Headlines
Loading...
Komunitas Tawariq: Lelaki Bercadar, Perempuan Tidak

Komunitas Tawariq: Lelaki Bercadar, Perempuan Tidak

Komunitas Tawariq: Lelaki Bercadar, Perempuan Tidak
Komunitas Tawariq: Lelaki Bercadar, Perempuan Tidak 
WAWASAN, ARRAHMAH.CO.ID - Anda pernah mendengar suku / klan Tawariq, salah satu klan terbesar suku Berber yang mendiami Afrika Utara dan Afrika Barat? Nama suku atau klan ini pernah moncer ketika anggota kelompok ini, Usman dan Fodio, pernah berhasil mendirikan Khilafah Sokoto di Afrika Barat pada awal abad ke-19.

Komunitas Muslim ini sangat menarik karena, berbeda dengan kebanyakan "etnis/suku pribumi" yang mendiami kawasan Timur Tengah & Afrika Utara/Barat pada umumnya, kaum lelaki yang justru memakai cadar (seperti tampak dalam foto ini) sementara kaum perempuan, secara tradisional dan kebanyakan, tidak bercadar, khususnya jika berada diluar rumah atau tenda. Karena sering mengenakan pakaian dan cadar berwarna biru, maka komunitas ini populer dengan sebutan "the blue people".

Menurut antropolog Susan Rasmussen yang pernah melakukan riset bersama komunitas ini, mengenakan kain cadar (disebut Alasho) bagi laki-laki memiliki dua tujuan utama: (1) menghindari debu padang pasir karena aktivitas mereka yang sering berada diluar dan (2) menangkal roh/spirit jahat. Komunitas ini memang memiliki kepercayaan yang kuat terhadap roh/spirit nenek moyang. 

Komunitas Tawariq (atau Tuareg) yang mengikuti pola hidup nomadik-pastoralis (berpindah-pindah tempat) ini memiliki sejarah, tradisi, kebudayaan dan praktik sosial-keagamaan yang cukup menarik untuk diamati dan dikaji. Populasi suku Tawariq sekarang diperkirakan sekitar 2,5 juta tersebar di berbagai negara di kawasan Afrika Utara dan Barat: Libia, Nigeria, Mali, Aljazair, Maroko, Tunisia, dan Burkina Faso. 

Mayoritas anggota Suku Tawariq adalah Muslim bermazhab Maliki, yaitu salah satu mazhab fiqih dalam rumpun Sunni yang terkenal ramah dengan adat atau tradisi masyarakat setempat. Mereka telah diislamkan sejak zaman Daulah Ummayah di abad ke-7 M. Meskipun mereka telah menjadi Muslim/Muslimah, tetapi tetap memelihara adat, tradisi, dan budaya lokal warisan pra-Islam seperti kepercayaan terhadap roh nenek-moyang tadi. Corak keagamaan mereka juga sangat sinkretik: perpaduan antara nilai-nilai Islam dan tradisi lokal.

Misalnya, komunitas yang berbahasa Tamashiq ini tetap memelihara "sistem kasta" dalam struktur sosial-kemasyarakatan: bangsawan, klerik, pengrajin, dst. Mereka juga tetap memelihara sistem matrilinial (masyarakat matriarkhi) dimana kaum perempuan memiliki posisi sangat penting dan terhormat. Hal ini tercermin bukan hanya dalam praktik sosial-kemasyarakatan saja tetapi juga dalam ritual keagamaan dimana selalu diiringi dengan penyebutan "ruh para dewi"  dan simbol-simbol feminin lain seperti bumi dan kesuburan, dlsb.

Hal lain yang cukup menarik dari komunitas ini adalah, mereka juga penggemar jimat dan klenik. Barang-barang tertentu yang dianggap "bertuah" oleh mereka dijadikan sebagai jimat. Ini menunjukkan bahwa corak keberagamaan yang mengawinkan doktrin/ajaran Islam dengan praktik tradisi/kepercayaan setempat bukan hanya dijumpai di Jawa / Indonesia saja misalnya tapi juga di kawasan Afrika Utara/Barat. Bahkan di Mesir, seperti pernah ditulis oleh William Lane, prakik serupa juga dijumpai di kalangan masyarakat Islam setempat.

Nah, menarik bukan? Kannnn? Yuk belajar antropologi biar otak kita jadi gemuk dikit he he


0 Comments:

Cloud Hosting Indonesia