Billboard Ads

Diskusi bulanan yang menjadi agenda rutin kali ini mengangkat tema “Urgensi Dakwah di Masyarakat Perkotaan dan Perkantoran”. Hadir sebagai pembicara pada malam hari ini di antaranya KH. Maman Imanulhaq (Ketua LDNU), KH. Dr. Asrorun Niam (Katib Syuriah PBNU), Ustadz Ali Sobirin (Wakil Ketua LTM NU), H. Asrori Karni (Redaktur Senior Gatra), H. Syamsul Huda (Ketua Lazisnu) dan Hari Usmayadi (Ketua LTN NU).

Rangkaian acara pada malam hari ini dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ketua LTN NU yang bertindak sebagai pemantik diskusi sekaligus moderator membuka pemaparannya dengan menjelaskan berbagai data terkait dengan demografi masyarakat perkotaan. Selain itu Cak Usma, panggilan akrab Ketua LTN NU ini juga menjelaskan tentang betapa pentingnya NU untuk memahami profil masyarakat perkotaan sehingga bisa tepat sasaran dalammenjalankan dakwah di perkotaan. Cak Usma mencoba memaparkan tentang analisis SWOT terhadap tujuan dakwah NU ini.

Pembicara kedua, KH. Maman Imanulhaq memaparkan dengan lebih rinci tentang fenomena ghirah keagamaan masyarakatperkotaan yang mulai muncul sejak 1980an. NU sebagai organisasi besar mau tidak mau harus menyesuaikan dalam metode dakwah yang digunakan. Menurutnya, NU saat ini mestinya tidak hanya berfokus pada masalah substansial, namun juga harus memperhatikan simbol-simbol keagamaan. Hal ini dikarenakan masyarakat perkotaan saat ini lebih berfokus pada penggunaan simbol agama tersebut. Jadi menurut Kang Maman, panggilan beliau di kalangan NU, dua hal itu yaitu memperhatikan simbol agama dan tetap menjaga substansiajaran agama menjadi penting untuk diperhatikan.

Berbeda dengan pembicara sebelumnya, KH. Dr. Asrorun Niam mencoba untuk melihat permasalahan dakwah NU dari sisi yang lain. Menurutnya, NU mesti tidak lagi mengedepankan cara dakwah yang konfrontatif namun akan lebih baik jika NU melakukan sinergi pendampingan terhadap objek dakwah. Cara ini diyakini efektif dengan satu syarat yaitu dibutuhkan sikap yang istiqomah. Diharapkan dengan metode ini secara pelahan NU akan mewarnai kegiatan-kegiatan di sekitar objek dakwah.

Diskusi malam hari ini dimanfaatkan oleh Ketua Lazisnu, Syamsul Huda, untuk melakukan introspeksi bersama. BetapaNU sebenarnya telah tertinggal dengan organisasi lain dalam manajemen zakat dan sodaqoh, apalagi di kalangan perkotaan dan perkantoran. Beliau memaparkan banyak fakta tentang hal ini. Namun demikian pembicara ini optimis bahwaNU akan bisa menjadi lebih baik terutama dalam hal pengelolaan zakat yang profesional sebagai syarat menjangkau target masyarakat perkotaan dan perkantoran.

Ust. Ali Shobirin sebagai pembicara selanjutnya menjelaskan bahwa solusi dari permasalahan ini sebenarnya sederhana yaitu kembali ke masjid. Beliau mengajak audiens secara umum dan khususnya kepada pengurus NU agar kembali memakmurkan masjid. Selain itu, penulis buku “Teknologi Ruh” ini juga meminta kepada para nahdhiyin untuk lebih berani mengambil peran dalam kegiatan keagamaan.

Pemaparan terakhir disampaikan oleh Asrori Karni, redaksi senior majalah Gatra. Asrori mencoba menganalisis perkembangan dakwah perkotaan dari sejak orde baru hingga saat ini. Menurutnya, jika melihat dari perjalanan waktu, NU saat ini mengalami akselerasi yang besar. Terbukti dengan banyaknya nahdhiyin yang berkiprah di berbagai bidang, sehingga dalam konteks dakwah kepada masyarakat perkotaan dan perkantoran ini, optimis akan melakukan akselerasi dari ketertinggalan pada saat ini.

Diskusi yang sangat menarik ini sayangnya dibatasi oleh waktu yang sudah malam sehingga proses tanya jawab menjadi kurang optimal, sebagian peserta yang masih belum puas, masih terlibat diskusi panjang setelah acara resmi ditutup.

Namun demikian diskusi malam hari ini menyisakan PR panjang bagi NU yang mana hal itu tidak bisa dikerjakan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan sinergi, kekompakan dan keistiqomahan semua pengurus dan jam’iyah NU secara umum untuk menjawab semua tantangan tersebut.

Wallahua’lam.

PBNU, 12 Oktober 2017
M. Fakhrurrozi


By