Saat Zakir Naik Membunuh Keimanan Muslim

Ketika beberapa umat Islam menyatakan kegembiraannya atas kedatangan Dr Zakir Naik, sebagian dari kita yang sudah pernah melihat aksi yang sama dilakukan oleh Ahmed Deedat, tentu saja tidak merasa heran. Dr. Zakir dikabarkan akan mengunjungi UMY Yogyakarta pada April lalu, namun sepertinya batal. Beberapa pihak Islam yang selama ini kehausan argumen untuk melawan pihak-pihak yang mengatasnamakan sains (Ilmiah), mendapatkan kabar gembira tentunya.

Saat Zakir Naik Membunuh Keimanan Muslim
Oleh: Iman Zanatul Haeri

ARRAHMAH.CO.ID - Ketika beberapa umat Islam menyatakan kegembiraannya atas kedatangan Dr Zakir Naik, sebagian dari kita yang sudah pernah melihat aksi yang sama dilakukan oleh Ahmed Deedat, tentu saja tidak merasa heran. Dr. Zakir dikabarkan akan mengunjungi UMY Yogyakarta pada April lalu, namun sepertinya batal. Beberapa pihak Islam yang selama ini kehausan argumen untuk melawan pihak-pihak yang mengatasnamakan sains (Ilmiah), mendapatkan kabar gembira tentunya.

Dr Zakir dikenal dengan tafsir atas ayat-ayat Al-Qur’annya yang memiliki relevansi dengan kenyataan ilmiah dan pengetahuannya tentang kitab lain, yaitu Kitab suci Umat Nasrani (Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, Bibel dll). Selain bahwa tafsirannya atas Al-Qur’an masih bisa diperdebatkan kembali (doi bukan nabi lho, inget), pengetahuannya tentang Kitab Suci Umat Nasrani memiliki dua implikasi. Pertama, adalah hal yang baik, bila seorang muslim mengkaji kitab suci diluar agamanya (menambah pengetahuan dan keimanan). Namun implikasi yang kedua cenderung negatif, sebab akan timbul hasrat-hasrat untuk membenar-benarkan kitab suci agamanya dan menonjol-nonjolkan kesalahan kitab suci agama lain. Inilah mengapa Dr. Zakir menjadi masalah.

Pendahulu Dr. Zakir Naik adalah Ahmed Deedat. Pria kelahiran India tahun 1918 ini harus hijrah menyusul ayahnya ke Afrika Selatan pada umur 9 tahun. Pengalamannya di Afrika Selatan hidup dilingkungan mayoritas Kristen di Pantai Selatan Natal. Saat bekerja di toko buku muslim, Deedat merasakan betul cemooh siswa-siswa sekolah Misionaris disana yang menghina keberadaan toko tersebut. Disitulah awalnya Deedat membeli AlKitab pertamanya dan memulai berbagai debatnya dengan siswa, para guru hingga pendeta disana. Setelah itu, Deedat memulai karir dakwah. Darimana? Dari pengetahuannya tentang beberapa “kesalahan” yang (menurutnya) dimiliki kitab suci agama lain, terutama Kristiani.

Inilah mengapa Dr Zakir Naik disebut-sebut sebagai penerus Ahmed Deedat, oleh sebab pengetahuannya yang luas tentang Alkitab (Kristiani). Saking luasnya, kita sering melihat rekaman ceramahnya yang sering mengutip Alkitab diluar kepala. Namun, apakah ceramah Dr Zakir Naik hanya persoalan syiar agama Islam, dakwah?


Dakwah: Diskusi, Debat, atau Dialog?

Tanya Kachwara dalam “Huang Nissan” membuat skema perbedaan antara Diskusi, Debat dan Dialog yang sengaja ditunjukan untuk Program on Intergroup Relation University of Michigan, 2007.  Menurutnya, In Discussion we try to mencari jawaban dan solusi,  In Debate we try to meraih kemenangan dan mencari kelemahan, In Dialogue we try to mencari kesepahaman dan memperluas perspektif yang kita miliki. Sebetulnya masih banyak poin yang disebutkan untuk tujuan-tujuan Diskusi, Debat dan Dialog, tapi beberapa ciri ini saja cukup menggambarkan, tentang apa yang dilakukan Dr Zakir Naik selama ini dalam ceramahnya.

Dr Zakir (jelas) sedang melakukan Debat. Sebab sungguh banyak (dominan) persoalan “kelemahan agama lain” yang menjadi materi ceramahnya. Sebetulnya, persoalan kelemahan dalam Kristiani memang tidak sepenuhnya menjadi faktor pendorong kuat atau lemahnya iman seorang muslim. Naïf, bila memperkuat iman kita sendiri dengan menjatuhkan klaim keliru pada agama lain. Persoalan ini sudah ribuan tahun menjadi perdebatan di Eropa, dan kita tidak perlu mengulangnya kembali (perdebatan tersebut). Sebut saja, mengapa pada periode 500-1500 Masehi dinamakan Dark Age (abad kegelapan)? Sebab ada penguasaan Gereja (Agama Kristiani) yang terlalu besar terhadap seluruh aspek politik ekonomi budaya masyarakat Eropa—ilmu pengetahuan yang digambarkan sebagai cahaya cenderung tidak nampak sama sekali pada era tersebut. Periode peralihan yang disebut Renaisance pada 1500 Masehi hingga menuju momentum Reformasi Gereja Martin Luther 1600an Masehi menjadi bukti beberapa penolakan dan upaya intelektual Renaisance“mempertanyakan kembali” otoritas agama Kristiani. Bila memang kita harus mengulang cerita yang sama, sungguh beberapa argumen Dr Zakir Naik tentang kelemahan Kristiani bukanlah hal yang baru.

Hal yang sama sekali baru dalam metode dakwah impor kali ini adalah–dengan anggapan Dr Zakir sedang berdakwah–tentu yang paling menarik bahasa yang digunakan, bahasa Inggris. Bila kita kembali pada pembahasan awal penolakan masyarakat Eropa terhadap otoritas Gereja yang lebih dari 1000 tahun lamanya, yakni penolakan atas monopoli bahasa Alkitab juga mengenai persebaran teksnya. Hal ini pernah diungkapkan Ben Anderson dalam “Imagined Community”, saat menelaah akar-akar nasionalisme dan sejarah bangsa-bangsa. Ben menulis bahwa—Nasionalisme di Eropa lahir akibat–keberadaan Industri cetak dan penerjemahan Alkitab ke berbagai bahasa Negara-Negara Eropa mulai dilakukan oleh tokoh-tokoh Reformasi gereja sebagai bahasa perlawanan terhadap otoritas Katolik Roma. Salah satunya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.


Hegemoni Bahasa Inggris

Ada apa dengan bahasa Inggris? Sampai detik ini, bahasa Inggris tetap menjadi primadona dalam bahasa dagang Internasional, Pidato Politik antar Negara, akademis, dan tidak boleh lupa Negara Inggris pemilik koloni terbesar di Bumi. Mungkin saja penguasaan politik secara langsung oleh Kerajaan Inggris sudah mulai melemah sejak Perang Dunia Kedua dan setelah Perang Dingin dimulai, otoritas politik Barat cenderung dipegang oleh Amerika Serikat. Namun, yang masih sama adalah Amerika Serikat merupakan masyarakat berbahasa Inggris, meski kita menyadari ada perbedaan antara English British dan English American. Namun, dari perspektif seorang Indonesia seperti saya, semuanya sama-sama bahasa Inggris.

Dr Zakir sebagaimana Ahmed Deedat, memakai bahasa Inggris sebagai bahasa ceramahnya. Mereka berdua hidup dilingkungan Koloni Inggris (India dan Afrika Selatan). Secara pribadi, saya menyukai Ahmed Deedat karena beberapa humornya tentang Hijab, seks, iklan televise, mobil dan berbagai perangkat tekno-kultural barat yang dibahas sebagai bagian dari ceramahnya. Ahmed Deedat mampu menarik perhatian masyarakat berbahasa Inggris dengan lingkungan sosial yang dihadapi peserta ceramahnya langsung maupun yang tidak langsung (rekaman). Yakni membahasakan ajaran Islam melalui kenyataan sosial penduduk berbahasa inggris. Ia mengerti cara membuat orang yang berbahasa inggris tertawa.

Sedikit berbeda, Dr Zakir ingin menafsirkan ajaran Islam melalui beberapa bukti Ilmiah (science), sebuah “habitus” (dalam istilah Piere Bourdieu) yang hidup dikenyataan akademis. Ilmiah, tidak hanya menjadi otoritas kebenaran semata, namun sudah menjadi perangkat kehidupan manusia abad 21. Oleh sebab itu, wajar bila kemudian, tafsir Al-Qur’an yang dikemukakan Dr Zakir Naik dengan beberapa bukti ilmiah sangat diminati masyarakat global. Namun apakah sesuatu yang disebut Ilmiah bebas nilai?

One Dimension Man adalah buku yang ingin menunjukan bahwa tidak ada yang namanya “Bebas Nilai”, begitulah salah satu gagasan yang diusung penulis, Herbert Marcuse. Sama artinya dengan Kedatangan Dr Zakir Naik ke Sebuah kota Pendidikan Berbudaya, pusat Intelektual pelajar di Pulau Jawa, sebuah pulau terpadat di gugusan Nusantara, dimana kita bisa menemukan orang Aceh sampai Papua ditanah tersebut, yang membuat para Indonesianis (peneliti asing) Mancanegara mengerurkan dahi–mengapa penduduk tersebut masih bertahan selama lebih dari 70 tahun mengakui diri sebagai orang Indonesia. Kita tidak bisa memakai narasi yang “lurus” bahwa secara tiba-tiba, Dr Zakir Naik datang ke Indonesia, Yogyakarta Khususnya, karena list dakwah yang dibuat olehnya sudah menunjukan bahwa Indonesia adalah panggung ceramahnya selanjutnya. Kita tidak boleh menafikan, seperti peringatan Herbert Marcuse sebelumnya, ada “Undangan” dan “diundang”. Kedatangan Dr Zakir Naik memiliki motif politik dan memiliki dampak politik juga. Sebab tensi politik dalam Negri akan semakin memanas di tahun-tahun mendatang. Tentu saja hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari situasi—meniru Soekarno ketika memetakan—politik lokal, nasional dan Internasional. Memang bagaimana peta politik Wacana Islam di Indonesia?

Ariel Heryanto yang cukup lama memperhatikan Islamisasi dalam masyarakat Modern Indonesia, dalam bukunya “Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia” ingin menunjukan bahwa dalam dunia perfilman-pun proses Islamisasi sudah dimulai. Terutama beberapa film yang sangat laris dari Catatan si Boy (ada adegan tasbih digantung di kaca spion dalam) hingga Ayat-Ayat Cinta. Namun, lebih dari itu, persoalan lebih pelik ketika identitas yang dibangun sebagai identitas Islam nyatanya, sarat identitas kultural maupun politis. Bahwa sesunguhnya, Islamisasi mengambil beragam bentuk kultural untuk dijadikan referensi identitas inheren.

Satu contoh K-Pop (Korean Pop) yang mempopulerkan “Boyband dan GirlBand” sebagai bagian perluasan kebudayaan Korea nyatanya adalah hasil kesatuan kerjasama antara koreografer, ahli music, teks lirik yang sama sekali bukan dari korea. Hal ini terjadi dalam Islam, sebagaimana identitas Islam, Hijab yang merupakan tradisi kultural Arab bahkan ada dalam tradisi budaya dan agama lain (Kristani ortodoks, Yahudi dan lainnya), janggut, tasbih, bedug, baju muslim, koko dan lainnya. Ketika materiil tersebut menjadi referensi identitas Islam. Sesungguhnya, tidaklah masalah bila kemudian, semua pihak mengambil referensi tersebut sebagai bagian identitas islam bagi kehidupannya. Namun persoalan kembali mengemuka ketika, beberapa pihak mengaku pemilik identitas islam yang murni. Sedangkan mereka yang diluar itu dianggap kafir dan bid’ah.


Politik Islamisasi Transnasional

Perdebatan identitas Islam sebenarnya terkait dengan sejarah Islam. Konteks sejarah tidak dapat dipisahkan, peristiwa hari ini lahir dari kontradiksi-kontradiksi—singkat kata—hasil masa lalu. Persoalan identitas Islam yang murni, terkait dengan persaingan politik juga aliran agama dalam Islam. Kombinasi keduanya, kini menuai beragam persoalan di Dunia, terlebih khusus persoalan di Dunia Arab sendiri. seperti perselisihan geo-politik Sunni dan Syiah di kawasan Arab. Hasilnya tunggal; darah, darah dan darah. Banyak gaung agar Islam bersatu—sedikit berhusnudzon—agar beragam perpecahan bisa diatasi. Sebutlah Jamaludin AL-Afgani yang pada abad ke-19 mengusung Pan-Islamisme atau gerakan persatuan dalam Islam.

