Mengkaji Ulang Gerakan HTI: Sebuah Kegagalan Menemukan Cakupan Islam Nusantara

Gerakan HTI merupakan gerakan beberapa kelompok umat Islam bertujuan untuk mewujudkan khilafah dalam sistem kekuasaan. Tujuan gerakan HTI ini berbeda dengan tujuan risalah Kenabian Nabi Muhammad, yaitu menyempurnakan akhlak yang mulia

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Photo: Tempo.co
Oleh: Ubaidillah Achmad

ARRAHMAH.CO.ID - Gerakan HTI merupakan gerakan beberapa kelompok umat Islam bertujuan untuk mewujudkan khilafah dalam sistem kekuasaan. Tujuan gerakan HTI ini berbeda dengan tujuan risalah Kenabian Nabi Muhammad, yaitu menyempurnakan akhlak yang mulia. Akhlak yang mulia ini dapat dipahami dari pengertian moral yang baik dan prinsip etika universal tentang sebuah peradaban kemanusiaan. Jika risalah kenabian masuk sebagai agama, maka sesuai yang dijelaskan Ibn Rusydi tentang agama, yaitu untuk muwujudkan moralitas luhur, kebaikan dan cinta, bukan untuk melahirkan kerusakan, kebodohan dan kebencian.

Sehubungan dengan tujuan risalah kenabian tersebut di atas, perlu proses yang terintegrasi dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan relevansinya dengan kehendak agung Allah. Karenanya, belum cukup memahami makna Islam hanya bersumber dari teks kewahyuan dan teks kenabian dengan tanpa memasuki kawasan teks yang ditunjuk wahyu dan risalah kenabian. Di tengah kawasan teks ini diperlukan ketajaman menjangkau rahasia ketauhidan, kemampuan meneguhkan makna kemanusiaan, kemampuan menjaga relasi suci kosmologis (Allah, Manusia, dan Kealaman).
Gerakan HTI sejak berdiri hanya bermain api politik kekuasaan, sehingga terjerat sendiri oleh permainannya. Hal ini sesuai dengan pribahasa jawa yang relevan dengan pesan wahyu Al qur'an, yaitu siapa saja yang menanam, maka akan menuai hasilnya. Jika menanamnya dengan biji dan cara yang baik, maka akan menuai hasil yang baik. Jika menanamnya dengan biji dan cara yang buruk, maka akan menuai hasil yang buruk.

Sebelum HTI menanam khilafah Islam, kebanyakan para aktivis dan penguasa memahami Islam, adalah ajaran kebaikan dan moralitas yang luhur. Meski dalam sejarah agama dunia telah ditemukan konflik agama dan kekuasaan, namun sejarah telah mencatat, bahwa Islam istiqamah sebagai gerakan keagamaan yang menegaskan rahmat bagi seluruh alam semesta (agama rahmatan lil alamiin).
Berbeda dengan risalah kenabian, Islam dalam perspektif HTI ingin ditanam di seluruh negara, termasuk Indonesia, sebagai agama kehendak kuasa yang harus merebut kekuasaan yang dianggap bertentangan dengan Islam. Karenanya, sejak dikeluarkan perppu 2/2017, HTI telah merasakan buah dari biji kehendak kuasa yang ditanamnya sendiri. Akhirnya, pihak pihak yang memahami Islam sebagai rahmat alam, namun khusus pemahaman Islam yang disuarakan aktivis HTI menjadi tidak dipercaya lagi oleh umat Islam yang lain dan pihak yang terancam gerakan HTI.

Dalam upaya menghindari buah yang tidak baik dari biji dan cara yang tidak baik, maka kemunculan Perppu no 2/2017 relevansinya dengan HTI menjadi penting. Alasannya, dari pada menghasilkan buah yang tidak baik dalam konteks kebhinnekaan di Indonesia, maka pihak pemerintah bisa menyelesaikan secara baik terhadap gerakan HTI, yang harys dilakukan melalui hukum yang adil sesuai dengan data yang relevan dengan kasus hukum yang berlaku.

Menakar Gerakan HTI

Gerakan HTI merupakan gerakan yang utopis dalam memahami makna Islam. Islam tidak dipahami sebagai prinsip akhlak mulia relevansinya dengan Allah dan lingkungan hidup, namun Islam dipahami sebagai instrumen untuk memperebutkan kekuasaan, membangun tahta langit ke tujuh dan sorga dari imajinasi sendiri. Pola berfikir yang seperti ini, tanpa disadari, sebenarnya telah melampaui kewenangan (hak) Allah terhadap alam semesta dan sorga. Islam perspektif HTI, telah mengabaikan filosofi atau makna dasar teks keagamaan, sehingga mudah membid'ahkan dan menistakan sesama umat Islam dan umat manusia.

Berikut ini, contoh pemahaman keagamaan yang tidak sesuai dengan cakupan filosofi risalah akhlak yang mulia. Yang lebih mengerikan justru telah menjadikan pemahaman terhadap agama sebagai instrumen kekuasaan:

Pertama, pemahaman ke"halal"an berbuat untuk kehendak kuasa dan mengelompokkan mereka yang berbeda kehendak kuasa sebagai kafir. Karena pemahaman ini, maka muncul pandangan politis, bahwa non Islam sebagai musuh atau lawan politik Islam. Tentu saja, pandangan ini akan memunculkan konflik keberagamaan yang lebih meluas. Model ini, juga akan menjadikan agama sebagai sumber konflik kemanusiaan.

Kedua, pemahaman terhadap istilah kafir, bermakna kelompok yang berbeda dengan kehendak kuasa sebagian umat Islam. pemahaman ini berbeda dengan kebanyakan makna yang berhubungan dengan istilah kafir, misalnya, tidak menerima kebenaran wahyu, baik yang secara langsung disampaikan para Nabi Allah maupun kebenaran universal yang menjaga keutamaan hidup, tujuan kebaikan, dan moral yang baik.

Sehubungan dengan distorsi makna kafir di atas, telah mengarahkan berfikir umat Islam terjarah kelompok kehendak kuasa untuk menjadikan agama sebagai instrumen kekuasaan. Makna kafir yang menjadi instrumen kehendak kuasa ini, telah menjadi kabut dan awan gelap cakupan makna Islam rahmatan lil'alamain, yaitu untuk membela hak hak kemanusiaan, menghindari permusuhan dan konflik kemanusiaan. Karenanya, jika bukan karena membela hak kemanusiaan, maka Nabi Muhammad pasti akan melarang berperang kepada para sahabat dan pasukan badar.

