Merindukan Gus Dur: Membangun Kepribadian Bangsa dan Relasi Agama-Negara

Sebelum menyampaikan hasil pembacaan hermeneutika terhadap pemikiran Gus Dur, perlu ditegaskan alasan perlunya kajian ini. Perlunya kajian terhadap pemikiran Gus Dur, karena kehadiran Gus Dur sangat penting dalam memberikan pencerahan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.

KH. Abdurrahman Wahid. (Gus Dur)
KHAZANAH ISLAM, ARRAHMAH.CO.ID - Sebelum menyampaikan hasil pembacaan hermeneutika terhadap pemikiran Gus Dur, perlu ditegaskan alasan perlunya kajian ini. Perlunya kajian terhadap pemikiran Gus Dur, karena kehadiran Gus Dur sangat penting dalam memberikan pencerahan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. 

Banyak yang memperkirakan, bahwa tanpa kehadiran Gus Dur bagaimana mendapatkan benang merah relasi agama dan negara kesatuan republik Indonesia ini. Selain itu, kehadiran Gus Dur, juga memberikan benang merah relasi keberadaan seseorang sebagai umat Islam dan sebagai warga negara, memberikan benang merah antara muslim dan non muslim, mendudukkan fungsi Ulama dan Umara dalam bingkai NKRI.

Persoalan kebangsaan dan kewarganegaraan yang sulit dan tidak terbayangkan oleh masyarakat Indonesia pun dengan tegas berhasil diurai oleh Gus Dur. Misalnya, kasus dari tahun ke tahun tentang persoalan kesalahpahaman antara sesama warga negara yang sama sama berhak atas keadilan di muka hukum. Kasus stigma warga negara kedua dan warga negara ke satu, kasus adanya stigma minoritas di mata mayoritas, kasus moslim dan non muslim, kasus pribumi dan non pribumi, kasus korban kebijakan politik orde baru yang melibatkan aktivis kemanusiaan juga telah mendapatkan kesempatan dan hak yang sama di zaman pencerahan Gus Dur.

Selain itu, Gus Dur juga dengan berani mengurai tema sakral pada masa pemerintahan Orde Baru, yang meskipun di beberapa perguruan tingga manjadi kajian filsafat dan sosiologi, namun masih sangat riskan dibicarakan di tengah masyarakat, yaitu pembahasan tentang paradigma ideologi kiri di Indonesia. Sehubungan dengan tema ini, Gus Dur berhasil mempertanggungjawabkam secara akademik.

Dalam ulasannya, Gus Dur menunjukkan sikap akademik yang bebas dan mencerahkan, yang seolah olah ingin menegaskan, bahwa sebagai pengikut jejak kenabian, umat Islam perlu bersikap terbuka terhadap kearifan lokal dan bersedia berdialog dengan ideologi ideologi besar dunia, baik ideologi kiri yang ingin menjaga jarak dengan sistem kekuasaan maupun ideologi kanan yang selalu memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan kehendak kuasa dan kuasa kapital. Dengan demikian, agama kenabian semakin besar di tengah perkembangan zaman dan umat beragama benar benar bersikap terbuka berdialog dengan ideologi dunia.

Gerakan pemikiran Gus Dur ini, bukan tanpa alasan, sebab kebebasan beragama adalah hak sipil setiap individu yang sudah diatur dalam pasal 29 ayat 2 UUD 1945 yang menyatakan “negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Hal ini dijamin oleh UUD 1945, UU No.39/1999 tentang HAM, UUNO.26/2000 tentang Pengadilan HAM dan berbagai peraturan pemerintah yang lain.

Bagaimana tema pencerahan Gus Dur yang elok tersebut dalam konteks era sekarang? Jika tema pencerahan Gus Dur yang elok dikaitkan dengan era sekarang, justru kembali menjadi persoalan yang mengancam keberagamaan yang sudah mengakar di tengah masyarakat luas dan mengancam  model pribumiaasi Islam ala Walisongo dan model dinamisasi Islam perspektif Gus Dur.

Beberapa bukti fenomena yang menandai ancaman toleransi bagi keberagamaan dan keragaman bangsa, misalnya, adanya kebebasan beragama di Indonesia yang masih jauh dari perlindungan berbagai pasal yang diundangkan. Hal ini dapat dibaca pada beberapa kasus, seperti pembakaran rumah penganut Syiah di Sampang, penyerangan penganut Ahmadiyah di Banten dan pelarangan pembangunan gereja HKBP Philadelpia di Bekasi.

