Billboard Ads

ARRAHMAH.CO.ID - Sebuah pesantren NU ada yang merayakan milad (hari lahir)nya dengan menyelenggarakan diskusi keagamaan dan kebangsaan. Salah satu pembicara yang diundang adalah Gus Ulil Abshar Abdalla.

Sebelum acara dimulai, ada wali santri yang bertanya kepada pihak panitia dengan nada tidak senang :

"Mengapa sih panitia mengundang Ulil,  bukankah dia itu tokoh JIL (Jaringan Islam Liberal)?"

Ketika ditanyakan pada wali santri apakah ia tahu hal ihwal tentang JIL? Maka jawabannya: " tidak tahu. Saya hanya ikut-ikutan yang lain saja bahwa JIL itu berbahaya bagi umat Islam. Itu saja."

"Kalau begitu, mengapa Bapak mengikuti sesuatu yang Bapak sendiri tidak mengetahui hal-ihwal tentangnya?" Tanya pihak panitia.

Lantas bapak penanya itu diam seribu bahasa.

Kondisi demikian sama persis dengan sebagian umat Islam yang ramai-ramai membenci Buya Said Aqil Siradj, sebagai antek Syi'ah. Padahal ketika mereka ditanya tentang apa itu Syi'ah dan bagaimana ajarannya?

Lalu sejauhmana mereka mengenal pribadi Buya Sa'id dan pemikirannya? Mereka kerapkali gagap dalam menjelaskannya; dikarenakan mereka sendiri kurang paham terhadap apa yang mereka tuduhkan.

Demikianlah kondisi terkini  keberagamaan sebagian umat Islam di negeri ini yang sering gampang terpengaruh oleh provokasi para pembenci (haters), sehingga Budayawan Emha Ainun Najib mengumpamakannya seperti tumpukan jerami kering yang gampang tersulut api.

Terlebih lagi, keawaman umat sering dimanfaatkan para haters untuk menggiring umat agar menyetujui, mendukung hingga mencapai tujuan mereka.

Tugas para ulama dan da'i yang saleh untuk terus mencerdaskan dan mendewasakan umat agar semakin baik kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agamanya.

Jangan meniru cara-cara muballigh lain yang ingin memaksakan kehendak dan pola pikirnya yang kurang baik dengan memanfaatkan keawaman para pendukungnya.

Cep Herry Syarifuddin, Desember 2017