Kaum Intoleran Dalam Tajuk Demokratisasi Myanmar Dan Indonesia

Oleh : Ubaidillah Achmad KOLOM , ARRAHMAH.CO.ID - Dalam beberapa bulan terakhir ini, telah muncul pemberitaan yang hangat dipersoalkan, y...

Oleh: Ubaidillah Achmad

KOLOM, ARRAHMAH.CO.ID - Dalam beberapa bulan terakhir ini, telah muncul pemberitaan yang hangat dipersoalkan, yaitu peristiwa etnis Rohingnya. Banyak orang memahami peristiwa Rohingnya, adalah peristiwa agama, namun tidak banyak yang membaca ada etnis lain di Myanmar yang beragama Islam yang tidak mengalami konflik seperti di Rohingnya. Salah satu etnis yang beragama Islam yang tidak mengalami konflik di Myanmar, adalah etnis Bengali. Karenanya, tidak tepat mengaitkan konflik di Rahingnya, adalah konflik agama dan yang menjadi korban umat Islam. Konflik di Rohingnua bukan konflik agama, namun konflik politik yang mengorbankan aspek kemanusiaan.

Sehubungan dengan aspek kemanusiaan, agama manapun memiliki kepentingan untuk mengangkat harkat dan martabat umat manusia. Meskipun demikian, akan menjadi persoalan baru, jika hanya ada oknum umat Islam yang mengklaim, peristiwa di Rohingnya, adalah peristiwa yang menyiksa umat Islam akibat korban dari agama mayoritas di Myanmar. Jika hal ini tidak dipahami dengan baik, maka akan menciptakan konflik lebih besar lagi, berupa kesalahpahaman masyarakat dan menutup nalar beberapa umat Islam.

Jika nalar sehat "membaca rohingnya" sudah tertutup, maka konflik politik Rohingnya yang mengorbankan aspek kemanusiaan akan dipahami sebagai konflik agama yang harus mendapatkan respon fatwa jihad dari para Ulama. Selain itu, akan membuka keberuntungan kaum intoleran yang sedang memasak peristiwa Myanmar untuk memperparah konflik politik sesuai dengan visi intoleransi yang selalu mengatasnamakan agama besar dunia, termasuk di antaranya mengatasnamakan agama Islam. Kaum Intoleran akan selalu memanfaatkan konflik dunia untuk misi kehendak kuasa.

Sehubungan dengan peristiwa ini, perlu penulis jelaskan relevansinya dengan kaum intoleran dalam tajuk demokratisasi Myanmar dan Imdonesia. Jika hal ini tidak dipahami dengan baik, maka akan membuka konflik intern dan antar agama. Refleksi ini, setidaknya dapat membantu pemegang kebijakan dan masyarakat untuk bersikap objektif. Selain itu, dapat membantu gerakan sosial keberagamaan yang mendukung keragaman di satu sisi, namun di sisi yang lain memdukung ketegasan sikap keberagamaan yang tetap harmonis dengan sesama dan antar umat beragama.

Waspada Terhadap Kaum Intoleran

Kaum intoleran memiliki watak yang suka memecah belah umat beragama dan merusak keragaman dan kebhinekaan. Salah satu contoh sikap kaum intoleran yang sudah ada di depan mata kita, yaitu seseorang yang suka memutarbalikkan prinsip atau cakupan makna kebenaran agama, budaya luhur bangsa, dan keutamaan memberikan pandangan dan sikap hidup secara demokratis. Dalam konteks konflik Rohingnya, kaum intoleran memilih mengambil peran memilih memasak kasus rohingnya sebagai konflik agama dan membuat pemberitaan yang seolah olah menjadi korban, adalah umat Islam. Fakta menunjukkan berbeda, ternyata ada selain pemeluk agama Islam yang juga menjadi korban kemanusiaan ini. Jika tidak dipahami dengan baik, maka akan memperbesar konflik keberagamaan: antara umat Islam versus umat yang lain.

Di beberapa negara berkembang, gejala gelombang intoleran ini dimulai dari gerakan transnasional, dengan membawa bawa isu politik, sosial, kebudayaan, dan kapital dengan agama Islam. Hal ini telah mencemari kesucian makna Islam sebagai agama rahmatan lil'alamiin, pencerahan dan pembebasan. Gerakan kaum intoleran ini memerlukan kewaspadaan para akademisi dan agamawan muslim untuk membendungnya, sehingga meminimalisir terjadinya keterasingan umat Islam terhadap ajaran Islam.

Secara psikologis, kondisi sikap kaum intoleran ini karena ada dua hal yang menjadi faktor pendorong: pertama, individu yang suka keributan dan suka konflik sosial agama, Kedua, individu yang menjalankan misi kehendak kuasa kelompok tertentu, baik kelompok politis maupun kelompok kapitalis. Sehubungan dengan adanya perilaku menyimpang kaum intoleran, maka perlu langkah dari umat Islam berikut ini:

Pertama, menghindari strategi adu domba kaum intoleransi yang sering mendiskusikan sistem kekuasaan dan sistem politik kekuasaan. Diskursus tentang kekuasaan, adalah diskursus yang biasa terjadi, namun menjadi persoalan jika sudah mengarah pada subjektifitas kelompok dan mengabaikan penghargaan pada nilai keutamaan universal. Kedua, menghindari sikap diri seseorang yang berupaya menekankan pandangannya atau memberikan intervensi kepada seseorang untuk mengendalikan konflik sosial, agama, dan budaya.

Ketiga, menghindari seseorang yang selalu mengedepankan sikap emosi keberagamaan dan mengabaikan sikap kemanusiaan. Sikap baik memiliki standar yang dapat diukur dari komitmen seseorang terhadap nilai kemanusiaan dan keragaman. Prinsip kemanusiaan ini, telah menjadi prinsip semua nabi pembebas, yang menegaskan, bahwa setiap perkembangan kebenaran ilmu pengetahuan sangat terkait dengan visi kemanusiaan dan lingkungan hidup.

Jadi, Keadilan harus mengacu aspek kemanusiaan dan aspek kemanusiaan harus menjadi dasar keputusan yang adil. Alasan dikatakan kaum intoleran, karena tidak memiliki sifat teleransi terhadap kemanusiaan dan tatanan sosial yang sudah mapan serta berjalan secara harmonis. Kaum intoleran tidak mengenal budaya masyarakat dan kearifan lokal. Seluruh watak kaum intoleran difokuskan pada konflik dan kepentingan kelompok sendiri. Karena itu kaum intoleran sering membuat masalah memasuki gelombang demokrasi di negara negara yang mayoritas berpenduduk muslim, seperti Indonesia.

Sebaliknya, kaum intoleran juga sering memanfaatkan rezim otoriter dan juga memanfaatkan isu keterbukaan dan non-kekerasan. Misalnya, gerakan kaum intoleran untuk ikut turut serta bergerak memimpin demonstrasi di jalan-jalan, kampus, serta lapangan. Kuam intoleran dalam sepuluh tahun terakhir ini, telah memberikan sumbangan terhadap politik otoritarian dan juga memberikan sumbangan terhadap gelombang demokrasi di semua negara. Gerakan ini, bertujuan untuk memenuhi hasrat psikis yang sudah rusak dan hasrat kekuasaan pribadi.

Karena permainan kaum intoleran memilih memasuki semua isu mutakhir, maka beberapa aktivis kesulitan membedakan mana gerakan demokrasi yang didukung kesadaran kewarganegaraan dan mana kehendak kuasa yang akan menikam pihak yang akan dikuasai. Jika umat Islam lengah terhadap rayuan gombal kaum intoleran, maka akan menjadi bagian masyarakat yang terkena korban kekuasaan.

Kaum intolerans telah menata rapi persiapan bagaimana memainkan politik jangka pendek melalui populisme agama besar dunia. Misalnya, terjadi reformasi 1998, adalah reformasi yang tidak absen dari para demontrans, yang ternyata tidak murni membangun kesadaran kewarganegaraan masyarakat. Justru, banyak dimanfaatkam para kaum intoleran. Misalnya, sikap kaum intoleran memanfaatkan otoritarianisme orde baru. Sekarang ini, kaum intoleran terlibat aktif merespons masalah lokal sampai internasional atau dari masalah yang menggunakan isu "kecil" hingga isu politik identitas. Kaum intoleran memiliki watak yang bersifat reaksioner dan  bersikap tidak mendasar yang kebanyakan memilih kepentingan jangka pendek. Berikut mangsa kaum intoleran:

Pertama, pengikut agama yang fanatisme buta. Kedua, agamawan yang buta politik penguasa dan politik kapital. Kedua tipologi kebodohan ini akan menjadi artikulasi politik para elite politik, yang ingin "memanfaatkan" kelas rakyat yang menjadi korban relasi kuasa yang tidak seimbang.

Tajuk Demokratisasi Indonesia dan Myanmar

Sebelum menguraikan persoalan kaum intoleran dalam tajuk demokratisasi Indonesia dan rahingnya, perlu memahami makna demokratisasi. Demokratisasi, adalah adanya perkembangan kondisi masyarakat yang mengalami masa transisi dari pola dan sikap hidup individu dan masyarakat di tengah rezim yang otoriter ke rezim politik yang lebih terbuka dan memberikan hak kebebasan individu dan hak perlindungan yang sama dihadapan hukum (demokratis).

Dalam berbagai kesempatan, Gus Dur sering mengungkapkan, bahwa sistem demokrasi merupakan sistem yang terbaik dari sistem politik yang ada selama ini. Simpulan ini didasarkan pada adanya peluang yang sama dalam sistem demokrasi bagi warga di muka hukum dan sistem pemerintahan.

Bagaimana memahami krisis kemanusiaan di Myanmar yang dikaitkan dengan masalah kepentingan politik dalam negeri Indonesia? Bagaimana peristiwa yang sebenarnya terjadi di Rohingnya? Kasus krisis Rohingnya jika dibaca dari Konteks masyarakat Indonesia, memiliki dua pandangan: pertama, masalah Rohingnya sebagai wujud tragedi Kemanusiaan di Rakhina State.

Pandangan yang kedua, konflik Rohingnya dipahami sebagai bentuk masalah Politik umat Islam. Pemahaman kedua ini merupakan dampak dari perkembangan konstruksi keberagamaan oknum dari kelompok umat Islam yang mengaitkan sebagai kondisi umat Islam di seluruh dunia yang tersiksa. Karenanya, konflik ini dijadikan dasar untuk membangkitkan kemarahan umat Islam dunia, termasuk yang ada di Indonesia paska berakhirnya Pilkada DKI  2017.

Dari hasil simpulan yang kedua di atas berbeda dengan realitas politik Myanmar, yaitu negara yang terdiri dari berbagai etnis, di antaranya Etnis Arakan (Pribumi/Mayoritas), Etnis Bengali, Etnis Rohingnya. Myanmar memiliki 7 negara bagian, di antaranya Rakhina State, memiliki 3 etnis tersebut. Etnis Rohingnya beragama Islam dari Pakistan Timur dan Bangladesh. Yang perlu dicatat, dari ketiga suku yang memiliki warga beragama Islam tidak hanya Rohingnya, namun juga etnis Bengali, yang telah lama berinteraksi dengan muslim Rohingnya. Muslim Bengali selama ini, tidak terlibat konflik dan menjalani aktivitas seperti biasa: mengapa muslim Rohingnya terlibat konflik?

Hal ini terjadi karena faktor bisnis dan ekonomi serta masalah social politik yang langsung berhadapan dengan etnis Arakan (etnis mayoritas). Konflik kedua etnis ini mencuat secara publik pada tahun 2012, karena adanya upaya penggunaan instrumen politik sensitif agama yang dikembangkan oleh kaum intoleran, termasuk yang berkembang di Indonesia. Dalam konflik ini keduanya sudah tidak menggunakan prinsip agama, karena masing masing telah saling melakukam pembunuhan dan upaya pemerkosaan dan bentuk kekerasan yang lain.

