merupakan pelanggaran. Untuk mengatasi hal tersebut, KPAI kerap mendatangi kawasan yang ada pengemis dan melakukan pembinaan bahwa penggunaan balita untuk tujuan mengemis tidak dibenarkan. ”Kita sudah sering berikan penyuluhankePMKS, namun kenyataan di lapangan cukup berbeda,” ujarnya. (Dream.co.id/Sindonews.com)

Editor: Muhammad Iqbal

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.