Anggap waktu berhenti sejenak pada peristiwa dikalimat terakhir di atas. Lalu kita kembali pada peta Politik Dunia. Sekarang ditahun 2016, wacana Persatuan dalam Islam sedang dikampanyekan. Wacana ini terlihat jelas dalam perangkat politik yang disebut “Khilafah”. Pengusungnya sudah jelas, pihak-pihak dalam tubuh islam yang menginginkan pemurnian dalam Identitas Islam juga ajarannya melalui persatuan politik yang disebut “Khilafah”. Di Indonesia, Wacana ini dibangun oleh Organisasi Masa HTI (Hizbut Tahrir Indonesia)[1] dan Partai politik yang secara malu-malu kucing berkampanye lewat pengajian-pengajian, penyusupan kampus-kampus, masjid-mesjid; Partai Keadilan yang sudah sejahtera.[2]

Semua kampanye ini menjalar ke berbagai ranah, termasuk pasar informasi seperti media sosial. Informasi betapa perlunya masyarakat Indonesia memiliki “khilafah” dan menjalankan peraturan serta kebikajan syariah sudah mulai terjadi dan menjalar. Di Facebook, Twitter, WhatsUp dan lainnya melalui share informasi, pesan berantai yang lebih dikenal “copas dari grup sebelah”. Kita melihat agama dipaksa untuk menjawab seluruh persoalan di dunia. Padahal skema ideologis yang memaksa Agama, Islam, untuk menyajikan Islam sebagai mesin penjawab segala bisa adalah pihak-pihak yang juga hidup terikat didunia ini. Islam bukan mesin penjawab, dan dipaksa berbicara atau membela pihak-pihak tertentu. Agama Islam yang harusnya menjadi inti sebuah tindakan, kini menjadi corong-corong juru bicara para pemonopoli kebenaran Islam, yang mengaku memiliki ajaran paling Murni dari Islam.

Musuh terakhir yang sulit dikalahkan para penyerobot otoritas Identitas pemurnian Islam adalah pihak-pihak yang bisa membuktikan secara ilmiah, bahwa gagasan, ajaran, tauhid dan fiqih yang merasa “murni” tersebut adalah keliru, ahistoris dan tidak berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Dengan kemunculan Dr.Zakir, tentu saja “Mereka yang Murni” ini memiliki pembela baru dan ditunggu. Namun, sekiranya berlebihan bahwa Dr. Zakir yang manusia biasa bahkan bukan nabi, mampu menjawab segala pertanyaan dari penanya-nya. Kepercayaan diri, serta berbagai berita bahwa Dr. Zakir mampu menjawab semua pertanyaan, sama saja merendahkan Nabi Muhammad yang dalam beberapa kesempatan menunda pertanyaan-pertanyaan para sahabatnya. Apa kini umat Muslim sedang menunggu nabi baru? Please, jangan berlebihan deh.

Oh tunggu. Sepertinya penulis belum menjelaskan siapa Dr. Zakir Naik. Guna membuktikan tulisan ini bahwa pihak-pihak pendukung “Khilafah”, pemurnian ajaran Islam juga relevansinya dengan beberapa organisasi yang disebutkan diawal; PKS[3] dan HTI[4], memang sangat menunggu (sudah memuat berita kehebatan Dr Zakir Naik sejak tahun 2014 dan 2015)[5] kedatangan Dr Zakir untuk segera memberikan klaim saintifiknya, dan tak lupa untuk “berdebat” guna mengorek-ngorek Agama lain. Silahkan buka website Islam yang sering merendahkan pemerintahan Jokowi, mengusung berita Islam yang tersakiti, berita tentang bahaya Syiah, selalu menyerang tokoh Islam Moderat; Kyai Mustofa Bisri (NU), Quraish Shihab, Said Aqil Siraj dll dengan fitnah. Situs-situs website ini selalu memberi gambaran tentang Turki sebagai Negara Ideal untuk Indonesia. Nah, pada website-website dengan ciri-ciri diatas, pastilah, kita mendapatkan puja-puji pada Dr Zakir yang kelewat berlebih tidak pernah mereka lakukan, bahkan sekedar salawat Nabi Muhammad.

Mereka menunggu penceramah berbahasa Inggris ini, bahasa yang sudah memonopoli istilah Ilmiah, dan melupakan bahwa dalam kurun waktu lebih dari seribu tahun, para ulama menyebarkan syiar Islam melalui budaya, perkawinan, perdagangan, seni, musik dan tidak boleh lupa; Bahasa setempat. Apakah Dr Zakir akan memakai bahasa Sunda atau bahasa Padang, dan bahasa lainnya agar bisa sekaligus menyaingi prestasi ulama Islam yang tersebar di Nusantara dalam satu-dua sesi ceramah? Seandainya itu terjadi, ada baiknya kita menobatkan beliau sebagai nabi baru. Sebagai konsekwensi betapa berlebihannya kita mengagungkan sains untuk membela ayat-ayat Suci. Betul bahwa klaim saintifik sangat dibutuhkan bagi kalangan internal Islam untuk menghapus keraguan bahwa Islam tidak mampu menjawab persoalan-persoalan modernitas. Namun kiranya, memakai klaim saintifik untuk menafsirkan Ayat-ayat suci Al-Qur’an tentunya tidak sepenuhnya tindakan resistensi, namun Otoimunitas.

Klaim Sains sebagai Otoimunitas

Istilah ini diperkenalkan oleh Jaques Derrida, dalam buku yang berjudul “Filsafat dalam Masa Teror” ketika membongkar kerangka wacana politik Amerika Serikat setelah peristiwa 11 September 2001. Otoimunitas merupakan istilah biologis. Derrida mengungkapkan bahwa Peristiwa 9/11 (11 September 2001), adalah konsekwensi dari ekspansi politik Amerika di berbagai belahan dunia (Termasuk kawasan Timur Tengah/ Dunia Arab) yang disebut sebagai imunitas, dalam arti bahwa tindakan melindungi diri (sering disebut dengan Istilah Kepentingan nasional AS) secara otomatis (imunitas) memiliki resiko tindakan bunuh diri (Otoimunitas). Ikut campurnya Amerika Serikat dalam setiap pergolakan politik diberbagai kawasan dunia, berperan seperti polisi dunia, mengandung resiko ringkih, seperti serangan 9/11.

Perangkat teoritis otoimunitas ini, berlaku juga bagi upaya menafsirkan Al-Qur’an dengan klaim saintifik. Bila pada awalnya klaim saintifik dipakai untuk membela kebenaran Ayat-Ayat suci (Imunitas), lalu bagaimana bila klaim saintifik menuju kodratnya, menjadi klaim yang tidak berlaku lagi kebenarannya (Otoimunitas)? Banyak klaim sains yang berakhir kebenarannya ketika ditemukan kebenaran baru. Sains, tidak berkeberatan bila kebenaran yang diungkapkannya, suatu saat nanti menjadi tidak benar atau ditolak dengan kebenaran ilmiah lainnya. sedangkan Ayat Suci Al-Qur’an menerapkan kebenaran sepenuhnya dalam setiap teksnya, dan sebagaiman ayat suci, akan selalu benar selamanya. Bila ayat-ayat suci bergantung pada klaim sains yang kebenarannya sementara atau menunggu dihancurkan kebenaran lainnya, bukankah kebenaran ayat suci akan ikut hancur bersama klaim sains? Itulah mengapa dalam beragama, sebagai muslim, tidak perlu sepenuhnya menyerahkan keimanan dan keyakinan pada klaim sains.

Bila kita beramai-ramai, bersorak bahwa kebenaran teks Al-Qur’an mendapatkan klaim sains sebagai kebenaran, lalu bagaiman nasib keimanan kita bila klaim sains tersebut ditolak kebenarannya dengan klaim sains lainnya? bukankah itu artinya kita menabung keraguan terhadap kebenaran Islam suatu saat nanti ketika beberapa klaim sains atas teks Al-Qur’an, keliru? Ketika kita menyakini sesuatu dan sesuatu itu mulai mengalami keraguan satu persatu, bukankah itu jalan yang lurus menuju keraguan sepenuhnya terhadap Islam sebagai kebenaran? Atau dalam kata lain, mempersiapkan diri untuk menjadi seorang—yang nantinya meragukan segalanya, dalam bahasa latin Omnibus dubitandum. Yakni menjadi seorang Atheis dalam akibat yang paling buruk. Untungnya, Islam tidak sesempit itu.

Tradisi Ilmiah hanyalah satu bagian dalam sejarah Intelektual muslim. Persoalan akal, berfikir, qolbu, intuisi, kebenaran, metodologi dan lainnya menunjukan luasnya epistemology dalam Islam. Kini, trend memakai teks Ayat Al-Qur’an untuk membela aktivitas sebagian kaum Muslim untuk tujuan-tujuan duniawi sempit sesungguhnya merendahkan keluhuran teks Al-Qur’an. Dalam keadaan paling hina, memakai teks Al-Qur’an untuk membela agenda-agenda politik yang tidak mungkin bersih dari ambisi politik itu sendiri, yang ternyata digunakan hanya untuk membuat jalan pintas agar agenda politiknya tidak perlu ditanyakan terlalu jauh dengan berhenti pada teks Al-Qur’an yang dipakainya. Mengatakan bahwa Al-Qur’an melarang pemimpin non-muslim/ kafir, perempuan tidak boleh menjadi pemimpin menurut Al-Qur’an, dan hanya melalui partai yang mampu menunjukan diri sebagai partai paling Islam, serta agenda politik tersebut adalah kepanjangan tangan dari penerapan teks Al-Qur’an dalam berpolitik. Sehingga setiap Muslim yang berbenturan dengan agenda politik kelompok tersebut terjebak seakan-akan dirinya sedang melawan Al-Qur’an.

Seakan-akan Islam satu-satunya agama yang hidup dibumi. Kita harus mengakui dengan runyamnya perangkat impor global yang kita pakai sehari-hari; kopi dari Brazil (Katolik Roma 75%), menonton Boliwwod India (Hindu 80,45%), memakan beras impor Vietnam (Atheis 80,8%), menggunakan Smartphone dan menyukai K-Pop Korea Selatan (Atheis 46,5%), memakai Komputer-Internet Amerika Serikat (Protestan 51,3%), daging sapi Australia (mengaku Kristen 64%), susu dari New Zeland (55,6% Kristen), perangkat dapur dari China ( Atheis 59% setelah Revolusi Kebudayaan Mao), elektronika dan kendaraan merk Jepang (Budha-Shinto 84%), teknologi Industri dari Jerman (Kristen 33%, Katolik 33, Atheis 30%), dan seterusnya; bukankah kita hidup berdampingan dan mendapatkan manfaat, memakai produk dari pemeluk agama lain? Bukankah kita kini harus menyadari bahwa, kita berbagi dunia dengan orang-orang yang hidup tanpa kebenaran Islam? Inilah mengapa kedatangan Dr Zakir tampak terlalu politis dan bisa dianggap sebagai upaya otoimunitas (bunuh diri) dalam keyakinan kita, para muslim, di Indonesia. Dr Zakir Naik, mungkin mampu menaikan tensi keimanan kita sekejap dengan klaim ilmiahnya. Namun, segera membuat kita ragu ketika beberapa klaim ilmiah menuju kodratnya, kebenaran yang suatu saat akan usai.



Bobliografi:

Borradori, Giovanna (Alfons Taryadi Penj). 2005. Filsafat dalam Masa Teror: Dialog Dengan jurgen habermas dan Jacques Derrida. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Marcuse, Herbert. 2007. One Dimension Man: Studies In The Ideology of Advanced Industrial Society. New York: Beacon Press

Anderson, Benecdict. 2002. imagined Communities: Reflection on The Origin And Spread of Nationalism.I Yogyakarta: Pustaka pelajar & Insist

Wahid, Abdurrahman. 2009. Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia. Jakarta: The Wahid Institute.

Bourdieu, Piere. 1990. The Logic of Practice. California: Stamford University Press


[1] Dalam situs aslinya hizbut-tahrir.or.id, wacana Khilafah secara positif diurai dalam Page tersendiri “Seputar Khilafah”. Ada 25 page yang terkait khilafah, dalam setiap page hampir berisi 5 artikel  HTI terkait khilafah. Semua tulisan terkait Khilafah berjumlah sekitar 125 tulisan. Bila memakai perangkat pencari berita, untuk kata kunci Khilafah, disitus tersebut disajikan hamper 5240 tulisan tentang khilafah. Lihat http://hizbut-tahrir.or.id/category/seputar-khilafah/  dilihat pada pukul 11:17 PM tanggal 3/3/2016.
[2] Team, ed: Abdurahman Wahid, Ilusi Negara Islam: ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, (Jakarta: The Wahid Institute, 2009), hlm. 29
[3] Sejak tahun 2015, portal berita resmi PKS ini sudah memposting keberhasilan Dr Zakir. Lihat, http://www.portalpiyungan.com/2015/10/menitik-air-mata-gadis-hindu.html diposting  tanggal 4/10/2015 dilihat pada pukul 11:30 PM tanggal 3/3/2016
[4] Sejak tahun 2014 Dalam situs aslinya hizbut-tahrir.or.id, sudah memuat berita tentang Biarawati yang masuk Islam setelah mendengar ceramah dan berdialog dengan Dr Zakir Naik. http://hizbut-tahrir.or.id/2014/10/19/biarawati-masuk-islam-di-akhir-ceramah-dr-zakir-naik/ diposting tanggal 19/10/2014 dilihat pada pukul 11:48 PM tanggal 3/3/2016
[5] Ibid,

