Type something and hit enter

author photo
By On


Ditawari Jadi Presiden, Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari Justru Menyerahkan Kepada Soekarno
Ditawari Jadi Presiden, Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari Justru Menyerahkan Kepada Soekarno. Image: Islamnusantara
TOKOH, ARRAHMAH.CO.ID - Setelah berhasil menduduki bumi Indonesia, Jepang mengambil alih kekuasaan dan segera mendekati para tokoh pribumi. Ini dibahas oleh Zainul Milal Bizawie, dalam kesempatan diskusi di Islam Nusantara Center (INC), Sabtu (5/8).

Penulis buku "Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad" ini mengatakan "Ketika Belanda kalah, Jepang sudah mengetahui siapa di antara tokoh di Indonesia ini yang paling memiliki pengaruh".

"Jepang tahu yang paling berpengaruh adalah Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari", tandas Gus Milal.
Melalui utusannya, Jepang bertandang menemui Hadratus Syaikh. Karena beliau satu-satunya yang bisa memiliki pengaruh sampai akar rumput.

Jepang memilih mendekati kelompok di luar keraton, daripada mendekati  yang lain terutama pihak keraton atau ningrat yang dianggapnya selama ini diberikan fasilitas oleh kolonial Belanda.

"Di sinilah Pesantren dan kiainya dirangkul dan didekati", ujar Milal yang juga penulis buku "Masterpiece Islam Nusantara" ini.

Beberapa tahun sebelum mengusir kolonial Belanda, jelas Milal, Jepang telah mengirim informannya sehingga tahu kelompok-kelompok mana yang harus didekati.

Namun, sewaktu pemerintahan Jepang, Mbah Hasyim Asy'ari juga pernah dipenjara karena dianggap melawan kebijakan Jepang. Meskipun demikian, ketika dalam Perang Dunia II  Jepang mengetahui hampir kalah, Jepang sempat bertanya, "siapa yang pantas jadi Presiden memimpin Indonesia? Dari berbagai masukan, disimpulkan yang paling pantas dan mendapat dukungan  luas menjadi Presiden memimpin Indonesia ini adalah KH. Hasyim Asy'ari", terang Milal.

Kemudian Jepang mengirim seorang tokoh pergerakan bernama Maruto, seorang tokoh Murba, untuk menemui Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari. Menurut putranya, Maruto menyampaikan pesan dari seorang Jenderal bahwa Jepang menginginkan Mbah Hasyim Asy'ari untuk menjadi Presiden. Tapi mbah Hasyim menolak.

Dan setelah beberapa kali utusan tersebut datang, mbah Hasyim mengatakan "yang pantas memimpin Indonesia ini, bukan saya tapi Soekarno". Apalagi, Mbah Hasyim meyakini bahwa  kemerdekaan RI bukan pemberian Jepang, melainkan perjuangan sendiri.

"Karena itu, dengan dukungan Mbah Hasyim Asy'ari, Soekarno memperoleh pengaruh kuat dalam lingkungan pesantren dan kelompok Islam." pungkas milal. Itulah kenegarawanan dan keikhlasan Mbah Hasyim dan dunia pesantren, mempercayakan NKRI ini dipimpin oleh Soekarno. Inilah sejarah bangsa yang jangan sampai dilupakan.

Hal ini menunjukkan bagaimana jaringan dan pengaruh kuat Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ar serta peran beliau dalam menegakkan Republik ini. (Aditia)


Click to comment