Billboard Ads

ARRAHMAH.CO.ID  Di dunia islam maupun barat siapa yang tak kenal dengan dengan nama Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad ath Thusi (1111 M), yang dikenal dengan nama Imam Ghazali, Beliau telah berhasil menggagas kaedah-kaedah tasawuf yang terkumpul dalam karya yang terkenal Ihya’ U’lum al-Din (The Revival of Religion Sciences). Salah satu karya Magnum Opus yang hingga saat ini menjadi sumber referensi akademis baik di dunia Timur maupun dunia Barat.



Dalam perjalananya, karya-karya beliau masih bisa kita nikmati hingga saat ini, tapi sangat di sayangkan siapa yang tau, bahwa tempat dimana jasad beliau dikebumikan di daerah yang bernama Thus Provinsi Khurasan Iran, sejak 7 tahun di temukan hingga saat ini tempat tersebut masih jauh dari layaknya sebuah Makam Ulama, yang hanya di pagari dengan kawat dan beratapkan bahan seadanya serta disekelilingnya terlihat rumput-rumput liar.



Di luar Indonesia, makam para keturunan Nabi di Bangun dengan mewah oleh para pecintanya, mereka selain mengkaji sejarahnya juga rela menjual emas milik pribadinya demi keindahan makam orang yang dicintainya, kalau makam itu kondisinya indah dan nyaman maka peziarah yang datang di musim dingin akan merasakan kehangatan dan ketika di musim panas akan menikmati kesejukan, jika seperti itu maka peziarah akan khusu’ dalam bertawasul dan menuai keberkahan. 



Dengan harapan, semua pecinta Imam Ghazali harus menjelaskan secara objektif bahwa beliau kelahiran dan wafat di Persia lalu gerakan jamaah untuk mendermakan hartanya, jika terkumpul gerakan ahli arsitek khusus dari Indonesia untuk terbang ke Thus atau Khurasan dengan membawa rombongan para pekerjanya, tentunya perizinan merehab atau pembangunan makam sudah dikantongi oleh kita pihak indonesia. Jika hal itu dapat direalisasikan insy Allah makam beliau akan semakin hidup dan bisa jadi tujuan destinasi ziarah wali bagi muslimin pecinta Imam Ghazali dari seluruh dunia.



وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki”.
Misdaq dari ayat tersebut bahwa para wali dan syuhada atau mujahid yang berjuang di jalan Allah itu tidaklah wafat, bahkan mereka hidup disisi Allah Swt dalam keadaan diberi Rizqi harus dirasakan oleh pengikutnya, bisakah? Jelas bisa mereka ada dan tiada tetap memberikan perubahan bagi pecintanya, baik dari sisi pendidikan, ekonomi, politik, sosial,dll. 




Semua dimensi Rizqi yang luas dan terikat dgn para pecintanya itu hanya dapat diwujudkan dengan pembangunan secara besar-besaran di lokasi makam, contoh membangun kubahnya, universitas, penginapan bagi peziarah, perpustakaan yang berisi buku terkait Imam. Kita bisa mencontoh dengan yang sudah dilakukan muslimin terhadap  Makam Para Dzuriyat Rasul, seperti Sayidina Ali (661 M) dan Sayidina Husein (680 M) di Irak serta Sayidina Ali Arridha (819 M) yang tidak jauh dari Makam Imam Ghazali, begitupun dengan makam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (820 M) yang berada di Mesir, terlihat hidup dan memberi banyak manfaat bangi para pecintanya, dimana disana di bangun Perpustaan dan halaqoh-halaqoh majlis Ilmu.



Komplek Makam Imam Ghazali di Thus Provinsi Khurasan
Dilain sisi kita patut bersedih terhadap kondisi Makam para istri Rasul, putra, putri dan cucunya serta para sahabat dan Aulia yang berada di Jannatul Baqi' Madinah Al Munawarah. Pada tahun 1925 M makam mereka dahulu diratakan pemerintah Saudi atas dukungan Wahabiyin anti ziarah. 



Mari kita bergerak, jangan kita pandai membangun yayasan dan rumah kita saja, lalu kita melupakan diri untuk merawat makam orang yang kita cintai. Jika bukan kita siapa lagi yang dapat merealisasikan gerakan pembangunan ini, jika bukan kita maka siapa lagi yang dapat mencerdaskan umat agar semangat dalam menjaga Atsaar Ulama dan Aulia, jika bukan kita maka siapa lagi yang dapat menjaga sejarah mereka? Sudikah kita memiliki generasi yang tak mengenal sejarah hanya karena hilangnya Atsaar tersebut?

Kang Abdul Hakim (Sekretaris LTN PCNU Kabupaten Bogor)
Anggota Gusdurian Depok

By