Sehubungan dengan insiden-insiden itu telah menunjukkan praktik kehidupan sosial agama di Indonesia yang diharapkan dapat berjalan damai dan toleran, namun setelah kepergian guru bangsa yang sudah menjadi teks emas studi ilmu keislaman, telah terabaikan para tokoh agama Islam dan beberapa Kiai. Contoh, jika zaman Gus Dur tidak ada kiai yang terlibat dalam aksi FPI atas nama Islam untuk mengintervensi kerja pemerintah terhadap kasus Pak Ahok, bahkan sekarang ini sudah ada beberap Kiai yang mengikuti aksi politis atas nama Islam.

Sekarang ini, juga terjadi relasi semu antara keberagamaan dan kewarganegaraan. Kritik terhadap kebijakan pemerintah, seharusnya dilakukan individu atau masyarakat atas nama warga negara, bukan dilakukan individu atau masyarakat atas nama umat beragama. Umat beragama harusnya berbicara ajaran agama kepada umatnya. Jika ingin berbicara ajaran agama kepada masyarakat luas, bisa dilakukan dengan menyampaikan prinsip agama yang membebaskan dan mencerahkan umat manusia tanpa pandang bulu.

Dalam konteks kenegaraan, umat beragama bisa menguatkan nilai nilai keutamaan dan kebaikan kepada pemerintah. Umat beragama, juga bisa menguatkan nilai keutamaan yang terkandung pada prinsip ideologis dan falsafah negara, yaitu ideologi pancasila.

Sebagai contoh, adanya fenomena yang mengerikan dilakukan oleh umat Islam yang secara terus terang mengintervensi kerja pemerintah bukan mengatasnamakan sebagai warga negara, namun mengatasnamakan sebagai gerakan umat Islam menuntut, agar Pak Ahok diseret kepenjara. Jika model keberagamaan ini tidak segera diredam, maka agama akan menjadi simbolisme kerja pemerintah. Hal ini, tentu saja akan mengganggu kerja pemerintah.

Dalam konteks ini umat Islam, telah melakulan dua kesalahan: pertama, kesalahan mencampuradukkan prinsip agama dengan tuntutan politik. Kedua, membenturkan umat beagama dan ulama pada sistem politik yang seharusnya dilakukan bukan atas nama agama.

Jika mereka malakukan gerakan politis dengan tema membela Islam dan mejadikan simbolisme Islam untuk alat mengintervensi kerja pemerintah, maka akan mengganggu kerja pemerintah. Selian itu, sebagai tokoh umat Islam, bagaimana bersikap ramah dan memaafkan kepada mereka yang salah memahami Islam atau teks kewahyuan. Bukankah Pak Ahok, juga sudah meminta maaf: mengapa tidak dimaafkan?

Sehubungan dengan kasus Pak Ahok, terlepas dari bagaimana hasil kajian tim ahli, bukankah umat Islam lebih baik membca Pak Ahok dari akhlak mulia Nabi Muhammad. Misalnya, Nabi Muhammad sering membiarkan mereka yang mencaci agama wahyu (Islam) do satu sisi, namun di sisi yang lain, Nabi Muhammad selalu gigih membebaskan para budak dan melakukan pencerahan.

Nabi Muhammad menolak pinta Malaikat yang akan melempar gunung untuk masyarakat arab yang mencaci Nabi, sebaliknya justru Nabi Muhammad memohon kepada Allah, semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka yang belum memahami rahasia tauhid yang melebur dalam konteks kemanusiaan, keadilan dan persamaan. Nabi Muhammad juga memaafkan Da'tsur yang memgancam akan membunuh Nabi yang berulang kali berupaya hendak membunuh Nabi Muhammad.

Dan masih banyak contoh akhlak mulia Nabi Muhammad, yang dapat disimpulkan, bahwa jika yang dicaci adalah Nabi, kalam wahyu yang diplesetkam masyarakat arab, dan Islam sebagai agama dalam katagori yang diucapkan sesuai dengan nafsu mereka yang melawan Nabi. maka Nabi Muhammad tidak melakukan penghukuman terhadap kejahatan terkait. Bagi Nabi Muhammad yang perlu ditekankan, adalah hanya akan menyempurnakan risalah dengan berbagai resiko yang menghambat pembebasan dan pencerahan.

Dalam konteks keindonesiaan, bukankah sepanjang sejarah Indonesia selalu ada sosok yang menggunakan teks kewahyuan untuk kepentingan politik yang hanya sementara dan sesaat. Dalam konteks kedekatan dengan orang Yahudi, bukankah nabi semasa hidupnya selalu menjaga relasi baik dengan mayarakat Yahudi, Nasrani, dan suku suku yang lain dalam piagam madinah. Bukankah Nabi Muhammad juga menganjurkan sikap yang baik dengan tetangga yang meskipun telah kafir atau mengingkari kebenaran teks wahyu.

Jangankan hanya ungkapan Pak Ahok, diibaratkan cacian mereka yang kafir yang melebihi ungkapan seribu Pak Ahok pun,  pasti akan dimaafkan Nabi Muhammmad jika memohon maaf kepada Nabi Muhammad. Bukankah Nabi Muhammad bertugas untuk mengingatkan dan menyempurnakan akhlak mulia. Di antara akhlak Nabi terhadap mereka yang menentang risalah kenabian, adalah sosok Nabi yang bersikap memaafkan dan memohonkan ampunan dari Allah (fa'fu anhum was taghfirlahum).

Sikap memaafkan dan memohonkan ampunan ini, juga pernah dilakukan Nabi dengan berdoa," Allahumma Ihdi qaumi fa innahum laamya'lamun." Artinya, Ya Maulaya Ya Allah, bukalah hati dengan petunjukMu kepada umatku, (mereka berbuat demikian) karena sesungguhnya mereka belum mengetahui rahasia indah bertauhid dan bersikap manusiawi terhadap sesama umat manusia serta menjaga lingkungan yang lestari.


Makna Risalah Kenabian

Banyak yang masih memahami, baik dari kalangan pengamat maupum umat Islam, bahwa nabi berpolitik seperti laiknya para politikus. Pola pemahaman inilah yang seakan telah dijadikan  pembenaran kepada umat Islam untuk berpolitik praktis. Yang
lebih ironis, telah menjadikan agama sebagai tangan panjang kehendak kuasa atau kuasa kapital. Fenomena ini yang juga telah menguatkan semangat beberapa tokoh agama untuk turut bermain memperebutkan kekuasaan dan kue pembangunan.

Sehubungan dengan fenomena tersebut di atas, perlu pemahaman normatif dan historis terhadap kelangsungan risalah kenabian zaman Nabi Muhammad. Dengan demikian, tidak memandang sebelah mata terhadap penggunaan istilah politik dalam konteks risalah kenabian. Sebelum berbicara peran risalah kenabian di tengah perkembangan politik masyarakat, perlu dipahami alasan filosofis kemunculan makna politik, yaitu sebagai model kesenian masyarakat untuk mendapatkan kursi kekuasaan, baik yang dilakukan secara konstitusional maupun non konstitusional.

Secara umum, politik juga dipahami sebagai seni untuk mendapatkan kekuasaan. Dengan dasar tujuan kekuasaan ini, para politisi sering melakukan dengan cara cara yang tidak sehat, sehingga muncul konsep politik yang menghalalkan segala cara dan menganggap, manusia adalah srigala bagi yang lainnya. Tujuan utama dari konsep ini, adalah memperebutkan kehendak kuasa. Dengan tanpa mempertimbangkan moralitas politik, maka akhir pencapaian pada kursi kekuasaan sering menyisakan relasi kuasa yang tidak seimbang. Realitas perkembangan politik seperti sekarang ini, telah menyimpang dari filosofi makna politik seperti yang pernah diungkapkan Aristoteles: politik adalah usaha yang ditempuh warganegara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Bagaimana dengan pengertian politik zaman risalah kenahian Nabi Muhammad? Politik, sosiologi, antropologi dan filsafat di zaman Nabi merupakan sebuah efek dari sistem pola hidup dan hubungan antar manusia. Meskipun sistem ini penting, namun ada yang lebih penting dalam risalah kenabian, yaitu sebuah kehadiran risalah kenabian Nabi Muhammad yang bertujuan untuk menyempurnakan akhlak mulia. Yang di maksud dwngan akhlak mulia, adalah adanya gerak jiwa dan fisik, baik yang disadari atau tidak yang terefleksi dari perilaku manusia. Jika prinsip gerak jiwa dan fisik berlangsung secara positif, maka disebut dengan akhlak mulia (mahmudah). Sebaliknya, jika prinsip gerak jiwa dan fisik berlangsung secara negatif, maka  akan melahirkan akhlak yang buruk (madzmumah).

