Billboard Ads

Bolehkan Meminum Air Kencing Unta Untuk Obat? Simak Penjelasan

ARRAHMAH.CO.ID - Bagi sebagian umat Islam, terlebih yang tinggal di kawasan Teluk dan Timur Tengah, ada kebiasaan meminum urin unta. Salah satu alasannya, urin unta memiliki khasiat tertentu untuk menyembuhkan penyakit.

Tentu hal ini tidak lazim dilakukan oleh Muslim lainnya. Apalagi mereka yang tinggal di negara yang bukan habitat unta.

Berita Viral: Heboh Video Ustadz 212 Ini 'Promosikan' Minum Air Kencing Unta Bisa Jadi Obat

Muncul pertanyaan bagaimana para ulama fikih mengkaji hal ini, mengingat urin termasuk benda yang keluar dari lubang kemaluan yang tergolong najis?

Dikutip dari rubrik Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama, para ulama membagi benda najis dalam dua kategori. Pertama, benda yang disepakati najis oleh jumhur ulama seperti daging babi, darah, air kencing manusia, muntahan dan kotoran manusia, khamr, nanah, dan lain sebagainya.

Kedua, benda yang kenajisannya masih menjadi perdebatan di antara para ulama. Beberapa di antaranya seperti anjing, kulit bangkai, air kencing anak kecil yang belum makan apa-apa selain ASI, mani, cairan pada nanah, termasuk juga urin unta.

Syeikh Wahbah Az Zuhayli memberikan penjelasan cukup rinci mengenai hal ini dalam kitab Al Fiqhul Islami wa Adillatuh.

" Jenis kedua adalah najis yang masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ahli fikih berbeda pendapat perihal status najis sejumlah benda ini... Salah satunya adalah air kencing, kotoran, dan zat sisa tubuh hewan yang boleh dimakan. Di sini pandangan ulama fikih terbelah menjadi dua. Satu pandangan menyatakan suci. Sementara pandangan lainya menyatakan najis. Pandangan pertama dianut oleh madzhab Maliki dan Hanbali. Sedangkan pandangan kedua diwakili oleh madzhab Hanafi dan madzhab Syafi'i."

Mazhab Maliki dan Hambali berpandangan air kencing dan kotoran hewan halal dimakan tidak najis. Bagi Mazhab Maliki, status hukum air kencing dan kotoran hewan didasarkan pada apa yang dikonsumsi hewan itu.

Dasar pandangan ini adalah hadis tentang izin yang diberikan Rasulullah SAW kepada kaum Urani untuk mengonsumsi urin unta dan susu unta.

Dalil Ulama yang Mengharamkan


Sementara Mazhab Hanafi dan Syafi'i berpandangan urin dan kotoran hewan halal tetaplah najis. Dalam pandangan dua mazhab ini, urin dan kotoran adalah benda yang keluar dari lubang kemaluan. Meski daging hewannya halal, urin dan kotoran tetaplah haram dikonsumsi.

Dasarnya adalah hadis Rasulullah yang menyatakan kotoran hewan adalah najis. Sementara terkait hadis tentang izin Rasulullah kepada kaum Urani sebagai bentuk kedaruratan. Hal ini dijelaskan gamblang oleh Syeikh Az Zuhayli.

" Madzhab Syafi'i dan Hanafi berpendapat bahwa air kencing, muntah, dan kotoran baik hewan maupun manusia mutlak najis sesuai perintah Rasulullah SAW untuk membasuh air kencing Arab badui di masjid, sabda Rasulullah SAW perihal ahli kubur, 'salah satunya tidak bersuci dari air kencing,' sabda Rasulullah SAW sebelumnya, 'Bersucilah dari air kencing,' dan hadits sebelumnya bahwa Rasulullah SAW–ketika dua buah batu dan sepotong kotoran binatang yang mengering dihadirkan di hadapannya untuk digunakan istinja–mengambil kedua batu, dan menolak kotoran. 'Ini adalah najis,' kata Rasulullah SAW. Sementara muntah–sekalipun tidak berubah bentuk adalah sesuatu yang keluar dari dalam perut–adalah najis karena ia termasuk sisa tubuh yang 'berubah' seperti air kencing. Hal ini sama najisnya dengan lendir yang keluar dari dalam perut. Lain soal dengan lendir yang turun dari kepala, pangkal tenggorokan atau dada. Lendir ini suci. Sedangkan terkait perintah Rasulullah kepada warga Uraniyin untuk meminum air kencing unta, maka ini berlaku untuk pengobatan. Pengobatan dengan menggunakan benda najis boleh ketika obat dari benda suci tidak ditemukan dan benda najis dapat menggantikannya."