Dalam perkembangan realitas politik di Myanmar, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak adil terhadap etnis Rohingnya. Sebagaimana liputan banyak media internasional, pemerintah menempatkan Rohingnya dalam kamp, terus memgawasi secara ketat. Selain itu, etnis Rohingnya telah mendapatkan perlakuan hak kewarganegaraan secara diskriminatif. Hal ini yang menyebabkan Etnis Rohingnya mengalami Kemiskinan yang berlarut larut. Sambut bergayung, kondisi ini mendorong Gerakan Solidaritas Rohingnya, yang di pimpin Atta Ula (Abu Amar). Atta Ula berdaran Pakistan, yang telah memulai berseteru dengan pasukan pemerintah Myanmar, 2016-2017.

Sistem negara demokrasi di Myanmar masih dalam kekuasaan Rezim Militer yang berkuasa paling lama (1962-2015). Rezim militer ini memiliki latar belakang kesejarahan dengan pemerintah Orde Baru. Jadi, membaca perkembangan politik di Myanmar didasarkan pada konflik politik murni, bukan konflik agama, namun tidak dapat dipungkiri, telah menelan korban umat Islam. Karenanya, konflik Rohingnya merupakan tanggung jawab dunia, tidak hanya umat Islam. Diskriminasi kemanusiaan di Rohingnya merupakan bentuk sikap yang menjadi musuh seluruh umat manusia, sehingga tidak hanya kesedihan umat Islam saja.

Selain PBB, sudah banyak negara bersuara keras terhadap pemerintah Myanmar atas Krisis Rohingnya. Contoh negara yang mengecam pemerintah Myanmar, seperti Malaysia, Turki, Indonesia. Dalam solidaritas agama, tidak hanya umat Islam dan Nahdlatul Ulama (NU), namun Vatican melalui Paus Fransiskus juga mengecam keras terjadinya diskriminasi atas etnis Rohingnya. Pemerintah Myanmar mencederai demokrasi negara Myanmar. Yang lebih memilukan lagi, pemerintah Myanmar memanfaatkan masyarakat untuk melakukan siatem demokrasi jalanan dengan membayar para demonstran. Hal ini terjadi, karena ingin menciptakan manajemen konflik di tengah konflik keberagamaan masyarakat.

Sehubungan demokrasi jalanan di atas, adalah demokrasi yang dikendalikan melalui demonstrasi besar-besar, yang sejatinya adalah ambisi kelompok elite untuk memenuhi ambisi politik pribadinya bersama sama dengan kaum intoleran.  Jadi, antara pemerintah Myanmar dan rezim Orde Baru di Indonesia, seperti dua sisi mata uang yang sama sama menggunakan kekuatan militer. Pilihan yang membedakan antara demokrasi jalanan dan populisme kanan, adalah seperti anologi antara sikap kebijakam para penguasa dan masyarakat korban kuasa agama dan pemerintahan.

Sebagaimana pada umumnya terjadi, konflik keberagamaan dimulai dari populisme kanan. Hal ini sudah terjadi di beberapa negara paling demokratis, yang masih membiarkan gerakan gerakan atas nama agama yang mengkampanyekan ortodoksi agamanya dan gerakan komunalisme. Contoh, di Indonesia telah ditandai adanya gerakan HTI dan FPI, yang berhasil dalam kegiatan jangka pendek untuk membangun aksi “Bela Islam” dan telah didukung massa yang besar dari organisasi keagamaan yang lain. Berbeda dengan populisme kanan, populisme kiri sering dimulai dari populisme kaum rasis, seperti Donald Trump di AS dan Brexit di Inggris. Kedua model konflik ini akan merusak nasionalisme dan kepentingan kelompok-kelompok minoritas serta sistem kebudayaan masyarakat.

Meskipun demikian, tidak semua konflik agama dan budaya disebabkan oleh populisme kanan. Karena dalam konteks realitas politik dunia, ada banyak pihak yang memainkannya. Dalam konteks kepentingan yang sama, juga bisa terjadi sebaliknya, yaitu adanya upaya sistem kekuasaan yang ingin merangkul populisme kanan bekerja sama dengan sistem permodalan. Misalnya, pada era Soeharto, populisme Islam sama senasib dengan kepitalisme, karena menjadi sama sama telah dimainkan oleh politik penguasa Orde Baru. Politik penguasa ini telah memanfaatkan relasi kerja sama busuk dengan para preman yang terorganisir.

Keadilan Hukum Yang Manusiawi

Hukum merupakan keputusan yang mengikat individu yang harus mengikuti tata aturan yang sudah ditetapkan kepada Individu yang sudah memenuhi kewajiban melaksanakan tata aturan dimaksud. Dalam institusi sosial, jika hukum dikaitkan dengan hak dan perolehan hak, maka hukum memiliki keterkaitan dengan nilai keadilan sosial. Keadilan memiliki cakupan makna yang mengarah pada prinsip kebenaran moral mengenai sesuatu hal terkait dengan manusia. Prinsip kebenaran ini memiliki nilai yang mendasari keadilan hukum, yaitu nilai kemanusiaan.

Sehubungan dengan prinsip keadilan ini, John R, filsuf Amerika Serikat, filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran"(John Rawls, A Theory of Justice (revised edn, Oxford: OUP, 1999), p. 3). Ukuran nilai kemanusiaan yang sesuai dengan proporsionalitas manusia merupakan inti keadilan. Teks keadilan ini dapat dipahami sebagai upaya sadar manusia meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya (wad'u As Syai' 'Ala mahallihi). Jadi, keadilan hukum yang akan diberlakukan kepada umat manusia, haruslah bentuk keadilan hukum yang sesuai dengan ukuran nilai kemanusiaan seseorang.

Oleh karena itu, sudah menjadi sikap manusiwi seseorang, jika ingin mendapatkan perlakuan kemanusiaan, yang sudah menjadi prinsip hidupnya. Secara manusiawi, prinsip hidup seseorang ingin mendapatkan hak pilihan dan perolehannya. Jadi, keberanian seseorang untuk menegaskan hak dan pilihan bukanlah sikap oportunis. Karenanya, lembaga hukum tidak boleh berhenti pada kepentingan kemanusiaan jangka pendek. Alasannya, nilai kemanusiaan itu harus dipahami secara jangka panjang untuk kepentingan etika hidup, bukan sebaliknya: prinsip etis tidak berarti di muka hukum.

Sebagai contoh, pembubaran HTI meskipun berbeda dengan kebhinekaan bangsa Indonesia, tidak boleh menodai para anggotanya. Pengikut HTI adalah manusia yang memiliki hak perolehan untuk mendapatkan perlindungan hukum. Selama sudah ada perpu No. 02/ 2017 tidak lagi melakukan penyebaran terhadap ideologi khilafah, maka perlu mendapatkan hak kewarganegaraannya.

Karena demokrasi di Indonesia harus didasarkan pada ideologi pancasila, maka ideologi khilafah HTI harus bubar. Kiranya dapat dipahami, bahwa berorganisasi merupakan hak kebebasan yg fundemantal dari seorang individu, namun sebagai warga negara tdk boleh mendirikan organisasi yg bertentangan ideologi pancasila, seperti: kebebasan dan hak berserikat, menyampaikan pendapat serta menjalankan keyakinanya. Contoh, mendirikan organisasi untuk membatasi hak hak seseorang, membunuh dan memperkosa, adalah contoh intoleransi yang harus segera dihentikan. Bagaimana dengan pemerintah Myanmar? Sebagai negara demokrasi, pemerintah Myanmar harus memahami etika hidup, nilai demokrasi, dan keadilan hukum warga negara. Dengan demikian, tidak lagi memperpanjang masa kebijakan yang diskriminatif yang akan berdampak pada konflik yang lebih luas lagi. Selamat.

Ubaidillah Achmad, penulis Islam Geger Kendeng, Suluk Kiai Cebolek, Khadim Majlis Kongkow As Syuffah Rembang.

