Saturday, 27 May 2017


Banyak Orang Tidak Tahu, Dikiranya Hanya Belajar Agama Saja, Ini Kelompok Jamaah Ansharut Daulah dan Rangkaian Aksi Terornya di Indonesia
Banyak Orang Tidak Tahu, Dikiranya Hanya Belajar Agama Saja, Ini Kelompok Jamaah Ansharut Daulah dan Rangkaian Aksi Terornya di Indonesia 
ARRAHMAH.CO.ID - Jaringan Jama'ah Ansharut Daulah (JAD) tersebar hampir di seluruh pulau Jawa, Lampung, Jambi, Sumut, Sumatera Barat, Aceh, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusata Tenggara Barat (NTB, Bima) dan Maluku (Ambon). Mereka Ada di sekitar kita. 

Sebelumnya, odentitas dua pelaku bom bunuh diri di Kampung Melayu, Rabu (24/5) akhirnya terungkap. Mereka adalah Ikhwan Nurul Salam (INS) dan Ahmad Sukri (AS). Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyebut, keduanya merupakan jaringan JAD Bandung Raya. Kelompok JAD tidak asing lagi karena terlibat serangkaian aksi teror di Indonesia.

"Ini adalah pendukung utama dari ISIS, ini kesekian kalinya network (jaringan) ISIS melakukan aksi di Indonesia termasuk aksi bom Thamrin," ujar Tito di RS Polri, Jumat (26/5).

Indonesia dikepung organisasi garis keras yang menyebarkan paham radikalisme dan terorisme. Semakin bermunculan organisasi-organisasi yang berafiliasi dan mendukung terbentuknya Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) di Indonesia. Ada tiga organisasi besar radikal di Indonesia. Pertama, Jamaah Islamiah yang targetnya adalah negara-negara barat. Kedua, Tauhid Wal Jihad yang targetnya semua orang yang tidak sehaluan dan dicap kafir. Ketiga, Negara Islam Indonesia (NII), namun kini hanya sekelompok kecil saja yang melakukan kekerasan.

JAD masuk dalam 21 kelompok pendukung ISIS bersama kelompok radikal lain seperti Majelis Mujahidin Indonesia Timur dan Mujahidin Indonesia Barat, Ikhwan Mujahid Indonesi fil Jazirah al-Muluk, Khilafatul Muslimin dan lainnya.

JAD muncul sekitar 2015. JAD juga dikenal dengan sebutan Jamaah Anshorut Daulah Khilafah Nusantara (JADKN). Jaringan ini dipimpin langsung oleh Bahrun Naim yang disebut-sebut sebagai Koordinator ISIS Indonesia di Suriah. Di Indonesia, JAD dipimpin oleh Aman Abdurahman yang kini mendekam di Nusakambangan dan Abu Jandal yang dikabarkan tewas dalam sebuah serangan.

Pada Januari 2017, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengeluarkan pernyataan yang mengategorikan JAD sebagai kelompok di Indonesia yang paling mendukung ISIS. JAD juga disebut sebagai organisasi payung yang terdiri dari ratusan simpatisan ISIS yang berada di seluruh penjuru Indonesia.

Meski bukan tergolong jaringan yang eksis melakukan serangan teror, namun kenyataannya serangkaian aksi teror di Indonesia belakangan ini dilakoni simpatisan JAD. Sebut saja aksi bom Thamrin, bom di Polres Surakarta, penyerangan Mapolres Banyumas, bom panci di Cicendo Bandung, baku tembak di Tuban Jawa Timur, penyerangan Pospol Cikokol Banten, pengeboman Gereja Oikumene Samarinda, dan terbaru bom bunuh diri Kampung Melayu. JAD juga disebut-sebut pernah menyiapkan bom besar untuk Istana Negara, namun berhasil digagalkan.

Mereka yang bergabung dalam JAD belajar membuat bom secara otodidak, dengan bantuan internet. Bahrun Naim memberikan online training kepada anggota kelompoknya. Begitu pula cara mereka berkomunikasi dengan Bahrun Naim juga mengandalkan jejaring sosial. Untuk pendanaannya dikirim Bahrun Naim melalui transfer antarbank.

Polisi dengan mudah mendeteksi sel JAD terhubung dengan Bahrun Naim salah satunya dari jenis bom yang dirakit.

"Kalau kita lihat dari bom yang digunakan yaitu bom panci, bisa membuat bom dari alat dapur, termasuk bom panci ini bahaya karena memiliki tekanan tinggi. Membuat bom dari alat dapur, bahkan dari gula saja dia bisa membuat bom," jelas Kapolri Tito.

Diakuinya, bom panci partikelnya lebih bahaya karena ada gunting, mur, bahan peledak menggunakan BATP yang merupakan ciri khas dari kelompok ISIS. Bahannya juga dari tinner pembersih kutek dicampur dengan bahan lainnya yang menbuat serbuk putih. Ini sangat berbahaya karena dengan panas dan tekanan saja bahan itu bisa meledak.

Bagaimana mereka seolah dengan sukarela bergabung untuk ikut menebar teror di Indonesia? Ajaran agama jadi strategi utama. Polisi menganalisa, penyebab mereka ingin melakukan serangan atau bergabung dalam kelompok terorisme yaitu tak mendalam mempelajari agama. Mereka sebenarnya kebanyakan mempelajari Islam tidak mendalam, dari pengajian, mendengar ceramah dan mempelajari garis kerasnya.

Dalam hal perekrutan dan perluasan jejaring, Bahrun Naim menamainya sebagai penjejalan dakwah kepada masyarakat yang disebarkan oleh ansharud daulah. Kemudian metode penebarannya secara acak menggunakan teknologi sesuai jenis zaman. Dia merekomendasikan materi cuci otak disalurkan melalui aplikasi android, aplikasi yang bisa diakses melalui PC, eBook, dan sebagainya.

Siapa sasaran mereka? JAD mendapatkan doktrin dan instruksi untuk menyerah polisi. Anggota kepolisian yang rentan menjadi target serangan adalah mereka yang bertugas di pos polisi dan polisi lalu lintas. Mereka menggunakan doktrin Takfiri. Kapolri menjelaskan, doktrin ini ditanamkan bahwa segala sesuatu yang bukan berasal dari Tuhan adalah haram.

"Sehingga muslim yang dianggap tidak sepaham dengan mereka dianggap kafir," kata Tito di Kampung Melayu, Jakarta Timur, Jumat (26/5).

Kafir yang dimaksudkan para teroris tersebut adalah Kafir Harbi dan juga Kafir Dzimmi. Polisi diposisikan sebagai Kafir Harbi yaitu kafir yang menjadi musuh Allah, musuh Rasulullah, dan musuh kaum Muslimin. Kafir ini selalu membenci Islam, dan senantiasa menumpahkan darah kaum Muslimin. Mereka tidak henti-hentinya memerangi umat Islam, menyiksa, membunuh dan membantai.

"Polisi karena tugasnya, kita melakukan penindakan hukum. Jadi bagi mereka adalah Kafir Harbi. Lebih dari 120 anggota Polri jadi korban, 40 di antaranya termasuk yang gugur. Sementara luka 80-an," ujarnya.

Sedangkan Kafir Dzimmi yaitu kafir yang tidak memusuhi Islam. Sebaliknya, mereka adalah kafir yang tunduk kepada aturan negara Khilafah sebagai warga negara, meskipun mereka tetap dalam agama mereka.

Sosok Bahrun Naim masih dalam perburuan Polri yang dibantu Interpol. Bahrun memiliki gagasan menggeser gerilya hutan menjadi gerilya kota. Perang senyap di hutan diubah menjadi perang terbuka di jantung kota. Tekniknya jebakan yang kejam dan tak manusiawi, teknik propaganda membabi-buta, serta teknik penyergapan dilakukan dengan senyap dan cepat.

Tujuan teror Bahrun Naim adalah ketakutan publik yang luar biasa. Hingga bisa takluk dengan hasrat berkuasa para teroris. Cara yang dia ungkapkan ialah dengan menggunakan bom bunuh diri, bom mobil, penculikan, penyergapan, dan pembunuhan di ruang publik.

Bahrun Naim melalui teori sel komandonya membeberkan strategi turun gunung untuk mengancam publik yang tak elok ditiru. Beberapa di antaranya ialah dengan memetakan lokasi, target, hingga kemungkinan jalur meloloskan diri. Sementara persenjataan yang harus dibawa disesuaikan dengan kemungkinan kekuatan dari pihak yang melawan. Maka dari itu semakin besar perkiraan resistensi yang muncul, tentu jenis perlengkapan senjata lebih canggih. (merdeka.com/arrahmah.co.id)

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post