Hadist Tentang Minum Air Kencing Unta Sebagai Obat


Diriwayatkan Nabi Muhammad saw. pernah memerintahkan sekelompok orang untuk meminum air kencing dan susu unta. Dalam Shahih al-Bukhari diriwayatkan sebagai berikut:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوْا الْمَدِيْنَةَ، فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِلِقَاحٍ، وَأَنْ يَشْرَبُوْا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا، فَانْطَلَقُوْا فَلَمَّا صَحُّوْا قَتَلُوْا رَاعِيَ النَّبِيِّ، وَاسْتَاقُوْا النَّعَمَ، فَجَاءَ الْخَبَرُ فِيْ أَوَّلِ النَّهَارِ، فَبَعَثَ فِيْ آثَارِهِمْ، فَلَمَّا ارْتَفَعَ النَّهَارُ جِيْئَ بِهِمْ، فَأَمَرَ فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ وَسُمِرَتْ أَعْيُنُهُمْ وَأُلْقُوْا فِيْ الْحَرَّةِ يَسْتَسْقُوْنَ فَلَا يُسْقَوْنَ، الحديث. (رواه البخاري)

Dari Anas ra. berkata: Sekelompok orang datang dari Suku ‘Ukl atau ‘Urainah, lalu mereka merasa tidak nyaman di Madinah (hingga sakit). Kemudian Nabi Muhammad saw. menyuruh mereka untuk mendatangi unta dan meminum air kencing dan susunya, lalu mereka pergi menuju kandang unta. Ketika sudah sembuh, mereka membunuh penggembala unta Nabi saw. dan membawa kabur unta-unta tersebut. Kemudian kabar tersebut datang kepada Nabi saw. menjelang siang, lalu beliau mengutus orang untuk menelusuri jejak mereka. Ketika matahari sudah meninggi, utusan tersebut datang membawa mereka. Kemudian Nabi saw. memerintahkan untuk memotong tangan dan kaki mereka, mencongkel mata mereka, lalu mereka dibuang di padang pasir yang panas. Mereka meminta minum namun tidak diberi (minum). (HR. Al-Bukhari)

Dalam hadis yang berakhir tragis diatas, Nabi saw. menyuruh sekelompok orang tersebut untuk meminum air kencing dan susu unta. Hal inilah yang sengaja dipraktekkan oleh Ustadz Bachtiar Nasir, mencampur air kencing dan susu unta kemudian meminumnya. Berdasarkan fakta tersebut, banyak yang merespon tentang bagaimana cara memahami dan mengamalkan substansi suatu hadis.

Pemahaman terhadap teks hadis merupakan salah satu aspek yang harus menjadi perhatian, disamping juga mengetahui bagaimana keorisinilan hadis untuk dapat diamalkan. Selain itu, perlu adanya konfirmasi terhadap literatur syarah(penjelas) suatu hadis apakah bisa diamalkan atau tidak.

Dalam Syarah Shahih al-Bukhari, Ibnu Batthal menjelaskan bahwa terdapat dua pendapat yang merespon hadis tersebut. Pertama, air kencing unta tersebut dihukumi suci menurut Atha’, an-Nakha’i, az-Zuhri, Ibnu Sirin, Malik bin Anas, dan lain sebagainya. Kelompok yang pertama ini berpendapat bahwa hadis tersebut menunjukkan tentang bolehnya meminum air kencing dan memposisikannya seperti air susu. Mereka menganggap bahwa tidak mungkin Nabi saw. memerintahkan meminum air kencing unta apabila memang dihukumi najis. Kedua, air kencing unta tersebut dihukumi najis menurut Abu Hanifah, asy-Syafi’i, Abu Tsaur, Hammad, dan lain sebagainya. Kelompok yang kedua ini berpendapat bahwa air kencing dihukumi najis dan―berdasarkan hadis tersebut―hanya boleh diminum bagi orang yang sakit.

Selanjutnya, mengamalkan suatu hadis juga perlu dikonfirmasi konteks yang melatarbelakanginya, syari’at pengamalannya, maupun tujuan yang menyertainya. Lebih lanjut, dalam kitab Kaifa Nata’amal ma’a as-Sunnah an-Nabawiyah, Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan tentang tiga prinsip dasar dalam memahami dan mengamalkan suatu hadis, yaitu sebagai berikut:

Meneliti dengan seksama kesahihan hadis yang dimaksud sesuai dengan acuan ilmiah yang telah ditetapkan oleh para pakar hadis yang kredibel.

Memastikan bahwa teks tersebut tidak bertentangan dengan al-Qur’an atau hadis lainnya yang lebih kuat kedudukannya.

