Buku Kajian Islam Nusantara : “Kitab Belut Nusantara”




Sinopsis :
“Sungguh pun Tuan Mukhtar Bogor (Syaikh Mukhtar ‘Atharid al-Bughuri) menguasai banyak bidang disiplin ilmu termasuk ilmu-ilmu Hadist, yang sering dibicarakan terutama oleh golongan tajdid, namun beliau tetap berpegang dengan Mazhab Syafie, pengikut setia Mazhab Ahlis Sunnah wal Jamaah aliran Imam Abu Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi.

Dalam tasawuf tetap berpegang kukuh dengan imam-imam kaum sufi yang muktabar seperti Imam Abu Qasim Juneid al-Baghdadi, Imam al-Ghazali, dan lain-lain.”
(Wan Mohd. Shaghir Abdullah)

“Kitab belut karya Syaikh Mukhtar ‘Atharid al-Bughuri ini menjadi saksi akan prestasi yang ditorehkan oleh ulama Nusantara dalam kencah keilmuannya secara global melalui media Haramain.

Dari kelihaian dan kealiman al-Bughuri dalam menyanggah pendapat ulama yang mengharamkan belut, maka tidak mengherankan jika halaqahnya di Masjidil Haram terbilang paling ramai dikunjungi thalabah dibandingkan dengan ulama Nusantara lainnya yang mengajar di sana.

Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama berpengaruh di Nusantara Melayu di antaranya adalah Tok Kemuning (Malaysia), Haji Abdullah Fahim (Mufti Pulau Pinang), Sayyid Muhsin ibn Ali al-Musawa (Mudir Dar al-Ulum Makkah asal Palembang), Syaikh Muhammad Ahyad al-Bughuri (pengajar di Masjidil Haram asal Bogor), Kiai Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), Syaikh Zubair al-Filfulani (pengajar di Masjidil Haram asal Demak), Syaikh Muhaimin al-Lasemi (pengajar di Dar al-Ulum asal Lasem, Rembang), Syaikh Husein ibn Abdul Ghani al-Palimbani (penggagas Madrasah al-Fattat al-Ahliyah di Haramain asal Palembang), Syaikh Raden Muhammad Sulaiman al-Sumedangi (pengajar di Masjidil Haram asal Sumedang), dan Syaikh Yasin ibn Isa al-Fadani (Musnid Dunya asal Padang).

Selamat Membaca!

Click to comment