Billboard Ads

Prof. Kato dan Gus Dur
Prof. Kato dan Gus Dur. Image: Serba-Seribu Gus Dur
ARRAHMAH.CO.ID - Dalam kunjungan ke Universitas Chuo di Tokyo Jepang, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin akrab berbincang dengan seorang akademisi yang ramah. Dia adalah Hisanori Kato, guru besar antropologi di kampus itu. Pak Kato, begitu ia biasa disapa, antusias bercerita tentang Indonesia.

Ia menginjak pertama kali tanah Indonesia pada 1995. Selama tujuh tahun ia tinggal di Jakarta sambil sesekali ke luar daerah untuk keperluan risetnya. Cukup banyak pengalaman hidup yang membuatnya fasih bicara tentang budaya Indonesia.

“Saya sangat mencintai Indonesia,” katanya dengan Bahasa Indonesia yang fasih.

Pak Kato mengaku terkesan dengan keunikan budaya Indonesia. Di ruang kerjanya yang sederhana, terpajang sejumlah souvenir dan ornamen khas Indonesia. Ada wayang dan keris di atas meja kerja. Ratusan judul buku berbahasa Indonesia maupun bertemakan Indonesia berjajar rapi di rak berwarna putih bersih. Di sepanjang dinding tertempel hiasan kain batik. Ada juga kaligrafi Arab bertuliskan surat Ayat Kursi seperti yang biasa didapati keluarga Muslim di Indonesia.

“Indonesia banget kan?” katanya berseloroh seolah ingin membuktikan kecintaannya pada Indonesia.

Indonesia ibarat Tanah Air kedua bagi Pak Kato. Ia merasa nyaman hidup di Indonesia yang masyarakatnya ramah dan baik hati. Selepas pensiun ia bahkan ingin tinggal di Indonesia. Sikap ini diakuinya bertolak belakang dengan perasaannya ketika masa awal tinggal di Jakarta. Ia mengaku sempat membenci  orang Indonesia karena berbagai pengalaman buruk seperti sering kecopetan saat naik bus kota.

Pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika menjadi pengamen jalanan di Jakarta yang terik dan macet. “Ya, saya mengamen di bus Damri P 01 jurusan Blok M – Kota. Mangkalnya di Terminal Blok M,” ujarnya meyakinkan.

Rabu (15/11) itu, mestinya Pak Kato sebentar saja menyambut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di ruang kerjanya yang sempit. Sekadar transit sebelum Menag Lukman memberikan kuliah umum di depan mahasiswa. Namun obrolan berlangsung hangat sampai tak terasa waktu molor 40 menit dari jadwal.

Pak Kato mengemukakan pandangannya tentang Indonesia saat ini di kalangan masyarakat Jepang. Menurutnya, Indonesia sedang dilanda Islamisasi atau “Syariahisasi”. Di media-media Jepang beredar berita bahwa di Indonesia marak paham radikal dan tumbuh kekuatan-kekuatan politik Islam paska Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Dikhawatirkan timbul konflik horizontal yang berkepanjangan akibat menguatkan politik identitas.

Meski demikian, ia meyakini Indonesia tak akan seperti sejumlah negara Islam di Timur Tengah. Sebab, pola keberagamaan masyarakat Indonesia sangat berbeda dibandingkan negara-negara yang kini dilanda konflik. Dalam beragama, kata dia, orang Indonesia sangat moderat. Ada ciri khas tersendiri berupa kuatnya hubungan antara Islam dan budaya. Karenanya, Indonesia memiliki peran strategis dalam memasarkan Islam yang ramah ke seluruh penjuru dunia. Islam yang ramah, kata dia, “Artinya ajaran Islam yang kompatibel dengan tradisi dan modernitas.”

Belakangan, ia mengenal corak keberagamaan seperti itu dalam istilah Islam Nusantara. Baginya, Islam Nusantara memiliki daya tarik yang kuat karena ada dialog intensif antara agama dan peradaban yang dipengaruhi lingkungan, sejarah, dan sebagainya. Rupanya ia begitu terkesan dengan Islam Nusantara yang dianggapnya unik.

“Meski cara ibadahnya tidak berubah, tetapi banyak aspek keagamaannya yang berubah," katanya antusias dengan ekspresi serius.

Keunikan Islam Nusantara dapat juga dilihat kasat mata dalam ekspresi masyarakat terhadap tokoh agama, ia meneruskan pendapatnya sambil sedikit merenung, mungkin mengingat saat berada di Indonesia. Umumnya masyarakat Indonesia sangat menghormati ulama. Ada semacam tradisi khas yang dibangun melalui dialektika agama dan budaya yang tidak ditemukan di negara-negara Timur Tengah.

“Di Jombang, kyai sangat dihormati santri. Para santri mencium tangan kyai dengan penuh hormat,” katanya memberi contoh.


Pengagum Gus Dur


Di tengah diskusi yang semakin menarik karena bisa menikmati suguhan teh hijau hangat khas Jepang, pak Kato tiba-tiba bercerita tentang kedekatannya dengan alm. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Baginya, Gus Dur adalah salah satu orang yang menginspirasi hidupnya. Belum ada orang yang bisa menggantikan Gus Dur saat ini. Menurutnya Gus Dur adalah pejuang demokrasi, memiliki pemahaman agama yang mendalam, seorang pluralis, mengayomi kelompok minoritas, dan memiliki selera humor yang tinggi.

"Saya sangat sedih saat mendengar Gus Dur meninggal dunia. Saya sangat kehilangan sosoknya. Saya kangen sekali dengan humor-humornya yang segar dan cerdas. Beberapa kali bertemu dengan beliau, dan saya sangat senang dengan beliau", ujarnya sedih dengan sorot matanya berkaca-kaca.

Lalu dengan spontan, Kabalitbang Kemenag, Abdurrahman Mas'ud menyela pembicaraan agar semua yang hadir berhenti sejenak mendoakan alm. Gus Dur dengan membaca Alfatihah. Suasana pun tiba-tiba terasa hening, makin membersitkan rindu dan cinta pada sosok Gus Dur.

Seakan mendapatkan spirit yang kuat dan berada dalam frekuensi yang sama setelah mendengar kisah Kato tentang Gus Dur, Menag Lukman semakin tertarik dalam berdiskusi. Hal itu nampak dari mimik wajahnya yang sangat sumringah, gerak tubuhnya yang ekspresif, dan antusiasme melanjutkan pembicaraan.

Sebagai santri yang juga adik iparnya, Lukman tentu punya kesan dan cerita banyak tentang Gus Dur. Lukman menyampaikan bahwa Gus Dur adalah sosok yang sangat dihormati masyarakat Indonesia dan dunia.

Suasana diskusi menjadi semakin cair karena keduanya saling bergantian bertukar cerita tentang humor-humor ala Gus Dur hingga pertemuan semakin seru seiring gelak tawa yang mengiringi. Beberapa humor Gus Dur yang mengemuka saat itu terkait dengan hubungan antarumat beragama. Bagi sebagian orang, perbedaan agama dilihat dalam kaca mata yang kaku, namun di mata Gus Dur bisa dicairkan dengan pendekatan humor yang cerdas. Pertemuan hari itu sungguh seperti 'reuni' dua orang pengagum Gus Dur rasanya.

Tak terasa tema diskusi terus bergulir. Berikutnya beralih ke soal kepercayaan. Kato melihat,  aliran kepercayaan, seperti Kejawen, merupakan salah satu bentuk filsafat. Baginya, susah sekali aliran kepercayaan disebut dengan agama. Hal ini sangat mirip dengan Shinto waktu awal. Bentuk aliran itu sangat primitif. Belum ada organisasi sebagai bagian dari kelompok agama. Mereka sangat menghargai pemikiran.

Di Jepang sendiri, katanya, banyak praktik sinkretisme antara Shinto dengan Buddha seperti praktik Islam dengan Kejawen. Masyarakat Jepang tidak peduli dengan masalah agama. Sekolah-sekolah di Jepang tidak ada pelajaran agama. Negara tidak melarang kepada warganya atau pendatang untuk beragama dan berkeyakinan apapun, selama tidak mengganggu ketertiban sosial.

"Kerukunan bagi masyarakat Jepang sangat dijunjung tinggi. Prinsip hidup tertib, memelihara kebersihan, keindahan, disiplin dan lain-lain bukan karena dipengaruhi oleh ajaran agamanya, tetapi lebih karena adanya pemahaman yang bersifat pragmatis bahwa tanpa nilai-nilai itu Jepang tidak dapat hidup bersaing dengan negara lain," ujarnya.

Di akhir pertemuan, Menag Lukman mengaku sangat terkesan dengan prof Kato, dan meminta berfoto berdua dengannya dalam beberapa pose. Menurut Lukman, orang outsider (luar) seperti Pak Kato yang seorang Indonesianis penting keberadaannya untuk membantu menyiarkan Islam moderat kepada dunia.

Oleh: Thobib al-Asyhar

Artikel ini telah dimuat di Kemenag.go.id - Profesor Kato, Indonesianis Jepang yang Kagumi Gus Dur