Memahami dengan benar teks-teks hadis yang berasal dari Nabi saw sesuai dengan makna tekstual, kontekstual, serta sebab munculnya hadis tersebut.
Berdasarkan poin pertama, hadis tentang air kencing unta tersebut memang shahih, mengingat diriwayatkan―setidaknya―dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim―yang tidak diragukan lagi kredibilitasnya.

Berdasarkan poin kedua, hadis tersebut tampak bertentangan dengan ayat-ayat yang menjelaskan tentang keharaman mengkonsumsi sesuatu yang najis dan menjijikkan. Dalam Ma’ayir al-Halal wa al-Haram, Ali Mustafa Yaqub mengelompokkan air kencing ke dalam kategori sesuatu yang najis dan menjijikkan, bahkan term menjijikkan terkadang bisa dimaknai dengan najis. Selain itu, meminum air kencing juga dianggap mengkonsumsi sesuatu yang najis dan menjijikkan.

Berdasarkan poin ketiga, hadis tersebut harus dimaknai tidak hanya secara tekstual, melainkan juga secara kontekstual serta aspek-aspek yang menyebabkan munculnya hadis tersebut. Aspek munculnya kebolehan minum air kencing unta dalam hadis tersebut disebabkan kondisi darurat yang dialami oleh sekelompok orang. Kondisi darurat adalah ketika terjadi suatu hal yang mengancam jiwa dan keselamatan. Apabila hanya sekedar sakit saja, maka belum bisa diklaim sebagai kondisi darurat. Perlu diperiksa kembali oleh ahli kesehatan apakah sakit tersebut mengancam jiwa dan keselamatan seseorang.

Secara kontekstual, Yusuf al-Qaradhawi mengkritik banyak orang yang keliru memahami hadis dengan mencampuradukkan antara sarana dan tujuan. Jika memang air kencing unta diklaim sebagai bagian dari ath-thib an-nabawi, maka hal tersebut seharusnya lebih cenderung dipahami sebagai sarana saja. Lebih lanjut, setiap sarana dan prasarana, mungkin saja berubah dari suatu masa ke masa lainnya, dan dari suatu lingkungan ke lingkungan lainnya, bahkan semua itu pasti mengalami perubahan. Oleh sebab itu, apabila suatu hadis menunjuk kepada sesuatu yang menyangkut sarana atau prasarana tertentu, maka itu hanyalah untuk menjelaskan tentang suatu fakta, namun sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengikat manusia dengan sarananya.


Berdasarkan kontekstualisasi diatas, perkembangan obat-obatan dari masa ke masa mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Konteks air kencing unta tersebut kurang relevan jika diterapkan sebagai obat-obatan pada jaman sekarang, mengingat industri farmasi sudah berhasil mengembangkan obat-obatan yang jauh dari unsur najis dan menjijikkan. Oleh karenanya, tujuan utama dari pengobatan adalah agar tubuh kembali sehat seperti sedia kala, bukan sekedar terpaku pada jenis pengobatannya saja.

WHO Ingatkan Jangan Sembarangan Minum Urin Unta

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015 sudah angkat bicara melarang orang minum air kencing unta. Larangan minum air kencing unta diserukan WHO sebagai upaya mencegah masyarakat terkena penyakit saluran pernapasan oleh virus korona atau Middle East Respiratory Syndrome (MERS) yang saat itu mewabah.

Mengutip laman Independent, WHO curiga virus ini benar-benar menyebar ke manusia dari hewan menyusul laporan seorang pria yang terkena strain MERS karena memiliki unta dan sapi. Teori ini semakin memperkuat dugaan penyebaran virus dan bahaya unta.

Para pasien yang terkena virus cenderung memiliki penyakit kronis bawaan. "Penderita diabetes, gagal ginjal, dan penyakit paru-paru kronis berisiko tinggi terjangkit MERS. Jaga kebersihan umum seperti menghindari kontak dekat dengan hewan, terutama unta, dan cuci tangan setelah melakukan kontak dengan hewan. Ini harus dipatuhi," tulis WHO.

Lalu meminta masyarakat menjalankan praktik kebersihan makanan. "Menghindari minum susu unta mentah atau air kencing unta, atau makan daging yang belum dimasak dengan matang," tulis WHO dalam website resmi, seperti mengutip Rabu (10/1/2018).

Di laman resmi WHO bertanggal 15 Mei 2017 disebutkan alasan tidak disarankan mengonsumsi produk hewani mentah atau yang tidak dimasak sampai matang. Hal itu karena berisiko tinggi meningkatkan infeksi organisme dari hewan tersebut ke manusia. (NUOnline/Islami.co/Liputan6)