KH. Mukhtar Royani Cisempur, Kiai Kharismatik dari Bogor

KH. Mukhtar Royani Cisempur, Kiai Kharismatik dari Bogor

KH. Mukhtar Royani Cisempur, Kiai Kharismatik dari Bogor
KH. Mukhtar Royani Cisempur, Kiai Kharismatik dari Bogor. Photo: Metropolitan.id
TOKOH, ARRAHMAH.CO.ID - KH Rd Mukhtar Royani adalah kiai kharismatik yang sangat masyhur dan memiliki pengaruh mendalam di kalangan masyarakat luas. Ia dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keagamaan yang sangat kuat mempengaruhi kehidupan masa kecil hingga ia tumbuh dewasa dan menjadi tokoh penting dalam dunia pesantren. Tidak ada keterangan pasti seputar waktu kelahirannya, namun salah seorang puteranya, KH. Muhtar Royani mengatakan bahwa ia wafat di usia sekitar 50-an.

Pendidikan keagamaan mula-mula ia peroleh dari ayahnya, KH. Siddiq, pendiri dan pemimpin Pesantren Riyadul Aliyah yang di kemudian hari diwariskan kepada KH. Royani setelah ia dewasa dan memiliki keilmuan yang mumpuni untuk mengemban amanah besar tersebut.

Ayahnya, KH. Siddiq memimpin pesantren ini selama 18 tahun, sejak tahun 1918 sampai dengan tahun 1936. Pendirian pesantren didasari oleh latar belakang sosial di mana masyarakat Cisempur pada masa itu jarang sekali yang memahami kitab-kitab kuning dan bahasa Arab yang merupakan bahasa penting dalam memahami ajaran Islam. Situasi ini mendorong KH. Siddiq untuk mendirikan pesantren selain tentu saja merupakan bentuk tanggung jawabnya sebagai tokoh agama untuk memberikan pengajaran kepada umatnya.

Pesantren ini berdiri di tengah-tengah perkampungan penduduk, tepatnya di Kampung Cisempur, Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Pesantren Riyadul Aliyah pada awalnya merupakan pengajian yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Proses pendirian pesantren melibatkan tokoh-tokoh masyarakat melalui musyawarah yang diprakarsai dan dihimpun oleh KH. Siddiq. Seiring waktu, pesantren yang berawal dari sebuah pesantren kecil mengalami perkembangan pesat dan memiliki jumlah santri yang banyak.

Selain aktifitas mengajar santri-santrinya, KH. Siddiq melakukan dakwah dari satu kampung ke kampung lainnya. Bahkan seringkali dalam melakukan aktifitas dakwah tersebut, KH. Siddiq menghabiskan waktu berhari-hari menempuh perjalanan tanpa kendaraan. Hal ini dikarenakan belum banyaknya transportasi umum pada saat itu.
Kegigihan dan keseriusan serta ketulusan KH. Siddiq dalam melakukan berbagai aktivitas syiar itulah yang mempengaruhi pembentukan karakter KH. Royani dalam kehidupannya, termasuk dalam aktifitas pengajarannya di pesantren, masjid dan majelis-majelis ta`lim.

Setelah memperoleh pendidikan dan pengajaran agama Islam dari ayahnya, KH. Royani kemudian diberangkatkan oleh ayahnya ke Sukabumi untuk menuntut ilmu kepada kakeknya, yaitu KH. Hasan Basri di Babakan, Cicurug, Sukabumi.

Menurut catatan, KH. Hasan Basri adalah salah seorang kiai besar Sukabumi yang telah melahirkan tokoh-tokoh Islam terkemuka di Sukabumi dan di Indonesia. Ia juga sangat aktif dalam aktifitas perlawanan terhadap penguasa Kolonial. Ia adalah guru para kiai di Sukabumi dan sekitarnya, termasuk kiai terkemuka yang mendirikan Pesantren Al-Masturiyah Sukabumi, yaitu KH. Masturo. Adapun hubungan darah cucu dan kakek antara KH. Royani dengan KH. Hasan Basri berasal dari ibunya yaitu Hajjah Aminah, Putri KH. Hasan Basri yang dinikahi oleh KH. Siddiq.

Selanjutnya, selain berguru kepada KH. Hasan Basri, KH. Royani juga menuntut ilmu kepada KH. Syatibi Gentur Cianjur, namun tidak diketahui secara pasti berapa lama ia belajar di sana.

Setelah melakukan pengembaraan intelektual kepada kiai-kiai besar yang sangat alim, KH. Royani kemudian kembali ke daerahnya hingga akhirnya ia mendapat mandat untuk memimpin pesantren sepeninggal ayahnya wafat. Di era kepemimpinannya sejak tahun 1936–1968, pesantren Riyadul Aliyah mengalami perkembangan cukup pesat dan sarananya pun ditingkatkan. Demikian pula halnya dengan sistem pendidikannya yang mengalami pembaharuan. Pada masa kepemimpinan ayahnya, masjid selain difungsikan untuk kegiatan ibadah sholat, juga untuk kegiatan pengajaran para santri. Namun di era kepemimpinan KH. Royani, masjid difungsikan kembali hanya sebagai tempat ibadah sholat. Sedangkan untuk kegiatan pengajaran dilakukan di tempat terpisah yang telah dibangun oleh KH. Royani.

Jumlah santri pada masa itu berkembang dengan pesat, mencapai sekitar 200–400 lebih yang terdiri dari santri laki-laki dan santri perempuan. Pada periode ini santri tinggal di asrama. Di era kepemimpinannya, KH. Royani telah melahirkan banyak alumni yang tersebar di berbagai daerah di Bogor, Sukabumi, Banten. Sebagian besar alumni melanjutkan kiprah dan perjuangan KH. Royani dalam kegiatan syiar melalui pengajaran ilmu keagamaan, termasuk di antaranya: Abuya Bustomi Pandeglang Banten, KH. Abdul Manaf Banten, KH. Kholil Ciapus Bogor, KH. Abdul Latief Citeureup, KH. Syarif Kampung Situ Mega Mendung Bogor, serta KH. Mahfud Tipar Sukabumi.

Selanjutnya dalam konteks gerakan kebangsaan, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, ayah dan kakek KH. Royani telah dikenal sebagai kiai pejuang yang gigih menentang kolonialisme Belanda di Indonesia, khususnya di Sukabumi. Sikap dan semangat perlawanan inilah yang juga turut mempengaruhi sikap perlawanan KH. Royani terhadap penguasa kolonial. Bahkan disebutkan oleh salah seorang putranya, yaitu KH. Muhtar Royani, bahwa pesantren ini pernah menjadi basis perlawanan terhadap penguasa kolonial. Malah seringkali menjadi tempat persembunyian para pejuang. Sikap perlawanan kepada pihak yang merongrong negara tetap terlihat kental terutama pada periode berikutnya ketika terjadi peristiwa maraknya ideologi komunisme di Indonesia. Oleh karena itu, KH. Royani merupakan salah seorang kiai yang menentang Partai Komunis Indonesia.

Demikian sekelumit perjalanan seorang kiai yang kesehariannya kental dengan gaya hidup sufi. Semasa hidupnya, KH. Royani yang berafiliasi pada gerakan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dan rutin melaksanakan kegiatan pembacaan sholawat ini memiliki persahabatan yang luas dengan masyarakat dari berbagai latar belakang, di antaranya KH. Ma`mun Nawawi, kiai kharismatik dari Cibarusah Bekasi.

Keilmuan dan kharismanya yang besarlah yang menjadikan dirinya sebagai kiai yang berpengaruh tidak hanya di daerah tempat ia lahir dan menetap, melainkan di banyak daerah di Bogor dan sekitarnya. Oleh karena itu, semasa hidupnya, ia seringkali menjadi tempat kunjungan masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk kalangan pemerintah pada saat itu. Tidaklah mengherankan apabila berita wafatnya KH. Royani membawa duka mendalam bagi masyarakat luas yang mendengar kabar kepergiannya ke rahmatullah. KH. Royani wafat karena sakit yang dialaminya pada saat ia berada di Mekkah, tempat ia juga dimakamkan.

Ia wafat pada saat putra-putrinya masih kecil. Namun karena terinspirasi oleh ayahnya, semua putra-putri KH. Royani belajar di pesantren. Bahkan sepulang dari pesantren, sebagian besar putra-putri KH. Royani melanjutkan kiprah dan perjuangan ayahnya dengan mengabdi di pesantren peninggalan ayahnya. Di antara mereka bahkan mendirikan pesantren di daerah lain dan berkiprah di daerah tersebut.

Artikel ini telah dimuat di Suara Pesantren - https://suarapesantren.net/2015/11/27/kh-royani-kiai-kharismatik-dari-bogor/
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: