Peran Ibu dan Lahirnya Orang-orang Besar

Peran Ibu dan Lahirnya Orang-orang Besar

Peran Ibu dan Lahirnya Orang-orang Besar
Peran Ibu dan Lahirnya Orang-orang Besar
HIKMAH, ARRAHMAH.CO.ID - Salah satu bagian paling menarik dari cerita biografi seorang tokoh besar biasanya adalah peranan ibunya. Kegigihan seorang ibu dalam memberhasilkan anaknya bukan perjuangan yang tiba-tiba atau digoreng dadakan, melainkan tercermin dalam setiap jejak langkahnya, sejak sang tokoh masih bayi, bahkan sebelum beliau lahir. Beliau diasuh dengan kualitas kasih sayang yang luar biasa.

* Saat beliau masih bayi, sang ibu biasanya diceritakan sangat gigih dalam mengasuh dan sering diceritakan kisah-kisah heroik di masa itu.
* Saat beliau masuk masa kanak-kanak, sang ibu biasanya diceritakan sangat gigih mengusahakan pendidikan yang terbaik bagi beliau, terutama dalam hal akhlak.
* Saat beliau remaja hingga dewasapun biasanya masih juga diceritakan peran penting sang ibu dalam menentukan berbagai keputusan-keputusan strategis dalam hidupnya.

Karena itulah kalau tertarik dengan seorang tokoh besar, saya sarankan silakan datangi juga ibunya. Silakan menggali cerita beliau. Pasti akan terdengar jejak-jejak langkah heroik beliau selama membesarkan sang tokoh tersebut.

Prestasi kemulian duniawi dan kemuliaan ukhrawi seseorang sangat ditentukan oleh jejak langkah kaki seorang ibu. Itulah sebabnya nasib surganya si anak sangat ditentukan oleh jejak telapak kaki ibunya.

"Surga ada di bawah telapak kaki ibu".

Memang ada beberapa ibu yang kurang betah dalam menjejakkan langkah kakinya untuk penghebatan anaknya. Sehingga ketika merasa kesulitan dalam mengatur langkah, bukannya belajar dan bertanya, malah sebaliknya menyalahkan anaknya. Biasanya ibu itu mengatakan bahwa bukan dirinya yang sulit melangkah, melainkan anaknya yang sulit diatur.

Melimpahkan kesalahan langkah seorang ibu kepada ketidakberesan anak sesungguhnya tidak lebih dari semacam hoax, untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Karena itu dalil mulia di atas tidak lama kemudian akan berubah, dari sebuah dalil menjadi sebuah dalih. Yang mudah adalah menyusun kalimat untuk memaksa anaknya agar patuh dengan memanfaatkan dalih. Kalimat yang sering itu bunyinya begini:

"Ingat ya, surgamu ada di telapak kakiku ini. Jadi jangan nakal-nakal dan jangan macam-macam kepadaku ya !"

Baiklah, harus diakui bahwa peranan seorang ibu bagi masa depan surga atau nerakanya si anak sangat besar. Jejak langkah perjuangannya harus tepat, tidak boleh meleset. Tidak boleh sedetikpun membiarkan anak berkumpul apalagi belajar kepada orang-orang bersumbu pendek sehingga mudah emosi, menghina, dan menyakiti perasaan orang lain. Ibu sejak anak masih kecil hingga dewasa tetaplah menjadi seorang ibu bagi anaknya. Ibu tidak boleh putus membimbing dan mendoakannya, sampai kapanpun hingga bersatu di dalam surga kelak. 

Oleh: Dr. Agus Zainal Arifin
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: