Billboard Ads

Oleh : Andra Imam Putra

Teror, teroris dan terorisme adalah kata yang memiliki banyak definisi , tapi yang pasti jika kata-kata ini membuat kita takut , panik dan waspada maka sukses sudah "teror" yang dilancarkan.


Apapun bentuk pesan teror yang dilakukan oleh teroris dimana memenuhi unsur ancaman, pembunuhan, membuat suasana tidak nyaman maka hal ini adalah sebuah tindakan kejahatan/kriminal dan harus ditindak secara hukum.


Fokus tulisan ini mengacu pada peristiwa pesan teror yang berupa secarik kertas dengan isi tulisan ancaman yang disematkan pada kaca wiper mobil patroli milik kepolisian yang sedang diparkir, saya tidak perlu menyebutkan lokasi nya  dengan alasan yang akan saya jelaskan di bawah ini.


Pesan teror memiliki tujuan yaitu menakut-nakuti , mengancam dan mengganggu, seringkali kita sebagai yang mengetahui teror ini mengambil sikap yang salah yaitu : menyebarluaskan nya.


Di era komunikasi digital seperti sekarang ini, maka sangat sulit sekali menahan nafsu "share" peristiwa di sekitar kita apalagi peristiwa yang jarang terjadi dan termasuk peristiwa luar biasa, beberapa usapan jari maka konten informasi digital baik itu berupa foto, audio ataupun video tersebar begitu saja dan seringkali kita tanpa sadar melakukan nya , kalau bahasa saya "Reflek Medsos". Nah hal sepele ini sebenar nya telah membantu upaya teror dengan menyebarkan pesan teror ke selain target teror jadilah teror berantai dan "obrolan" yang viral. Bayangkan secarik kertas dapat menyebabkan kepanikan, ketakutan dan gangguan yang luas, akibat nya : beberapa pos polisi yang di gunakan sebagai pos pengamanan dan penjagaan arus mudik diperintahkan untuk di kosongkan, beberapa masyarakat panik, masyarakat yang lain "kepo" dan ikut panik juga begitu seterus nya dampak dari secarik kertas pesan teror di mobil polisi.


Keren kan efek nya? Itulah prinsip terorisme "sebarkan ketakutan, kepanikan dan gangguan seluas luas nya dengan cara se- "murah-murah" nya. Bisa jadi anda salah satu pembantu terorisme tanpa sadar dengan menyebar luas kan nya, euforia sebagai netizen yang keren, update, gaul, tau banyak hal secara ga langsung bertanggung jawab terhadap ketakutan dan kepanikan yang disebabkan oleh nya, apalagi sampai ada screenshoot obrolan group antara kepala satuan polisi kepada anak buah nya, ini kan gila. Berarti polisi atau pun orang yang tergabung dalam group itu dengan sengaja menyebarkan nya, sekali lagi dengan sengaja menyebarkan nya.


Maka ada beberapa saran saya untuk menyikapi pesan teror, baik itu teror kepada diri kita sendiri, orang lain atau instansi pemerintah.


1. Jika pesan teror berkaitan langsung dengan anda maka segera menyelamatkan diri


2. Jangan ikut menyebarkan pesan teror tersebut melalui media apapun apalagi sampai membagikan nya secara masif


3. Kurangi rasa ingin tahu (kepo)


4. Jauhi atau hindari hal-hal yang berkaitan dengan isi pesan teror, serta siapkan  langkah-langkah melindungi diri dari pesan teror.


5. Tetap waspada dan jangan panik


Mungkin itu beberapa hal kecil yang kerap kali kita lakukan, dalam hal apapun mohon berfikir dulu sebelum anda membagikan melalui media sosial , selalu gunakan prinsip "think before posting".


Berbagai kejadian pesan teror, yang terjadi bisa jadi adalah pekerjaan oknum kelompok tertentu yang memanfaatkan moment-moment besar , salah satu nya lebaran dimana kegiatan tahunan yang melibatkan jutaan orang bepergian antar kota dan antar provinsi dengan segala moda transportasi, maka dapat dibayangkan efek kepanikan dan ketakutan yang akan terjadi, apalagi gangguan ketertiban nya.


Maka selalu waspada

Semoga bermanfaat

Wallahul muwaffiq ila akhwa mitthariq.

Andra Imam Putra, Ketua PC PMII Kota Cilegon