Billboard Ads

Oleh: Dr. Agus Zainal Arifin

ARRAHMAH.CO.ID - Di antara para pemeluk agama akan ada saja sekte yang anti merayakan apapun, termasuk hari ulang tahun.

Jangankan merayakan hari ulang tahun negaranya, merayakan hari ulang tahun Nabi yang membawa ajaran agama yang diklaim oleh sektenya sendiripun dia anti.

Kebiasaan anti merayakan apapun itu memang sangat tidak lazim. Tapi biarkan saja, tidak perlu diladeni celaannya, sebab dia akan dimakan zaman, sirna dengan sendirinya.

Secara natural, setiap manusia memerlukan momen perayaan, baik momen keberhasilan maupun momen kebahagiaan, baik yang terjadi pada dirinya, kelompoknya, keluarganya, maupun siapapun yang dikasihinya.

Merayakan atau mengingat kembali secara periodik atas suatu kenikmatan spesial itu juga merupakan bentuk terima kasih kepada Tuhan. Dan itu adalah konsekuensi perintah syukur yang perlu direalisasikan dalam sebuah aktifitas riil.

Satu lagi, momen penghayatan atau tafakur terhadap nikmat juga dibutuhkan.

Tanpa momen itu, maka mencari waktu khusus untuk memikirkannya akan sangat sulit, tidak akan sempat, sebab manusia itu makhluk sibuk.

Jadi tafakur nikmat itu hampir pasti tidak akan sempat. Padahal merenungi esensi dan memaknai kembali momen kegembiraan itu dibutuhkan untuk mengevaluasi kembali arah sikap dan tindakan.

Khusus untuk tahun baru, Bangsa Indonesia harus banyak bersyukur.

Tidak banyak negara yang memiliki perayaan tahun baru sebanyak kita. Indonesia punya 4, Tahun Baru Masehi, Hijriah, Imlek, dan Suro.

Di setiap momen 4 itu bahkan ada doa khusus yang dilantunkan, ada kalimat khusus yang diucapkan, dan ada simbol khusus yang diekspresikan.

Semuanya merangkumkan kegembiraan memasuki periode baru penghitungan masa.

Dan yang pasti lagi, tanggal merah Libur Tahun Baru kita nambah, yang berarti liburan kita jadi banyak.