Prinsip menjaga harkat dan martabat manusia ditegaskan Nabi Muhammad bersamaan beliau memerintah Muadz Bin Jabal ke Yaman, agar menyampaikan syarat berperang: sedang di serang yang mengarah pada pembunuhan terhadap umat Islam. Alasan Nabi melarang membunuh, karena adanya asumsi nyawa satu orang lebih baik dari pada tempat terbit dan terbenam matahari. Hal yang sama dijelaskan dalam QS. Al-Mâ`idah: 32.

Bagaimana dengan jihad yang dikaitkan dengan perang? Jihad memerlukan latar belakang konflik keberagamaan, konflik kepentingan dan konflik kehendak kuasa yang mengancam nilai kemanusiaan. Jadi, adanya jihad karena seseorang keharusan mempertahankan hak kemanusiaan dan menentukan pilihan keyakinan terhadap jalan kebenaran. Misalnya, jihad untuk merawat orang tua, menjaga kelangsungan keluarga, dan memperbaiki kehidupan, Sementara itu, siapa saja yang lebih mengedepankan kepentingan kehendak kuasa dan hidup bermewah-mewahan, maka dia di jalan thaghut. Misalnya, tindakan akumulasi dan menumpuk laba dan segala hasrat kemewahan sistem permodalan (kapital).

Ketiga, pemahaman terhadap cakupan makna berbangsa dan bernegara merupakan pemahaman yang tidak bersumber dari ajaran Islam, sehingg sebagai teks perlu pelurusan atau perbaikan. Jika tidak ada upaya pelurusan pandangan ini, maka akan memunculkan efek pandangan anti pancasila, yang dianggap sebagai pandangan thaghut, pandangan jahiliyah, pandangan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Sehubungan dengan pandangan ketiga ini, adalah merupakan bentuk pandangan yang bertentangan dengan akhlak mulia Nabi Muhammad, yaitu membangun tatanan kehidupan yang lebih baik sesuai dengan prinsip keutamaan dan kemuliaan manusia. Jika diamati dari teks Al Qur'an, maka akan ditemukan model kehidupan sosial masyarakat sesuai ajaran kewahyuan, yaitu ajaran untuk saling mengenal dan kerjasama antar bangsa bangsa dan suku suku.

Kesadaran kewahyuan tentang kebangsaan dalam konteks Indonesia, telah dimulai organisasi Budi Utomo (20 Mei 1908). Ormas Budi Utama menginspirasi kesadaran masyarakat nusantara untuk mendirikan Indonesia rumah kita bersama, yang beranggotakan K.H. Ahmad Dahlan pendiri Muhamadiyah, K.H. Abdul Wahab Hasbullah, pendiri NU (1926) yang sebelumnya terdorong dengan Nahdhatul Wathon,  yang berarti "kebangkitan tanah air".

Mbah A. Wahab, juga telah mengawal berdirinya Far’oel Wathan di Gresik,  Hidayatoel Wathan di Jombang, dan Khitaboel Wathan di Surabaya serta organisasi yang lain yang beraviliasi ke pemikiran para Ulama tradisi pesantren. Misalnya, Gerakan Pemuda Anshor yang dikembangkan dari Shubbanul Wathan, 1924, Gerakan Ikrar Sumpah Pemuda untuk Indonesia sebagai negara bangsa (nation-state).

Alasan perlunya membangun kesadaran kebangsaan ini, karena untuk menyatukan rasa nasionalisme kebangsaan yang dibatasi garis teritorial suatu bangsa, sehingga terbangun kokoh kekuatan persatuan dan kesatuan nilai kebangsaan dan nasionalisme. Adanya kesadaran para Ulama yang tergabung pada Ormas NU, karena kawasan nusantara secara real terdiri dari ribuan pulau, beragam keyakinan, suku dan bahasa. Jadi, para Ulama sangat memahami kondisi bangsa indonesia yang memiliki lebih 700 suku, lebih 1100 bahasa lokal, 34 Provinsi dan 516 Kabupaten/Kota. Hal ini merupakan anugerah yang harus disatukan.

Jadi, dalam konteks kebangsaan, gerakan HTI tidak peduli terhadap keragaman bangsa Indonesia. Sekarang sudah menjadi keputusan final, bahwa Indonesia dan NU tetap berada pada satu ideologi pancasila. Ideologi ini dirumuskan pada tanggal 1 Juni 1945.

Jika membaca konsep pandangan khilafah Islam HTI di atas, maka sama halnya HTI telah mengabaikan Hak Asasi setiap warga negara Indonesia dan melakukan tindakan diskriminasi atas dasar Suku, Agama dan Ras. Oleh karena itu, perlu tindakan tegas negara membubarkan HTI dengan tujuan untuk melindungi kedaulatan bangsa dengan cara menindak ormas-ormas yang melakukan kegiatan separatis dan menyebarkan paham yang secara tegas anti Pancasila. Ketegasan Negara diperlukan dalam masyarakat demokratis untuk kepentingan keamanan nasional dan keselamatan publik, ketertiban umum, perlindungan kesehatan dan moral umum, atau perlindungan atas hak dan kebebasan dari orang lain. 


Cakupan Islam Nusantara

Kerangka dasar dari Islam Nusantara, adalah akhlak Mulia Nabi Muhammad. Akhlak mulia ini mencakup prinsip moral yang baik dan kemampuan menilai atau mengintegrasikan pandangan etika universal terhadap teks moral yang berkembang di tengah komunitas masyarakat yang berbeda sesuai dengan nilai kebangsaan dan kesukuan masyarakat lokal. Prinsip akhlak mulia Nabi didasarkan pada ajaran kemuliaan dan keutamaan, yaitu menempatkan manusia secara tepat dihadapan pencipta dan dihadapan umat manusia.