Dimuat di Islami.co April 5, 2017, Sindikasi Media Islam Ramah 

COMMENTS

Nama

.,1,#AyoMondok,12,#BelajarIslam,8,#CintaNKRI,2,#DanaHaji,1,#HariSantri,19,#HariSantri #HariSantri2017,1,#HariSantri2017,1,#HarlahNU,4,#HarlahNU91,2,#HaulKiaiHasanGenggong,2,#IslamIndonesia,1,#IslamNUsantara,4,#KajianRamadhan,1,#SavePalestine,3,#SaveRohingya,3,1 Muharram,3,1 Syawal,1,2016,1,A. Zakky Zulhazmi,1,Abdlul Halim Hasan,1,Abdul Mun'im DZ,1,Abu Bakar Hasan Assegaf,1,Adab Rasulullah,1,Advetorial,2,Afif Sunakim,1,Agama,1,Agama Cinta,1,Agenda,25,Agenda NU,1,Agnez Mo,1,Agus Zainal Arifin,3,Ahlusunnah wal Jama'ah,31,Ahmad Baso,1,Ahmad Mujib Rahmat,1,Ahmet Davutoglu,1,Ahsunnah,1,AJaran Islam,1,Akhir Zaman,1,Akhlakul Karimah,1,Al-Nimr,1,Al-Qaeda,1,Al-Qur'an,4,Al-Qur'an Raksasa,1,Al-Zastrow Ngatawi,1,Alamsyah M. Dja’far,3,Ali bin Abi Thalib,2,Ali Zawawi,1,Alissa Wahid,1,Allah,1,Almanak,1,Alumni Madrasah,1,Amalan,16,Amalan di Bulan Ramadhan,2,Amalan NU,4,Amalan Rasulullah,1,Amaliah,19,Aman Abdurrahman,1,Amirul Ulum,2,Anas Saidi,1,Angka Istimewa dalam Islam,1,Angka Tiga,1,Angker,1,Ansor,3,Ansor Garut,1,Ansor Malang,1,Ansor Surabaya,1,Anti Korupsi,4,Anti Narkoba,1,Anti Radikalisme,3,Anti Terorisme,2,Anti Wahabi,1,Aplikasi Batik,1,Aqidah,2,Arab,1,Arab People,1,Arab Saudi,2,Arief Mundatsir Mandan,1,Arifin Junaidi,1,Arrahmah Channel,5,Arrahmah Featured,11,Arrahmah.com,1,Articles,2,Artikel,26,Asian Youth Robot Olimpiade,1,Asosiasi Pesantren NU,1,Aswaja,24,Asy'ariyah,1,Australia,1,Avicenna Roghid Putra,1,Ayat-ayat Toleransi,1,Ayman Adz Dzawahiri,1,Ayo Mondok,1,AYRO,1,Bahtsul Masail,1,Bangsa Indonesia,1,Banser,14,Banten,1,Batik,1,Batik Indonesia,1,Battle,1,Battle of Uhud,1,Beasiswa,12,Beasiswa Kemenag,3,Beasiswa Madrasah,1,Beasiswa Santri,1,Beasiswa Santri 2016,1,Beasiswa Santri Berprestasi,2,Beasiswa Santri Berprestasi 2016,1,Bekasi,1,Belajar Islam,26,Berita,148,Berita Duka,5,Berita Islam,3,Bid'ah,2,Bid'ah para Sahabat,1,Bima Arya,1,Biseksual,1,Bisnis Haram,1,BNN,1,BNN di Jepara,1,BNPT,2,Bodo Kupat,1,Bogor,1,Bom Kuningan,1,Bom Sarinah,2,Bom Thamrin,2,BPOM,1,Brain,1,Budaya,1,Buku,6,Bulan Rajab,1,Buletin Jumat,5,Burdah,1,Cak Masykur,25,Cak Nun,1,Cak Nur,1,Cangkir9,2,Cep Herry Syarifuddin,1,Cerpen,2,Channel Arrahmah,37,Charlie Hebdo,1,Cheng Ho,1,Choirul Anam,1,Cinta,1,Cinta Bangsa,1,Cinta Tanah Air,1,Counter Radicalism,6,Cybercrime,2,Dajjal,1,Dakwah Islam,4,dan Transgender,1,Darurat Narkoba,3,Dea Anugerah,1,Deklarasi Nahdlatul Ulama,1,Deklarasi Serpong,1,Densus 88,2,Digital Media,2,Direktorat Pendidikan Madrasah,1,Dit PD Pontren Kemenag,1,DKI Jakarta,1,Doa,31,Doa Akhir Tahun,1,Doa Anak Sholeh,1,Doa Awal Tahun,1,Doa Berbuka,1,Doa dan Tirakat,1,Doa Gus Mus,1,Doa Harian,1,Doa Nabi,1,Doa Pernikahan,2,Doa Setelah Shalat,1,Doa Wudhu,1,Dosen UIN Walisongo,1,Download,1,Dr. Amin Haedari,1,DR. KH. M. A. SAHAL MAHFUDH,1,Dr. Nadirsyah Hosen,10,Dubes,1,Dzikir dan Doa,2,Dzikir Setelah Shalat,1,Editor's Choice,10,Effendi Choirie,1,Ekologi,3,Ekonomi,3,Eksekusi Mati Al-Nimr,1,English Edition,1,Esensi Syariah,1,Fadhila Haifa’ Afifah,1,Fadilah,1,Falak,1,Fardhu Wudhu,1,Fatayat NU,2,Fathoni Muhammad,1,Fatwa MUI,1,FDS,11,featured,133,Featured Arrahmah,44,Fikih,2,Fikih dan Muamalah,3,Fikih Ibadah,10,Fiqh,8,Fiqh Ibadah,1,Fiqh Qurban,6,Fiqh Shalat,3,Fiqih Lingkungan,2,Firqaf,1,Firqah,1,Firqoh,1,Fokus Khusus,1,FSN,2,Fulldayschool,4,Fundamentalis akan Habis,1,Gafatar,1,Galeri,4,Gay,1,Geluntung Agel Wafi,1,Gerakan Nasional AyoMondok,1,Gerhana,1,Gerhana Bulan,1,Gerhana Matahari,3,Gerhana Matahari Total,1,GIYE,1,Good Muslim,13,GP Ansor,8,Grand Syaikh Al-Azhar,1,Grants,1,Griya Gus Dur,1,GTK Madrasah,2,Guru Inspiratif,2,Guru Madrasah,2,Guru MAN,1,Guru Mughni,1,Guru PAI,1,Gus Ahmad Muwaffiq,1,Gus Aqib,1,Gus Dur,23,Gus Miek,1,Gus Mus,9,Gus Muwafiq,1,Gus Rizal Mumaziq,1,Gus Sholah,1,Gus Ubaidillah Achmad,1,Gus Yaqut,1,GusDur.net,1,Gusdurian,2,Habib Abu Bakar,1,Habib Lutfi,1,Habib Luthfi bin Yahya,1,Habib Novel,10,Habib Novel Alaydrus,7,Habib Salim Bin Jindan,1,Habib Sholeh Al-Hamid Tanggul,1,Habib Syech,1,Habib Umar bin Hafidz,3,Hadist,1,Hadist Jibril,1,Hadits,1,Hadits 72 Bidadari,1,Hadits Diskriminatif,1,Hafidzoh,1,Haji,7,Haji 2015,1,Haji 2017,1,Haji 2018,1,Hajj,1,Halal bi Halal,3,Halaqah,1,Hamid Ahmad Masduki Baidlawi,1,Har Santri,1,Hari Arafah,2,Hari Batik Nasional,1,Hari Natal,1,Hari Pahlawan,2,Hari Santri,32,Harlah,2,Harlah NU,3,Hasan al-Bashri,1,Haul,4,Haul Gus Dur,9,Haul Kiai Sholeh Darat,2,Haul Sunan Ampel,1,Haul Sunan Bonang,1,Haul Syekh Nawawi Al-Bantani,1,Headlines,20,Hikam Zain,15,Hikmah,83,Hikmah Islam,45,Hipsi,3,Hisab,1,Hizb,1,Hizbut Tahrir,2,Hizbut Tahrir Indonesia,2,Hoax,2,Hong Kong,1,HTI,2,HTIBubar,6,Hubbul Wathan minal Iman,1,Hukum Islam mengenai LGBT,1,Hukum Melangkahi Kuburan,1,Hukum Membunuh,1,Hukum Membunuh dalam Islam,1,Hukum Ucapan Natal,1,Humor,3,HUT TNI,1,Hymne,1,I-Banking,1,Ibadah,4,Ibn Muljam,1,Ibn Yaqzan,1,Ibu Nabi Muhammad,1,Ibunda Nabi Muhammad,1,IDC,1,Ideologi,1,Idhul Adha,1,Idul Adha,14,Idul Fitri,7,IIEE,1,IISRO,1,Ijazah,6,Ijtihad,1,Ikhbar,42,Ilmu Kalam,1,Image,1,Imam al-Syafi’i,1,Imam Ghazali,1,Imam Malik,1,Imam Muslim,1,Imam Nawawi,1,Imlek,1,INC,2,Indonesia Darurat Narkoba,1,Info Haji,2,Inspirasi,11,Inspirasi Pesantren,2,Interfaith,3,Internasional,98,International,3,International Islamic School Robot Olympiad,1,International Peace Day,1,Internet Banking,1,IPNU,1,IPPNU,1,Iqbal Khalidi,3,Iqbal Kholidi,1,Iran,1,ISIS,11,Islah Gusmian,1,Islam,16,Islam dan Perdamaian,1,Islam Di China,3,Islam di Papua,1,Islam Indonesia,3,Islam Nusantara,28,Islam Nusantara Center,1,Islam Papua,1,Islam Radikal,1,Islamic Event,1,Islamic State,1,Isra' Mi'raj,1,Istighosah Kubro,1,Istikharah,1,Ito Surmardi,1,JAD,1,Jakarta,4,Jamiyatun Nasihin,1,Jasad Utuh,1,Jawa Barat,3,Jawa Tengah,7,Jawa Timur,4,Jazirah Arab,1,JIhad,3,Jihad fi Sabilillah,1,Jokowi,5,Jonru,1,Jurnalistik,1,K.H. Ahmad Umar Abdul Manan,1,Kabar Duka,1,Kabar Pesantren,5,Kabar Pesantrens,1,Kajian Islam,18,Kajian Ramadhan,1,Kalam Ulama,4,Kalender,2,Kalender Islam,2,Kalimah Syahadat,1,Kalis Mardiasih,1,Kampung Damai,1,Kampus,1,Kekerasan,1,Kemenag,3,Kementerian Agama,1,Kementerian Agama RI,3,Keraton Sumenep,1,Kesehatan,4,Ketua PBNU,1,Ketum PBNU,1,Ketupat,1,Keutamaan Bulan Rajab,1,Keutamaan Shalat Tarawih,16,Keutamaan Shalawat Nabi,2,Keutamaan Tarawih,1,KH A Ghazalie Masroeri,1,KH Abdurrahman Wahid,5,KH MA Sahal Mahfudh,2,KH Maemon Zubair,1,KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh,1,KH Sahal Mahfudh,3,KH Said Aqil Siraj,1,KH Wahab Hasbullah,1,KH. Abdul Aziz Manshuri,1,KH. Abdul Ghoffar Rozien,1,KH. Abdul Karim,1,KH. Abdul Muhaimin,1,KH. Abdurrahman Wahid,1,KH. Ali M. Abdillah,1,KH. Bisri Mustofa,1,KH. Cep Herry Syarifuddin,3,KH. Hasyim Asy'ari,1,KH. Hasyim Asyari,3,KH. Husein Muhammad,2,KH. Iftah Sidiq,1,KH. Lukman Harits Dimyati,1,KH. Ma'ruf Amin,2,KH. Maimoen Zubair,11,KH. Marzuqi Dahlan,1,KH. Masdar F. Mas'udi,2,KH. Mustofa Bisri,2,KH. Said Aqil Siraj,5,KH. Sholeh Darat,8,KH. Thobary Syadzily,1,KH. Tubagus Muhammad Falak,1,KH. Yahya Cholil Staquf,3,KH. Zainal Mustafa,2,KH. Zakky Mubarok,2,KH.Shalih Darat,1,Khanza Iliyina Syafa,1,Khawarij,1,Khazanah,3,Khazanah Isam,7,Khazanah Islam,379,Khilafah Islamiyah,5,Khofifah Indar Parawansa,1,Khoirul Anam,2,Khulafaur Rasyidin,1,Khutbah,4,Khutbah Idul Fitri,2,Khutbah Jumat,1,Kiai Abdul Hamid,1,Kiai Hasan Genggong,1,Kiat Menulis,1,Kiddle,1,Kilas,1,Kirab Santri,1,Kisah Hikmah,16,Kisah Nabi,1,Kisah Rasulullah,1,Kisah Teladan,1,Kita Tidak takut,1,Kitab Durrotun Nasihin,1,Kitab Jawahirul Bukhori,1,Kitab Kuning,5,Kitab Pegon,1,Kitab Suci,1,Kokam,1,Kolom,96,Komedi Religi,1,Kominfo,1,Konferwil NU Jabar,1,Konflik Sunni-Syiah,1,Kongkow Sufi,3,Konsultasi Agama,1,Konsultasi Islam,1,Kontra Radikal-Terorisme,1,KPAI,1,KPK,1,Kreatif Indonesia,1,Kriminal,1,Krisis Jerusalem,2,Krisis Rohingya,7,KUPI,1,Kurban,7,Kyai Maimoen Zubair,1,Kyai Masdar,1,Kyai Pahlawanku,1,Kyai Pesantren,1,Lailatul Qadr,1,Lambang NU,1,Lapan-A2,1,Laporan,1,Lazisnu,1,Le Petit Prince,1,Lebaran,1,Lebaran Ketupat,1,Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama,2,Lesbian,1,Letter of Acceptance,1,LFNU,1,LGBT,2,Liberalisme,1,Life of Mohammed,3,Life of Muhammad,2,Liga Santri,2,Liga Santri Nusantara,3,Lingkungan,1,LIPI,1,Litbang Kemenag,1,Literasi,7,Literasi Digital,3,LoA,1,Logo Muktamar NU ke-33,1,Logo NU,1,Love Peace,1,LPDP,1,LSN,5,LSN 2017,3,LTN NU,3,Lukman Hakim Saifuddin,3,Lunar System,1,M. Kholid Syeirazi,1,M. Nur Kholis Setiawan,1,M. Rikza Chamami,13,M. Rikza Khamami,1,Ma'arif NU,2,Madrasah,24,Madrasah Diniyah,5,Madrasah Lebih Baik,2,Madrasah TBS,1,Mahasiswa,2,Mahbub Ma'afi,2,Mainstream Media,1,Majelis Dzikir,1,Majelis Shalawat,1,Makalah,3,Makam Gus Dur,1,Makam Nabi,1,Makam Nabi Muhammad SAW,1,Makam Rasulullah,1,Makam Sunan Bonang,1,Makkah,1,Maklumat,3,Makna Bismillah,1,Makna Logo Muktamar NU ke-33,1,Malik bin Anas,1,Mama Falak,1,MAN IC,1,Manhaj Salafi Imam Syafi’i,1,Manhaji,1,Manusia Robot Bali,1,Mars,1,Masjid,1,Masjid Zhenjiao,1,Masjidid Haram,1,Masjidil Haram,1,Maturidiyyah,1,Maulid,4,Maulid Burdah,1,Maulid dalam Islam,1,Maulid Nabi,7,Maulid Nabi Muhammad SAW,3,Mbah Maimoen Zubair,2,Mbah Moen Sarang,2,Mbah Mun,1,Mbah Sahal,1,Mbah Sholeh Darat,1,MCA,1,Media,2,Media Sosial,1,Media Watch,1,Mehmet Gormez,1,Melangkahi Kuburan,1,Meme,1,Meme Islami,1,Menag,2,Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia,1,Mengenal Jejak Mengenal Watak,1,Menristek,1,Menulis,1,Merayakan Maulid,1,Milad,1,Minal Aidin Wal Faizin,1,Minhajul 'Abidin,5,Moment,1,MTs Surya Buana Malang,1,MTsN 2 Pamulang,1,MTT,1,Mualaf,2,Mudik Lebaran,1,Muhammad,2,Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab,2,Muhammad Nasir,1,Muhammad Niam,1,Muhammad PBUH,1,Muhammad SAW,3,Muhammad Tijany,1,Muharram,2,MUI,1,Mujaheeden,1,Mujahidin Palestina,1,Mukiyah,1,Mukjizat,2,Muktamar NU,1,Muktamar NU ke 33,2,Munas-Konbes NU,20,Munawir Aziz,1,Muntaha Azhari,1,Museum Keraton Sumenep,1,Muslim Hong Kong,1,Muslim Kagetan,1,Muslim Papua,1,Muslimat NU,2,Nabi dan Rasul,1,Nabi Ibrahim,1,Nabi Muhammad,2,Nabi Muhammad SAW,6,Nadirsyah Hosen,6,Nadlatul Ulama,2,Nahdatul Ulama,18,Nahdlatul Ulama,157,Nahdlatul Ulamata,1,Name of Allah,1,Narkoba,3,Nasehat,8,Nasihat,1,Nasional,412,Nasionalisme,1,Natal,1,Natal 2015,1,Natal dan Maulid,1,Netizen Jurnalistik,1,New,1,News,677,News Ikhbar,2,News IPPNU,1,News Pictures,17,Ngaji Live,1,Ngaji Puasa,27,Ngaji Ramadan,8,Ngaji Ramadhan,20,Ngaji Video,1,Niat Puasa,1,Nishfu Sya'ban,1,NKRI,1,NKRI Harga Mati,3,NU,7,NU ANZ,1,NU Batang,1,NU Bogor,13,NU Care,2,NU Care LazisNU,2,NU Garis Lurus,1,NU Jabar,2,NU Jatim,1,NU Klaten,1,NU Semarang,1,NUCare,4,NUPeduli,1,Nur Kholik Ridwan,1,Nur Rofiah,1,Olimpiade Kedokteran,1,Opini,283,Opinion,1,Opnion,1,Orbituari,2,Pagar Nusa,13,PAI,2,Palestina,2,Palestine,1,Palestine Mujaheeden,1,Papua,1,Parenting,1,PBNU,8,PBSB,3,PBSB 2016,1,Peace,1,Peduli Bencana,2,Pelajar NU,1,Pendaftaran PBSB 2016,1,Pendididkan Islam,18,Pendidika Islam,1,Pendidika Islam,1,Pendidikan,171,Pendidikan Agama,1,Pendidikan Islam,158,Pendidikan Karakter,2,Pendidikan Madrasah,5,Pendidikan Politik,3,Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam,1,Pendidikn Karakter,1,Pendis Kemenag,2,Penggrebekan di Jepara,1,Pengobatan Islami,1,Penjajahan,1,Pentas PAI,1,Penulis,1,Perang,1,Perang Badar,1,Perang Uhud,1,Perguruan Tinggi NU,1,Perkemahan Rohis,1,Perppu Ormas,2,Perpres,1,Perpu Ormas,1,Perwimanas,2,Pesan Kiai,1,Pesantren,70,Pesantren Assalafiyah Cirebon. Assalafiyah,1,Pesantren Ibnu Mas'ud,1,Pesantren Lirboyo,2,Pesantren Mahasiswa,1,Pesantren Salaf,1,Photo,1,Pilihan Editor,105,Pilkada,1,Pilkada 2017,1,Pilkada DKI,1,Pilkada Jatim,1,Ploso,1,PMII,3,Polemik Sejarah Tere Liye,1,Politik,13,Ponorogo,1,Ponpes Al-Anwar,1,Pontianak,1,PPMN III,1,Pra Munas,4,Pramuka,1,Prof. Dr. Ahmad Tayyeb,1,Prof. Dr. Quraish Shihab,3,Profil,3,PTKI,1,Puasa Arafah,1,Puasa Ramadhan,1,Puisi,12,Pustaka,10,Pustaka Pesantren,8,Qawli,1,Qunut Nazilah,1,Quote,1,Qurban,5,Radicalism,1,Radikalisme,10,Rajab,1,Ramadan,2,Ramadhab,1,Ramadhan,72,Ramadhan 2015,12,Ramadhan 2016,2,Ramadhan di Hong Kong,1,Ramadhan Video,25,Rasis,1,Rasullah,1,Rasulullah SAW,6,Recommended,2,Refleksi Akhir Tahun,1,Release,2,Release PBNU,1,Religion,2,Remaja Islam,1,Resolusi Jihad,2,Resolusi Jihad NU,1,Rezeki Halal,1,Rijal Mumazziq Z,1,Risalah NU,1,RMI NU,4,Robikin Emhas,1,Robot,1,Rohingya,11,Rokok,2,Rubbubiyah,1,Ruchman Basori,2,Rukun Islam,1,Sahabat,1,Sahabat Nabi,2,Sahih Muslim,1,Said Budairy,1,Saifuddin Zuhri,1,Saifullah Ma'shum,1,Sajak,2,Salafi,2,Salam,1,Sanad Keilmuan,1,Santri,6,Santri Goes To Papua,3,Santri Menulis,1,Santri Urban,1,Sarkub Papua,1,Sastra Islam,11,Satelit,1,Satelit Indonesia,1,Save Rohingya,6,Sayembara Logo Muktamar NU ke-33,1,Science,5,Sedekah,3,Sejarah,5,Sejarah Al-Qur'an,1,Sejarah Indonesia,2,Sejarah Islam,1,Sejarah NU,2,Sekolah Lima Hari,1,Seni dan Sastra Islam,12,Seri Belajar Islam,8,Seri KH. Said Aqil Siraj,1,Seri Tokoh,1,SGTP,1,Shahih