Billboard Ads



ARRAHMAH.CO.ID - Meski kenyang melahap buku Das Kapital karya Karl Marx semasa remajanya dan pernah mewacanakan pencabutan TAP MPRS tentang larangan penyebaran faham Marxisme/Komunisme semasa menjadi Presiden RI ke-4 dengan maksud akademis, (Almarhum) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bukanlah seorang pendukung ideologi tersebut. Justru beliau adalah seorang muslim sejati yang meyakini bahwa agama Islam dapat menjadi kekuatan sosial transformatif non revolusioner yang dapat membebaskan masyarakat secara manusiawi dari kungkungan struktur sosial yang despotik (zalim).


Dalam buku Gus Dur dan Ilmu Sosial Transformatif (2009), Syaiful Arif, penulisnya, sangat baik dalam menggambarkan kritisisme Gus Dur terhadap Marxisme. Arif merangkum kritisisme Gus Dur dari berbagai tulisan dan artikel Gus Dur yang berserakan di antaranya yang berjudul "Developing by our Selves", "Islam dan Titik Tolak Etika Pembangunan", "Republik Bumi di Surga: Sisi lain Motif Keagamaan di Kalangan Gerakan Masyarakat", "Jangan Paksakan Paradigma Luar Terhadap Agama", dan "Perubahan Struktur Tanpa Karl Marx". Ia beri judul sub bab bukunya sebagai "Pembebasan Tanpa Marx".


Dalam berbagai tulisannya tersebut, Gus Dur banyak mengkritisi komunisme yang dapat dimaknai sebagai perlawanan ideologis kulturalnya terhadap komunisme. Di antara kritiknya terhadap Marxisme adalah bahwa Karl Marx menyebut bahwa… "Agama adalah candu rakyat. Penghapusan agama sebagai kebahagiaan manusia, yang hanya impian adalah suatu tuntutan bagi kebahagiaan yang sebenarnya".


Menurut Gus Dur, paradigma di atas telah mengakibatkan konsekwensi logis bagi para pengikutnya. Yaitu mereka menjadi menghujat agama atau bersikap memusuhi agama. Karena dinilai sebagai kekuatan yang anti revolusi. Kalangan Marxis tidak melihat bahwa agama dapat menjadi kekuatan pembebas rakyat. Mereka hanya melihat agama sebelah mata. Termasuk dalam hal ini adalah Antonio Gramsci, reformis Marxisme yang tidak menganggap agama sebagai bagian dari potensi perubahan kebudayaan.


Teori Materialisme-Historis Marx telah menyudutkan potensi perubahan yang terdapat dalam agama dan juga elemen-elemen budaya lainnya. Tak heran, jika terdapat kesimpulan di kalangan kiri bahwa sebuah gerakan baru bisa dikatakan revolusioner jika ia tidak bersifat religius (keagamaan). Revolusionerisme sebagai sesuatu yang deterministik (pasti) dalam teori Marxisme dianggap Gus Dur memiliki sisi gelap, yaitu memosisikan unsur-unsur kultural tidak sebagai kebudayaan yang berhak untuk berdiri sendiri. Tapi hanya dijadikan sebagai aparatur ideologis bagi terciptanya revolusi.


Revolusionerisme bagi Gus Dur tidak diperlukan dan bukan menjadi model serta arah transformasi dari tradisinya, kecuali pada awal dekade 1990-an. Dalam teori komunisme, manusia hanya menjadi alat bagi tujuan kekuasaan yang akhirnya melahirkan struktur baru yang tak kurang absolutnya. Upaya mensinergikan Marxisme dengan agama yang melandasi adanya Teologi Pembebasan juga bukan tanpa masalah.


Upaya menyatukan antara agama dan marxisme, menurut Gus Dur, telah melahirkan ideologisasi agama yang oleh Gus Dur, dilihat melalui ketidakmampuan kalangan teolog pembebasan membangun relasi dengan gerakan yang mereka sebut anti revolusi.


Yang kedua, teologi pembebasan bersifat eksklusif yang telah mengakibat segregasi (pemisahan) horizontal. Bagi Gus Dur, agama justru harus jauh dari nilai-nilai ekstrimisme. Selama agama tidak mampu membebaskan dirinya dari ideologisasi maka selama itu agama tidak akan mampu menciptakan pembebasan masyarakat dari penindasan struktur sosial.


Demikian sekilas pandangan kritis Gus Dur terhadap Marxisme/Komunisme yang dapat kita jadikan rujukan dan pedoman intelektual dalam membangun perlawanan kultural terhadap ideologi-ideologi yang berseberangan dengan Pancasila. Semoga!


Oleh: Darul Qutni, S.S.I


Alumni Program Internasional Mesir-Indonesia UIN Jakarta-cucu Abuya KH Abdurrahman Nawi

(Red: Hakeem)




 

By