Berkah Kyai dan Kunci Keberhasilan Santri

Berkah Kyai dan Kunci Keberhasilan Santri

lambang Jam'iyyatul Qurra' wal-Huffadh
lambang Jam'iyyatul Qurra' wal-Huffadh
ARRAHMAH.CO.ID - Saya ceritakan ini kepada murid-murid saya, bahwa saya bersyukur masa kecil saya masih "menangi" atau menjumpai para ulama sekaliber Alm KH Abdul Mujib Ridwan. Seorang ulama besar, ahli politik, dan juga ahli seni, di mana:

* Yai Mujib adalah yang menciptakan lambang Jam'iyyatul Qurra' wal-Huffadh
* Ayahanda beliau KH Ridwan Abdullah yang menciptakan lambang Nahdlatul Ulama.

Di samping seni, Beliau sangat intensif memotivasi santrinya menjadi ilmuwan. Beliau menegaskan keharusan seorang santri untuk menjadi ahli dzikir dan sekaligus ahli fikir. Lebih spesifik lagi, beliau memotivasi santrinya menguasai sain dan teknologi.

Ayahanda beliau (Yai Ridwan) pulalah yang mencetuskan pentingnya didirikannya Perguruan Tinggi dalam bidang teknologi di Surabaya. Dan melalui menantu beliau KH Yahya Hasyim memberi nama PT di Surabaya itu "Sepuluh Nopember", untuk mengenang perjuangan para pahlawan pada tanggal 10 November 1945. Dan kelak PT itu mewujud bernama ITS, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Suatu hari Yai Mujib menerangkan kepada kami tentang "fardlu kifayahnya" memproduksi pesawat terbang. Beliau mengilustrasikannya dengan pesawat terbang yang ditumpangi oleh para jama'ah haji. Sedangkan para Jama'ah haji yang mabrur pasti mendptkan surga sbgmana:
"Alhajjul mabruru laisa lahu jazaaun illal jannah".

Padahal para hujjaj tersebut tidak mungkin berhasil pergi haji tanpa naik pesawat terbang, maka apa tidak mungkin si pembuat pesawatnyapun kelak akan meminta bagian "jannah". Ilustrasi Yai Mujib di tahun 80an ini langsung membekas di benak saya serta menyemangati saya belajar. Ini melengkapi nasihat beliau ttg definisi karakter ulul albab, yang secara singkat beliau katakan, "Nek dikongkon dzikir kuate setengah mati, nek dikongkon mikir pintere setengah mati."

Alhamdulillah bbrp tahun kemudian, 1990, saya diterima belajar di ITS jurusan Teknik Komputer. Di Teknik Computer (TC) ini tidak ada pesawatnya sih, tapi saya pikir waktu itu, haji tidak pula akan jalan dengan baik tanpa "SISKOHAT"  (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu) jaman itu. Jadi bidang saya ini Insya Allah masih nyambung juga dengan dhawuh beliau. Belakangan saya lanjutkan ilmu komputer itu hingga S2 di Universitas Indonesia dan S3 di Hiroshima University Jepang. Alhamdulillah dengan izin Allah SWT berhasil tuntas, salah satunya dengan tetap bertawassul kepada beliau dan para Muassis serta Masyayikh Nahdlatul Ulama.

Demikianlah, bisa jadi sebuah ilustrasi kecil akan berefek besar bagi para santri, murid, serta anak-anak kita. Apalagi bila diiringi do'a kepada Allah SWT untuk keberhasilan mereka.

Oleh: Dr. Zainal Arifin
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: