Billboard Ads

Membaca Budaya di Arab dan Salah Kaprah Praktik Agama di Indonesia
Membaca Budaya di Arab dan Salah Kaprah Praktik Agama di Indonesia
WAWASAN, ARRAHMAH.CO.ID - Banyak sekali kaum Muslim Indonesia khususnya yang salah paham, tidak paham, gagal paham, atau tidak paham-paham mengenai hal-ikhwal yang terjadi di Timur Tengah dan karena itu cenderung bias dan tidak akurat dalam menilai apa yang terjadi di Timur Tengah dalam konteks Indonesia.

Konflik dan kekerasan misalnya. Di Timur Tengah, konflik dan kekerasan itu sangat "geo-politik" bukan "teologi-keagamaan". Perseteruan sebagian kelompok yang mengidentifikasi sebagai "Sunni" dengan sejumlah faksi yang mengidentifikasi sebagai "Syiah" misalnya bukan lantaran mereka memiliki sistem dan ajaran teologi-keagamaan yang berbeda, melainkan karena mereka saling berebut geografi-politik-kekuasaan.

Saya katakan "sebagian" (khususnya faksi politik dan sayap radikal di kedua kubu) karena banyak warga biasa Sunni-Shiah yang hidup damai dan toleran di berbagai kawasan. Dan ingat, rakyat kecil di kedua pihak ini juga sama-sama menjadi korban kekerasan, sama-sama tinggal di pengungsian, sama-sama terlunta-lunta migrasi ke berbagai negara.

Tapi di Indonesia, gerakan anti-Shiah itu lebih banyak memakai teologi-keagamaan yang dijadikan sebagai dasar dan motivasi.

Contoh lain adalah soal jubah. Di Arab, jubah itu adalah "simbol identitas kearaban" seperti batik di Indonesia. Bukan masalah keagamaan. Dengan kata lain, mereka mengenakan jubah itu karena bangga sebagai "orang Arab" bukan dalam rangka mengikuti sunah Rasul misalnya.

Menurut mereka, pakaian yang dikenakan Nabi Muhammad dulu itu berbeda dengan jubah modern yang mereka pakai sekarang.

Menurut mereka pula, pakaian yang orang Arab kontemporer pakai itu disebut "thawb", sementara yang dikenakan oleh Nabi Muhammad disebut "izar" seperti pakaian ihram kalau haji atau umrah.
Karena itu waktu saya bertanya kepada murid-murid Arabku yang kebetulan memakai gamis apakah dalam rangka mengikuti "sunah rasul", mereka selalu menjawab "tidak".

Menurut mereka itu semata-mata identitas kebudayaan Arab, tidak ada sangkut-pautnya dengan ajaran Islam.   

Nah, di Indonesia, lagi-lagi, berjubah itu dianggap "agamis" atau "Islami" karena itu banyak para ustad atau dai yang menganjurkan umat Islam untuk berjubah ria dalam rangka mengikuti Nabi Muhammad.

Padahal, jenis pakaian yang dikenakan beliau 14 abad lalu, sekarang ini mungkin sudah tidak ada dan tidak diproduksi lagi.

Meskipun begitu, mau berjubah juga silakan saja bebas-merdeka, asal jangan norak dipakai melakukan kekerasan dan menganggap yang tidak bergamis sebagai tidak relijius dan tidak Islami. Nggak mutu tau...

Oleh: Sumanto Al-Qurtuby