Billboard Ads

NEWS, ARRAHMAH.CO.ID - Segenap tokoh lintas agama melakukan aksi doa bersama menolak korupsi dalam bentuk apa pun serta pelemahan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kelima tokoh dari lintas agama menghaturkan doa bergiliran sesuai kepercayaanya masing-masing. Dari Katolik, Islam, Buddha, Kristen, dan Hindu untuk sepakat memerangi korupsi.

Aksi itu dilakukan bersama Koalisi Masyarakat Antikorupsi Jawa Tengah serta banyak elemen dari penggiat antikorupsi, Rabu (21/6) sore jelang waktu buka puasa di depan bundaran air mancur Jalan Pahlawan Semarang. Aksi ini menarik perhatian masyarakat yang melintas.

Tokoh Katolik, Romo Aloysius Budi menyampaikan, koruptor merupakan musuh semua orang dan semua agama. Maka gerakan moral apa pun harus didukung.

”Semua harus memberantas korupsi karena merusak peradaban kasih dan membuat rakyat tidak sejahtera,” katanya.

Sebab kata Romo Budi, koruptor telah mencuri uang rakyat dan membuat negeri semakin hancur. Oleh karena itu mencegah dan memberantas korupsi menjadi tugas bersama. Pihaknya menyatakan perang terhadap korupsi.

Senada, Wahyudi AR Ketua PC Magabudhi Semarang menyatakan korupsi adalah pembunuhan dengan penistaan hak seseorang secara perlahan.

”Maka kami menolak upaya-upaya pelemahan terhadap KPK, dengan demikian kita tengah melaksanakan tugas berbangsa. Warga Buddha mendukung pergerakan atau upaya-upaya menguatkan KPK,” tandasnya.

Dalam aksi itu, penggiat antikorupsi dan tokoh lintas agama menyatakan sikap. Antara lain, mendukung penuh KPK dalam pemberantasan korupsi, mengecam segala tindakan yang dimaksudkan untuk melemahkan KPK.

Selain itu mendesak DPR RI untuk membatalkan dan membubarkan Pansus Hak Angket terhadap KPK, serta mengajak seluruh masyarakat berdoa agar dijauhkan dari tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang merusak bangsa dan negara.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, mereka juga mengajak masyarakat untuk tidak memilih kembali para legislatif yang bergabung dalam pansus Hak Angket DPR RI dari 7 parpol. Antara lain 6 legislatif dari PDI-P, 4 dari Gerindra, 2 dari Nasdem, 2 dari PPP, 5 dari Golkar, 3 dari PAN, dan seorang dari Hanura.

Pada aksi di tugu Diponoro itu, Ubaidillah Achmad Khadim as Syuffah dan penulis Suluk Cebolek membacakan doa dan puisi dibawah ini :

PENYAMUN

penyamun:

tahukah kalian

siapakah penyamun itu

perampas dan perampok

melewati pesta rakyat

negeri berubah gelap

masyarakat dibuat kebingungan

lingkungan lestari dihancurkan

keadilan dibelokkan

kemunafikan dihidupkan

korupsi menjadi hidangan keseharian

pornografi diundangkan di tengah seks dan kekuasaan

bagi mereka dari mereka untuk mereka sendiri

pagi buta:

anak lahir

istri kesakitan

orang tua menjerit

menistai diri

sisa usia senja

sia sia

bohong

keringat pagi pun

masih berbau busuk

siang bolong:

hayal harapan kosong

tertikam kuasa keserakahan

meniti hiasan harta jarahan

ada benci dan kekhawatiran

hangat hembusan nafas

di hari besar agama

duduk di baris depan

di beberapa tempat ibadah

senyum kepalsuan

candu jiwa anak bangsa

selimut kelicikan dan syahwat

atas nama harga diri bangsa

terasing dari ideologi sendiri

dan agama suci

pedagang kambing hitam

mencari dan melepas

sewaktu datang lirih seruling

dari semak reformasi

bahagia dan derita: hanya

kesengsaraan dari semak lembaga negara: hanya

dasi, baju, dan jas

adalah pakaian kebesaran

untuk memastikan mereka bukan pencuri ayam

perampok bayaran

kejahatan recehan

semua bisa menjadi penyamun

tanpa kecuali

silahkan memilih:

penyamun atau menegakkan kemanusiaan dan keadilan

penyamun atau demokrasi yang memerdekakan

mencerahkan untuk semua

bukan mengadili penyelamat negara

hak rakyat dan cita bangsa:

negeri yang bersih dari korupsi

rakyat yang bebas dari belenggu kemerdekaan

hukum yang tegak untuk semu tanpa kecuali

Kebhinnekaan yang tidak kan pernah ternodai

(bergelora.com/noor)