Headlines
Loading...
Cak Nun, Maiyahan, dan Semburan 1,5 Trilyun

Cak Nun, Maiyahan, dan Semburan 1,5 Trilyun

Cak Nun dan Maiyahan. Photo: CakNun.com
Oleh: Nur Kholik Ridwan

1
Orang yang mengidolakan Cak Nun, tidak terlepas dari dua hal: retorikanya yang memukau, dan yang kedua, selalu di lingkaran luar kekuasaan. Dia juga mampu merestorasi tradisi-tradisi sholawatan dan khazanah Islam Nusantara, dalam lirik-lirik lagu di tengah-tengah masyarakat perkotaan. Tetapi orang yang retorikanya bagus dan sering naik di panggung, tidak jarang juga terpeleset, itu bisa terjadi.

Tatkala belum ada Ki Ageng Ganjur dan Habib Syekh, banyak anak-anak muda NU yang mendengarkan ceramah-ceramahnya; juga anak-anak muda dari lain kalangan. Setelah ada Habib Syekh, penggemar santri tradisi banyak yang beralih memilih Habib Syekh. Meski begitu, lagu-lagu grupnya Cak Nun masih tetap didengarkan, meskipun sudah tidak mendominasi lagi di kalangan santri. Sementara anak-anak PMII, tentu lebih memilih Ki Ageng Ganjur, yang gitu lho, dengan masternya Cak Sastro. Ini ditambah sudah mulai di mana-mana ada sholawatan, lagu-lagu yang direstorasi dari khazanah pesantren, mulai al-Banjari sampai Sholawatan al-Ghofilin di Jember, semakin orang banyak alternatif, dan satu grup musik religi tidak bisa mendominasi lagi.

Kawan-kawan saya sejak awal, tidak mengikuti atau mengidolakan Cak Nun, meskipun satu dua ada yang di sana. Salah seorang Nahdliyin yang kemudian dekat dengan Cak Nun adalah Kyai Marzuki Kurdi, dari Sleman, aktivis NU seangkatan dengan Mas Ronin Hidayat dan Mas Imam Aziz, di Numuhammadiyah. Sementara dari Muhammadiyah ada Musthofa W Hasyim. Saya sendiri pernah diajak Kyai Marzuki Kurdi, mungkin iseng saja, untuk hadir dalam acara membangun Numuhammadiyah, di rumah Bpk. Daliso Rudianto. Tetapi saya memilih tidak datang. Saya merasa, berkhidmah di lingkungan Nahdliyin saja sudah suatu hal yang tidak gampang, apalagi mau membuat sesuatu di luar NU dan Muhammadiyah.

Belakangan, setelah banyak Syekhermania mementaskan Habib Syekh, penggemar lagu-lagu religi santri dari kalangan Nahdliyin, memilih bersama di dalam lagu-lagu Habib Syekh. Padahal basis mereka dan juga Cak Nun tidak jauh berbeda, Joglosemar dan satri yang seneng sholawatan, bukan HTI, bukan MTA, bukan LDII; meskipun untuk sesekali pentas Cak Nun masih ke luar negeri. Di tengah itu, seorang Kyai dari Nahdliyin, dari Bantul, diajak untuk bersama mengisi Maiahannya Cak Nun sebagai selingan, yaitu Kyai Muzammil, pengasuh PP Rohmatul Umam.

2
Saya sendiri jarang sekali menghadiri pentas-pentas dari artis-artis yang bersama Cak Nun, kecuali sekali waktu di depan Pendopo Tamansiswa, yang saat itu menghadirkan Busyro Muqoddas, meskipun salah satu artisnya adalah kawan kami sendiri, yang suaranya seperti Rhoma Irama, maestro Imam Fatawi. Tetapi saya sendiri kadang nyetel lewat chanel ADtv yang markasnya di depan UAD, karena sering menayangkan pentas artis-artis grupnya Cak Nun ini di televise swasta itu, setiap malam Jumat (gak tahu sekarang berlanjut apa nggak), ya sekadarnya aja.

Memperhatikan pentas grupnya Cak Nun ini, menyuguhkan begini: ada lagu-lagu yang diambil dari khazanah pesantren dan Islam tradisi dan banyak pentas di sekitaran Joglosemar di kalangan Islam tradisi, mulai dari sholawatan dan sejenisnya; diselingi pidato pidato dan orasi, juga kritik sosial. Saya menganggap itu biasa saja dan baik, meskipun saya tidak tertarik ikut di dalamnya, termasuk tidak tertarik di Numuhammadiyah-nya. Karena menurut saya, kalau mau belajar dzikir thoriqot, saya tidak mendapatkan di dalamnya; kalau mau jadi gerakan sebagai gerakan sosial, yang melakukan perubahan dengan kuat, dengan mengorganisir rakyat, juga tidak ada di dalamnya; sesuatu yang, menjadi konsen saya, kalau tidak dapat thoriqotnya, ya paling ora dapat gerakannya. Nah ini dua-duanya nggak ada, makanya saya tidak tertarik; tetapi tentu saja ada yang tertarik ke sana karena konsennya berbeda. Sementara kalau hanya kritik sosial,  banyak alternatifnya.

Maka dari sudut itu, saya melihat, pentas-pentas Cak Nun sebagai hiburan religi saja. Sementara kritik-kritik sosialnya bisa ke mana-mana, itu sangat bisa dimaklumi. Karena Cak Nun, bukan berkhidmah di NU dan Muhammadiyah, juga tidak di ormas apapun. Selepas misalnya ada kritik-kritik sosial di dalam pentas-pentas Cak Nun, besuknya juga pentas dan pentas lagi, tergantung yang mengundang, dan kritik sosial lagi. Begitu terus berjalan: dari pentas ke pentas, dari kritik ke kritik. Begitu terus yang dominan.

3
Kali ini, dalam salah satu kritiknya, Cak Nun menyebutkan, yang sempat kemudian diunggah di Youtube, bahwa NU, mendapat uang 1,7 trilyun. Yang satu ngrakoti duwit sing sitok diidek-idek, dalam merespon Perppu. Di situ, maksudnya HTI diidek-idek, NU ngrakoti duwit 1,7 trilyun.
Rekan-rekan kami di kalangan Nahdliyin, telah membantahnya bahwa NU telah mendapat 1,7 triulyun, seperti dilakukan Wasekjen PBNU, Gus Ishfah Abidah Aziz; juga Gus Masyamsul Huda dari Direktur Lazisnu Care. Pada intinya jawaban mereka menjelaskan:

Pertama, tidak ada uang 1,7 trilyun yang ada dalam transfer, atau kopor cash, dan bertruk-truk uang yang diangkut ke PBNU, sebagai hasil barter Perppu. Kedua,  nilai nominal 1,7 trilyun itu adalah baru komitmen program yang diperuntukkan untuk masyarakat. Ketiga, berita itu sudah lama beredar, berbulan-bulan jauh  sebelum Perppu dibuat. Dan karenanya tidak ada yang dikrakoti NU dari barter Perppu.

Akan tetapi di media sosial, telah banyak beredar, bahwa apa yang dilontarkan Cak Nun itu,  seperti dianggap benar oleh sebagian orang, apalagi yang sudah sejak awal mendukung HTI. Orang-orang NU tidak perlu khawatir, soal ini karena dalam hal itu menjelaskan begini: Cak Nun mengambil satu positioning dalam soal pembubaran HTI, itu jelas dengan kata-katanya: sing sitok diidek-idek, Yang satu ngrakoti duit, dengan bau nyinyir dilamatakan kepada NU. Positioning NU adalah pendukung Perppu. Cak Nun mendeligitimasi NU dengan menyebarkan semburan panas, NU mendapat 1, 7 trilyun, tanpa menjelaskan benar tidaknya, dan diperuntukkan untuk apa.

Saya sendiri biasa saja, Cak Nun mengkritik. Orang juga menjawab Cak Nun, saya lihat juga biasa saja, tidak perlu disebut anti kritik; atau yang mengkritik lalu dia harus disebut sok kemlinthi dan keminter, tidak perlu. Kalau orang mengkritik, dan orang menjawab kritik, lalu hukum berjalan. Pertanda kita sebagai bangsa mulai lumayan. Saya sendiri setuju, Cak Nun melanjutkan lontarannya menjadi kritik sosial, lalu menjadi diskursus. Tapi bagaimana itu dibaca.

1. Kalau menurut bukti dari Cak Nun atau orang-orang yang memberi info kepada Cak Nun bahwa NU mendapatkan  uang 1,7 trilyun, baik itu dengan transfer, betruk-truk diangkut ke PBNU, atau pakai kopor cash, atau entah dengan cara apa duit itu dianggapnya dijarah dari negara, dikrakoti NU, saya juga ingin tahu: apakah itu duit halal apakah nggak. Bahkan kalau ini ada kaitannya dengan korupsi, mohon diundang penegak hukum untuk itu.

2. Akan tetapi, kalau ternyata jawaban-jawaban dari rekan-rekan Nahdliyin kami yang benar, bahwa itu info sudah lama dan tidak benar; itu adalah program komitmen pemerintah untuk menyalurkan kredit ke masyarakat dan tidak kepada PBNU, maka harap berilah masyarakat teladan, yang baik, dan bagaimana jiwa seorang kesatria bersikap. Sebab kalau tidak, Cak Nun akan menjadi bagian dari pemfitnah tentang NU, di tengah situasi orang sudah panas, tegang, dan saling bertarung.

Bagi rekan-rekan kami di kalangan Nahdliyin, tentu tidak perlu khawatir. NU adalah jamiyah yang diridhoi, setiap detik dan hari didoakan oleh para wali-wali, para ahli dzikir, para guru-guru, dan hidup didada para ahlul Qur’an, ahlush sholawat, ahlut thoriqot, ahlul hizib, ahlul wudhu’, dan ahlush shakhowah. Kalau memang yang dilontarkan Cak Nun itu benar dan akan menghancurkan NU, pasti Alloh akan memberikan perlindungan kepada NU, dan membersihkannya dari orang-orang yang disebut ngrakoti duit itu.

Tetapi, juga kalau itu tidak benar, mereka yang memusuhi NU, akan dengan sendirinya, akan dibuat malu oleh Alloh; dan kalau tidak berhenti-henti, mereka harus berhadapandengan doa dan wirid para wali-wali, para ahli dzikir, para guru-guru, dan yang menghidupkan NU lewat dada para ahlul Qur’an, ahlush sholawat, ahlut thoriqot, dan ahlul hizib, ahlul ijazahan dan ahlul hikmah, untuk kebaikan umat wa Indonesia bisababi NU; apalagi kalau setiap harinya golek upone yo ngrakoti tradisi-tradisi yang diamalkan wong NU, tetapi ngantemi dodone wong NU, kita doakan, orang begitu akan diingatkan oleh Alloh dengan cara-Nya sendiri.

Maka ada dimana dari dua itu. Kita tunggu saja, Cak Nun ini, Shohubul Markesot Bertutur ini, mungkin akan membeberkan bukti-buktinya setelah dibantah oleh rekan-rekan kami dari kalangan Nahdliyin. Bukan semburan semburan fitnah. ###


0 Comments:

Cloud Hosting Indonesia