Billboard Ads

Bangun Jejaring Lawan Konten Negatif di Dunia Maya
Bangun Jejaring Lawan Konten Negatif di Dunia Maya
ARRAHMAH.CO.ID - Akhir Agustus lalu, publik digegerkan oleh pengugkapan sindikasi Saracen. Sebuah sindikasi yang diduga kuat menjadi dalang derasnya ujaran kebencian dan ujaran bernuansa SARA. Penangkapan Tim Satuan Tugas Siber Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia ini sontak mengundang komentar berbagai kalangan, tak terkecuai Presiden Joko Widodo yang langsung memerintahkan Polri untuk mengusut lebih lanjut siapa pendirinya dan tentu saja pengguna jasa Saracen.

Fenomena itu menjadi perhatian khusus bagi Wahid Foundation dan sejumlah lembaga atau kantor berita yang selama ini bersindikasi untuk mempromosikan konten media yang positif dan melawan konten negatif. Kegelisahan tersebut tertuangkan dalam sebuah diskusi intensif pada tanggal 23 Agustus yang kami gelar dengan dengan tema “Focus Discussion Group: Seeding Peaceful Through Online and Social Media”.

Acara tersebut digelar di Cemara Hotel Jakarta dan membuahkan beberapa hasil: Pertama, kami berhasil melakukan pertemuan dari sejumlah lembaga dan media yang selama ini memiliki visi serupa, baik yang selama ini saling mengenal dan bekerja sama, atau yang belum kenal sama sekali. Pertemuan tersebut secara ekpisit menunjukkan bahwa, lembaga atau perorangan yang concern terhadap pemberantasan hate speech cukup banyak tinggi.

Kedua, dari pertemuan itu kami tidak hanya berhasil mengumpulkan nama, namun juga mengumpulkan strategi kampanye, objek yang dituju dari masing-masing lembaga. Dari sharing yang dilakukan selama pertemua, kami juga berhasil mencatat hal detail seperti tantangan yang dihadapi selama melakukan kampanye.

FGD tersebut kami bagi menjadi dua sesi. Dalam sesi pertama yang dihantarkan oleh Savic Ali, Direktur NU Online kami disuguhi update terbaru media online keislaman di tanah air. Dalam penjelasannya, ia mengungkapkan kabar gembira dengan meningkatnya traffic media islam toleran dan menurunnya media yang mempromosikan islam intoleran.

Kabar menggembirakan itu merupakan efek dari sejumlah kejadian, di antaranya pemblokiran terhadap website intoleran dan radikal. Pemblokiran akun, menurut pria kelahiran Pati, Jawa Timur ini akan berdampak pada berkurangnya pengunjung ke website tersebut.

“Begitu sebuah website ditutup, pengunjug akan turun drastic, indeks google hilang. Blokir satu cara yang efektif mengurangi pengunjung ke website konservatif, terbukti web yang dulu diblokir semua turun trafiknya." terangnya.

Selain itu, kabar bahagia yang lain adalah meningkatnya traffic di website islam toleran seperti NU Online dan Islami.co. Hal itu merupakan hasil kerja keras dari para penulis, pengelola website dan lembaga lain yang selama ini bekerja sama di balik meja redaksi.

Pada sesi kedua yakni sesi diskusi, masing-masing peserta mempresentasikan strategi kampanye yang dilakukan, sasaran kelompok yang dituju dari masing-masing lembaga dan tantangan yang dihadapi selama ini.

Misalnya Opini.id, sebuah situs berita yang memilih video sebagai sarana utama untuk menyajikan berita dan opini. Opini.Id, yang diwakili oleh Tri Wahono waktu itu menjelaskan bahwa pilihan lembaganya memilih video sebagai sarana merupakan hasil dari riset traffic yang menunjukkan bahwa traffic video lebih tinggi dari pada tulisan dan gambar. Hal ini berarti masyarakat Indonesia lebih gemar nonton video dari pada membaca berita.

Riset tersebut sejatinya baru akan berlaku pada tahun 2017. Tapi pada kenyataannya, masyarakat sudah mulai menggandrungi video sejak 2015. “Orang lebih suka visual, dan tidak suka tulisan yang panjang,” kata Tri. Sebab pesan visual melalui di video lebih cepat sampai ke otak.

Sebuah riset yang dilakukan Youtube menunjukkan bahwa rata-rata panjang video yang banyak diakses orang Indonesia yang maksimal panjang durasinya adalah lima hingga tujuh menit. Malahan, data dari facebook menunjukkan bawa durasi video yang paling banyak dilihat orang maksimal berdurasi satu menit.

Dalam pengalamannya, sebuah artikel yang bagus yang ditulis dan dipublish di media sosial rata-rata hanya mendapat like sebanyak 1000 saja. Namun sebuah video yang bagus yang dipublish di platform yang sama dpat mencapai sejuta viewer dan like. “Jadi sekarang, pesan harus dibuat dengan instan. Karenanya memerlukan seorang skrip writter yang jago”.

Semetara itu, Hilmi dari Ma’arif Institute yang mengungkapkan pengalamannya tentang mengajak siswa setingkat SMP dan SMA di lingkungan pendidikan Muhammadiyah. Dari pengalamannya melakukan penelitian di lima kota yakni Jakarta, Semarang, Surabaya, Jogja dan Bandung, dia memaparkan bahwa platform yang banyak digunakan pelajar saat ini adalah aplikasi LINE dan Istagram. Dari sana, ia mendorong agar kampanye unruk pelajar dilakukan melalui aplikasi LINE dan Instagram. “Karena pelajar sekarang kebanyakan pake LINE sama Instagram, bukan whatsapp,”

Diskusi yang dimulai sejak pukul 10.00 Wib ini berakhir pada pukul 16.30 Wib, dihadiri oleh sekitar 20 lembaga dan media, antara lain; NU Online, Islami.co, Infid, Arrahmah.co.id, Maárif Institute, 164 Channel, AIS Nusantara, Mafindo, ICT Wacth, dan Ansor. Teradapat sejumlah rekomendasi yang dilahirkan, di antaranya untuk semakin menguatkan sindikasi media dan mengupdate aktivis yang aktif membuat dan menyalurkan konten positif di dunia maya.

Oleh: Ahmad Rozali, Wahid Foundation