Semangatku Untuk Kak Afi Nihaya Tercinta.

Semangatku Untuk Kak Afi Nihaya Tercinta.

Semangatku Untuk Kak Afi Nihaya Tercinta.
Semangatku Untuk Kak Afi Nihaya Tercinta.
Oleh : Vinanda febriani

Aku turut merasakan kesedihan yang mendalam ketika kak Afi yang cantik dan cerdas ini menjadi bahan tawaan dan bullying publik yang tidak setuju dengan statment kak Afi karena diklaim plagiat atau apalah itu namanya aku nggak ngerti. Walaupun ada beberapa point yang sebenarnya aku tidak setuju, tapi aku juga sangat merasakan sakit hati apabila seorang gadis berumur 18 tahun tiba-tiba diolok, dibully bahkan difitnah oleh publik karena statmentnya terlalu "Jujur" tentang apa yang disebut "Fakta kehidupan".

Kak afi, terkadang aku juga merasakan jengkel dan sangat sakit hati karena kakak kelasku, yakni kak Afi sendiri selalu dihujat dan difitnah, menjadi bahan bullying publik dan itu semua dapat dilihat dari komentar-komentar mereka di setiap kolom komentar akun Facebook kak Afi yang selalu ingin menjatuhkan kakak. Memang umurku lebih muda dibandingkan dengan kak Afi. Namun aku juga merasa sangat jengkel dengan mereka yang sering membully kakak. Aku rasa mereka berkomentar tanpa berkaca mereka itu siapa dan apakah komentar mereka itu bermanfaat bagi orang lain, apakah membuat orang lain menjadi pribadi yang lebih baik? bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya?. Lalu apakah dengan kritikan mereka yang menurutku justru mengucilkan, mengecilkan bahkan menjatuhkan nyali seorang remaja untuk bersuara tentang apa itu "Fakta" dapat membuat seorang pelajar bangkit dan berani bersuara? Kurasa tidak.

Masih banyak pelajar yang takut bersuara. Seperti aku, dulu aku juga sangat takut untuk bersuara dengan tinta emas. Namun setelah kak Afi muncul, aku mulai belajar bersuara, aku mulai menggerakan penaku diatas selembar kertas putih. Ya, walau tulisanku ini tak seindah karya kak Afi. Namun setidaknya ini adalah hasil karyaku berdasarkan apa yang benar-benar terjadi pada diriku, apa yang aku fikirkan dan apa yang aku perbuat.

Kak, jujur aku sangat tidak setuju kak. Apabila ada seorang pelajar yang berbicara "fakta" toh akhirnya malah dihina semena-mena. Sedangkan orang berbicara mengenai "Sara" malah dipuja-puja. Disini aku sering bingung dengan mereka, dimana akal sehat mereka? dimana akal nalar mereka? dan apakah mereka tidak menggunakan naluri dan logika kemanusiaan mereka?. Ini itu yang berseberangan dengan pendapat mereka dibilang Salah, sesat dan lain-lain. Padahal, setiap manusia diberikan karunia oleh Tuhan berupa Otak (read. Akal). Manusia mampu berfikir, dan apa yang difikirkan tiap individu kemungkinan besar tidak sama persis. Aku dan kakak kandungku saja yang sama satu keluarga terkadang berbeda pemikiran dan berbeda pendapat. Lalu, apakah setiap pendapat itu haruskah selalu sama?.

Kak Afi, aku pernah mengikuti audisi perlombaan Pembacaan Puisi di Universitas Tidar. Aku membacakan puisi milik Maya Angelou, yakni "Still I Rise". Ya, walaupun aku tidak menjadi juara pada saat itu, tapi setidaknya aku dapat memahami sedikit demi sedikit makna dari puisi tersebut. Dan aku tertarik untuk mengatakan ini kepada Kak Afi.

Bait yang paling aku sukai adalah bait pertama yang bunyinya :

You may write me down in history
With your bitter, twisted lies,
You may trod me in the very dirt
But still, like dust, I'll rise.
Dan bait ke 6 yang bunyinya :
You may shoot me with your words,
You may cut me with your eyes,
You may kill me with your hatefulness,
But still, like air, I'll rise.