Muslim,1,Shaikh Nimr Baqir al-Nimr,1,Shalat,18,Shalat Gerhana,3,Shalat Idul Adha,1,Shalat Istiqa,1,Shalat Jum'at,6,Shalat Sunah,1,Shalat Sunnah,3,Shalat Tarawih,15,Shalawa Nabi,1,Shalawat,2,Shalawat Nabi,4,Shalawat Nabi Muhammad SAW,2,Shalawat Nariyah,3,Sholat Tarawih,1,Sholawat,1,Sholeh Darat,1,Short Course,1,Sifat Mulia Rasulullah SAW,1,Silsilah Nabi Muhammad SAW,1,Silsilah Rasulullah,1,Sindikasi Damai,15,Sindikasi Media,1,Singaparna,1,Sinopsis,1,Sirah Nabawiyah,2,Sirah Nabi,2,Siswa Berprestasi,1,Slamet Basyid,1,solar system,1,Solidaritas,1,Sponsored,2,Suara NU,1,Sudut Pandang,1,Sudut Taman Ramadhan,7,Sufistik,1,Sumanto Al Qurtuby,9,Sumenep,1,Sunnah,2,Sunnah Rasulullah,1,Sunnah Shalat,1,SUNNI,1,Sunni-Shia,1,Sunni-Syiah,1,Suraji,6,Surat Edaran Gubernur Jateng,1,Surat Terbuka,3,Suriah,2,Syafa'at Rasulullah,1,Syafaat Nabi,1,Syahid,1,Syahrozad Zalfa Nadia,1,Syaikhona Kholil Bangkalan,1,Syarat Wajib Zakat,1,Syariah,2,Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani,1,Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany,1,Syekh Abdul Qadir Al-Jailani,1,Syekh Dr. Muhammad Fadhil,1,SYIAH,3,Tafsir,1,Tafsir Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani,1,Tahlilan,2,Tahun Baru 2016,1,Tahun Baru Islam,2,Tahun Baru Masehi,1,Tanah Suci,1,Tarawih,21,Tasawuf,3,Tawan,1,Tawariq,1,Tayyip Erdogan,1,Tebuireng,6,Tekno,20,Teladan,1,Teladan Nabi,3,Teologi Teror,1,Teraweeh,1,Tere Liye,1,Teror,1,Teror 2016,1,Teror Jakarta,1,Teror Sarinah,1,Teror Thamrin,1,Teroris,4,Terorism,10,Terorisme,25,Tionghoa,1,Tips and Trick,2,Tokoh,86,Tokoh Betawi,1,Tokoh Bogor,1,Tokoh Dunia,3,Tokoh Indonesia,19,Tokoh Islam,114,Tokoh Kemerdekaan,2,Tokoh Muda Islam,25,Tokoh NU,17,Tokoh NU Bogor,1,Tokoh NU Jabar,1,Tokoh Perempuan,1,Tokoh PMII,1,Tokoh Rembang,1,Tokoh Syiah,1,Tolak FDS,12,Toleransi,5,Tradisi,2,Tragedi Crane di Masjidil Haram,1,Trend Sosial,2,Tuah Pesantren,1,Tulisan Arab,1,Tuntunan Islam,1,Turats,1,Turki,1,TurnBackHoax,4,Tutorial,1,TV9,1,Ubaidillah Achmad,23,Ubaidillah Ahmad,1,Ucapan Minal Aidin Wal Faizin,1,Ucapat Selamat Natal,1,Udhiyah,1,Uhud,1,Ulama,11,Ulama Bogor,1,Ulama Indonesia,1,Ulama NU,3,Ulama Nusantara,1,Ulama Perempuan,1,Ulama Salaf,1,Uluhiyah,1,UNU,2,Ustad Ahmad Ikrom,1,Ustadz,1,Ustadz Ahmad Ali MD,2,Ustadz Ali MD,1,Ustadz Fathuri,24,Ustadz Fatoni Muhammad,1,Ustadz Lc,1,Ustadz Ma'ruf Khozin,3,Ustadz Menjawab,5,Ustadz Yusuf Mukhtar Sidayu,1,Ustadz Yusuf Suharto,1,Uswah,3,Uswatuna,3,UU Ormas,1,Video,5,Vinanda Febriani,7,VoA-Islam,1,Wahabi,4,Wahabism,2,Wahabisme,2,Wahid Foundation,6,Wali Pasemone,1,Wali Songo,2,Walisongo,5,Waliyullah,1,Wardi Taufik,1,Wawasan,79,Wawasan Islam,54,Wawasan Kebangsaan,12,Wawasan Nusantara,43,Website Islam Indonesia,1,Website Islam Nusantara,1,Wirid dan Doa,2,Wirid dan Doa Setelah Shalat,1,Women and Jihad,1,Women Fighter,1,World Peace,1,Wudhu,3,Yahya Staquf,1,Yasin,1,Yayasan Saifuddin Zuhri,1,Yenny Wahid,3,Yogyakarta,8,Z-Featured,3,Zainal Mustafa,1,Zakat,4,Zakat Fitrah,2,Zakir Naik,1,Zakky Zulhazmi,2,ZIarah,4,Ziarah Kubur,2,Zikir,1,Zuhairi Misrawi,1,Zulkilfi Hasan,1,خطبة كسوف الشمس,1,
ltr
item
Arrahmah.co.id - Portal Dunia Islam: Saat Zakir Naik Membunuh Keimanan Muslim
Saat Zakir Naik Membunuh Keimanan Muslim
Ketika beberapa umat Islam menyatakan kegembiraannya atas kedatangan Dr Zakir Naik, sebagian dari kita yang sudah pernah melihat aksi yang sama dilakukan oleh Ahmed Deedat, tentu saja tidak merasa heran. Dr. Zakir dikabarkan akan mengunjungi UMY Yogyakarta pada April lalu, namun sepertinya batal. Beberapa pihak Islam yang selama ini kehausan argumen untuk melawan pihak-pihak yang mengatasnamakan sains (Ilmiah), mendapatkan kabar gembira tentunya.
https://1.bp.blogspot.com/-TI-twyeP12Y/WOWvo_8KowI/AAAAAAAAE30/Rjj6xhlCPQMGFyg47nSpxMDF4NvxrCylwCLcB/s640/Maulid%2BBid%2527ah%2Bzakir%2Bnaik.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-TI-twyeP12Y/WOWvo_8KowI/AAAAAAAAE30/Rjj6xhlCPQMGFyg47nSpxMDF4NvxrCylwCLcB/s72-c/Maulid%2BBid%2527ah%2Bzakir%2Bnaik.jpg
Arrahmah.co.id - Portal Dunia Islam
https://www.arrahmah.co.id/2017/04/zakir-naik-wahabi-bidah-.html
https://www.arrahmah.co.id/
https://www.arrahmah.co.id/
https://www.arrahmah.co.id/2017/04/zakir-naik-wahabi-bidah-.html
true
766049156261097024
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content