Kisah Mengetuk Hati Imam Ahmad bin Hambal dan Penjual Roti Ahli Istigfar

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

TOKOH, ARRAHMAH.CO.ID – Suatu waktu saya tidak tau kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada hajat. Akhirnya saya pergi sendiri menuju ke kota Bashroh.

Pas tiba di sana waktu Isya’, saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat.

Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, saya ingin tidur di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui saya sambil bertanya “kenapa syaikh, mau ngapain di sini?”.

(kata “syaikh” bisa dipakai untuk 3 panggilan, bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu. Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena taunya saya sebagai orang tua).

Marbot tidak tau siapa saya. Dan saya pun tidak memperkenalkan siapa saya. Di Irak, insya Allah semua orang kenal saya.

Saya jawab “saya ingin istirahat, saya musafir”.

Kata marbot, “tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.”

Marbot pun mendorong-dorong saya disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikunci pintu masjid.

Lalu saya ingin tidur di teras masjid.”
Ketika sudah berbaring di teras masjid Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada saya. “Mau ngapain lagi syaikh?” kata marbot.

“Mau tidur, saya musafir” kata saya.
Lalu marbot berkata, “di dalam masjid gak boleh, di teras masjid juga gak boleh”.

Saya diusir. Saya didorong-dorong sampai jalanan.

Di samping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, yang ternyata melihat saya didorong-dorong oleh marbot tadi.

Waktu saya sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh “mari syaikh, Anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil”.

Saya jawab, “baik”. Saya masuk ke rumahnya, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tidak memperkenalkan diri detail, hanya bilang sebagai musafir).

Penjual roti ini punya perilaku tersendiri, kalau saya ngajak ngomong, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, Astaghfirullah, saat naruh garam astaghfirullah, mecahin telur astaghfirullah, campur gandum astaghfirullah. Senantiasa mendawamkan istighfar. Sebuah kebiasaan mulia.

Saya memperhatikan terus.

Lalu saya bertanya “sudah berapa lama kamu lakukan ini?”.

Orang itu menjawab “sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan”.

Saya bertanya “ma tsamarotu fi’luk?”, “apa hasil dari perbuatanmu ini?”, orang itu menjawab “(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta ya Allah…., langsung diterima”.

(memang Nabi SAW. pernah bersabda “siapa yang menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya”).

Lalu orang itu melanjutkan “semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kasih”.

Saya penasaran lantas bertanya “apa itu?”.
Kata orang itu “saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad”.

Seketika itu juga saya bertakbir, “Allahuakbar, Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashroh dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan karena istighfarmu”.

(penjual roti terperanjat, memuji Allah, ternyata yang di depannya adalah Imam Ahmad).

Kisah Ulama Ahlussunah Wal Jamaah” dikumpulkan oleh LTN Nahdlatul Ulama.

Sumber : Manakib Imam Ahmad bin Hambal murid Imam Syafi’i.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...