Headlines
Loading...
Terus Menghidupkan Teladan Rasulullah; Menggerakkan Pembebasan dan Pencerahan

Terus Menghidupkan Teladan Rasulullah; Menggerakkan Pembebasan dan Pencerahan

Majelis Shalawat. Photo: Syekhermania Community
Oleh: Ubaidillah Achmad

ARRAHMAH.CO.ID - Hari kelahiran Nabi Muhammad merupakan hari kelahiran sebuah tanda yang menandai risalah kenabian melalui wujud fisik, namun juga menandai wujud nyata sebuah cahaya kenàbian. Wujud cahaya kenabian, berupa: 

Pertama, prinsip ajaran suci yang menerangi pemahaman jahiliyan, sehingga berubah kembali pada prinsip kebenaran. Misalnya, Dari sikap sadisme berubah menjadi bersikap manusiawi, dari sikap hegimonik yang mencari menang sendiri menjadi bersikap adil, dari sikap diskriminatif berubah menjadi bersikap menjaga persamaan, Dari sikap merusak lingkungan dan tidak percaya pada kebenaran (kafir) menjadi bersikap menjaga lingkungan dan tidak aniaya terhadap semua unsur kesemestaan.

Kedua, cahaya yang menerangi jiwa yang lemah, sehingga para pengikut tradisi kenabian memiliki keterikatan dengan makna ketauhidan dan kemanusiaan serta menyimpan makna kenabian dan merasakan getaran maknetik kecintaan kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Sehubungan dengan kedua wujud cahaya kenabian tersebut di atas, telah menjadi perekat dan pengikat antara relasi kosmologi. Selain itu, cahaya kenabian juga memberi makna dan pengertian keberadaan manusia di hadapan Allah dan di antara unsur kesemestaan.

Ribuan Kisah Kenabian 

Mengapa kelahiran Nabi Muhammad berisi ribuan kisah kenabian? Karena ada ribuan kisah para Nabi yang dapat dibaca langsung dari jendela Risalah Nabi Muhammad. Misalnya, adanya nilai nilai yang digerakkan oleh risalah para Nabi, telah tercantum pada kisah Nabi Muhammad: bagaimana menggerakkan semua nilai kenabian pada zamannya? Yang paling inti dari keseluruhan kisah para Nabi, sebelum Nabi Muhammad, adalah prinsip Tauhid. Prinsip Tauhid ini, bertujuan untuk menguatkan sikap ibadah kepada Allah dan menyempurnakan akhlak mulia, baik akhlak kepada Allah maupun kepada semua unsur kesemestaan.

Kedua inti risalah ini, telah memunculkan banyak kisah perlawanan, ejekan, cacian, dan ancaman dari individu dan masyarakat yang menolak kehadiran para Nabi. Hal ini bisa dibaca dari kisah tantangan Nabi Muhammad menghadapi status quo dan relasi kuasa yang tidak seimbang. Karenanya, secara teoritis inti risalah dapat dipahami dari aspek ketauhidan dan akhlak mulia. Sedangkan, secara praktis inti risalah kenabian dapat dirasakan dari aspek pembebasan dan pencerahan kepada umat manusia.

Aspek praktis dari risalah kenabian ini, yang akan dirasakan secara langsung oleh umat manusia. Dengan adanya aspek praktis ini, akan mudah membuka kesadaran seseorang tentang arti penting risalah kenabian bagi umat manusia. Misalnya, membangun atau menata kembali relasi suci kosmologi, membangun relasi yang seimbang, membangun peradaban untuk kemanusiaan.

Hal ini, juga dapat dibaca pada kisah Nabi Muhammad memasuki langit langit nuhuwah pada saat Isra' dan mi'raj. Misalnya, pada langit pertama Nabi Muhammad bertemu Nabi Adam, yang di antaranya telah menyimpan nilai dan arti penting berpegang pada prinsip kebenaran. Langit kedua, Nabi Muhammad bertemu Nabi Yahya dan Isa, yang di àntaranya telah menyimpan nilai semangat untuk hidup. Langit ketiga, Nabi Muhammad bertemu Nabi Idris, yang diantaranya telah menyimpan nilai untuk selalu kreatif.

Langit keempat, Nabi Muhammad bertemu Nabi Yusuf, yang di antaranya telah menyimpan nilai arti penting mengendalikan diri. Langit kelima, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa, yang menegaskan keteguhan sikap. Langit keenam, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Harun, bermakna arti penting menjaga komitmen. Langit ketujuh, Nabi Muhammad bertemu Nabi Ibrahim, yang mengajarkan tentang arti pengorbanan dan perjuangan. Selain kisah penguatan nilai nilai tersebut, ada banyak kisah para Nabi yang dapat dibaca pada kisah yang mengulang dari seluruh kisa para Nabi hingga Nabi Muhammad.

Kehadiran Nabi Muhammad menunjukkan akhlak yang menegaskan makna dan keutamaan teks kewahyuan Al Qur'an. Selain itu, juga menegaskan adanya keseluruhan prinaip monotheistik para Nabi yang sudah diaktualkan kembali dalam ajaran Nabi Muhammad.

Dengan demikian, bagaimana hidup bisa menata kehidupan menjadi lebih baik? Kesemuanya ini dapat bercermin dari kisah ribuan nilai yang sezaman dengan paran dan fungsi paa Nabi hingga Nabi Muhammad. Sehubungan dengan peran dan fungsi risalah kenabian hingga sampai kepada Nabi Muhammad, karena kisah kelahiran Nabi Muhammad tidak mudah untuk dilupakan. Karenanya, terlalu memaksakan diri melupakan kisah suci tentang kelahiran cahaya kenabian melalui tanda risalah Nabi Muhammad.

Gerak jiwa seluruh umat manusia menyambut kelahiran Nabi Muhammad hingga sekarang juga masih terasa. Misalnya, ketika shalawat buat Al Mustafa Nabi Muhammad, kita semua juga masih terasa menangis, bersedih ditinggal baginda kita. Selain itu, kita juga masih merasakan, betapa damai membaca shalawat Nabi Muhammad dan merasakan ada sebuah harapan penantian bersama Nabi Muhammad.

Sehubungan dengan adanya ikatan ini, maka peringatan hari kelahiran Nabi masih berlangsung hingga sekarang. Karenanya, memperdebatkan kapan peringatan maulid diadakan, merupakan bentuk perdebatan yang bersifat mengada-ada, Alasannya, sejak sebelum Nabi Muhammad lahir, sudah banyak uang umat beragama monotheistik (Tauhid) yang menunggu peringatan akan kelahiran Nabi Muhammad. Hal ini, sudah dijelaskan dalam kisah Nabi sebelumnya. Karenanya, hampir para pengikut agama monotheistik yang taat mengetahui berita akan kedatangan Nabi Muhammad beserta memahami ciri ciri sifat kekuliaannya.

Peringatan Maulid Nabi sebelum Nabi lahir disebut menunggu peringatan kelahiran Nabi. Sedangkan, sesudah wafat Nabi disebut mengingat kembali peringatan hari kelahiran Nabi yang memiliki budi luhur atau akhlak mulia.

Dalam konteks bahasa, maulid berasal dari kata walada-yalidu- wilaadah-maulid. Sedangkan, kata Maulid adalah isim zaman dari walada yang berarti hari kelahiran. Kata maulid sudah identik dengan kelahiran Nabi Muhammad, yang lahir pada hari Senin. Meski secara bahasa sama, namun konteks kelahiran secara umum sering disebut dengan kata milad.

Betapa bergembiranya umat Islam, karena benar benar menemui kelahiran Nabi Muhammad, yang hingga sekarang diabadikan dalam kegiatan maulid Nabi. Sehubungan dengan adanya cahaya kenabian yang menembus dihati umat manusia, maka Maulid Nabi Muhammad telah menggerakkan hati untuk menyambut dengan penuh gembira.

Beberapa Ulama yang teratat sejarah telah mengadakan maulid bersamaan dengan adanya konflik zamannya, di antara: pertama, Al Mallaa’, sebutan untuk Abu Hafsh Umar al-Irbili al-Maushili (wafat tahun 570 H/1174 M), sahabat dekat Nuruddin Zenki. Karya Al Mallaa, Wasilatul Muta’abbidin Fi Siirati Sayyidil Mursalin.

