Fenomena Pesantren Tanpa Kyai

Fenomena Pesantren Tanpa Kyai

Pesantren Modern
Ilustrasi: Pesantren Modern
M. Rikza Chamami
Dosen UIN Walisongo

ARRAHMAH.CO.ID - Baru-baru ini, Ikatan Alumni PMII UIN Walisongo merilis nama-nama pesantren mahasiswa berbasis Nahdlatul Ulama di sekitar kampus hijau. Data itu memang masih belum lengkap 100% dan akan terus disempurnakan. 

Kenapa data itu disajikan? Sebab banyak Kyai di luar Semarang yang bertanya dan meminta referensi nama pesantren untuk rujukan para alumninya yang akan kuliah di Semarang. Apa hanya itu? Tidak. Masih ada satu lagi. Banyak yang masih bingung cari "pesantren sejati" di Ngaliyan.

Ada kekhawatiran dari para Kyai dan orang tua mahasiswa yang menyebabkan gundah karena salah memilih pondok. Dikira pondok NU, tapi bukan. Dikira pondok berkyai, ternyata tidak ada.

Lho kok bisa begitu? Bisa. Karena inilah fakta pesantren yang ada di lingkar kampus Walisongo. Banyak yang unik dan itu terjadi. Maka, nama-nama pesantren itu menjadi sangat penting bagi mahasiswa yang ingin cari berkah Kyai-Nyai.

Begitu data itu dirilis dan viral, banyak SMS, WA, Fb dan IG untuk bertanya, berterima kasih dan meminta rekomendasi pada saya. Dan ada lagi yang ngebully saya (ada juga lho).

Kenapa saya dibully? Karena ada yang pesantrennya tidak masuk dilist itu dan merasa bahwa pesantrennya aswaja. Saya hanya bertanya balik, apakah ada tahlil, do'a qunut dan tarawih 20 rakaat? Dijawab tegas "tidak ada ustadz Rikza". Nah itulah bedanya. Dia berhenti membully saya.

Ada juga yang unik, seseorang WA saya menanyakan nama sebuah pondok. "Pondok niku (disebutkan namanya sensor) NU mboten Gus?..." tanyanya. Saya jawab sambil canda: "Di database kami tidak ada nama itu. Kayaknya itu bukan pondok tapi asmara, ah asrama. Nyatanya tidak disebut eksplisit pondok pesantren bla bla bla.

Begitu ya? Unik sekali.

Berdasarkan amatan beberapa fenomena itu, maka ada tiga model pondok pesantren di sekitar UIN Walisongo.

Pertama, pesantren sejati: ada Kyai-Nyai yang mengasuh.

Kedua, pesantren tanpa Kyai-Nyai. Namanya pesantren tapi tidak ada Kyai-Nyai yang mengasuh.

Dan ketiga, pesantren ideologi yang didirikan untuk kepentingan kelompok (kadang ada Kyai-Nyai, kadang tidak ada).

Itulah pentingnya sebuah informasi dan silaturrahmi.

#ayomondok
#pmiiwalisongo
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: