Risalah Islam: Rahmat Bagi Seluruh Alam

Risalah Islam: Rahmat Bagi Seluruh Alam

“ Dan tidak Aku (Allah) utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai pembawa rahmat bagi sekalian alam”. - Al-Anbiya: 107

Risalah Islam: Rahmat Bagi Seluruh Alam
Risalah Islam: Rahmat Bagi Seluruh Alam. Image: Aswajaonline
ARRAHMAH.CO.ID - Nabi Muhammad SAW memang manusia biasa, Namun beliau adalah manusia pilihan Allah Swt yang di anugerahi berbagai keistimewaan. Beliau mempunyai akhlak yang tinggi dan terpuji sehingga akhlaq Nabi Muhammad saw dikenal dengan akhlaq al-Qur’an. Karena akhlaknya seperti yang dituangkan dalam al-Qur’an.

Kerasulan beliau sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam tidak hanya khusus untuk bangsa Arab semata, lebih dari itu sebenarnya beliau diutus untuk sekalian alam. Firman Allah dalam surat Al-Anbiya  ayat 107 yang artinya : “ dan tidak Aku (Allah) utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai pembawa rahmat bagi sekalian alam”.

Rahmat berarti kasih sayang, kedamaian dan kenyamanan lawannya adalah malapetaka atau bencana. Jadi Islam yang dirisalahkan Allah melalui Nabi Muhammad SAW adalah ajaran yang membawa kedamaian, kasih sayang dan kenyamanan bagi seluruh alam, bukan datang dengan membawa bencana dan malapetaka.

Pada detik-detik kelahiran beliau (seperti tertulis dalam kitab barjanzi/kitab tentang maulid), terdapat banyak kejadian aneh di luar kebiasaan seperti padamnya api simbol kemegahan istana kerajaan Parsi (Persia), cahaya yang terang benderang di atas kota Mekkah dan sekitarnya, serta  hal-hal lain yang menghiasi detik-detik kelahiran beliau.

Selama kurang lebih 23 tahun Nabi Muhammad Saw berda’wah di Mekkah ( 13 tahun ) dan di Madinah ( 10 tahun )  dengan segala kharisma dan kebesaran yang beliau miliki Islam menjadi agama yang dapat membuat perubahan bagi bangsa arab yang sebelumnya berfaham jahiliyah.

Keberhasilan beliau di tanah arab selain dari pertolongan  Allah karena akhlak beliau yang mulia sehingga mampu menundukkan hati bangsa Arab yang keras saat itu. Dengan pendekatan yang lemah lembut, tidak sedikit yang tadinya membenci Islam akhirnya menjadi pembela Islam di saat mendatang Dalam sejarah tercatat nama Umar bin Khatab yang 360 derajat berbalik arah yang tadinya benci kepada Islam menjadi pembela Islam yang di belakang hari menjadi khalifah dalam khulafaurrosyidin yang ke dua setelah Abu Bakar Sidik.

Kenapa dinamai Islam ?

Tiap-tiap agama pada umumnya menyandarkan nama agama tersebut kepada pendirinya. Di Parsi (Persia) ada yang di sebut dengan agama Zoroaster. Nama agama ini disandarkan   kepada nama pendirinya yaitu Zoroaster yang meninggal pada  tahun 583 Sebelum Masehi, Sidarta Gautama Budha yang lahir pada  tahun 560 Sebelum Masehi adalah pendiri agama Budha (Budhisme) dan lain sebagainya.

Islam sebagai agama tidak mempunyai hubungan dengan nama orang atau  nama wilayah tertentu. Walaupun orang barat menyebut Islam dengan “muhammadenisme”. Penyebutan ini bukan hanya tidak tepat tetapi salah karena mengandung pengertian faham pribadi Muhammad atau ajaran pribadi Muhammad,  Akan tetapi Islam adalah agama wahyu dari Allah Swt yang di bawa oleh Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya.

Asal Kata Islam

Dilihat dari segi bahasa,  Islam berasal dari bahasa arab yaitu kata aslama, yuslimu islaaman yang berarti selamat sentosa.  Perubahan dari kata aslama menjadi kata Islam dalam Gramatika  ( tata bahasa arab ) disebut masdar  yaitu kata kerja yang di bendakan yang mempunyai arti  tunduk, patuh dan pasrah. Adapun orang yang memeluk agama Islam disebut Muslim yang berarti orang yang pasrah, patuh dan tunduk kepada  aturan-aturan Allah Swt.

RISALAH ISLAM  merupakan  way of life (cara hidup) yang meliputi 3 aspek yaitu, aqidah ibadah, dan akhlak.  Ketiga aspek itu di kenal dengan rukun agama seperti yang di informasikan jibril kepada Nabi Muhammad Saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ( Arba’in Nawawiyah; hadits yang ke-2).

Aqidah berarti menerangkan tentang keimanan (Rukun Iman). Ibadah berarti menerangkan tentang syari’ah dan Ibadah (Rukun Islam) dan Ihsan berarti menerangkan tentang Akhlak/tasawuf yaitu “ beribadahlah kamu kepada Allah Swt seolah-olah kamu melihat-Nya namun jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihat kamu”. Ketiganya ( Islam, Iman dan Ihsan ) harus seimbang dijalankan oleh setiap muslim agar menjadi insan kamil.

Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamin seharusnya dapat di rasakan oleh seluruh umat manusia tanpa melihat  perbedaan. Karena perbedaan merupakan sunatullah yang tidak bisa kita pungkiri. sebagaimana Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurot ayat 13 yang artinya :
Hai manusia! sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan Kami menjadikan kamuberbangsa-bangsa, supaya kamu saling kenal mengenal dengan baik. sesungguhnya semulia-mulia kamu pada sisi Allah ialah yang paling taqwa “

Sebagai umat Nabi Muhammad Saw, kita harus mengikuti model da’wah beliau yang penuh kesabaran,  kasih sayang dan lemah lembut. Terasa janggal jika dakwah Islam yang rahmatan lil ‘aalamin dilaksanakan dengan kekerasan, Caci maki dan  intimidasi, karena bagaimana pun dakwah itu sifatnya mengajak kepada kebaikan tanpa  paksaan. Salah satu kunci keberhasilan  Rasulullah Saw dalam berda’wah adalah dengan menunjukkan perilaku akhlakul karimah dengan cara-cara yang lembut, penuh kasih sayang dan persaudaraan. rasa simpati terhadap kafir quraisy saat itu sehingga dengan kesadaran dan kepasrahan mereka memilih Islam sebagai agama alternatife bagi mereka.

Kedatangan agama Islam ke Indonesia sekitar abad ke-12 Masehi di kepulauan sumatera dan selanjutnya pada abad ke-14 Islam masuk ke pulau jawa dibawa oleh para musafir dan pedagang muslim dari Arab, Persia dan Gujarat, mereka berda’wah dengan menggunakan metode da’wah yang lemah lembut tanpa kekerasan.

Kita lihat bagaimana para Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Jawa. mereka berda’wah dengan arif bijaksana yang hasilnya dapat kita lihat sampai sekarang. Wali songo yang berda’wah di tanah jawa melakukan pendekatan kompromis ( sosiologis ) yaitu suatu pendekatan yang memperhatikan kondisi obyektif  terhadap budaya lokal masyarakat yang ada saat itu. pertemuan Islam dengan tradisi lokal tidak menjadikan ajaran Islam menggangu tradisi mereka saat itu walaupun ada penggeseran tradisi lokal meski tidak menghilangkan sama sekali. Sehingga bagi masyarakat saat itu sedikitpun tidak merasa dipaksa, yang akhirnya mereka masuk Islam secara sukarela. Hasilnya pun dapat kita rasakan sekarang Islam menyebar ke pelosok-pelosok kampung dan desa. Setidaknya sampai akhir abad ke-20 ini Islam menjadi agama mayoritas. Hal ini perlu kita syukuri bersama karena telah menjadi pemeluk Islam.

zaman sekarang mungkin tidak lagi da’wah seperti  wali songo dulu. Tapi da’wah sekarang adalah bagaimana caranya memberikan pemahaman Islam rahmatan lil ‘alamin kepada orang Islam. Karena da’wah tidak berhenti sampai masuk Islam saja, tetapi pemahaman terhadap Islam yang universal perlu dilakukan agar Islam berlaku disetiap tempat dan zaman.

Dulu dalam da’wah dikenal dengan dua macam cara, yaitu da’wah bil hal ( perilaku ) dan bil lisan ( ucapan). Tapi seiring perkembanan zaman  mungkin banyak cara untuk da’wah  yaitu atau da’wah melalui media baik media cetak (da’wah bil kitabah/tulisan )  maupun media elektronik (televisi dan jejaring social). Terlepas dari berbagai macam cara da’wah itu. ternyata da’wah yang lebih utama adalah da’wah bil hal yaitu da’wah dengan dialog, perilaku yang mulia dan lemah lembut.

wallahu a’lam

Oleh: Dudung Shalahuddin, Pengurus Lembaga Ta'lif wan Nasr NU Bogor
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: