Momentum Nusantara 2017: Membumikan Walisongo

Momentum Nusantara 2017: Membumikan Walisongo

Walisongo
Oleh: M Rikza Chamami

Khazanah Islam, Arrahmah.co.id - Tahun 2017 memiliki makna instropeksi yang sangat luar biasa. Kenapa? Sebab catatan 2016, di Indonesia, menunjukkan siklus peningkatan hegemoni gerakan transnasional. Terorisme belum padam. Ahlussunnah wal jama'ah dipojokkan. Islam modern diyahudikan. Gerakan pro ahlul bait dinistakan. Ini semua karena arus radikalisme Islam Indonesia mendapatkan panggung politik.

Ketika diskusi dengan beberapa kader muda NU, ada catatan menarik yang tidak bisa kita lupakan. Apa itu? Yakni, matinya ruh Walisongo dalam memperjuangkan keislaman akhir-akhir ini.
Nama Walisongo masih sebatas nostalgia sejarah yang dibanggakan belaka. Tapi meniru jejak perjuangan Walisongo itu yang terlupakan. Bahkan masih ada yang belum siapa dan bagaimana perjuangan Walisongo itu ada.

Oleh sebab itu, 2017 menjadi momentum tepat dalam membangkitkan kembali ruh perjuangan Walisongo dalam menata jatidiri bangsa Indonesia yang kian hari mengalami gangguan soliditas.
Apa saja yang bisa ditiru dari Walisongo? Tentunya banyak sekali. Dalam tulisan singkat ini, saya hanya akan menulis sembilan uswatun hasanah Walisongo yang perlu segera dilanjutkan oleh segenap bangsa Indonesia.

Pertama, membumikan Islam syari'ah dengan bahasa orang awam (sifatnya mengajak ibadah dengan cara orang awam)

Kedua, mengajak masuk Islam dengan dakwah yang damai, tidak memaksa dengan peperangan.

Ketiga, menanamkan tali persaudaraan dengan semua masyarakat lintas agama dan kepercayaan.

Keempat, memberikan ilmu hidup dengan melatih bercocok tanam, pengairan sawah, mencari ikan, berkebun, melindungi hutan dan pekerjaan-pekerjaan halal lainnya.

Kelima, melakukan kolaborasi agama dan budaya lokal dengan nafas Islami.

Keenam, menanamkan ilmu-ilmu agama yang mencerahkan dan mencerdaskan, tanpa harus membenci sesama.

Ketujuh, menguatkan jejaring politik inklusif (kompromi-kritis) dengan model pendekatan Raja dan Wali (kekuasaan dan keagamaan).

Kedelapan, membela marwah Islam rahmatan lil 'alamin.

Dan kesembilan, memperjuangkan masyarakat kecil untuk maju dalam bidang agama, pendidikan dan sektor lainnya.

Sembilan pokok-pokok laku Walisongo ini yang perlu dijalankan untuk bangsa Indonesia sebagai pewaris Islam Walisongo. Menjadikan Walisongo panutan untuk bumi pertiwi menjadi hal yang lumprah.

Sebab kejayaan Islam rahmatan lil 'alamin di Bumi Nusantara dibawa oleh ajaran Walisongo dan diteruskan oleh penerus Walisongo, yakni Kyai dan santri.

Semoga bisa meniru laku Walisongo demi tegaknya Islam NUsantara dan NKRI.*)

M. Rikza Chamami, Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: