Billboard Ads

ARRAHMAH.CO.ID - Menutup tahun 2017 dan mengawali Tahun 2018, Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ), sebagai organisasi yang memayungi ratusan ribu insan pendidikan membuat catatan-catatan, evaluasi dan refleksi atas dunia pendidikan dan sekaligus memberikan masukan, rekomendasi untuk perbaikan pendidikan ke depan.

Ketua Umum IKA UNJ Juri Ardiantoro mengatakan, catatan ini perlu difokuskan pada masalah-masalah kekinian untuk dicarikan jalan keluar penyelesaian atau penanganannya.

Sepanjang tahun 2017, meskipun banyak kemajuan dalam bidang pendidikan, baik dalam kebijakan maupun implementasi, namun tidak mengingkari masih terdapat masalah yang tetap menghantui nasib pendidikan.

Juri Ardiantoro, melansir munculnya benih paham radikalisme dan krisis nasionalisme. "Mungkin tidak terlalu tepat jika disimpulkan bahwa banyak anak didik kita usia sekolah sudah terpapar ideologi radikal," ungkap Juri Ardiantoro, Selasa (2/1).

Namun jika mengikuti sejumlah survei menunjukkan terdapat benih-benih radikalisme dan saat yang sama meningkatnya krisis nasionalisme.

"Isu baru inilah yang mesti mendapatkan perhatian dari penataan dan perbaikan penyelenggaraan pendidikan kita, karena jika elemen tersebut menguat akan menjadi batu sandungan bagi pencapaian tujuan-tujuan pendidikan kita," papar dia.

Survei terbaru (2017) yang dilakukan oleh Alvara Research Center pada SMA Negeri di Jawa dan beberapa kota luar Jawa misalnya, menunjukkan terhadap para pelajar dan mahasiswa antara lain menyebutkan 23,5 persen mahasiswa dan 16,3 persen pelajar SMA setuju dengan terbentuknya negara Islam.

Tak hanya itu, sebanyak 23,4 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar menyatakan rela berjihad demi tegaknya negara Islam atau khilafah. Hasil survei juga mencatat 18,6 persen mahasiswa dan 16,8 persen pelajar memilih ideologi Islam lebih tepat untuk Indonesia.

Selanjutnya, sebanyak 17,8 persen mahasiswa dan 18,3 persen pelajar menyatakan setuju khilafah sebagai bentuk negara.

Adapun mahasiswa yang menyatakan siap berjihad untuk tegaknya negara Islam atau khilafah sebesar 23,4 persen dan pelajar sebesar 23,3 persen.

Survei itu telah melengkapi survei-survei sebelumnya yang menunjukkan kecenderungan yang sama, seperti survei SETARA Institute for Democracy and Peace (SIDP) yang dilakukan pada siswa SMA negeri di Bandung dan Jakarta tahun 2015 menunjukkan, sekitar 8,5 persen siswa setuju dasar negara diganti dengan agama dan 9,8 persen siswa mendukung gerakan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).

"Meski relatif sedikit, fakta ini mengkhawatirkan karena sekolah negeri selama ini cukup menekankan kebangsaan," tutur dia.


Oleh karena itu, IKA UNJ merekomendasikan, kekerasan tidak boleh dibiarkan dan dihentikan dengan harus dibuat komitmen bersama yang mengikat antara pemerintah, institusi pendidikan dan stakeholders pendidikan lainnya.