Disini aku dapat mengambil sebuah pelajaran, bahwa seseorang yang hendak menjatuhkan kita pasti memiliki berbagai cara untuk melancarkan aksinya. Namun, jika kita tetap teguh pendirian, perlahan kita akan naik seperti debu yang diterpa angin, atau sepeeti udara yang tidak akan ada habisnya.
Kak afi, mungkin saat ini mereka punya berbagai cara untuk menjatuhkan dirimu. Katakanlah mereka punya 1001 cara bahkan hingga berjuta cara untuk menjatuhkanmu, namun kau hanya memiliki satu cara untuk berada jauh diatas mereka nantinya, yakni dengan terus berusaha, terus bekerja keras. 

Acuhkan mereka yang benci padamu, acuhkan mereka yang ingin menjatuhkanmu. Mereka tak akan berhenti menjatuhkanmu hingga kau menyerah kak Afi. Teruslah suarakan suaramu untuk menyarakan suara-suara generasi penerusmu.

Aku juga tertarik untuk sedikit bercerita kisah seekor katak yang tuli kepada kak Afi. Aku mendapatkan cerita ini dari kak Vonny Purnamasari yang merupakan salah seorang Anggota Forum Perempuan Penjaga NKRI.

Cerita ini bermula ketika ada beberapa katak yang terjatuh di jurang yang curam. Beberapa katak yang selamat menyemangati katak-katak yang ada di jurang untuk dapat naik ke atas jurang. Namun apa daya, mereka tidak bisa naik karena jurang yang terlalu dalam. Para katak yang diatas pun mulai mematahkan semangat mereka dengan mengatakan bahwasannya katak-katak yang ada di dalam jurang tidak akan pernah dapat naik ke atas dan akan mati di dalam jurang. Namun perkataan sang katak diatas tadi tidak berguna bagi salah satu katak diantara katak-katak yang terjerumus dalam jurang. Dia tetap berusaha walaupun beberapa kali terjatuh. Akhirnya dia dapat sampai di atas jurang karena semangatnya untuk bisa naik ke atas jurang. Katak-katak yang berada di dalam jurang merasa kaget, kenapa bisa dia yang selamat sendiri sedangkan katak yang lainnya lama kelamaan mati karena kelelahan. 

Faktor yang membuatnya dapat semangat dan bertekad bulat hingga sampai ke garis kemenangan, yakni atas jurang adalah karena katak tersebut "Tuli". Katak ini tidak dapat mendengarkan apa yang disampaikan oleh katak-katak yang berada diatas. Sehingga dia tetap terus mencoba sampai akhirnya dia dapat selamat.

Mungkin begitulah gambaran untuk kita saat ini, kak. Mereka seringkali menyemangati kita namun terkadang mereka juga menjatuhkan kita. Jadi, kurasa ada baiknya belajar dari seekor katak tuli. Jangan mendengarkan perkataan orang lain yang akan menjatuhkanmu. Dengarkanlah perkataan orang lain yang memberikan motifasi dan arahan positif kepadamu. Tetap teguh dalam pendirian dan bulat dalam tekad hingga kau raih masa depan cemerlang.

Mungkin, ini hanya sedikit ceritaku untuk kak Afi yang cantik dan cerdas ini. Maaf karena tulisanku belum bisa seindah tulisan kakak, karena aku masih dalam tahap belajar dan terus belajar. Mungkin ada beberapa kata yang harus diperbaiki karena kesalahhan ketik ataupun apa. Namun semoga tidak mengurangi kejelasan makna kata untuk dipahami kak Afi. Tetap kuat ya kak, aku akan terus menyemangati kakak. Aku tidak ingin para pelajar dan generasi muda lndonesia berhenti bersuara untuk NKRI. Sebab suara kita inilah suara emas NKRI. 

Kita merupakan generasi penerus estafet kepemimpinan NKRI.Kalau sejak dini kita tidak mau belajar untuk bersuara mengenai Fakta dan Realita, akan jadi apa Indonesia nantinya?. Generasi muda adalah generasi harapan Bangsa.

Tetap semangat kak Afi, tetaplah menjadi inspirasiku untuk terus istiqomah belajar, berjuang, bertaqwa, mengabdi, bersuara dan menulis. Salam santun dari gadis umur 16 tahun yang sudah banyak terinspirasi dari tulisan-tulisanmu yang keren dan fenomenal. Semoga kakak dan keluarga selalu diberikan kesehatan, kemudahan dalam hal Rizky, dan selalu dalam lindungan serta kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa.

Tetap semangat untuk terus Belajar Berjuang Bertaqwa.

Salam santun dari kota seribu bunga, kota ramah berbudaya, Magelang Gemilang.

Borobudur 14 Juli 2017.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: