Billboard Ads

Kutukan Minyak Arab, Konflik Berkepanjangan di Timur Tengah
Kutukan Minyak Arab, Konflik Berkepanjangan di Timur Tengah
OPINI, ARRAHMAH.CO.ID - Arab Saudi, kekuatan utama di  Kawasan Arab, menyerukan pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar, negara monarkhi kaya raya lainnya. Bagi Saudi, ini adalah langkah politik agresif untuk kesekian kalinya yang ditunjukkan secara terbuka dalam dua tahun terakhir terhadap kawasan sekitarnya.

Maret 2015, dengan mengerahkan ratusan jet tempur, Saudi menggempur wilayah Yaman guna menghancurkan pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran. Tak kurang dari 8.500 warga Syiah di negara tersebut pun tewas akibat serangan yang kemudian berlanjut  hingga tahun-tahun berikutnya itu.

Akhir 2015 lalu, kita masih ingat, Kerajaan Saudi mengeksekusi ulama Muslim Syiah, Nimr al Nimr. Tindakan tersebut langsung disusul protes besar-besaran warga Iran di Kedubes Saudi di Teheran. Keesokanharinya, Pemerintah Saudi memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Iran. Seiring dengan itu, konflik di Yaman kian memanas.

Lalu apa hubungan antara rangkaian kebijakan agresif Saudi sebelumnya itu dengan krisis diplomatik melawan Qatar?

Jawabannya sangat klasik: Minyak.

Tak ada hal yang lebih membuat Saudi bahagia sekaligus menderita daripada minyak. Meskipun sejak satu dekade terakhir sektor jasa, perdagangan, dan keuangan mulai menjadi sumber ekonomi baru di kerajaan tersebut, 80 persen perekonomian mereka masih disumbangkan oleh minyak dan gas.

Terkait hal tersebut, M.R. Izady, seorang kartografer sekaligus Profesor bidang Pertahanan dan Keamanan dari Universitas Florida memiliki penjelasan menarik. Profesor yang pernah tergabung dalam Angkatan Udara AS ini menunjukkan sebuah peta cadangan minyak dan gas di jazirah Arab. Peta tersebut menunjukkan, sebagian besar cadangan migas di wilayah tersebut terkonsentrasi di bagian timur Jazirah, yang notabene  banyak didiami oleh warga Muslim Syiah (lihat gambar).
Hal tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang memicu ketakutan besar Pemerintah Saudi terhadap upaya pemberontakan atau separatisme warga Syiah yang mendiami banyak kawasan timur itu melalui dukungan Iran. 

Ketakutan ini sesungguhnya sudah terasa sejak tahun 2003, menyusul invasi AS atas Irak di bawah Pemerintahan Saddam Husein, sebuah pemerintahan minortas Sunni yang puluhan tahun berkuasa atas mayoritas Syiah. Invasi tersebut dilakukan dengan cara mempersenjatai kaum Syiah untuk turut menggulingkan Saddam.

Nimr sendiri pada tahun 2009 pernah menyatakan akan mengobarkan separatisme jika Pemerintah Saudi tak kunjung memperbaiki perlakuan mereka atas Muslim Syiah di Saudi, khususnya wilayah timur.

Peta Izady dengan gamblang menunjukkan, cadangan migas Saudi hampir semua berada di wilayah-wilayah yang selama ini dicurigai oleh keluarga kerajaan sebagai wilayah orang-orang yang berpotensi mengancam kelangsungan rezim monarkhi Sunni. Nimr, misalnya, tinggal di Awamiyya, jantung dari kawasan migas Saudi, sebelah timur laut Bahrain. Eksekusi atas Nimr agaknya dapat dijelaskan dari ketakutan tersebut.

Hal yang sama juga menjelaskan mengapa Saudi membantu Bahrain--negara kaya minyak lainnya, negara yang didiami mayoritas Syiah namun diperintah oleh monarki Sunni—kala Arab Spring mengoyak tanah Arab sejak 2011 lalu.

Lalu, apa hubungannya dengan Qatar?

Dalam peta yang dibuat Izadi, sangat jelas, Qatar berada di antara deretan kantong-kantong minyak Jazirah Arab dan Teluk. Bahkan, Qatar berada di zona strategis dari bulan sabit lalu lintas jalur perdagangan minyak Timur Tengah. Negara yang hanya berpenduduk kurang lebih 2,6 juta jiwa (2,3 juta jiwa di antaranya ekspatriat) itu juga  menyimpan cadangan cadangan minyak dan gas terbesar di kawasan Teluk (yang ditandai dengan warna merah di peta).

Sejak tahun 2013, seiring kian dekatnya hubungan dengan Iran, Qatar menjadi pemasok gas utama bagi negeri para Mullah itu. Kedua negara juga berbagi hak eksplorasi gas di wilayah bagian selatan Qatar yang dikenal Blok North Field. 

Kedekatan Qatar dengan Iran tak cukup sampai di situ. Dalam batasan tertentu, Qatar juga mendukung pengayaan uranium di Iran, langkah yang dikecam negara lain karena disebut berhubungan dengan ambisi program nuklir Teheran.

Ketika Saudi getol-getolnya menyerang Yaman, menangkap dan menghukum ulama-ulama Syiah, dan memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, Qatar adalah satu-satunya Monarkhi di Teluk yang menolak mendukung langkah Saudi tersebut.

Sebaliknya, langkah-langkah Saudi tersebut mendapat kecaman secara serius dan konstan dari jaringan televisi Al Jazeera, yang sebagian sahamnya dimiliki Pemerintah Qatar.

Seiring dengan itu, kecurigaan terhadap Qatar dan Iran dalam memfasilitasi dan menggerakkan secara diam-diam perlawanan kaum separatis di bagian timur jazirah Arab yang kaya akan minyak pun kian mengemuka di kalangan keluarga kerajaan Saudi. Belakangan, Saudi kerap menuduh Qatar berada di balik aktivisme milisi Al Nusra, sempalan ISIS. Milisi tersebut, duga Pemerintah Saudi, digerakkan di kawasan timur Jazirah yang kaya akan minyak tersebut, dan sebagian lainnya ke wilayah Yaman. Tak ada yang lebih menakutkan bagi Saudi selain bangkitnya perlawanan ataupun separatisme di wilayah bagian timurnya.

Kolumnis isu-isu Timur Tengah, Jon Schwarz, secara sinis dalam analisisnya terkait sepak terjang Saudi belakangan, mengatakan, jika sampai bagian timur itu terpisah dari Arab, nyaris tak akan ada lagi yang tersisa sebagai penopang bagi kerajaan yang selama 80 tahun hidup kaya raya itu, kecuali jenggot dan viagra.

Pada saat yang sama, ada perubahan arah dalam kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat di bawah Trump, terkait kebijakan keamanan di Timur Tengah. Saudi merupakan negara pertama yang dikunjungi Trump begitu berkuasa. Dalam kunjungan awal Mei 2017 lalu, dengan tegas Trump mengatakan akan mendukung aliansi utamanya di Arab itu melawan segala bentuk gerakan terorisme dan ekstremisme. Sebuah pernyataan politik yang sebelumnya telah didahului dengan pengejaran dan pemboman oleh militer AS terhadap milisi Al Qaedah dan pemberontak Syiah di wilayah Yaman dan timur Jazirah Arab, serta pemboman di Suriah menyusul serangan gas terhadap warga Suriah yang misterius itu.

Belakangan, rupanya, Saudi memanfaatkan arah kebijakan luar negeri Trump tersebut untuk melegitimasi aksi sepihaknya terhadap Qatar yang mereka nilai pro-Iran dan dapat menjadi batu sandungan bagi penguasaan cadangan migas di kawasan timur jazirah yang berada di bawah permukiman warga Syiah. Tuduhan mendukung terorisme mereka luncurkan kepada Qatar.
Maka tidak heran, meski ada pangkalan militer AS dengan kekuatan sekitar 10.000 pasukan saat ini di Qatar, tak menghalangi langkah Saudi untuk menekan negara termakmur di jazirah Arab itu. Dan benar saja, respons AS terhadap langkah Saudi tersebut terbukti sangat lunak.

------------
Sesungguhnya, kekhawatiran Arab terhadap ancaman pengaruh kekuatan politik Syiah sudah berlangsung sejak puluhan hingga ratusan tahun silam. Bukan terkait dengan pengaruh keagamaannya, melainkan ancaman akan penguasaan mereka atas ladang dan blok-blok migas, yang kebetulan sebagian besar di perut bumi wilayah yang didiami warga Syiah. 

Sebuah alasan sama yang barangkali dapat menjelaskan mengapa dahulu George HW Bush (George Bush Sr) memutuskan untuk membiarkan Saddam Hussein kembali berkuasa dan membantai Kaum Syiah Irak usai Perang Teluk I. Bush ingin menjaga relasi baiknya dengan dua sekutu terdekatnya di Timur Tengah, yaitu Saudi dan Turki. Karena bagaimanapun juga, berlanjutnya kekuasaan Saddam akan menurunkan ancaman Syiah dan Iran.

Rivalitas atas Syiah telah menjadi gaya, model, dan modal legitimasi politik Kerajaan Saudi sejak ratusan tahun silam. Pada tahun 1802, 136 tahun lalu, saat untuk pertama kalinya minyak ditemukan di ceruk-ceruk bumi Saudi, elite-elite kerajaan dan peletak ideologi Saudi modern kala itu langsung menyatakan, “kini kita memiliki modal untuk menghancurkan Karbala, situs suci Kaum Syiah di Iran”.

Sejak saat itu, tak terhitung berapa kali upaya penghancuran atas situs tersebut dilakukan. Ribuan orang meninggal, dan kerak dendam tak terbilang mengendap menjadi tumpukan kebencian yang dalam antara Syiah dan Sunni, hingga kini.

Tanpa minyak, bagaimanapun, konflik bernuansa sektarian Sunni-Syiah di Timur Tengah tak akan semasif seperti yang selama ini terlihat. Terutama, karena untuk alasan satu hal, tak akan ada cukup dana untuk menggerakkannya.

Pada suatu masa, di tahun 1930an, tulis Schwarz, Perdana Menteri Inggris kala itu, Winston Churcill pernah menyatakan, minyak di tanah Arab adalah berkah dari sebuah negeri dongeng yang jauh lebih gemerlap dari harapan umat manusia manapun. Churcill barangkali benar belaka waktu itu. Tapi, dia tidak tahu, berkah tersebut ternyata menyimpan kutukan sangat mengerikan.

Oleh: Mohammad Burhanudin