Billboard Ads

Umat Islam Shalat Idul Adha
Umat Islam Shalat Idul Adha. Photo: Sindo
FIQH, ARRAHMAH.CO.ID - Pertama, adalah niat. Niat yang yang harus ditetapkan oleh mudhahhi adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, makanya penyembelihan ini biasa disebut qurban, karena niatnya memang demikian. Karena itu, jika niat untuk dagingnya, atau hal-hal lain, maka itu tidak dibolehkan, dan qurbannya tidak sah. 

Kedua, niat itu diniatkan ketika membeli atau ketika (kalau di Indonesia) menyerahkan hewan qurban pada panitia. Tidak harus saat penyembelihan.

Ketiga, Tidak boleh berbeda-beda dalam niat, bagi yang qurban sapi/unta. Maksudnya, misalnya ada 7 orang qurban 1 sapi, yang satu niat untuk Allah, sementara yang lain niat untuk memperoleh dagingnya dst. Demikian juga tidak boleh isytirak dalam kepemilikan hewan qurban, yaitu, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, satu kambing ternyata dimiliki beberapa orang, atau dibeli atas patungan beberapa orang. Ini juga tidak dibolehkan (Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah, juz 5, h. 90).

Lebih Baik Mana Qurban di Lingkungan Sendiri atau di Kampung?


Menegaskan kembali bahwa Nabi dalam satu hadist mengatakan tentang Idul Adha, "Hari ini adalah hari makan dan minum.(riwayat Ahmad) " Dalam hadist lain riwayat Muslim, "Hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah." (Tafsir Ibnu Katsir, h. 264).

Karena itu qurban adalah ungkapan syukur kepada Allah dengan berbagi, sarana memuliakan tetangga dan  tamu, berbagi dengan orang fakir (Al-Mausu'ah, juz 5, h. 76). Di sini jelas bahwa ada keterangan perihal berbagi makan dengan orang fakir dan tetangga. Itu artinya, bahwa qurban yang paling utama adalah di dekat rumah sehingga bisa berbagi dengan orang fakir sekitar.

Namun, jika nun jauh di sana, ada yang lebih fakir dari sekitar kita, maka itu juga mendapat keutamaan pula. Oleh karena itu tinggal dilihat, mana yang lebih dekat dan membutuhkan, dua faktor ini yang jadi penimbang. Kalau di kampung banyak yang miskin apalagi masih keluarga, silahkan qurban di kampung. Tapi kalau di sekitar kita juga banyak, maka dahulukan yang dekat daripada yang jauh.
              

Pembagian Daging Qurban

Tidak boleh hukumnya bagi orang yang qurban karena nadzar untuk ikut makan daging qurban. Demikian pula bentuk pemanfaatan lain, misalnya mengambil kulit qurban untuk menjadi alas dan sebagainya. Oleh karena itu, jika terjadi orang qurban karena nadzar, lalu ia turut makan, misalnya, maka wajib baginya untuk mengganti daging tersebut atau membayar sejumlah harga daging yang ia makan (At-Tadzhib, h. 246).

Sebab binatang qurban bagi orang yang nadzar (misalnya, seseorang berkata, "Kalau proyek saya gol, saya akan qurban sapi), maka hilanglah kepemilikan terhadap hewan qurban, karena nadzar tersebut. Karena itu, jika ada yang kurang atau bahkan rusak dari hewan qurban tersebut, maka ia wajib menggantinya. (Kifayatul Akhyar, h. 633).                       
Sedangkan bagi orang yang qurban karena memenuhi perintah kesunahan, maka ia dianjurkan untuk turut makan daging qurban. Bahkan bukan hanya disunnahkan makan, malah diwajibkan, Sebagaimana firman Allah surat Al-Haj ayat 28, "...Maka makanlah sebagian dari (hewan) itu..". Meskipun yang shahih menurut ulama adalah pendapat yang disunnahkan dengan dasar surat Al-Haj ayat 36, "Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur." (Kifayatul Akhyar, h. 634)                       


Berapa bagiankah yang dibolehkan bagi orang yang qurban?

Ulama menegaskan, yang paling afdhal, paling utama adalah ia menshadaqahkan semua hewan qurbannya, kecuali mengambil hanya satu dua suap. Atau, ada pilihan kedua, dikatakan Imam Al-Ghazali bahwa daging hewan qurban dibagi dua, separuh untuk yang qurban, dan separuh untuk dishadaqahkan.

Dasarnya adalah firman Allah surat Al-Haj ayat 28, "Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir." Di sini jelas daging qurban pembagiannya dibagi dua saja, yaitu untuk diri sendiri, dan sebagian diberikan kepada faqir miskin. Inilah pendapat Imam Syafi'i dalam Qaul Qadimnya... 

Pilihan ketiga, yaitu sebagaimana dijelaskan dalam ayat 36 surat Al-Haj, "Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta." Hal yang sama juga disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, "Makanlah, shadaqahkanlah, dan simpanlah..." (Hr Bukhari Muslim)


Oleh: Ustadz Fathuri Ahza Mumtaza
Baca juga Artikel2 Lain Ustaz Fathuri: 

FIQH QURBAN dan SEPUTAR IDUL ADHA
Oleh Ustadz Fathuri Ahza Mumtaza

Bab Udhhiyyah (Qurban) - Makna dan Aturannya
https://www.arrahmah.co.id/2017/08/udhiyah-makna-dan-aturannya.html

Syarat Bagi Orang Yang Berqurban
https://www.arrahmah.co.id/2017/08/syarat-bagi-orang-yang-berqurban.html

Kriteria Orang yang Berqurban
https://www.arrahmah.co.id/2017/08/kriteria-orang-yang-berqurban.html

Syarat Hewan Qurban
https://www.arrahmah.co.id/2017/08/syarat-hewan-qurban.html

Waktu Penyembelihan Hewan Qurban
https://www.arrahmah.co.id/2017/08/fasal-tentang-waktu-penyembelihan-hewan-kurban.html

Sunnah-Sunnah Penyembelihan Hewan Qurban
https://www.arrahmah.co.id/2017/08/sunnah-sunnah-penyembelihan-hewan-qurban.html

Hukum Shalat Jum'at Yang Berbarengan dengan Shalat Ied
https://www.arrahmah.co.id/2017/08/hukum-shalat-jumat-yang-berbarengan.html