Billboard Ads



TOKOH, ARRAHMAH.CO.ID - Setiap ada kelahiran, maka kematian akan pasti dijelang. Kelahiran ujungnya adalah kematian. Kapan waktunya kita tidak tahu, yang kita tahu dan harus mau tahu adalah bagaimana kita menjalani hidup dan memaknainya. Menjalani hidup hanya sekedar hidup, makan, kawin, dan mati tidak membuat kita beda dengan ciptaan yang lain.


Kemuliaan manusia terletak pada apa yang ditinggalkannya setelah dia mati. Kenangan yang ditinggalkan menunjukkan kualitas kemanusiaannya sebagai pertanggungjawaban kepada Tuhan yang memberikan kehidupan. Itulah mengapa menjadi sangat menarik mengenang dan merenungi pernyataan seseorang yang telah wafat tetapi hidupnya memberi kesejukkan dan keharuman.

Semalam, Ahad 28/5/17 jam 14.45 WIB telah wafat KH Mahfudz Ridwan pengasuh Pondok Pesantren Edi Mancoro, Salatiga. Wafatnya Abah, panggilan akrab Kyai Mahfudz, meninggalkan banyak kesan dan kenangan yang mendalam bukan hanya bagi kalangan keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU), tetapi juga bagi kalangan umat lain.

Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (HAK KAS) sekaligus pastor rekan di Paroki Ungaran, Romo Aloys Budi Purnomo mengatakan bahwa Abah adalah sosok yang sangat ramah dan bersahaja. Romo Budi bahkan menyebut Abah adalah seorang tokoh bangsa selevel dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Misa sore ini saya persembahkan untuk mendoakan guru, sahabat, dan tokoh bangsa kita, KH Mahfudz Ridwan yang berpulang ke pangkuan Allah tadi siang. Semoga bahagia dalam damai di surga,” ungkap Romo Budi mengumumkan kepada umat di awal Ekaristi, Minggu (28/5/2017) sore.

Sosok Abah memang sangat luar biasa menyentuh berbagai kalangan. Bahkan Abah dikenal di semua kalangan tersebut sebagai pribadi yang egaliter dan bersahaja. Sesuai ciri khas Kyai NU yang memang hidupnya biasa-biasa saja dan jauh dari kesan kemewahan. Sesuai memang dengan status Kyai NU yang disandangnya.

Itulah yang membuat sampai saat ini saya sebagai umat non muslim sangat kagum dan hormat kepada para Kyai NU. Hidup mereka yang sederhana sesuai dengan iman dan keyakinan yang saya anut. Sebagai seorang manusia yang sudah menang melawan nafsu dunia dan segala kesenangannya, hidup sederhana adalah keniscayaan.

Hal inilah yang sulit kita temukan dari para Ustaz karbitan, Ustaz instan, dan Ustaz sosmed. Sebuah kenyataan yang juga ditemukan dalam agama saya. Tidak sedikit muncul pendeta dan juga penginjil yang hidupnya jauh berkali-kali lipat dengan Sang Rabi yang diajarkannya saat masih di dunia. Jangan heran kalau mereka ini tumbuh subur di daerah perkotaan tetapi sangat jauh dari kehidupan desa yang sederhana.

Ada sebuah pesan menarik yang pernah disampaikan Abah kepada Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri. sebuah pesan yang menurut saya menjadi sangat penting dimaknai dalam menjalani bulan Ramadhan dengan konteks kehidupan bangsa yang sedang panas-panasnya ini. panas karena berkeliarannya kaum intoleran dan kaum salah kaprah Syariat.

Dalam akun twitternya, Hanif menuliskan pesan yang sederhana tetapi sangat kuat yang harus kita imani bersama-sama dalam konteks keagamaan kita masing-masing..

MHD‏@hanifdhakiri

Syariat itu buatmu agar km baik ibadahnya. Bkn unt org lain shg km bs menghakiminya”. Selamat jalan guruku, KH Mahfudz Ridwan. Alfaatihah..

Sebuah pesan sederhana namun memiliki makna yang sangat mendalam bukan?? sangat relevan dengan kondisi bangsa kita ini dimana orang memakai Syariat dan kebenaran yang dianutnya untuk menghakimi, merendahkan, dan memenjarakan seseorang. Kebencian dan amarah malah merendahkan dan menodai Syariat dan ajaran-ajaran yang sakral. apalagi sampai dibawa untuk melanggengkan ambisi politiknya.

Saya pikir dalam beragama, satu hal yang penting perlu kita pahami bersama adalah bahwa setiap ajaran dan pernyataan dalam keagamaan kita, bukanlah untuk menghakimi orang lain seolah-olah kita yang paling benar. Melainkan untuk menyempurnakan ibadah dan kualitas diri kita. Karena ketika itu terjadi, maka kita akan bisa memahami kasih sayang dan pengampunan Tuhan yang mau sabar dan memahami setiap salah kita.

Tuhan saja tidak pernah mendahulukan emosi, amarah dan kebencian dalam membimbing dan membina kita, maka kita tidaklah perlu menjadi wakil Tuhan untuk melakukan penegakkan hukum Syariat atau hukum agama. Saya meyakini Tuhan tahu dan terlebih tahu apa yang terbaik bagi dunia ini dan kita tidak perlu mengajariNya dan menggantikanNya.

Semoga pesan dari Abah kepada Pak hanif itu terus bergema di bulan Ramadhan ini. Supaya dalam melewati dan menjalaninya, saudara-saudaraku satu kandungan Ibu Pertiwi tidak menjadikan Puasa sebagai alat untuk menghakimi yang lain, tetapi meningkatkan amal ibadah dan meningkatkan kualitas emosi dan kepribadian kita untuk semakin berkenan dan membanggakan Sang Khalik. Bukankah itu #ArtiRamadhan??

Oleh: Palti Hutabarat, 
Penulis di Seword.com