COMMENTS

Nama

.,1,#AyoMondok,12,#BelajarIslam,8,#CintaNKRI,2,#DanaHaji,1,#HariSantri,19,#HariSantri #HariSantri2017,1,#HariSantri2017,1,#HarlahNU,4,#HarlahNU91,2,#HaulKiaiHasanGenggong,2,#IslamIndonesia,1,#IslamNUsantara,4,#KajianRamadhan,1,#SavePalestine,3,#SaveRohingya,3,1 Muharram,3,1 Syawal,1,2016,1,A. Zakky Zulhazmi,1,Abdlul Halim Hasan,1,Abdul Mun'im DZ,1,Abu Bakar Hasan Assegaf,1,Adab Rasulullah,1,Advetorial,2,Afif Sunakim,1,Agama,1,Agama Cinta,1,Agenda,25,Agenda NU,1,Agnez Mo,1,Agus Zainal Arifin,3,Ahlusunnah wal Jama'ah,31,Ahmad Baso,1,Ahmad Mujib Rahmat,1,Ahmet Davutoglu,1,Ahsunnah,1,AJaran Islam,1,Akhir Zaman,1,Akhlakul Karimah,1,Al-Nimr,1,Al-Qaeda,1,Al-Qur'an,4,Al-Qur'an Raksasa,1,Al-Zastrow Ngatawi,1,Alamsyah M. Dja’far,3,Ali bin Abi Thalib,2,Ali Zawawi,1,Alissa Wahid,1,Allah,1,Almanak,1,Alumni Madrasah,1,Amalan,16,Amalan di Bulan Ramadhan,2,Amalan NU,4,Amalan Rasulullah,1,Amaliah,19,Aman Abdurrahman,1,Amirul Ulum,2,Anas Saidi,1,Angka Istimewa dalam Islam,1,Angka Tiga,1,Angker,1,Ansor,3,Ansor Garut,1,Ansor Malang,1,Ansor Surabaya,1,Anti Korupsi,4,Anti Narkoba,1,Anti Radikalisme,3,Anti Terorisme,2,Anti Wahabi,1,Aplikasi Batik,1,Aqidah,2,Arab,1,Arab People,1,Arab Saudi,2,Arief Mundatsir Mandan,1,Arifin Junaidi,1,Arrahmah Channel,5,Arrahmah Featured,11,Arrahmah.com,1,Articles,2,Artikel,26,Asian Youth Robot Olimpiade,1,Asosiasi Pesantren NU,1,Aswaja,24,Asy'ariyah,1,Australia,1,Avicenna Roghid Putra,1,Ayat-ayat Toleransi,1,Ayman Adz Dzawahiri,1,Ayo Mondok,1,AYRO,1,Bahtsul Masail,1,Bangsa Indonesia,1,Banser,14,Banten,1,Batik,1,Batik Indonesia,1,Battle,1,Battle of Uhud,1,Beasiswa,12,Beasiswa Kemenag,3,Beasiswa Madrasah,1,Beasiswa Santri,1,Beasiswa Santri 2016,1,Beasiswa Santri Berprestasi,2,Beasiswa Santri Berprestasi 2016,1,Bekasi,1,Belajar Islam,26,Berita,148,Berita Duka,5,Berita Islam,3,Bid'ah,2,Bid'ah para Sahabat,1,Bima Arya,1,Biseksual,1,Bisnis Haram,1,BNN,1,BNN di Jepara,1,BNPT,2,Bodo Kupat,1,Bogor,1,Bom Kuningan,1,Bom Sarinah,2,Bom Thamrin,2,BPOM,1,Brain,1,Budaya,1,Buku,6,Bulan Rajab,1,Buletin Jumat,5,Burdah,1,Cak Masykur,25,Cak Nun,1,Cak Nur,1,Cangkir9,2,Cep Herry Syarifuddin,1,Cerpen,2,Channel Arrahmah,37,Charlie Hebdo,1,Cheng Ho,1,Choirul Anam,1,Cinta,1,Cinta Bangsa,1,Cinta Tanah Air,1,Counter Radicalism,6,Cybercrime,2,Dajjal,1,Dakwah Islam,4,dan Transgender,1,Darurat Narkoba,3,Dea Anugerah,1,Deklarasi Nahdlatul Ulama,1,Deklarasi Serpong,1,Densus 88,2,Digital Media,2,Direktorat Pendidikan Madrasah,1,Dit PD Pontren Kemenag,1,DKI Jakarta,1,Doa,31,Doa Akhir Tahun,1,Doa Anak Sholeh,1,Doa Awal Tahun,1,Doa Berbuka,1,Doa dan Tirakat,1,Doa Gus Mus,1,Doa Harian,1,Doa Nabi,1,Doa Pernikahan,2,Doa Setelah Shalat,1,Doa Wudhu,1,Dosen UIN Walisongo,1,Download,1,Dr. Amin Haedari,1,DR. KH. M. A. SAHAL MAHFUDH,1,Dr. Nadirsyah Hosen,10,Dubes,1,Dzikir dan Doa,2,Dzikir Setelah Shalat,1,Editor's Choice,10,Effendi Choirie,1,Ekologi,3,Ekonomi,3,Eksekusi Mati Al-Nimr,1,English Edition,1,Esensi Syariah,1,Fadhila Haifa’ Afifah,1,Fadilah,1,Falak,1,Fardhu Wudhu,1,Fatayat NU,2,Fathoni Muhammad,1,Fatwa MUI,1,FDS,11,featured,133,Featured Arrahmah,44,Fikih,2,Fikih dan Muamalah,3,Fikih Ibadah,10,Fiqh,8,Fiqh Ibadah,1,Fiqh Qurban,6,Fiqh Shalat,3,Fiqih Lingkungan,2,Firqaf,1,Firqah,1,Firqoh,1,Fokus Khusus,1,FSN,2,Fulldayschool,4,Fundamentalis akan Habis,1,Gafatar,1,Galeri,4,Gay,1,Geluntung Agel Wafi,1,Gerakan Nasional AyoMondok,1,Gerhana,1,Gerhana Bulan,1,Gerhana Matahari,3,Gerhana Matahari Total,1,GIYE,1,Good Muslim,13,GP Ansor,8,Grand Syaikh Al-Azhar,1,Grants,1,Griya Gus Dur,1,GTK Madrasah,2,Guru Inspiratif,2,Guru Madrasah,2,Guru MAN,1,Guru Mughni,1,Guru PAI,1,Gus Ahmad Muwaffiq,1,Gus Aqib,1,Gus Dur,23,Gus Miek,1,Gus Mus,9,Gus Muwafiq,1,Gus Rizal Mumaziq,1,Gus Sholah,1,Gus Ubaidillah Achmad,1,Gus Yaqut,1,GusDur.net,1,Gusdurian,2,Habib Abu Bakar,1,Habib Lutfi,1,Habib Luthfi bin Yahya,1,Habib Novel,10,Habib Novel Alaydrus,7,Habib Salim Bin Jindan,1,Habib Sholeh Al-Hamid Tanggul,1,Habib Syech,1,Habib Umar bin Hafidz,3,Hadist,1,Hadist Jibril,1,Hadits,1,Hadits 72 Bidadari,1,Hadits Diskriminatif,1,Hafidzoh,1,Haji,7,Haji 2015,1,Haji 2017,1,Haji 2018,1,Hajj,1,Halal bi Halal,3,Halaqah,1,Hamid Ahmad Masduki Baidlawi,1,Har Santri,1,Hari Arafah,2,Hari Batik Nasional,1,Hari Natal,1,Hari Pahlawan,2,Hari Santri,32,Harlah,2,Harlah NU,3,Hasan al-Bashri,1,Haul,4,Haul Gus Dur,9,Haul Kiai Sholeh Darat,2,Haul Sunan Ampel,1,Haul Sunan Bonang,1,Haul Syekh Nawawi Al-Bantani,1,Headlines,20,Hikam Zain,15,Hikmah,83,Hikmah Islam,45,Hipsi,3,Hisab,1,Hizb,1,Hizbut Tahrir,2,Hizbut Tahrir Indonesia,2,Hoax,2,Hong Kong,1,HTI,2,HTIBubar,6,Hubbul Wathan minal Iman,1,Hukum Islam mengenai LGBT,1,Hukum Melangkahi Kuburan,1,Hukum Membunuh,1,Hukum Membunuh dalam Islam,1,Hukum Ucapan Natal,1,Humor,3,HUT TNI,1,Hymne,1,I-Banking,1,Ibadah,4,Ibn Muljam,1,Ibn Yaqzan,1,Ibu Nabi Muhammad,1,Ibunda Nabi Muhammad,1,IDC,1,Ideologi,1,Idhul Adha,1,Idul Adha,14,Idul Fitri,7,IIEE,1,IISRO,1,Ijazah,6,Ijtihad,1,Ikhbar,42,Ilmu Kalam,1,Image,1,Imam al-Syafi’i,1,Imam Ghazali,1,Imam Malik,1,Imam Muslim,1,Imam Nawawi,1,Imlek,1,INC,2,Indonesia Darurat Narkoba,1,Info Haji,2,Inspirasi,11,Inspirasi Pesantren,2,Interfaith,3,Internasional,98,International,3,International Islamic School Robot Olympiad,1,International Peace Day,1,Internet Banking,1,IPNU,1,IPPNU,1,Iqbal Khalidi,3,Iqbal Kholidi,1,Iran,1,ISIS,11,Islah Gusmian,1,Islam,16,Islam dan Perdamaian,1,Islam Di China,3,Islam di Papua,1,Islam Indonesia,3,Islam Nusantara,28,Islam Nusantara Center,1,Islam Papua,1,Islam Radikal,1,Islamic Event,1,Islamic State,1,Isra' Mi'raj,1,Istighosah Kubro,1,Istikharah,1,Ito Surmardi,1,JAD,1,Jakarta,4,Jamiyatun Nasihin,1,Jasad Utuh,1,Jawa Barat,3,Jawa Tengah,7,Jawa Timur,4,Jazirah Arab,1,JIhad,3,Jihad fi Sabilillah,1,Jokowi,5,Jonru,1,Jurnalistik,1,K.H. Ahmad Umar Abdul Manan,1,Kabar Duka,1,Kabar Pesantren,5,Kabar Pesantrens,1,Kajian Islam,18,Kajian Ramadhan,1,Kalam Ulama,4,Kalender,2,Kalender Islam,2,Kalimah Syahadat,1,Kalis Mardiasih,1,Kampung Damai,1,Kampus,1,Kekerasan,1,Kemenag,3,Kementerian Agama,1,Kementerian Agama RI,3,Keraton Sumenep,1,Kesehatan,4,Ketua PBNU,1,Ketum PBNU,1,Ketupat,1,Keutamaan Bulan Rajab,1,Keutamaan Shalat Tarawih,16,Keutamaan Shalawat Nabi,2,Keutamaan Tarawih,1,KH A Ghazalie Masroeri,1,KH Abdurrahman Wahid,5,KH MA Sahal Mahfudh,2,KH Maemon Zubair,1,KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh,1,KH Sahal Mahfudh,3,KH Said Aqil Siraj,1,KH Wahab Hasbullah,1,KH. Abdul Aziz Manshuri,1,KH. Abdul Ghoffar Rozien,1,KH. Abdul Karim,1,KH. Abdul Muhaimin,1,KH. Abdurrahman Wahid,1,KH. Ali M. Abdillah,1,KH. Bisri Mustofa,1,KH. Cep Herry Syarifuddin,3,KH. Hasyim Asy'ari,1,KH. Hasyim Asyari,3,KH. Husein Muhammad,2,KH. Iftah Sidiq,1,KH. Lukman Harits Dimyati,1,KH. Ma'ruf Amin,2,KH. Maimoen Zubair,11,KH. Marzuqi Dahlan,1,KH. Masdar F. Mas'udi,2,KH. Mustofa Bisri,2,KH. Said Aqil Siraj,5,KH. Sholeh Darat,8,KH. Thobary Syadzily,1,KH. Tubagus Muhammad Falak,1,KH. Yahya Cholil Staquf,3,KH. Zainal Mustafa,2,KH. Zakky Mubarok,2,KH.Shalih Darat,1,Khanza Iliyina Syafa,1,Khawarij,1,Khazanah,3,Khazanah Isam,7,Khazanah Islam,379,Khilafah Islamiyah,5,Khofifah Indar Parawansa,1,Khoirul Anam,2,Khulafaur Rasyidin,1,Khutbah,4,Khutbah Idul Fitri,2,Khutbah Jumat,1,Kiai Abdul Hamid,1,Kiai Hasan Genggong,1,Kiat Menulis,1,Kiddle,1,Kilas,1,Kirab Santri,1,Kisah Hikmah,16,Kisah Nabi,1,Kisah Rasulullah,1,Kisah Teladan,1,Kita Tidak takut,1,Kitab Durrotun Nasihin,1,Kitab Jawahirul Bukhori,1,Kitab Kuning,5,Kitab Pegon,1,Kitab Suci,1,Kokam,1,Kolom,96,Komedi Religi,1,Kominfo,1,Konferwil NU Jabar,1,Konflik Sunni-Syiah,1,Kongkow Sufi,3,Konsultasi Agama,1,Konsultasi Islam,1,Kontra Radikal-Terorisme,1,KPAI,1,KPK,1,Kreatif Indonesia,1,Kriminal,1,Krisis Jerusalem,2,Krisis Rohingya,7,KUPI,1,Kurban,7,Kyai Maimoen Zubair,1,Kyai Masdar,1,Kyai Pahlawanku,1,Kyai Pesantren,1,Lailatul Qadr,1,Lambang NU,1,Lapan-A2,1,Laporan,1,Lazisnu,1,Le Petit Prince,1,Lebaran,1,Lebaran Ketupat,1,Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama,2,Lesbian,1,Letter of Acceptance,1,LFNU,1,LGBT,2,Liberalisme,1,Life of Mohammed,3,Life of Muhammad,2,Liga Santri,2,Liga Santri Nusantara,3,Lingkungan,1,LIPI,1,Litbang Kemenag,1,Literasi,7,Literasi Digital,3,LoA,1,Logo Muktamar NU ke-33,1,Logo NU,1,Love Peace,1,LPDP,1,LSN,5,LSN 2017,3,LTN NU,3,Lukman Hakim Saifuddin,3,Lunar System,1,M. Kholid Syeirazi,1,M. Nur Kholis Setiawan,1,M. Rikza Chamami,13,M. Rikza Khamami,1,Ma'arif NU,2,Madrasah,24,Madrasah Diniyah,5,Madrasah Lebih Baik,2,Madrasah TBS,1,Mahasiswa,2,Mahbub Ma'afi,2,Mainstream Media,1,Majelis Dzikir,1,Majelis Shalawat,1,Makalah,3,Makam Gus Dur,1,Makam Nabi,1,Makam Nabi Muhammad SAW,1,Makam Rasulullah,1,Makam Sunan Bonang,1,Makkah,1,Maklumat,3,Makna Bismillah,1,Makna Logo Muktamar NU ke-33,1,Malik bin Anas,1,Mama Falak,1,MAN IC,1,Manhaj Salafi Imam Syafi’i,1,Manhaji,1,Manusia Robot Bali,1,Mars,1,Masjid,1,Masjid Zhenjiao,1,Masjidid Haram,1,Masjidil Haram,1,Maturidiyyah,1,Maulid,4,Maulid Burdah,1,Maulid dalam Islam,1,Maulid Nabi,7,Maulid Nabi Muhammad SAW,3,Mbah Maimoen Zubair,2,Mbah Moen Sarang,2,Mbah Mun,1,Mbah Sahal,1,Mbah Sholeh Darat,1,MCA,1,Media,2,Media Sosial,1,Media Watch,1,Mehmet Gormez,1,Melangkahi Kuburan,1,Meme,1,Meme Islami,1,Menag,2,Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia,1,Mengenal Jejak Mengenal Watak,1,Menristek,1,Menulis,1,Merayakan Maulid,1,Milad,1,Minal Aidin Wal Faizin,1,Minhajul 'Abidin,5,Moment,1,MTs Surya Buana Malang,1,MTsN 2 Pamulang,1,MTT,1,Mualaf,2,Mudik Lebaran,1,Muhammad,2,Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab,2,Muhammad Nasir,1,Muhammad Niam,1,Muhammad PBUH,1,Muhammad SAW,3,Muhammad Tijany,1,Muharram,2,MUI,1,Mujaheeden,1,Mujahidin Palestina,1,Mukiyah,1,Mukjizat,2,Muktamar NU,1,Muktamar NU ke 33,2,Munas-Konbes NU,20,Munawir Aziz,1,Muntaha Azhari,1,Museum Keraton Sumenep,1,Muslim Hong Kong,1,Muslim Kagetan,1,Muslim Papua,1,Muslimat NU,2,Nabi dan Rasul,1,Nabi Ibrahim,1,Nabi Muhammad,2,Nabi Muhammad SAW,6,Nadirsyah Hosen,6,Nadlatul Ulama,2,Nahdatul Ulama,18,Nahdlatul Ulama,157,Nahdlatul Ulamata,1,Name of Allah,1,Narkoba,3,Nasehat,8,Nasihat,1,Nasional,412,Nasionalisme,1,Natal,1,Natal 2015,1,Natal dan Maulid,1,Netizen Jurnalistik,1,New,1,News,677,News Ikhbar,2,News IPPNU,1,News Pictures,17,Ngaji Live,1,Ngaji Puasa,27,Ngaji Ramadan,8,Ngaji Ramadhan,20,Ngaji Video,1,Niat Puasa,1,Nishfu Sya'ban,1,NKRI,1,NKRI Harga Mati,3,NU,7,NU ANZ,1,NU Batang,1,NU Bogor,13,NU Care,2,NU Care LazisNU,2,NU Garis Lurus,1,NU Jabar,2,NU Jatim,1,NU Klaten,1,NU Semarang,1,NUCare,4,NUPeduli,1,Nur Kholik Ridwan,1,Nur Rofiah,1,Olimpiade Kedokteran,1,Opini,283,Opinion,1,Opnion,1,Orbituari,2,Pagar Nusa,13,PAI,2,Palestina,2,Palestine,1,Palestine Mujaheeden,1,Papua,1,Parenting,1,PBNU,8,PBSB,3,PBSB 2016,1,Peace,1,Peduli Bencana,2,Pelajar NU,1,Pendaftaran PBSB 2016,1,Pendididkan Islam,18,Pendidika Islam,1,Pendidika Islam,1,Pendidikan,171,Pendidikan Agama,1,Pendidikan Islam,158,Pendidikan Karakter,2,Pendidikan Madrasah,5,Pendidikan Politik,3,Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam,1,Pendidikn Karakter,1,Pendis Kemenag,2,Penggrebekan di Jepara,1,Pengobatan Islami,1,Penjajahan,1,Pentas PAI,1,Penulis,1,Perang,1,Perang Badar,1,Perang Uhud,1,Perguruan Tinggi NU,1,Perkemahan Rohis,1,Perppu Ormas,2,Perpres,1,Perpu Ormas,1,Perwimanas,2,Pesan Kiai,1,Pesantren,70,Pesantren Assalafiyah Cirebon. Assalafiyah,1,Pesantren Ibnu Mas'ud,1,Pesantren Lirboyo,2,Pesantren Mahasiswa,1,Pesantren Salaf,1,Photo,1,Pilihan Editor,105,Pilkada,1,Pilkada 2017,1,Pilkada DKI,1,Pilkada Jatim,1,Ploso,1,PMII,3,Polemik Sejarah Tere Liye,1,Politik,13,Ponorogo,1,Ponpes Al-Anwar,1,Pontianak,1,PPMN III,1,Pra Munas,4,Pramuka,1,Prof. Dr. Ahmad Tayyeb,1,Prof. Dr. Quraish Shihab,3,Profil,3,PTKI,1,Puasa Arafah,1,Puasa Ramadhan,1,Puisi,12,Pustaka,10,Pustaka Pesantren,8,Qawli,1,Qunut Nazilah,1,Quote,1,Qurban,5,Radicalism,1,Radikalisme,10,Rajab,1,Ramadan,2,Ramadhab,1,Ramadhan,72,Ramadhan 2015,12,Ramadhan 2016,2,Ramadhan di Hong Kong,1,Ramadhan Video,25,Rasis,1,Rasullah,1,Rasulullah SAW,6,Recommended,2,Refleksi Akhir Tahun,1,Release,2,Release PBNU,1,Religion,2,Remaja Islam,1,Resolusi Jihad,2,Resolusi Jihad NU,1,Rezeki Halal,1,Rijal Mumazziq Z,1,Risalah NU,1,RMI NU,4,Robikin Emhas,1,Robot,1,Rohingya,11,Rokok,2,Rubbubiyah,1,Ruchman Basori,2,Rukun Islam,1,Sahabat,1,Sahabat Nabi,2,Sahih Muslim,1,Said Budairy,1,Saifuddin Zuhri,1,Saifullah Ma'shum,1,Sajak,2,Salafi,2,Salam,1,Sanad Keilmuan,1,Santri,6,Santri Goes To Papua,3,Santri Menulis,1,Santri Urban,1,Sarkub Papua,1,Sastra Islam,11,Satelit,1,Satelit Indonesia,1,Save Rohingya,6,Sayembara Logo Muktamar NU ke-33,1,Science,5,Sedekah,3,Sejarah,5,Sejarah Al-Qur'an,1,Sejarah Indonesia,2,Sejarah Islam,1,Sejarah NU,2,Sekolah Lima Hari,1,Seni dan Sastra Islam,12,Seri Belajar Islam,8,Seri KH. Said Aqil Siraj,1,Seri Tokoh,1,SGTP,1,Shahih Muslim,1,Shaikh Nimr Baqir al-Nimr,1,Shalat,18,Shalat Gerhana,3,Shalat Idul Adha,1,Shalat Istiqa,1,Shalat Jum'at,6,Shalat Sunah,1,Shalat Sunnah,3,Shalat Tarawih,15,Shalawa Nabi,1,Shalawat,2,Shalawat Nabi,4,Shalawat Nabi Muhammad SAW,2,Shalawat Nariyah,3,Sholat Tarawih,1,Sholawat,1,Sholeh Darat,1,Short Course,1,Sifat Mulia Rasulullah SAW,1,Silsilah Nabi Muhammad SAW,1,Silsilah Rasulullah,1,Sindikasi Damai,15,Sindikasi Media,1,Singaparna,1,Sinopsis,1,Sirah Nabawiyah,2,Sirah Nabi,2,Siswa Berprestasi,1,Slamet Basyid,1,solar system,1,Solidaritas,1,Sponsored,2,Suara NU,1,Sudut Pandang,1,Sudut Taman Ramadhan,7,Sufistik,1,Sumanto Al Qurtuby,9,Sumenep,1,Sunnah,2,Sunnah Rasulullah,1,Sunnah Shalat,1,SUNNI,1,Sunni-Shia,1,Sunni-Syiah,1,Suraji,6,Surat Edaran Gubernur Jateng,1,Surat Terbuka,3,Suriah,2,Syafa'at Rasulullah,1,Syafaat Nabi,1,Syahid,1,Syahrozad Zalfa Nadia,1,Syaikhona Kholil Bangkalan,1,Syarat Wajib Zakat,1,Syariah,2,Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani,1,Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany,1,Syekh Abdul Qadir Al-Jailani,1,Syekh Dr. Muhammad Fadhil,1,SYIAH,3,Tafsir,1,Tafsir Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani,1,Tahlilan,2,Tahun Baru 2016,1,Tahun Baru Islam,2,Tahun Baru Masehi,1,Tanah Suci,1,Tarawih,21,Tasawuf,3,Tawan,1,Tawariq,1,Tayyip Erdogan,1,Tebuireng,6,Tekno,20,Teladan,1,Teladan Nabi,3,Teologi Teror,1,Teraweeh,1,Tere Liye,1,Teror,1,Teror 2016,1,Teror Jakarta,1,Teror Sarinah,1,Teror Thamrin,1,Teroris,4,Terorism,10,Terorisme,25,Tionghoa,1,Tips and Trick,2,Tokoh,86,Tokoh Betawi,1,Tokoh Bogor,1,Tokoh Dunia,3,Tokoh Indonesia,19,Tokoh Islam,114,Tokoh Kemerdekaan,2,Tokoh Muda Islam,25,Tokoh NU,17,Tokoh NU Bogor,1,Tokoh NU Jabar,1,Tokoh Perempuan,1,Tokoh PMII,1,Tokoh Rembang,1,Tokoh Syiah,1,Tolak FDS,12,Toleransi,5,Tradisi,2,Tragedi Crane di Masjidil Haram,1,Trend Sosial,2,Tuah Pesantren,1,Tulisan Arab,1,Tuntunan Islam,1,Turats,1,Turki,1,TurnBackHoax,4,Tutorial,1,TV9,1,Ubaidillah Achmad,23,Ubaidillah Ahmad,1,Ucapan Minal Aidin Wal Faizin,1,Ucapat Selamat Natal,1,Udhiyah,1,Uhud,1,Ulama,11,Ulama Bogor,1,Ulama Indonesia,1,Ulama NU,3,Ulama Nusantara,1,Ulama Perempuan,1,Ulama Salaf,1,Uluhiyah,1,UNU,2,Ustad Ahmad Ikrom,1,Ustadz,1,Ustadz Ahmad Ali MD,2,Ustadz Ali MD,1,Ustadz Fathuri,24,Ustadz Fatoni Muhammad,1,Ustadz Lc,1,Ustadz Ma'ruf Khozin,3,Ustadz Menjawab,5,Ustadz Yusuf Mukhtar Sidayu,1,Ustadz Yusuf Suharto,1,Uswah,3,Uswatuna,3,UU Ormas,1,Video,5,Vinanda Febriani,7,VoA-Islam,1,Wahabi,4,Wahabism,2,Wahabisme,2,Wahid Foundation,6,Wali Pasemone,1,Wali Songo,2,Walisongo,5,Waliyullah,1,Wardi Taufik,1,Wawasan,79,Wawasan Islam,54,Wawasan Kebangsaan,12,Wawasan Nusantara,43,Website Islam Indonesia,1,Website Islam Nusantara,1,Wirid dan Doa,2,Wirid dan Doa Setelah Shalat,1,Women and Jihad,1,Women Fighter,1,World Peace,1,Wudhu,3,Yahya Staquf,1,Yasin,1,Yayasan Saifuddin Zuhri,1,Yenny Wahid,3,Yogyakarta,8,Z-Featured,3,Zainal Mustafa,1,Zakat,4,Zakat Fitrah,2,Zakir Naik,1,Zakky Zulhazmi,2,ZIarah,4,Ziarah Kubur,2,Zikir,1,Zuhairi Misrawi,1,Zulkilfi Hasan,1,خطبة كسوف الشمس,1,
ltr
item
Arrahmah.co.id - Portal Dunia Islam: Kaum Intoleran Dalam Tajuk Demokratisasi Myanmar Dan Indonesia
Kaum Intoleran Dalam Tajuk Demokratisasi Myanmar Dan Indonesia
https://lh3.googleusercontent.com/-F9dRkJNTM7w/Wb1MVadlMsI/AAAAAAAACCQ/wSKHmlZOd_UUPhQwLacCj6VDi6BSKD86ACHMYCw/s640/images.jpg
https://lh3.googleusercontent.com/-F9dRkJNTM7w/Wb1MVadlMsI/AAAAAAAACCQ/wSKHmlZOd_UUPhQwLacCj6VDi6BSKD86ACHMYCw/s72-c/images.jpg
Arrahmah.co.id - Portal Dunia Islam
https://www.arrahmah.co.id/2017/09/kaum-intoleran-dalam-tajuk.html
https://www.arrahmah.co.id/
https://www.arrahmah.co.id/
https://www.arrahmah.co.id/2017/09/kaum-intoleran-dalam-tajuk.html
true
766049156261097024
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content