Billboard Ads

Bahwa tidak ada satu pun agama dan ideologi di dunia ini yang membenarkan tindakan dan cara-cara kekerasan dalam kehidupan umat manusia. Kami semua ikut merasakan kepedihan yang sangat luar biasa atas peristiwa yang menimpa masyarakat muslim yang berada di Rohingya, Myanmar. 

Cinta untuk Rohingnya - Doa dan Pesan Damai untuk Rohingya dari Lintas Iman Magelang
Cinta untuk Rohingnya - Doa dan Pesan Damai untuk Rohingya dari Lintas Iman Magelang. Photo: Jamaah Kopdariyyah
ARRAHMAH.CO.ID - Ratusan orang yang dari berbagai organisasi dan elemen masyarakat berkumpul di Omah Joglo Mendut, Kamis (7/9/2017) malam. Mereka ini menyampaikan pernyataan sikap bersama lintas iman di Magelang Raya (Kabupaten dan Kota Magelang) terhadap tragedi kemanusiaan di Rohingya Myanmar.

Ahmad Majidun, salah satu panitia dari unsur Nahdlatul Ulama Kab. Magelang, mengatakan bahwa pertemuan ini didasari atas keprihatinan bersama masyarakat lintas iman di Magelang.

“Kami ingin segera terwujud kedamaian dan kerukunan sesama manusia di sana,” kata Majidun dilansir Alif.id, Jum'at, (08/09/2017).

“Ajaran Budha tidak membenarkan sedikit pun kekerasan,” ujar Bante Abijato yang turut hadir dalam acara tersebut.

Pertemuan yang dihadiri Gus Yusuf dari Pesantren Tegalrejo, Kiai Said Asrori dari Nahdlatul Ulama, Bante Abijato  dari Budha, Nyoman dari Hindu, Tomo dari Katolik, aktivis Gusdurians, mengajak seluruh umat manusia, terutama warga Negara Indonesia untuk bersama-sama menggelorakan kehidupan yang damai, saling menjaga, saling melindungi dan menghargai sesama manusia, meskipun berbeda agama dan keyakinan.

Secara khusus mereka menghimbau kepada masyarakat luas agar tidak memperkeruh suasana dngan menyebarkan berita bohon, foto-foto yang tidak jelas sumbernya dan tidak mempolitisir keadaan.

“Berita hoax dan informasi-informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan harus segera dihentikan. Semua pihak harus bersikap dan bertindak secara proporsional dalam menyikapi tragedi kemanusiaan di Rohingya Myanmar. Jangan memicu konflik SARA di Magelang dan Indonesia secara umum. Mari tebarkan kebaikan, taburkan cinta kasih dan berbagi karunia kepada sesama manusia.”

Kami meminta, kata Majidun, Pemerintah Indonesia melaksanakan amanat Pembukaan UUD 1945 untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamain abadi dan keadilan sosial, melalui proses diplomasi dan upaya-upaya yang bermartabat untuk mendesak pemerintah Myanmar mengakui status kewarganegaraan Muslim Rohingnya dan terwujudnya penghormatan atas hak asasi manusia di Myanmar.

Acara yang terselenggara oleh Jamaah Kopdariyah bertajuk Cinta untuk Rohingya tersebut dihadiri 23 perwakilan organisasi yang ada di Magelang Raya. Adapun perwakilan organisasi tersebut antara lain GP Ansor, PK3 Vikep Kedu, Turn Back Hoax Magelang Raya, Komunitas Save Pahingan, Lesbumi Magelang, Vihara Mendut dan PT.Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.

Selengkapnya berikut pernyataan sikap bersama Lintas Iman Magelang atas tragedi kemanusiaan di Rohingya yang diinisiasi Jamaah Kopdariyah:

1. Kami atas nama warga beriman se-Magelang Raya mengecam segala tindakan kekerasan yang menciderai nilai-nilai kemanusiaan. Segala bentuk tindakan kekerasan adalah tindakan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan.

2. Bahwa tidak ada satu pun agama dan ideologi di dunia ini yang membenarkan tindakan dan cara-cara kekerasan dalam kehidupan umat manusia. Kami semua ikut merasakan kepedihan yang sangat luar biasa atas peristiwa yang menimpa masyarakat muslim yang berada di Rohingya, Myanmar.
3. Mengajak seluruh umat manusia, terutama warga negara Indonesia untuk bersama-sama menggelorakan kehidupan yang damai, saling menjaga, saling melindungi dan menghargai sesama manusia, meskipun berbeda agama dan keyakinan. Semua pihak dihimbau untuk berperan dalam upaya menciptakan perdamaian dan harmoni.
4. Mengajak kepada siapa pun untuk terus menggalang solidaritas dan bantuan kemanusiaan guna meringankan beban penderitaan masyarakat Rohingya, Myanmar.
5. Kami memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada semua pihak, terutama kepada Pemerintah Republik Indonesia dan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan yang telah mengambil langkah konkret dalam meminimalisir dan mengupayakan penghentian tindakan kekerasan terhadap Muslim Rohingya yang terjadi di Myanmar serta menciptakan perdamaian bagi segala bangsa.
6. Kami meminta pemerintah Indonesia melaksanakan amamat UUD 1945 untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, melalui proses diplomasi dan upaya-upaya yang bermartabat untuk mendesak pemerintah Myanmar mengakui status kewarganegaraan Muslim Rohingya dan terwujudnya penghormatan atas hak asasi manusia di Myanmar.
7. Menghimbau kepada semua pihak untuk menciptakan situasi dan kondisi yang aman, tertib dan nyaman di masyarakat, tidak menyebarkan hoax yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dan berpotensu menimbulkan konflik SARA, bersikap dan bertindak secara proporsional dalam menyikapi tragedi kemanusiaan di Rohingya Myanmar. Mari tebarkan kebaikan, taburkan cinta kasih dan berbagi karunia kepada sedama manusia.
8. Memohon dengan sepenuh ketundukan kepada Allah untuk memberikan pertolongan dengan sifat Pengasih dan Penyayang-Nya serta kekuasaan mutlak-Nya kepada masyarakat Rohingya agar terlepas dari penderitaan karena penindasan dan kejahatan kemanusiaan.

Pernyataan sikap ini diinisiasi oleh Jamaah Kopdariyah Netizen Magelang Raya.
Ikut mendukung Jamaah Kopdariyah:
1. GP Ansor NU
2. Pk3 VIKEP KEDU
3. LTN NU Kab. Magelang
4. Turn Back Hoax Magelang Raya
5. Komunitas Save Pahingan
6. LESBUMI Magelang
7. Vihara Mendut
8. PT. Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko
9. PS PAGAR NUSA
10. PESONA Magelang
11. IKASUKA Magelang
12. OBOR Borobudur
13. Paguyuban Pedagang Borobudur
14. Pemuda Gereja Kristen
15. BKTPA Kabupaten Magelang
16. Pemuda Katholik
17. GUSDURIAN
18. Sangha Threravada
19. Nglaras Ati
20. BEM STAIA Syubbanul Wathon Magelang
21. BANSER Kabupaten Magelang
22. PMII Cabang Kabupaten Magelang
23. IPNU Cabang Kabupaten Magelang

(Ibnu Yaqzan)

By