Bingkai keutamaan ini merupakan dasar membangun nilai ketuhanan dan kemanusiaan untuk peradaban dunia. Prinsip ini merupakan prinsip yang sudah berkembang sejak peradaban kenabian kali pertama disuarakan oleh Nabi Adam di tengah masyarakat fasis. Masyarakat fasis merupakan bentuk masyarakat yang sudah bermusuhan dan melakukan pertumpahan darah untuk memperebutkan sistem kekuasaan. Model masyarakat fasis ini yang pernah disampaikan para Malaikat menjawab seruan Allah, ketika menyampaikan kepada para Malaikat, bahwa Allah akan menciptakan khalifah di muka bumi dari bangsa manusia.

Konsep Akhlak mulia para Nabi merupakan dasar ajaran untuk membentuk keseimbangan jiwa manusia, baik yang terkait dengan konflik internal dan eksternal jiwa manusia. Konflik internal psikis muncul dalam diri sendiri merusak potensi kecerdasannya sendiri. Sedangkan, konflik eksternal psikis muncul dari pihak yang lain yang mengganggu keseimbangan psikis seseorang. Sikap yang menimbulkan konflik ini, adalah sikap anarkis seseorang, baik dari diri sendiri maupun dari pihak yang lain. Anarkisme ini dibangun dari kehendak kuasa atau sikap memperebutkan sistem kekuasaan, yang akan berujung pada kondisi relasi kuasa yang tidak seimbang.

Kondisi relasi kuasa yang tidak seimbang inilah yang sering melatarbelakangi kehadiran risalah kenabian yang disampaikan oleh utusan Allah, Nabiyullah. Jadi, kehadiran Nabi di muka bumi, adalah untuk membangun relasi kuasa yang seimbang, bukan justru memperebutkan kekuasaan untuk sebuah relasi kuasa yang tidak seimbang. Cita cita risalah kenabian ini dapat diterapkan dibelahan dunia manapun, termasuk di kawasan Nusantara. Risalah kenabian ini, sering disebut dengan agama Islam. Karenanya, seharusnya dengan ajaran Islam saja sudah cukup untuk mengenal risalah kenabian, yaitu akhlak yang mulia.

Namun karena ada gerakan beberapa umat Islam yang anti tradisi lokal di tengah lingkungan bangsa Indonesia, maka Ulama NU pada muktamar ke 33 di Jombang memunculkan istilah Islam Nusantara. Artinya, Islam Nusantara, adalah Islam yang menerima kearifan lokal yang sekaligus untuk membentengi gerakan Islam yang anti kearifan lokal. Sikap NU yang seperti ini bukan tanpa alasan, sebab di tengah masyarakat telah muncul gerakan beberapa umat Islam yang meresahkan warga nahdliyyin dan masyarakat lokal. Misalnya, beberapa gerakan islam transnasional yang suka mengungkapkan tuduhan bid'ah, musyrik, kafir, dan sesat.

Gerakan NU melalui upaya memperkuat Islam Nusantara ini, telah berperan mencegah konflik agama dan budaya yang akan terjadi di Indonesia. Konsep Islam Nusantara dapat membendung konflik dan kekacauan di negara Indonesia, yang mayoritas berpenduduk muslim. Berbeda dengan umat Islam Indonesia yang masih berpegang pada prinsip NU, Umat Islam dibelahan yang lain, jutru melakukan konflik atas nama agama dengan sesama umat Islam, seperti Afganistan, Suriah, Irak dan yang lainnya.

Kondisi Islam di Indonesia telah menjadi percontohan yang baik di antara negara mayoritas umat Islam. Banyak peneliti, aktivis resolusi konflik dan para tokoh dunia ingin mengkaji:  bagaimana Islam Indonesia menjawab konflik keberagamaan dan kekuasaan? Hal ini dapat dibaca pada konsep para Ulama di ORMAS NU yang membangun gerakan Islam Nusantara, justru di tengah kondisi masyarakat makin berkiblat ke ideologi transnasional. Bersamaan masyarakat muslim mulai melirik gerakan ideologi transnasional, warga NU justru semangat berpegang menjaga prinsip ajaran para Walisongo dan Ulama NU. Komitmen warga NU ini kembali memetik hikmah keberagamaan, yang lagi lagi menjadi percontohan keberagamaan di tengah kearifan lokal masyarakat Indonesia.

Konsep Islam Nusantara ini yang membuat para peneliti kolonial kesulitan mencerabut keberagamaan umat Islam dari model pribumisasi Walisongo, yang berikutnya dipertahankan Ormas NU. Misalnya, hasil penelitian C. Snock Hurgronje, yang menggunakan nama samaran sebagai syekh abdul ghaffar. Dalam konteks ini, para kiai justru memetik hikmah dari Hurgronje tanpa harus terkecoh olehnya. Selain itu, para Ulama Nusantara juga tidak terkecoh ideologi transnasional yang diusung Hurgronje untuk mengkonfrontir antar umat Islam. Misalnya, Beberapa Ulama yang gigih dengan tradisi ini, misalnya, Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, Sultan Agung, Mbah Zaenal Mustofa.

Di tengah keberagamaan Islam Nusantara, C. Snock Hurgronje yang dibantu Van Der Plas ini harus menyesuaikan pespektif akademiknya dengan konteks Islam Jawa, yang sekarang dikenal dengan Islam Nusantara. Beberapa term Islam Jawa banyak yang tidak mudah disimpulkan Hurgronje dan Van Der Plas.

Berikut ini beberapa tema kajian Islam Nusantara yang berbeda dengan kajian Hurgrnje dan Van Der Plas sebelumnya (sewaktu belajar di Arab):

Pertama, sehubungan dengan tema kajian ilmu kalam dan Asma Allah. Kajian ini menjadi berbeda ketika sudah menjadi Islam Jawa. Misalnya, istilah Allah yang dikaji di arab berubah menjadi pangeran, yang juga digunakan untuk nama seorang raja dan tokoh Jawa, seperti Pangeran Diponegoro. Mushalla menjadi langgar, shalat menjadi sembahyang, syaikh dan ustadz menjadi kiai, seperti Kiai Kebo Kenanga. nasi (sego) dalam bahasa ingrish, bernama rice, bahasa ara, benama ar-ruz. Istilah ruz ketika di sawah, bernama pari, padi, yang ketika dipanen, bernama ulen-ulen, ulenan. Ketika ditumbuk, bernama gabah, yang ketika dibuka, bernama beras.

Berbeda lagi ketika patah, benama menir. Beras ketika dimasak benama sego, nasi. Ketika diambil satu, benama upa, ketika dibungkus daun pisang, benama lontong, ketika dibungkus janur kuning, benama ketupat, Ketika diaduk hingga lembut, bernama bubur. Integrasi ajaran Islam melalui teks Arab yang berubah menjadi teks jawa ini memiliki perubahan padanan kata yang memiliki konsekuensi dengan cakupan makna hukum politik dan sosial yang berbeda beda.

Kedua, sehubungan dengan pribumisasi Islam, dalam konteks tertentu keluar dari rumus Islam arab dan Islam di belahan dunia Islam pada umumnya. Hal ini karena para Walisongo telah membuat konsep Islam dan budaya Jawa dengan menjadikan sari pati (essensi) Islam yang relevan dengan kearifan lokal. Walisongo sangat memahami, bahwa tidak mudah berdakwah di tengah masyarakat yang sudah memiliki peradaban tinggi. Dakwah di tengah masyarakat yang berperadaban tinggi memerlukan strategi dan ketajaman melakukan integrasi kebudayaan. Hal ini berbeda dengan masyarakat Afrika dan Eropa yang pada era ini masih terpuruk.

Jawa dalam kekuasaan Majapahit merupakan negara kuat, yang memiliki para pemikir besar, para petani sukses, dan menguasai 2/3 dunia. Kondisi yang seperti ini didukung adanya Universitas terbesar dunia, bernama Nalanda. Masyarakat Jawa memiliki hukum politik terbaik dunia, bernama Negarakertagama. Selain itu, masyarakat jawa juga memiliki hukum sosial terbaik, bernama Sutasoma. Karenanya, tanpa melakukan integrasi antara Islam dan budaya jawa, maka tidak akan dapat mewujudkan bagaimana Islam menjadi bagian keragaman di nusantara yang dikuasai majapahit. Kerangka dasar dari pandangan ini, maka terbentuk model pribumisasi Islam di tengah tradisi jawa atau kearifan lokal.

Sehubungan dengan pengalaman walisongo ini, maka ide khilafah Islam di Indonesia merupakan bentuk ide utopis, karena memaksakan diri dari pakem kearifan lokal yang sudah kuat berlangsung di Indonesia. Karenanya, jika gerakan HTI masih memaksakan akan berkuasa di Indonesia dan menyalahkan konsep Islam Nusantara, maka telah menunjukkan kegagalan paham aktivis HTI memahami Islam Nusantara.

Ubaidillah Achmad, Dosen Filsafat Islam UIN Walisongo, Penulis Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng, Khadim PP. Bait As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang.

COMMENTS

Nama

.,1,#AyoMondok,12,#BelajarIslam,8,#CintaNKRI,2,#DanaHaji,1,#HariSantri,19,#HariSantri #HariSantri2017,1,#HariSantri2017,1,#HarlahNU,4,#HarlahNU91,2,#HaulKiaiHasanGenggong,2,#IslamIndonesia,1,#IslamNUsantara,4,#KajianRamadhan,1,#SavePalestine,3,#SaveRohingya,3,1 Muharram,3,1 Syawal,1,2016,1,A. Zakky Zulhazmi,1,Abdlul Halim Hasan,1,Abdul Mun'im DZ,1,Abu Bakar Hasan Assegaf,1,Adab Rasulullah,1,Advetorial,2,Afif Sunakim,1,Agama,1,Agama Cinta,1,Agenda,25,Agenda NU,1,Agnez Mo,1,Agus Zainal Arifin,3,Ahlusunnah wal Jama'ah,31,Ahmad Baso,1,Ahmad Mujib Rahmat,1,Ahmet Davutoglu,1,Ahsunnah,1,AJaran Islam,1,Akhir Zaman,1,Akhlakul Karimah,1,Al-Nimr,1,Al-Qaeda,1,Al-Qur'an,4,Al-Qur'an Raksasa,1,Al-Zastrow Ngatawi,1,Alamsyah M. Dja’far,3,Ali bin Abi Thalib,2,Ali Zawawi,1,Alissa Wahid,1,Allah,1,Almanak,1,Alumni Madrasah,1,Amalan,16,Amalan di Bulan Ramadhan,2,Amalan NU,4,Amalan Rasulullah,1,Amaliah,19,Aman Abdurrahman,1,Amirul Ulum,2,Anas Saidi,1,Angka Istimewa dalam Islam,1,Angka Tiga,1,Angker,1,Ansor,3,Ansor Garut,1,Ansor Malang,1,Ansor Surabaya,1,Anti Korupsi,4,Anti Narkoba,1,Anti Radikalisme,3,Anti Terorisme,2,Anti Wahabi,1,Aplikasi Batik,1,Aqidah,2,Arab,1,Arab People,1,Arab Saudi,2,Arief Mundatsir Mandan,1,Arifin Junaidi,1,Arrahmah Channel,5,Arrahmah Featured,11,Arrahmah.com,1,Articles,2,Artikel,26,Asian Youth Robot Olimpiade,1,Asosiasi Pesantren NU,1,Aswaja,24,Asy'ariyah,1,Australia,1,Avicenna Roghid Putra,1,Ayat-ayat Toleransi,1,Ayman Adz Dzawahiri,1,Ayo Mondok,1,AYRO,1,Bahtsul Masail,1,Bangsa Indonesia,1,Banser,14,Banten,1,Batik,1,Batik Indonesia,1,Battle,1,Battle of Uhud,1,Beasiswa,12,Beasiswa Kemenag,3,Beasiswa Madrasah,1,Beasiswa Santri,1,Beasiswa Santri 2016,1,Beasiswa Santri Berprestasi,2,Beasiswa Santri Berprestasi 2016,1,Bekasi,1,Belajar Islam,26,Berita,148,Berita Duka,5,Berita Islam,3,Bid'ah,2,Bid'ah para Sahabat,1,Bima Arya,1,Biseksual,1,Bisnis Haram,1,BNN,1,BNN di Jepara,1,BNPT,2,Bodo Kupat,1,Bogor,1,Bom Kuningan,1,Bom Sarinah,2,Bom Thamrin,2,BPOM,1,Brain,1,Budaya,1,Buku,6,Bulan Rajab,1,Buletin Jumat,5,Burdah,1,Cak Masykur,25,Cak Nun,1,Cak Nur,1,Cangkir9,2,Cep Herry Syarifuddin,1,Cerpen,2,Channel Arrahmah,37,Charlie Hebdo,1,Cheng Ho,1,Choirul Anam,1,Cinta,1,Cinta Bangsa,1,Cinta Tanah Air,1,Counter Radicalism,6,Cybercrime,2,Dajjal,1,Dakwah Islam,4,dan Transgender,1,Darurat Narkoba,3,Dea Anugerah,1,Deklarasi Nahdlatul Ulama,1,Deklarasi Serpong,1,Densus 88,2,Digital Media,2,Direktorat Pendidikan Madrasah,1,Dit PD Pontren Kemenag,1,DKI Jakarta,1,Doa,31,Doa Akhir Tahun,1,Doa Anak Sholeh,1,Doa Awal Tahun,1,Doa Berbuka,1,Doa dan Tirakat,1,Doa Gus Mus,1,Doa Harian,1,Doa Nabi,1,Doa Pernikahan,2,Doa Setelah Shalat,1,Doa Wudhu,1,Dosen UIN Walisongo,1,Download,1,Dr. Amin Haedari,1,DR. KH. M. A. SAHAL MAHFUDH,1,Dr. Nadirsyah Hosen,10,Dubes,1,Dzikir dan Doa,2,Dzikir Setelah Shalat,1,Editor's Choice,10,Effendi Choirie,1,Ekologi,3,Ekonomi,3,Eksekusi Mati Al-Nimr,1,English Edition,1,Esensi Syariah,1,Fadhila Haifa’ Afifah,1,Fadilah,1,Falak,1,Fardhu Wudhu,1,Fatayat NU,2,Fathoni Muhammad,1,Fatwa MUI,1,FDS,11,featured,133,Featured Arrahmah,44,Fikih,2,Fikih dan Muamalah,3,Fikih Ibadah,10,Fiqh,8,Fiqh Ibadah,1,Fiqh Qurban,6,Fiqh Shalat,3,Fiqih Lingkungan,2,Firqaf,1,Firqah,1,Firqoh,1,Fokus Khusus,1,FSN,2,Fulldayschool,4,Fundamentalis akan Habis,1,Gafatar,1,Galeri,4,Gay,1,Geluntung Agel Wafi,1,Gerakan Nasional AyoMondok,1,Gerhana,1,Gerhana Bulan,1,Gerhana Matahari,3,Gerhana Matahari Total,1,GIYE,1,Good Muslim,13,GP Ansor,8,Grand Syaikh Al-Azhar,1,Grants,1,Griya Gus Dur,1,GTK Madrasah,2,Guru Inspiratif,2,Guru Madrasah,2,Guru MAN,1,Guru Mughni,1,Guru PAI,1,Gus Ahmad Muwaffiq,1,Gus Aqib,1,Gus Dur,23,Gus Miek,1,Gus Mus,9,Gus Muwafiq,1,Gus Rizal Mumaziq,1,Gus Sholah,1,Gus Ubaidillah Achmad,1,Gus Yaqut,1,GusDur.net,1,Gusdurian,2,Habib Abu Bakar,1,Habib Lutfi,1,Habib Luthfi bin Yahya,1,Habib Novel,10,Habib Novel Alaydrus,7,Habib Salim Bin Jindan,1,Habib Sholeh Al-Hamid Tanggul,1,Habib Syech,1,Habib Umar bin Hafidz,3,Hadist,1,Hadist Jibril,1,Hadits,1,Hadits 72 Bidadari,1,Hadits Diskriminatif,1,Hafidzoh,1,Haji,7,Haji 2015,1,Haji 2017,1,Haji 2018,1,Hajj,1,Halal bi Halal,3,Halaqah,1,Hamid Ahmad Masduki Baidlawi,1,Har Santri,1,Hari Arafah,2,Hari Batik Nasional,1,Hari Natal,1,Hari Pahlawan,2,Hari Santri,32,Harlah,2,Harlah NU,3,Hasan al-Bashri,1,Haul,4,Haul Gus Dur,9,Haul Kiai Sholeh Darat,2,Haul Sunan Ampel,1,Haul Sunan Bonang,1,Haul Syekh Nawawi Al-Bantani,1,Headlines,20,Hikam Zain,15,Hikmah,83,Hikmah Islam,45,Hipsi,3,Hisab,1,Hizb,1,Hizbut Tahrir,2,Hizbut Tahrir Indonesia,2,Hoax,2,Hong Kong,1,HTI,2,HTIBubar,6,Hubbul Wathan minal Iman,1,Hukum Islam mengenai LGBT,1,Hukum Melangkahi Kuburan,1,Hukum Membunuh,1,Hukum Membunuh dalam Islam,1,Hukum Ucapan Natal,1,Humor,3,HUT TNI,1,Hymne,1,I-Banking,1,Ibadah,4,Ibn Muljam,1,Ibn Yaqzan,1,Ibu Nabi Muhammad,1,Ibunda Nabi Muhammad,1,IDC,1,Ideologi,1,Idhul Adha,1,Idul Adha,14,Idul Fitri,7,IIEE,1,IISRO,1,Ijazah,6,Ijtihad,1,Ikhbar,42,Ilmu Kalam,1,Image,1,Imam al-Syafi’i,1,Imam Ghazali,1,Imam Malik,1,Imam Muslim,1,Imam Nawawi,1,Imlek,1,INC,2,Indonesia Darurat Narkoba,1,Info Haji,2,Inspirasi,11,Inspirasi Pesantren,2,Interfaith,3,Internasional,98,International,3,International Islamic School Robot Olympiad,1,International Peace Day,1,Internet Banking,1,IPNU,1,IPPNU,1,Iqbal Khalidi,3,Iqbal Kholidi,1,Iran,1,ISIS,11,Islah Gusmian,1,Islam,16,Islam dan Perdamaian,1,Islam Di China,3,Islam di Papua,1,Islam Indonesia,3,Islam Nusantara,28,Islam Nusantara Center,1,Islam Papua,1,Islam Radikal,1,Islamic Event,1,Islamic State,1,Isra' Mi'raj,1,Istighosah Kubro,1,Istikharah,1,Ito Surmardi,1,JAD,1,Jakarta,4,Jamiyatun Nasihin,1,Jasad Utuh,1,Jawa Barat,3,Jawa Tengah,7,Jawa Timur,4,Jazirah Arab,1,JIhad,3,Jihad fi Sabilillah,1,Jokowi,5,Jonru,1,Jurnalistik,1,K.H. Ahmad Umar Abdul Manan,1,Kabar Duka,1,Kabar Pesantren,5,Kabar Pesantrens,1,Kajian Islam,18,Kajian Ramadhan,1,Kalam Ulama,4,Kalender,2,Kalender Islam,2,Kalimah Syahadat,1,Kalis Mardiasih,1,Kampung Damai,1,Kampus,1,Kekerasan,1,Kemenag,3,Kementerian Agama,1,Kementerian Agama RI,3,Keraton Sumenep,1,Kesehatan,4,Ketua PBNU,1,Ketum PBNU,1,Ketupat,1,Keutamaan Bulan Rajab,1,Keutamaan Shalat Tarawih,16,Keutamaan Shalawat Nabi,2,Keutamaan Tarawih,1,KH A Ghazalie Masroeri,1,KH Abdurrahman Wahid,5,KH MA Sahal Mahfudh,2,KH Maemon Zubair,1,KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh,1,KH Sahal Mahfudh,3,KH Said Aqil Siraj,1,KH Wahab Hasbullah,1,KH. Abdul Aziz Manshuri,1,KH. Abdul Ghoffar Rozien,1,KH. Abdul Karim,1,KH. Abdul Muhaimin,1,KH. Abdurrahman Wahid,1,KH. Ali M. Abdillah,1,KH. Bisri Mustofa,1,KH. Cep Herry Syarifuddin,3,KH. Hasyim Asy'ari,1,KH. Hasyim Asyari,3,KH. Husein Muhammad,2,KH. Iftah Sidiq,1,KH. Lukman Harits Dimyati,1,KH. Ma'ruf Amin,2,KH. Maimoen Zubair,11,KH. Marzuqi Dahlan,1,KH. Masdar F. Mas'udi,2,KH. Mustofa Bisri,2,KH. Said Aqil Siraj,5,KH. Sholeh Darat,8,KH. Thobary Syadzily,1,KH. Tubagus Muhammad Falak,1,KH. Yahya Cholil Staquf,3,KH. Zainal Mustafa,2,KH. Zakky Mubarok,2,KH.Shalih Darat,1,Khanza Iliyina Syafa,1,Khawarij,1,Khazanah,3,Khazanah Isam,7,Khazanah Islam,379,Khilafah Islamiyah,5,Khofifah Indar Parawansa,1,Khoirul Anam,2,Khulafaur Rasyidin,1,Khutbah,4,Khutbah Idul Fitri,2,Khutbah Jumat,1,Kiai Abdul Hamid,1,Kiai Hasan Genggong,1,Kiat Menulis,1,Kiddle,1,Kilas,1,Kirab Santri,1,Kisah Hikmah,16,Kisah Nabi,1,Kisah Rasulullah,1,Kisah Teladan,1,Kita Tidak takut,1,Kitab Durrotun Nasihin,1,Kitab Jawahirul Bukhori,1,Kitab Kuning,5,Kitab Pegon,1,Kitab Suci,1,Kokam,1,Kolom,96,Komedi Religi,1,Kominfo,1,Konferwil NU Jabar,1,Konflik Sunni-Syiah,1,Kongkow Sufi,3,Konsultasi Agama,1,Konsultasi Islam,1,Kontra Radikal-Terorisme,1,KPAI,1,KPK,1,Kreatif Indonesia,1,Kriminal,1,Krisis Jerusalem,2,Krisis Rohingya,7,KUPI,1,Kurban,7,Kyai Maimoen Zubair,1,Kyai Masdar,1,Kyai Pahlawanku,1,Kyai Pesantren,1,Lailatul Qadr,1,Lambang NU,1,Lapan-A2,1,Laporan,1,Lazisnu,1,Le Petit Prince,1,Lebaran,1,Lebaran Ketupat,1,Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama,2,Lesbian,1,Letter of Acceptance,1,LFNU,1,LGBT,2,Liberalisme,1,Life of Mohammed,3,Life of Muhammad,2,Liga Santri,2,Liga Santri Nusantara,3,Lingkungan,1,LIPI,1,Litbang Kemenag,1,Literasi,7,Literasi Digital,3,LoA,1,Logo Muktamar NU ke-33,1,Logo NU,1,Love Peace,1,LPDP,1,LSN,5,LSN 2017,3,LTN NU,3,Lukman Hakim Saifuddin,3,Lunar System,1,M. Kholid Syeirazi,1,M. Nur Kholis Setiawan,1,M. Rikza Chamami,13,M. Rikza Khamami,1,Ma'arif NU,2,Madrasah,24,Madrasah Diniyah,5,Madrasah Lebih Baik,2,Madrasah TBS,1,Mahasiswa,2,Mahbub Ma'afi,2,Mainstream Media,1,Majelis Dzikir,1,Majelis Shalawat,1,Makalah,3,Makam Gus Dur,1,Makam Nabi,1,Makam Nabi Muhammad SAW,1,Makam Rasulullah,1,Makam Sunan Bonang,1,Makkah,1,Maklumat,3,Makna Bismillah,1,Makna Logo Muktamar NU ke-33,1,Malik bin Anas,1,Mama Falak,1,MAN IC,1,Manhaj Salafi Imam Syafi’i,1,Manhaji,1,Manusia Robot Bali,1,Mars,1,Masjid,1,Masjid Zhenjiao,1,Masjidid Haram,1,Masjidil Haram,1,Maturidiyyah,1,Maulid,4,Maulid Burdah,1,Maulid dalam Islam,1,Maulid Nabi,7,Maulid Nabi Muhammad SAW,3,Mbah Maimoen Zubair,2,Mbah Moen Sarang,2,Mbah Mun,1,Mbah Sahal,1,Mbah Sholeh Darat,1,MCA,1,Media,2,Media Sosial,1,Media Watch,1,Mehmet Gormez,1,Melangkahi Kuburan,1,Meme,1,Meme Islami,1,Menag,2,Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia,1,Mengenal Jejak Mengenal Watak,1,Menristek,1,Menulis,1,Merayakan Maulid,1,Milad,1,Minal Aidin Wal Faizin,1,Minhajul 'Abidin,5,Moment,1,MTs Surya Buana Malang,1,MTsN 2 Pamulang,1,MTT,1,Mualaf,2,Mudik Lebaran,1,Muhammad,2,Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab,2,Muhammad Nasir,1,Muhammad Niam,1,Muhammad PBUH,1,Muhammad SAW,3,Muhammad Tijany,1,Muharram,2,MUI,1,Mujaheeden,1,Mujahidin Palestina,1,Mukiyah,1,Mukjizat,2,Muktamar NU,1,Muktamar NU ke 33,2,Munas-Konbes NU,20,Munawir Aziz,1,Muntaha Azhari,1,Museum Keraton Sumenep,1,Muslim Hong Kong,1,Muslim Kagetan,1,Muslim Papua,1,Muslimat NU,2,Nabi dan Rasul,1,Nabi Ibrahim,1,Nabi Muhammad,2,Nabi Muhammad SAW,6,Nadirsyah Hosen,6,Nadlatul Ulama,2,Nahdatul Ulama,18,Nahdlatul Ulama,157,Nahdlatul Ulamata,1,Name of Allah,1,Narkoba,3,Nasehat,8,Nasihat,1,Nasional,412,Nasionalisme,1,Natal,1,Natal 2015,1,Natal dan Maulid,1,Netizen Jurnalistik,1,New,1,News,677,News Ikhbar,2,News IPPNU,1,News Pictures,17,Ngaji Live,1,Ngaji Puasa,27,Ngaji Ramadan,8,Ngaji Ramadhan,20,Ngaji Video,1,Niat Puasa,1,Nishfu Sya'ban,1,NKRI,1,NKRI Harga Mati,3,NU,7,NU ANZ,1,NU Batang,1,NU Bogor,13,NU Care,2,NU Care LazisNU,2,NU Garis Lurus,1,NU Jabar,2,NU Jatim,1,NU Klaten,1,NU Semarang,1,NUCare,4,NUPeduli,1,Nur Kholik Ridwan,1,Nur Rofiah,1,Olimpiade Kedokteran,1,Opini,283,Opinion,1,Opnion,1,Orbituari,2,Pagar Nusa,13,PAI,2,Palestina,2,Palestine,1,Palestine Mujaheeden,1,Papua,1,Parenting,1,PBNU,8,PBSB,3,PBSB 2016,1,Peace,1,Peduli Bencana,2,Pelajar NU,1,Pendaftaran PBSB 2016,1,Pendididkan Islam,18,Pendidika Islam,1,Pendidika Islam,1,Pendidikan,171,Pendidikan Agama,1,Pendidikan Islam,158,Pendidikan Karakter,2,Pendidikan Madrasah,5,Pendidikan Politik,3,Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam,1,Pendidikn Karakter,1,Pendis Kemenag,2,Penggrebekan di Jepara,1,Pengobatan Islami,1,Penjajahan,1,Pentas PAI,1,Penulis,1,Perang,1,Perang Badar,1,Perang Uhud,1,Perguruan Tinggi NU,1,Perkemahan Rohis,1,Perppu Ormas,2,Perpres,1,Perpu Ormas,1,Perwimanas,2,Pesan Kiai,1,Pesantren,70,Pesantren Assalafiyah Cirebon. Assalafiyah,1,Pesantren Ibnu Mas'ud,1,Pesantren Lirboyo,2,Pesantren Mahasiswa,1,Pesantren Salaf,1,Photo,1,Pilihan Editor,105,Pilkada,1,Pilkada 2017,1,Pilkada DKI,1,Pilkada Jatim,1,Ploso,1,PMII,3,Polemik Sejarah Tere Liye,1,Politik,13,Ponorogo,1,Ponpes Al-Anwar,1,Pontianak,1,PPMN III,1,Pra Munas,4,Pramuka,1,Prof. Dr. Ahmad Tayyeb,1,Prof. Dr. Quraish Shihab,3,Profil,3,PTKI,1,Puasa Arafah,1,Puasa Ramadhan,1,Puisi,12,Pustaka,10,Pustaka Pesantren,8,Qawli,1,Qunut Nazilah,1,Quote,1,Qurban,5,Radicalism,1,Radikalisme,10,Rajab,1,Ramadan,2,Ramadhab,1,Ramadhan,72,Ramadhan 2015,12,Ramadhan 2016,2,Ramadhan di Hong Kong,1,Ramadhan Video,25,Rasis,1,Rasullah,1,Rasulullah SAW,6,Recommended,2,Refleksi Akhir Tahun,1,Release,2,Release PBNU,1,Religion,2,Remaja Islam,1,Resolusi Jihad,2,Resolusi Jihad NU,1,Rezeki Halal,1,Rijal Mumazziq Z,1,Risalah NU,1,RMI NU,4,Robikin Emhas,1,Robot,1,Rohingya,11,Rokok,2,Rubbubiyah,1,Ruchman Basori,2,Rukun Islam,1,Sahabat,1,Sahabat Nabi,2,Sahih Muslim,1,Said Budairy,1,Saifuddin Zuhri,1,Saifullah Ma'shum,1,Sajak,2,Salafi,2,Salam,1,Sanad Keilmuan,1,Santri,6,Santri Goes To Papua,3,Santri Menulis,1,Santri Urban,1,Sarkub Papua,1,Sastra Islam,11,Satelit,1,Satelit Indonesia,1,Save Rohingya,6,Sayembara Logo Muktamar NU ke-33,1,Science,5,Sedekah,3,Sejarah,5,Sejarah Al-Qur'an,1,Sejarah Indonesia,2,Sejarah Islam,1,Sejarah NU,2,Sekolah Lima Hari,1,Seni dan Sastra Islam,12,Seri Belajar Islam,8,Seri KH. Said Aqil Siraj,1,Seri Tokoh,1,SGTP,1,Shahih Muslim,1,Shaikh Nimr Baqir al-Nimr,1,Shalat,18,Shalat Gerhana,3,Shalat Idul Adha,1,Shalat Istiqa,1,Shalat Jum'at,6,Shalat Sunah,1,Shalat Sunnah,3,Shalat Tarawih,15,Shalawa Nabi,1,Shalawat,2,Shalawat Nabi,4,Shalawat Nabi Muhammad SAW,2,Shalawat Nariyah,3,Sholat Tarawih,1,Sholawat,1,Sholeh Darat,1,Short Course,1,Sifat Mulia Rasulullah SAW,1,Silsilah Nabi Muhammad SAW,1,Silsilah Rasulullah,1,Sindikasi Damai,15,Sindikasi Media,1,Singaparna,1,Sinopsis,1,Sirah Nabawiyah,2,Sirah Nabi,2,Siswa Berprestasi,1,Slamet Basyid,1,solar system,1,Solidaritas,1,Sponsored,2,Suara NU,1,Sudut Pandang,1,Sudut Taman Ramadhan,7,Sufistik,1,Sumanto Al Qurtuby,9,Sumenep,1,Sunnah,2,Sunnah Rasulullah,1,Sunnah Shalat,1,SUNNI,1,Sunni-Shia,1,Sunni-Syiah,1,Suraji,6,Surat Edaran Gubernur Jateng,1,Surat Terbuka,3,Suriah,2,Syafa'at Rasulullah,1,Syafaat Nabi,1,Syahid,1,Syahrozad Zalfa Nadia,1,Syaikhona Kholil Bangkalan,1,Syarat Wajib Zakat,1,Syariah,2,Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani,1,Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany,1,Syekh Abdul Qadir Al-Jailani,1,Syekh Dr. Muhammad Fadhil,1,SYIAH,3,Tafsir,1,Tafsir Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani,1,Tahlilan,2,Tahun Baru 2016,1,Tahun Baru Islam,2,Tahun Baru Masehi,1,Tanah Suci,1,Tarawih,21,Tasawuf,3,Tawan,1,Tawariq,1,Tayyip Erdogan,1,Tebuireng,6,Tekno,20,Teladan,1,Teladan Nabi,3,Teologi Teror,1,Teraweeh,1,Tere Liye,1,Teror,1,Teror 2016,1,Teror Jakarta,1,Teror Sarinah,1,Teror Thamrin,1,Teroris,4,Terorism,10,Terorisme,25,Tionghoa,1,Tips and Trick,2,Tokoh,86,Tokoh Betawi,1,Tokoh Bogor,1,Tokoh Dunia,3,Tokoh Indonesia,19,Tokoh Islam,114,Tokoh Kemerdekaan,2,Tokoh Muda Islam,25,Tokoh NU,17,Tokoh NU Bogor,1,Tokoh NU Jabar,1,Tokoh Perempuan,1,Tokoh PMII,1,Tokoh Rembang,1,Tokoh Syiah,1,Tolak FDS,12,Toleransi,5,Tradisi,2,Tragedi Crane di Masjidil Haram,1,Trend Sosial,2,Tuah Pesantren,1,Tulisan Arab,1,Tuntunan Islam,1,Turats,1,Turki,1,TurnBackHoax,4,Tutorial,1,TV9,1,Ubaidillah Achmad,23,Ubaidillah Ahmad,1,Ucapan Minal Aidin Wal Faizin,1,Ucapat Selamat Natal,1,Udhiyah,1,Uhud,1,Ulama,11,Ulama Bogor,1,Ulama Indonesia,1,Ulama NU,3,Ulama Nusantara,1,Ulama Perempuan,1,Ulama Salaf,1,Uluhiyah,1,UNU,2,Ustad Ahmad Ikrom,1,Ustadz,1,Ustadz Ahmad Ali MD,2,Ustadz Ali MD,1,Ustadz Fathuri,24,Ustadz Fatoni Muhammad,1,Ustadz Lc,1,Ustadz Ma'ruf Khozin,3,Ustadz Menjawab,5,Ustadz Yusuf Mukhtar Sidayu,1,Ustadz Yusuf Suharto,1,Uswah,3,Uswatuna,3,UU Ormas,1,Video,5,Vinanda Febriani,7,VoA-Islam,1,Wahabi,4,Wahabism,2,Wahabisme,2,Wahid Foundation,6,Wali Pasemone,1,Wali Songo,2,Walisongo,5,Waliyullah,1,Wardi Taufik,1,Wawasan,79,Wawasan Islam,54,Wawasan Kebangsaan,12,Wawasan Nusantara,43,Website Islam Indonesia,1,Website Islam Nusantara,1,Wirid dan Doa,2,Wirid dan Doa Setelah Shalat,1,Women and Jihad,1,Women Fighter,1,World Peace,1,Wudhu,3,Yahya Staquf,1,Yasin,1,Yayasan Saifuddin Zuhri,1,Yenny Wahid,3,Yogyakarta,8,Z-Featured,3,Zainal Mustafa,1,Zakat,4,Zakat Fitrah,2,Zakir Naik,1,Zakky Zulhazmi,2,ZIarah,4,Ziarah Kubur,2,Zikir,1,Zuhairi Misrawi,1,Zulkilfi Hasan,1,خطبة كسوف الشمس,1,
ltr
item
Arrahmah.co.id - Portal Dunia Islam: Mengkaji Ulang Gerakan HTI: Sebuah Kegagalan Menemukan Cakupan Islam Nusantara
Mengkaji Ulang Gerakan HTI: Sebuah Kegagalan Menemukan Cakupan Islam Nusantara
Gerakan HTI merupakan gerakan beberapa kelompok umat Islam bertujuan untuk mewujudkan khilafah dalam sistem kekuasaan. Tujuan gerakan HTI ini berbeda dengan tujuan risalah Kenabian Nabi Muhammad, yaitu menyempurnakan akhlak yang mulia
https://4.bp.blogspot.com/-zwWfqutOWAU/WXfXH2uh--I/AAAAAAAAI2w/Gsy2YNToCGkfBjCFvPMjh84gsERMKCOWwCLcBGAs/s640/Hizbut%2BTahrir%2BIndonesia.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-zwWfqutOWAU/WXfXH2uh--I/AAAAAAAAI2w/Gsy2YNToCGkfBjCFvPMjh84gsERMKCOWwCLcBGAs/s72-c/Hizbut%2BTahrir%2BIndonesia.jpg
Arrahmah.co.id - Portal Dunia Islam
https://www.arrahmah.co.id/2017/07/mengkaji-ulang-gerakan-hti-sebuah.html
https://www.arrahmah.co.id/
https://www.arrahmah.co.id/
https://www.arrahmah.co.id/2017/07/mengkaji-ulang-gerakan-hti-sebuah.html
true
766049156261097024
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content