Khataman Kitab Al-Ibriz, KH. Maimoen Zubair: Kyai Mustofa itu Tidak Pernah Bakhil untuk Ulama

Khataman Kitab Al-Ibriz, KH. Maimoen Zubair: Kyai Mustofa itu Tidak Pernah Bakhil untuk Ulama

Khataman Kitab Al-Ibriz, KH. Maimoen Zubair: Kyai Mustofa itu Tidak Pernah Bakhil untuk Ulama
Khataman Kitab Al-Ibriz, KH. Maimoen Zubair: Kyai Mustofa itu Tidak Pernah Bakhil untuk Ulama
HIKMAH ISLAM, ARRAHMAH.CO.ID - Hataman Kitab Al Ibris di Ponpes Al Itqon yang di asuh KH Kharis Sodaqoh Bugen.Semarang .di Rawuhi Mbah KH Maimun Zubair dan KH A Musthofa Bisri
KH. Maimun Zubair, diawal pembicaraan, bercerita tentang sejarah keluarga Mbah Mustofa Bisri (bapak dari Bisri Mustofa/penulis Tafsir Al Ibriz). Disampaikan Mbah Mustofa itu tidak eman-eman mengeluarkan uang untuk ulama/kiyai/ustadz. 

Dicontohkan ada saudara dari Mbah Mustofa yang pergi haji (th. 1905) dijalani dengan jalan kaki karena perhitungan biaya, kalo naik mobil biaya 70 rupiah, harga sapi waktu itu baru 6 rupiah. 

"Kalo 70 rupiah sapi brp?" tutur Mbah Maimoen 

Karena mendengar saudaranya jalan kaki maka mbah Mustofa menyusul saudaranya dengan mobil. Setelah ketemu masih dikasih uang 20 rupiah. 

Contoh yang kedua suatu saat mbah Mustofa pergi ke pasar Klewer Solo membeli dagangan baju 1 mobil penuh, karena pertimbangan kyai kok dagang akhirnya baju dititipkan pada semua sanak saudara untuk diperjualbelikan.

"Tapi hasilnya bagaimana? Tidak ada yang bayar termasuk mbah Cholil Rembang." terang pengasuh Pesantren Al-Anwar ini.

Suatu saat mbah Mustofa mendengar mbah Cholil kok tidak seperti biasa beberapa hari tidak pernah ngajar di pondok mbahnya mbah Mustofa. Akhirnya mbah Mustofa pergi ke rumah Mbah Cholil, tahu kalo mbah Mustofa datang maka mbah Cholil tidak berani keluar rumah ditunggu mulai pagi sampek dzuhur sampek Ashar belum keluar sampek Maghrib.

Akhirnya setelah Magrib mbah Cholil baru keluar akhirnya dipeluk oleh mbah Mustofa dan duduk bercakap-cakap. Dalam percakapanya mbah Cholil menyampaikan tidak berani keluar karena takut ditagih oleh mbah Mustofa. Akhirnya mbah Mustofa mengajak berjabat tangan dan mbah Cholil dibaiat...demi Allah saya ridho uang yang ada pada kamu tidak usah kamu kembalikan dan halal, yang penting mbah Cholil mau ngajar di pondok mbahe.

Akhirnya mbah Cholil menerima dan hari-hari seterusnya tidak ada guru yang sregep luar biasa ngajar di pondok tesebut, sampek-sampek orang menganggapnya pondok tersebut pondoknya mbah Cholil.

Kesungguhan mbah Mustofa luar biasa untuk membantu dan membangkitkan orang-orang alim.

Editor: Taufiqurrahman
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: