Semua Selesai Dengan Khilafah: Sebuah Solusi atau Kemalasan Berpikir?

Semua Selesai Dengan Khilafah: Sebuah Solusi atau Kemalasan Berpikir?

Semua Selesai Dengan Khilafah: Sebuah Solusi atau Kemalasan Berpikir?
Semua Selesai Dengan Khilafah: Sebuah Solusi atau Kemalasan Berpikir?
ARRAHMAH.CO.ID - "Jika ada dua khalifah dibaiat maka penggal yang terakhir dari keduanya (H.R Muslim)"

Faktanya memang pada masa khulafaur rosyidin kholifah itu ada satu. Jika merujuk pada hadist shohihdiatas dan hadist tersebut dibawa ke masa setelah khulafaur rosyidin, tepatnya pertengahan masa dinasti Abbasiyah maka sejak saat itu pemimpin islam sudah bukan satu orang lagi karena selain Abbasiyah di Iraq disaat yang bersamaan juga berdiri dinasti Fatimiyyah di Mesir.

Bahkan pada masa dinasti Abbasiyah masih eksis juga berdiri dinasti Umayyah II di Cordova Spanyol. Belum lagi dinasti lain yang wilayah kekuasaannya tidak terlalu luas dan periodenya tidak lama seperti Dinasti Buwayhiyah di Iran (934–1055 M) dan Ayyubiyah di Suriah (1171-1341 M) dan masih banyak dinasti islam lain yang juga hadir di periode yang sama dengan dinasti yang lebih besar.

Fakta berikutnya dinasti-dinasti tersebut tetap bisa eksis secara bersamaan dan masing-masing pernah memiliki pemimpin yang ideal meskipun beberapa diantaranya juga pernah saling berperang berebut kekuasaan (Umayyah I vs Abbasiyah 750 M ; Fatimiyyah vs Ayyubiyah 117 M). Lalu kholifah mana yang harus di baiat dan mana yg harus disingkirkan? Sedangkan masing-masing dinasti dangan identitas berbeda tetap saja dianggap bagian penting dalam perjalan eksistensi islam membangun peradaban dunia.

Kemudian peradaban islam mengalami puncak kejayaan pada masa Ustmaniyah (1299-1922) yang menurut beberapa kalangan tidak ubahnya sebuah sistem monarki dimana pengangkatan pemimpinnya dilakukan secara turun temurun dari raja ke putra mahkota, hanya saja sistem yang diterapkan di wilayah tersebut adalah syariat islam. Itu yang membedakannya dengan monarki yang lebih dulu populer di Eropa dan kurang lebih mengenai penerapan dari sistem pemerintahannya tidak jauh berbeda.

Tentu hal ini sangat jauh dari apa yang dicontohkan oleh khulafaur rosyidin dimana faktor keturunan bukan menjadi landasan untuk mengangkat khalifah tetapi shaleh dan mujtahid secara personal adalah pertimbangan yang utama. Jika benar sebagian kalangan tetap ngotot mengklaim masa pemerintahan islam paska khulafaur rosyidin adalah khilafah -yang dimaksud dalam islam-,  apakah kita akan menyebut negara Suadi Arabia saat ini sebagai kekhilafahan dan rajanya adalah khalifah hanya karena negara tersebut menerapkan syariat islam?

Selanjutnya apa perbedaannya dengan kondisi Indonesia pada abad pertengahan dimana muncul kerajaan bercorak islam berdaulat seperti Samudra Pasai, Aceh, Demak, Banten, Mataram, Banjar, Makassar, Ternate dan Tidore? Beberapa dari kerajaan itu ada yang eksis secara bersamaan dan masing-masing juga memiliki pemimpin islam. Jika mau adil kita bisa menyebut “Kekhalifahan Nusantara” pernah ada di Indonesia atau setelah masa kerajaan Hindu-Budha Indonesia pernah mengalami masa kekhalifahan sebelum memasuki masa kolonial.

Jadi, benarkah mendirikan kembali khilafah islamiyah adalah satu-satunya solusi atau hanya bentuk lain dari kemalasan berpikir? Seolah-olah dengan berdirinya syariat islam (bukan islam secara substansi) dalam suatu wilayah maka semua persoalan akan tertangani dengan baik, sedangkan problem yang dialami oleh umat saat ini jauh lebih dinamis jauh lebih kompleks.

Mari kita renungkan bersama.


Oleh: Veryl Hasan, Qureta.com
Image: Ilustrasi Khilafah Jurnal Islam
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: