Billboard Ads

Muhasabah Kebangsaan: Tradisi Mudik Dan Lebaran Sebagai Ekspresi Islam Nusantara

ARRAHMAH.CO.ID - Mudik dan lebaran merupakan peristiwa fenomenal yg melibatkan seluruh kapisan masyarakat dari berbagai lapisan sosial, latar belakang budaya dan keyakinan agama yang berbeda. Meskipun peristiwa ini sarat dengan nuansa dan simbol Islam.

Berjuta juta ummat melakukan perjalanan menempuh jarak ratusan bahkan ada yang ribuan kilometer untuk kembali ke kampung halaman. Bertemu dengan sanak kerabat untuk bersilaturrahim sambil melepas rindu pada kampung halaman. Meski kadang kampung halamannya sdh berubah dan tinggal jejak2 masa lalu.

Memang ada berjuta motif di balik peristiwa ini, tapi aneka motif dan kepentingan itu lebur dalam satu rasa bahagia yg tercernin dalam berbagai bentuk tradisi lebaran yang dilaksanakan bersama masyarakat setelah para memudik sampai di kampung halaman.

Beberapa tradisi untuk memeriahkan Idul Fitri adalah takbir keliling. Tradisi ini tdk saja menjadi sarana mengunmandangkan takbir unt mensyiarkan Islam, lebih dari itu telah menjadi ajang penggalian kreatifitas seni budaya yg bisa menumbuhkan spirit religiusitas ummat Islam.

Selain itu, melalui event ini tercipta ruang sosial yang luas dan lepas tanpa sekat sehingga bisa menjadi ajang silaturrahim antar ummat yg beragam latar belakang sosial, budaya dan keyakinan. Mereka bisa bertemu, berinteraksi untuk berbahagia bersama menikmati semarak takbir keliling.

Kemeriahan Idul Fitri di Nusantara juga ditandai dg tradisi ziarah ke makam keluarga, anjang sana ke para sahabat dan kerabat serta event halal bi halal yg dilaksanakan oleh berbagai komunitas yg ada di masyarakat. Melalui berbagai tradisi ini suasana idul fitri di kampung menjadi meriah.

Semua bentuk kemeriahan dalam Idul Fitri yg disebut dg Lebaran ini  merupakan tradisi yg khas Nusantara krn hy terjadi dan dilakukan oleh masyarakan Nusantara. Tradisi ini terbentuk sbg ekspresi pelaksanaan ajaran Islam melalui tradisi baik yg berkembang di masyarakat. Dpt dikatakan bahwa mudik dan lebaran merupakan ekspresi Islam Nusantara.

Berkaca dari tradisi mudik dan lebaran kita dapat melihat karakteristik Islam Nusantara (IN ). Pertama IN memasukkan nilai2 dan ajaran Islam dalam konstruk tradisi dan budaya lokal tanpa merusak subatansi dan mengurangi sakralitas ajaran itu sendiri. Dengan cara ini ajaran Islam bisa diterima semua pihak.

Kedua meski sarat dengan simbol dan nuansa Islam namun hampir tidak ada yg merasa terancam dan khawatir apalagi ketakutan dengan bangkitnya Islam spt terlihat dalam tradisi mudik dan lebaran. Sebaliknya seluruh ummat juatru ikut berbahagia dalam kemeriahan mudik dan lebaran tanpa harus mengorbankan keyakinan masing2.

Ketiga, hampir semua pihak, mulai aparat negara sampai komunitas berpartisipasi dan terlibat dalam peristiwa mudik dan lebaran secara sukarela dan sukacita. Ini artinya IN itu tidak memecah belah dan menimbulkan ketakutan pihak lain, sebaliknya IN justru bisa merajut perbedaan dan menjaga keberagaman dengan cara menebar kebahagiaan pada pihak lain.

IN tidak menang2an dan atau menuntut untuk diperlakukan lebih dengan cara memaksa atau intimidasi pihak lain karena merasa mayoritas. Sebaliknya  IN menawarkan tradisi dan kultur yang membahagiakan semua pihak untuk menarik perhatian pihak lain agar bersedia berpartisi dan mengormati Islam secara sukarela dan bahagia. Pendeknya IN menggunakan strategi kultural dan akhlakul karimah untuk menunjukkan kehebatan Islam.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yg beragam, strategi IN ini merupakan cara yg tepat untuk mengajarkan dan memprjuangkan tegaknya Islam di Indonesia. Karena cara yg ditempuh okeh IN ini tidak saja bisa menjaga kebhibekaan tetapi juga mudah diterima oleh semua pihak krn bisa menebar damai dan kebahagiaan pada siapa saja spt tercermin dalam tradisi mudik lebaran.

Dengan karakteristik dan strategi kukturalnya inilah IN bisa menerima Pancasila, bahkan menganggap Pancasila sbg sublimasi dari ajaran Islam baik scr fiqh, aqidah dan tasawwuf.

Seperti halnya tradisi2 lainnya, dalam mudik dan lebaran juga ada sisi negatifnya. Namun hal itu bukan menjadi alasan unt memberangus dan menghancurkannya. Tugas kita semua, terutama ummat Islam, adalah mengeliminir sisi dan dampak negatif dari tradisi mudik dan Lebaran.

Menghancurkan tradisi hy karena ada sisi negatif yg dianggap mengotori agama sama saja dengan membakar rumah karena dianggap ada tikusnya. Atau merusak dan merobek2 baju karena dianggap ada kotorannya.

Mudik dan lebaran adalah tradisi tahunan yg sarat dg nilai dan nuansa religius. Contoh kreativitas umat Islam Nusantara dlm memadukan tradisi dg spirit religiusitas. Semoga tradisi ini tdk dianggap bid'ah yg bisa menyebabkan pelakunya dianggap kafir dan musyrik hanya karena tradisi ini tdk ada pada zaman Nabi atau tdk bisa menemukan dalil tekstualnya.

Zastrow El-Ngatawi, Budayawan.