Kedua, Raja Irbil, utara Iraq, Muzhaffarudiin Abu Sa’id Gökbörü (27 Muharam 549 H/1153 M-8 Ramadhan 639 H/1232 M). Muzhaffar tunduk di bawah pemerintahan Shalahuddin Al-Ayubi, sekalugus saudara iparnya. Karena Muzhaffar menikahi saudiri Shalahuddin. Ketiga, dinasti Fathimiyah, rezim Syi’ah yang pernah memerintah Mesir.

Dalam perkembangannya, maulid Nabi dipopulerkan dengan pembacaan teks berikut ini: yang pertama, al Barzanji berjudul: ‘Iqdul Jauhar fi Maulidin Nabi al Azhar karya Ja’far bin Hasan al-Barzanji (1126 H -1177 H). Kedua, Maulid ad Diba’i karya Abdurrahman bin Ali bin Muhammad asy Syaibani az Zabidi al Yamani (866 H -944 H). Ketiga, Simthud Durar karya Habib Ali Bin Muhammad Bin Husain Al Habsyi.

Secara umum, isi teks sajak sajak dan kisah kenabian Nabi Muhammad tersebut berisi: menguatkan pujian kepada Allah dan bersyukur kepadaNya yang telah mengutus Nabi Agung bernama Al Mustafa dan Al Murtadla Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wasallam, menggerakkan emosi pembaca, supaya pembaca mencintai dan memahami kisah Nabi Muhammad yang berakhlak mulia dan ramah terhadap lingkungan, kisah Nabi Muhammad yang gigih menguatkan prinsip ketauhidan, kisah Nabi Muhammad yang gigih menegakkan prinsip kemanusiaan melalui pembebasan dan pencerahan.

Mengerakkan Pembebasan Dan Pencerahan

Nabi Muhammad merupakan utusan Allah yang berhasil mengantarkan umat terbaiknya mengenal Allah melalui ketajaman hati dan keseimbangan jiwa. Meskipun tidak semua umat menikmati rasa kelezatan beribadah dan merasakan keindahan hidup mencintai Allah dan RasulNya, namun kebanyakan umat manusia merasakan daya magnetik terhadap jalan kebenaran yang didasarkan pada prinsip ketuhanan (Tauhid) dan keutamaan hidup menjaga relasi suci kosmologi.

Sehubungan dengan gerak hati dan jiwa yang tidak mudah dirasakan semua umat manusia, namun setidaknya Individu dan masyarakat merasakan makna kehadiran Nabi Muhammad. Beberapa makna yang secara realistis dirasakan umat manusia, adalah gerakan penyempurnaan pada keutamaan akhlak mulia, gerakan melakukan pembebasan dan pencerahan kepada umat manusia.

Apa arti pembebasan dan pencerahan bagi umat? Bagaimana relasinya dengan risalah kenabian Nabi Muhammad? Arti pembebasan, adalah langkah pembebasan yang dilakukan oleh seseorang kepada Individu atau masyarakat yang terhegimoni atau tertekan oleh pihak pihak yang menguasai kebebasan dan menguasai hak hak subjek yang belum bebas dan belum merasakan hidup luluasa di bumi Allah.

Gerakan pembebasan muncul, karena dilatarbelakangi adanya pihak yang menekan seseorang yang tidak berdaya dan tidak kuasa bebas dari tekanan atau penindasan. Fenomena penindasan dan penekanan ini selalu datang dari pihak yang kuat kepada pihak yang lemah. Fenomena terjadinya penindasan dan tekanan ini selalu lahir dari fasisme politik kekuasaan yang tidak ingin tergantikan oleh kekuasaan yang lain.

Fasisme politik kekuasaan tidak hanya dilakukan secara kejam oleh para penguasa fasis, namun juga didukung oleh para ilmuwan pecundang yang ingin mencari aman dihadapan penguasa fasis. Para ilmuwan seperti ini, juga bisa terjadi karena tidak memiliki kepedulian terhadap nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Para ilmuwan seperti ini tidak memahami anugrah kemerdekaan dari Allah, sehingga juga tidak memiliki beban dosa atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan bersama penguasa yang lalim.

Bersamaan dengan fasisme politik dan para ilmuwan tukang, akan selalu muncul para pemodal yang ingin menjadikan alat para penguasa dan ilmuwan tukang. Kemunculan para pemodal akan membeli setiap yang diperlukan para penguasa untuk tujuan pengembangan permodalan. Karenanya, sudah tidak mempertimbangkan lagi masa depan sumber daya alam dan masa depan sumber daya manusia. Harta bagi para penguasa sangat diperlukan, harta bagi para pemodal harus berkembang. Sedangkan, harta bagi para ilmuwan, adalah kebutuhan.

Sehubungan dengan adanya sistem relasi yang tidak sehat tersebut, maka banyak yang berlomba-lomba mengukur keberhasilan hidup dengan ukuran: apakah mampu menduduki kursi kekuasaan, sistem permodalan, dan peran sebagai ilmuwan tukang. Karenanya, jika sistem ini tidak ada yang membebaskan, maka akan terus berlangsung sandiwara kehidupan yang mengerikan, yang tidak kunjung ada penyelesaian.

Semua potret kekerasan politik dan sadisme terhadap mereka yang lemah, baik kepada rakyat, petani, buruh, perempuan, anak anak yang tidak mendapatkan pendampjngan, mereka yang tidak memiliki rumah, mereka yang terancam oleh  kekerasan kota, terancam oleh bencana alam dan rusaknya lingkungan lestari, mereka yang tidak berkesempatan mendapat lapangan kerja sesuai dengan kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki, korban sistem perbudakan, adalah mereka yang membutuhkan pembebasan.

Seluruh fenomena tersebut menjadi alasan kuat, mengapa ada pembebasan sekaligus sebagai alasan perlunya kehadiran seorang Utusan Allah, para Nabi pembebas. Misalnya, kehadiran Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shaleh, Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi Syu’aib, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad merupakan bukti kerja pembebasan untuk membongkar hegemoni kekuasaan subjek atas subjek yang lain, yang berdampak kesenjangan sosial.

Selain itu, para Nabi pembebas telah melakukan kritik terhadap diri sendiri (Self reflection critical); memengaruhi perubahan masyarakat secara kolektif; memahami tatanan kehidupan secara kritis (voluntary participant in process); dan membantu memperbaiki kemapanan sosial (status quo). Contoh bentuk penguasa yang pernah berhadapan dengan para Nabi pembebas, adalah Qarun, Fir’aun, dan Haman. Mereka ini, adalah para penguasa yang buruk dalam struktur sosial. Dalam konteks ini, para Nabi bergerak membebaskan kaum tertindas agar peran-perannya sebagai manusia dapat berubah sesuai dengan harkat martabat kemanusiaan.

Seluruh kisah pembebasan tersebut, telah terbaca kembali pada era risalah Nabi Muhammad. Karenanya, Nabi Muhammad selalu  mengulang ulang ingin menyempurnakan sikap kepribadian dan keseimbangan jiwa umat manusia sebagaimana yang telah diajarkan para Nabi sebelumnya.

Bagaimana dengan makna pencerahan? Tugas pencerahan bagi para Nabi hingga Nabi Muhammad, adalah membuka mata dan hati seluruh umat manusia, agar tidak membodohi dan tidak dibodohi oleh kehendak kuasa dan kuasa kehendal yang lahir dari fasisme politik kekuasaan. Karena fasisme politik kekuasaan akan terus mengisi kutub bumi ini, maka para Nabi selalu mengingatkan, agar umat kenabian tetap harus mencerahkan individu dan masyarakat.

Dalam kondisi yang diperlukan, umat para Nabi dan Nabi Muhammad juga perlu membebaskan yang lain. Karenanya, agenda utama dari kehadiran Nabi Muhammad, adalah untuk menggerakkan pembebasan dan pencerahan di tengah lingkungan masyarakat. Selamat membebaskan, hanya ada satu pertanyaan, menghegimoni atau membebaskan, firaun atau Musa, pemodal arab jahiliyah atau Muhammad kita. Bravo!!!


Rembang, 17/12/2016
Ubaidillah Achmad, Penulis Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng, Khadim Majlis Kongkow As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang

0 Comments:

Cloud Hosting Indonesia