Billboard Ads

Menolak Neo Wahabisme, Duri dalam Perdamaian
Menolak Neo Wahabisme, Duri dalam Perdamaian

ARRAHMAH.CO.ID - Neo Wahabisme (Wahabi baru) adalah sebutan penulis bagi orang per orang, kelompok, organisasi atau gerakan politik yang menjadi penerus ‘pemikiran’ Muhammad ibn Abd Al-Wahhab yang tidak toleran dan berlebihan (ekstrim) dalam beragama.

Dua kata di atas, “Intoleransi dan Ekstrimisme” menjadi cirikhas kunci dari Neo Wahabisme. Ada sebutan lain, yaitu Salafi yang dimaksudkan bahwa mereka mengikuti jejak orang salaf (orang-orang dahulu seperti sahabat Nabi). Salafi ini diperkenalkan oleh Nashiruddin Al-Albany, (Neo Wahabi) untuk menutupi sikapnya yang Wahabisme. Padahal mereka sebetulnya Khalafi (pengikut orang-orang sekarang).

Sayangnya, salafi tidak menjadi cirikhas kaum Wahabis. Sebab, istilah ini juga populer digunakan oleh pesantren-pesantren tradisional (salafiyah) yang mengajarkan kitab-kitab klasik (kitab kuning). Sementara, penggunaan istilah Wahabi, sudah populer digunakan untuk pengikut Muhammad Ibn Abd al-Wahhab. Dan tidak populer digunakan untuk pengikut KH.Abdul Wahhab Hasbullah, pendiri organisasi Islam Indonesia Nahdlatul Ulama’ maupun orang dengan nama yang sama. Ulama’ sejagat juga sudah populer dengan istilah Wahabi sebagai sebutan bagi pengikut Muhammad ibn Abd Al-Wahhab. Pemikirannya dinamakan Wahabisme (Wahhabiyyah) dan pengikutnya dinamakan Wahabis (Wahhabiyyun).

Siapa itu Muhammad ibn Abd al-Wahhab?. Namanya memang bagus. Sebagus nama orang yang membunuh Sayyidina Ali bin Abi Tholib Karromallohu Wajhah. Yaitu, Abdurrahman bin Muljam. Seorang yang rajin tahajjud dan rajin ibadah. Tapi kenapa ia bisa melakukan suatu tindakan yang keji yang tidak sesuai dengan namanya menjadi pelajaran bagi kita bahwa nama yang baik dan ‘rajin ibadah’ tidak menjamin seseorang akan menjadi baik jika tidak disertai kebersihan hati dan akhlak terpuji.

Al-Imam Al-Haddad menyatakan, bahwa orang yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya, masih jauh lebih baik daripada orang yang beribadah, beragama tanpa ilmu. Yang pertama, membawa bahaya (mudlarat) bagi dirinya sendiri. Yang kedua, membawa bahaya bagi orang lain. Tentu saja, yang terbaik adalah yang berilmu dan juga mengamalkan ilmunya .

Muhammad Ibn Abd al-Wahhab, adalah seorang pemuda kelahiran Najd, Arab Saudi. Di usianya yang muda, dan ilmu serba terbatas, ia sudah berani mengeluarkan ‘fatwa-fatwa’ keagamaan yang serampangan. ‘Fatwa’ ini memiliki dampak sosial dan bencana kemanusiaan yang tragis.

Bukan sekadar perbedaan pendapat yang lahir hal mana diperkenankan dalam Islam. Tapi justru sikap yang merugikan umat Islam sendiri. Jutaan kaum muslimin dan Ahlul Qiblah di-cap kafir dan musyrik oleh mereka yang potensial berkonsekwensi pada tindakan selanjutnya yang mengerikan. Peninggalan-peninggalan bersejarah kaum muslimin di Mekah dimusnahkan dan dilecehkan demi semangat purifikasi agama dan alasan menghindarkan tindakan syirik (menduakan Allah SWT).

Sesuatu yang amat pelik dalam Islam. Ia memang telah meninggal dunia. Namun, ‘pemikiran’nya masih hidup dan mengilhami jutaan pengikutnya yang tersebar di seluruh dunia untuk membela dan menerapkannya.

Lil wasa’il hukmul maqasid. Cara tunduk kepada tujuan. Kaidah ini tidak berlaku bagi Wahabisme dan Neo Wahabisme. Tujuan mulia purifikasi (pemurnian Tauhid) tidak disertai ilmu dan akhlak yang luhur, tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang) dan i’tidal (bersikap adil). Wahabisme terperangkap pada makna literal teks-teks suci al-Qur’an dan Hadits. Semangat kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits disertai suatu tindakan yang tidak mencerminkan akhlak Qur’an dan al-Hadits. Padahal Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Wahabisme sebagai sebuah ideologi ada dan bersemayam di mana saja, siapa saja, kelompok dan organisasi mana saja tanpa pandang labelnya. Bahkan ia bisa ada dalam diri kita sendiri jika kita telah bertindak intoleran dan ekstrim dalam beragama (ifrath wa al tafrith). Wahabisme adalah suatu antitesis dari manhaj Islam yang tasamuh wal i’tidal (moderat). Wahabisme ada di mana saja. Ia tidak bisa dilawan dengan kekuatan finansial dan uang yang luar biasa sebab ia tumbuh besar berkat kekuatan dana yang melimpah ruah. Ia hanya bisa dilawan dengan ilmu dan keluhuran budi pekerti.

Wa Allahu A’lam.



Oleh: Darul Qutni, S.S.I Alumni Mahasiswa Internasional Program Mesir-Indonesia UIN Jakarta
Editor: Hakeem

By