Sehubungan dengan arti penting akhlak, maka dapat dipahami, bahwa berbagai pendekatan yang terjadi di tengah masyarakat seperti politik, sosiologi, antropologi, dan falsafat, merupakan efek dari akhlak seseorang. Secara spesifik dapat dipahami, bahwa jika Nabi Muhammad berada di lingkungan mayarakat yang sudah berbudaya dan berakhlak mulia, Nabi akan berperan sebagai penguat atau penyempurna akhlak yang sudah baik, baik kepada Allah maupun kepada Umat manusia.

Sebaliknya, jika Nabi Muhammad berada di tengah masyarakat yang berakhlak buruk, maka Nabi Muhamad akan selalu berupaya untuk memperbaiki akhlak yang buruk tersebut menjadi akhlak yang mulia. Modeling penyempurnaan akhlak yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ini, adalah bentuk modeling kasih sayang dan sikap ramah Nabi Muhammad kepada lingkungan.

Meskipun Nabi Muhammad mendapatkan ancaman, hujatan, dan cacian dari masyarakat lingkungannya yang menolak risalah kenabian, namun Nabi tetap bersikap rahmat dengan lingkungannya. Berikut ini ciri akhlak mulia Nabi Muhammad: pertama, membentuk kesadaran kesatuan energi ketuhanan (ketauhidan) manusia. Kedua, melakukan pembebasan menjaga keyakinan agama, menjaga potensi kemanusiaan, menjaga kelangsungan potensi berfikir dan pengetahuan manusia, menjaga kelangsungan regenerasi umat manusia, menjaga keselamatan harta benda. Kelima hal ini merupakan ringkasan dari prinsip kewahyuan dan kenabian yang di ringkas oleh para ulama (waratsatul anbiya).

Mereka yang menentang risalah kenabian ini disebut dengan istilah kafir. Istilah kafir pada masa Nabi Muhammad, bukan untuk legitimasi klaim kebenaran diri dan kelompok sendiri versus mereka yang bukan bagian dari kelompok kepentingan sendiri. Istilah kafir bukan sebagai hiasan klaim kesalehan versus mereka yang mendapatkan cap kafir.

Pada zaman Nabi Muhammad, istilah kafir dapat dilihat langsung pada para pelaku kekafiran. Misalnya, mereka yang membuat kerusakan lingkungan hidup, mereka yang menentang kebenaran umum yang sudah diapahami. Ketidaktahuan seseorang belum mendapatkan cap kafir, karena ketidaktahuan merupakan sifat dari apa yang tidak diketahui manusia (al-Naas a’daa’u ma Jahilu).

Nabi Muhammad tidak pernah merendahkan, seseorang yang tidak mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui (rajulun laa yadri annahu laa yadri). Pesan singkat Nabi Muhammad kepada subjek yang belum tahu, agar sebaiknya berdiam saja (falyaqul khairan au liyasmut). Kehadiran Nabi Muhammad bukan untuk mengadili dan mengancam terhadap ancaman atas nama agama. Prinsip ini, sebagaimana ditegaskan dalam QS. AL Isra'/17: 36.

Bagaimana istilah kafir dalam teks kewahyuan? Istilah kafir, bermakna menutupi atau menghalangi (Al Munjid: 691). Secara umum, kafir bermakna menutupi nikmat Allah. Pengertian umum ini didasarkan pada penegasan QS. Ibrahim/14: 07, yang menegaskan manfaat orang yang bersyukur yang akan mendapatkan penambahan nikmat. Sebaliknya, bagi siapa saja yang menutupi nikmat, maka Allah akan menambahkan siksa-Nya kepada mereka yang menutupi nikmat Allah.

Dalam perjanjian suci di alam arwah, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al A'raf : 172, semua manusia telah menjadi muslim yang baik. Adanya perubahan ini, karena setelah ruh memasuki jasad manusia, manusia lebih banyak yang mengikuti angan angan kosong (alhawa) dan kebutuhan biologis (syahwat). Dua potensi inilah yang menekan manusia untuk menutupi nikmat yang diterimanya. Selain pengertian kafir ini, masih banyak teks yang menjelaskan tentang kekafiran, namun tidak ada yang memerinthakan bersikap keras terhadap siapa saja yang mengalami ketidaktahuan dan mereka yang sudah benar benar minta maaf.

Agama dan Hak Kewarganegaraan

Sebagai guru bangsa, sang pahlawan tanpa tanda jasa, Gus Dur telah memberikan kenangan kepada kita semua, yang tidak akan terlupakan oleh bangsa Indonesia dan umat manusia. Secara ringkas di antara teks bernama Gus Dur, dapat dipetik hikmah berikut: anak bangsa di negeri ini, setalah berlangsung sistem negara bangsa yang dipimpin oleh seorang presiden, memiliki dua predikat, yaitu sebagai umat beragama dan sebagai warga negara.

Agama dan bangsa bisa bertemu, namun beda cara kerja. Agama itu membebaskan dan mencerahkan umat. Sedangkan, negara melindungi kepastian kewarganegaraan anak bangsa dan memberikan keadilan yang sama antar sesama warga negara di muka hukum. Jangan ada diskriminasi dan relasi yang tidak seimbang antara yang berkuasa dan yang dikuasai.

Dalam konteks negara, agama dapat memberikan penguatan pada nilai keutamaan dan kebaikan yang akan ditetapkan negara melalui butir ideologi Pancasila. Sebaliknya, negara juga berkewajiban menjaga kelangsungan keberagamaan dalam konteks kebebasan beragama bagi warganegara. Dari kedua hubungan ini, umat beragama tidak mengintervensi kerja pemerintahan dan pemerintah tidak mengintervensi pola keberagamaan.

Dari kedua sub pembahasan di atas menegaskan simpulan, bahwa kritik terhadap pemerintah sebaiknya atas nama warga negara yang berhak atas kewarganegaraan, bukan atas nama agama atau tokoh agama. Karenanya, pada salah satu kasus penodaan agama biarlah warga negara yang berhak berbicara. Identitas agama seharusnya berbicara tentang hal hal yang bermakna pembebasan dan pencerahan.

Sedangkan hal hal yang terkait dengan kesalahan seseorang dalam kinteks pembacaan terhadap makna agama, tidak perlu disikapi dengan kemarahan atas nama agama. Teks agama bukan teks yang bersikap narsis terhadap teks itu sendiri. Jadi, berbuat salah dalam memahami agama itu hal yang wajar dan sering dialami para tokoh agama dan umat beragama. Sama halnya dengan salah memunculkan istilah agama, adalah merupaka sesuatu yang wajar, namun jangan sampai berbuat salah dalam dua hal: pertama, menghalangi orang yang ingin menjalani perintah agama. Kedua, memaksakan orang harus menjalankan perintah agama sesuai dengan keinginan paksaan pihak lain.

Dalam sejarah Nabi Muhammad, tidak ada adegan para penista agama, yang ada istilah berikut: pertama, istilah orang yang mendustakan agama seperti mereka yang menghardik anak yatim dan tidak mau memberikan makan kepada orang yang mengalami kemiskinan. istilah orang kafir merupakan istilah yang ditujukan kepada mereka yang melakukan kekejaman kemanusiaan, merusak lingkungan, tidak menerima kebenaran Islam. Dalam teks Al Qur'an telah disampaikan istilah kafir untuk mereka yang tidak mengakui kenabian Muhammad, namun karena tidak merusak lingkungan kosmologis dan kelangsungan ekologis, serta tidak melakukan pembrontakan, maka tetap mendapatkan perlindungan dari Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad tidak pernah memerangi mereka yang mengolok olok agama Islam. Jika ada gerakan perlawanan Nabi dan umat Islam kepada orang kafir, itu pun dilakukan dengan cara hikmah dan mauidzah hasanah. Beberapa ciri mereka yang akan berhadapan dsngan risalah kenabian, adalah mereka yang
merusak unsur kesemestaan dan merusak unsur kemanusiaan. Sikap Nabi Muhammad inilah yang kemudian diwariskan kepada para Ulama yang akan terus silih berganti melanjutkan risalah kenabian.

Rembang, 29/11/2016

Ubaidillah Achmad, Penulis buku Suluk Kiai Cebolek, Islam Geger Kendeng, dan khadim Majlis Kongkow As Suffah Sidorejo Pamotan Rembang, Dosen UIN Walisongo Semarang

COMMENTS

Nama

.,1,#AyoMondok,12,#BelajarIslam,8,#CintaNKRI,2,#DanaHaji,1,#HariSantri,19,#HariSantri #HariSantri2017,1,#HariSantri2017,1,#HarlahNU,4,#HarlahNU91,2,#HaulKiaiHasanGenggong,2,#IslamIndonesia,1,#IslamNUsantara,4,#KajianRamadhan,1,#SavePalestine,3,#SaveRohingya,3,1 Muharram,3,1 Syawal,1,2016,1,A. Zakky Zulhazmi,1,Abdlul Halim Hasan,1,Abdul Mun'im DZ,1,Abu Bakar Hasan Assegaf,1,Adab Rasulullah,1,Advetorial,2,Afif Sunakim,1,Agama,1,Agama Cinta,1,Agenda,25,Agenda NU,1,Agnez Mo,1,Agus Zainal Arifin,3,Ahlusunnah wal Jama'ah,31,Ahmad Baso,1,Ahmad Mujib Rahmat,1,Ahmet Davutoglu,1,Ahsunnah,1,AJaran Islam,1,Akhir Zaman,1,Akhlakul Karimah,1,Al-Nimr,1,Al-Qaeda,1,Al-Qur'an,4,Al-Qur'an Raksasa,1,Al-Zastrow Ngatawi,1,Alamsyah M. Dja’far,3,Ali bin Abi Thalib,2,Ali Zawawi,1,Alissa Wahid,1,Allah,1,Almanak,1,Alumni Madrasah,1,Amalan,16,Amalan di Bulan Ramadhan,2,Amalan NU,4,Amalan Rasulullah,1,Amaliah,19,Aman Abdurrahman,1,Amirul Ulum,2,Anas Saidi,1,Angka Istimewa dalam Islam,1,Angka Tiga,1,Angker,1,Ansor,3,Ansor Garut,1,Ansor Malang,1,Ansor Surabaya,1,Anti Korupsi,4,Anti Narkoba,1,Anti Radikalisme,3,Anti Terorisme,2,Anti Wahabi,1,Aplikasi Batik,1,Aqidah,2,Arab,1,Arab People,1,Arab Saudi,2,Arief Mundatsir Mandan,1,Arifin Junaidi,1,Arrahmah Channel,5,Arrahmah Featured,11,Arrahmah.com,1,Articles,2,Artikel,26,Asian Youth Robot Olimpiade,1,Asosiasi Pesantren NU,1,Aswaja,24,Asy'ariyah,1,Australia,1,Avicenna Roghid Putra,1,Ayat-ayat Toleransi,1,Ayman Adz Dzawahiri,1,Ayo Mondok,1,AYRO,1,Bahtsul Masail,1,Bangsa Indonesia,1,Banser,14,Banten,1,Batik,1,Batik Indonesia,1,Battle,1,Battle of Uhud,1,Beasiswa,12,Beasiswa Kemenag,3,Beasiswa Madrasah,1,Beasiswa Santri,1,Beasiswa Santri 2016,1,Beasiswa Santri Berprestasi,2,Beasiswa Santri Berprestasi 2016,1,Bekasi,1,Belajar Islam,26,Berita,148,Berita Duka,5,Berita Islam,3,Bid'ah,2,Bid'ah para Sahabat,1,Bima Arya,1,Biseksual,1,Bisnis Haram,1,BNN,1,BNN di Jepara,1,BNPT,2,Bodo Kupat,1,Bogor,1,Bom Kuningan,1,Bom Sarinah,2,Bom Thamrin,2,BPOM,1,Brain,1,Budaya,1,Buku,6,Bulan Rajab,1,Buletin Jumat,5,Burdah,1,Cak Masykur,25,Cak Nun,1,Cak Nur,1,Cangkir9,2,Cep Herry Syarifuddin,1,Cerpen,2,Channel Arrahmah,37,Charlie Hebdo,1,Cheng Ho,1,Choirul Anam,1,Cinta,1,Cinta Bangsa,1,Cinta Tanah Air,1,Counter Radicalism,6,Cybercrime,2,Dajjal,1,Dakwah Islam,4,dan Transgender,1,Darurat Narkoba,3,Dea Anugerah,1,Deklarasi Nahdlatul Ulama,1,Deklarasi Serpong,1,Densus 88,2,Digital Media,2,Direktorat Pendidikan Madrasah,1,Dit PD Pontren Kemenag,1,DKI Jakarta,1,Doa,31,Doa Akhir Tahun,1,Doa Anak Sholeh,1,Doa Awal Tahun,1,Doa Berbuka,1,Doa dan Tirakat,1,Doa Gus Mus,1,Doa Harian,1,Doa Nabi,1,Doa Pernikahan,2,Doa Setelah Shalat,1,Doa Wudhu,1,Dosen UIN Walisongo,1,Download,1,Dr. Amin Haedari,1,DR. KH. M. A. SAHAL MAHFUDH,1,Dr. Nadirsyah Hosen,10,Dubes,1,Dzikir dan Doa,2,Dzikir Setelah Shalat,1,Editor's Choice,10,Effendi Choirie,1,Ekologi,3,Ekonomi,3,Eksekusi Mati Al-Nimr,1,English Edition,1,Esensi Syariah,1,Fadhila Haifa’ Afifah,1,Fadilah,1,Falak,1,Fardhu Wudhu,1,Fatayat NU,2,Fathoni Muhammad,1,Fatwa MUI,1,FDS,11,featured,133,Featured Arrahmah,44,Fikih,2,Fikih dan Muamalah,3,Fikih Ibadah,10,Fiqh,8,Fiqh Ibadah,1,Fiqh Qurban,6,Fiqh Shalat,3,Fiqih Lingkungan,2,Firqaf,1,Firqah,1,Firqoh,1,Fokus Khusus,1,FSN,2,Fulldayschool,4,Fundamentalis akan Habis,1,Gafatar,1,Galeri,4,Gay,1,Geluntung Agel Wafi,1,Gerakan Nasional AyoMondok,1,Gerhana,1,Gerhana Bulan,1,Gerhana Matahari,3,Gerhana Matahari Total,1,GIYE,1,Good Muslim,13,GP Ansor,8,Grand Syaikh Al-Azhar,1,Grants,1,Griya Gus Dur,1,GTK Madrasah,2,Guru Inspiratif,2,Guru Madrasah,2,Guru MAN,1,Guru Mughni,1,Guru PAI,1,Gus Ahmad Muwaffiq,1,Gus Aqib,1,Gus Dur,23,Gus Miek,1,Gus Mus,9,Gus Muwafiq,1,Gus Rizal Mumaziq,1,Gus Sholah,1,Gus Ubaidillah Achmad,1,Gus Yaqut,1,GusDur.net,1,Gusdurian,2,Habib Abu Bakar,1,Habib Lutfi,1,Habib Luthfi bin Yahya,1,Habib Novel,10,Habib Novel Alaydrus,7,Habib Salim Bin Jindan,1,Habib Sholeh Al-Hamid Tanggul,1,Habib Syech,1,Habib Umar bin Hafidz,3,Hadist,1,Hadist Jibril,1,Hadits,1,Hadits 72 Bidadari,1,Hadits Diskriminatif,1,Hafidzoh,1,Haji,7,Haji 2015,1,Haji 2017,1,Haji 2018,1,Hajj,1,Halal bi Halal,3,Halaqah,1,Hamid Ahmad Masduki Baidlawi,1,Har Santri,1,Hari Arafah,2,Hari Batik Nasional,1,Hari Natal,1,Hari Pahlawan,2,Hari Santri,32,Harlah,2,Harlah NU,3,Hasan al-Bashri,1,Haul,4,Haul Gus Dur,9,Haul Kiai Sholeh Darat,2,Haul Sunan Ampel,1,Haul Sunan Bonang,1,Haul Syekh Nawawi Al-Bantani,1,Headlines,20,Hikam Zain,15,Hikmah,83,Hikmah Islam,45,Hipsi,3,Hisab,1,Hizb,1,Hizbut Tahrir,2,Hizbut Tahrir Indonesia,2,Hoax,2,Hong Kong,1,HTI,2,HTIBubar,6,Hubbul Wathan minal Iman,1,Hukum Islam mengenai LGBT,1,Hukum Melangkahi Kuburan,1,Hukum Membunuh,1,Hukum Membunuh dalam Islam,1,Hukum Ucapan Natal,1,Humor,3,HUT TNI,1,Hymne,1,I-Banking,1,Ibadah,4,Ibn Muljam,1,Ibn Yaqzan,1,Ibu Nabi Muhammad,1,Ibunda Nabi Muhammad,1,IDC,1,Ideologi,1,Idhul Adha,1,Idul Adha,14,Idul Fitri,7,IIEE,1,IISRO,1,Ijazah,6,Ijtihad,1,Ikhbar,42,Ilmu Kalam,1,Image,1,Imam al-Syafi’i,1,Imam Ghazali,1,Imam Malik,1,Imam Muslim,1,Imam Nawawi,1,Imlek,1,INC,2,Indonesia Darurat Narkoba,1,Info Haji,2,Inspirasi,11,Inspirasi Pesantren,2,Interfaith,3,Internasional,98,International,3,International Islamic School Robot Olympiad,1,International Peace Day,1,Internet Banking,1,IPNU,1,IPPNU,1,Iqbal Khalidi,3,Iqbal Kholidi,1,Iran,1,ISIS,11,Islah Gusmian,1,Islam,16,Islam dan Perdamaian,1,Islam Di China,3,Islam di Papua,1,Islam Indonesia,3,Islam Nusantara,28,Islam Nusantara Center,1,Islam Papua,1,Islam Radikal,1,Islamic Event,1,Islamic State,1,Isra' Mi'raj,1,Istighosah Kubro,1,Istikharah,1,Ito Surmardi,1,JAD,1,Jakarta,4,Jamiyatun Nasihin,1,Jasad Utuh,1,Jawa Barat,3,Jawa Tengah,7,Jawa Timur,4,Jazirah Arab,1,JIhad,3,Jihad fi Sabilillah,1,Jokowi,5,Jonru,1,Jurnalistik,1,K.H. Ahmad Umar Abdul Manan,1,Kabar Duka,1,Kabar Pesantren,5,Kabar Pesantrens,1,Kajian Islam,18,Kajian Ramadhan,1,Kalam Ulama,4,Kalender,2,Kalender Islam,2,Kalimah Syahadat,1,Kalis Mardiasih,1,Kampung Damai,1,Kampus,1,Kekerasan,1,Kemenag,3,Kementerian Agama,1,Kementerian Agama RI,3,Keraton Sumenep,1,Kesehatan,4,Ketua PBNU,1,Ketum PBNU,1,Ketupat,1,Keutamaan Bulan Rajab,1,Keutamaan Shalat Tarawih,16,Keutamaan Shalawat Nabi,2,Keutamaan Tarawih,1,KH A Ghazalie Masroeri,1,KH Abdurrahman Wahid,5,KH MA Sahal Mahfudh,2,KH Maemon Zubair,1,KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh,1,KH Sahal Mahfudh,3,KH Said Aqil Siraj,1,KH Wahab Hasbullah,1,KH. Abdul Aziz Manshuri,1,KH. Abdul Ghoffar Rozien,1,KH. Abdul Karim,1,KH. Abdul Muhaimin,1,KH. Abdurrahman Wahid,1,KH. Ali M. Abdillah,1,KH. Bisri Mustofa,1,KH. Cep Herry Syarifuddin,3,KH. Hasyim Asy'ari,1,KH. Hasyim Asyari,3,KH. Husein Muhammad,2,KH. Iftah Sidiq,1,KH. Lukman Harits Dimyati,1,KH. Ma'ruf Amin,2,KH. Maimoen Zubair,11,KH. Marzuqi Dahlan,1,KH. Masdar F. Mas'udi,2,KH. Mustofa Bisri,2,KH. Said Aqil Siraj,5,KH. Sholeh Darat,8,KH. Thobary Syadzily,1,KH. Tubagus Muhammad Falak,1,KH. Yahya Cholil Staquf,3,KH. Zainal Mustafa,2,KH. Zakky Mubarok,2,KH.Shalih Darat,1,Khanza Iliyina Syafa,1,Khawarij,1,Khazanah,3,Khazanah Isam,7,Khazanah Islam,379,Khilafah Islamiyah,5,Khofifah Indar Parawansa,1,Khoirul Anam,2,Khulafaur Rasyidin,1,Khutbah,4,Khutbah Idul Fitri,2,Khutbah Jumat,1,Kiai Abdul Hamid,1,Kiai Hasan Genggong,1,Kiat Menulis,1,Kiddle,1,Kilas,1,Kirab Santri,1,Kisah Hikmah,16,Kisah Nabi,1,Kisah Rasulullah,1,Kisah Teladan,1,Kita Tidak takut,1,Kitab Durrotun Nasihin,1,Kitab Jawahirul Bukhori,1,Kitab Kuning,5,Kitab Pegon,1,Kitab Suci,1,Kokam,1,Kolom,96,Komedi Religi,1,Kominfo,1,Konferwil NU Jabar,1,Konflik Sunni-Syiah,1,Kongkow Sufi,3,Konsultasi Agama,1,Konsultasi Islam,1,Kontra Radikal-Terorisme,1,KPAI,1,KPK,1,Kreatif Indonesia,1,Kriminal,1,Krisis Jerusalem,2,Krisis Rohingya,7,KUPI,1,Kurban,7,Kyai Maimoen Zubair,1,Kyai Masdar,1,Kyai Pahlawanku,1,Kyai Pesantren,1,Lailatul Qadr,1,Lambang NU,1,Lapan-A2,1,Laporan,1,Lazisnu,1,Le Petit Prince,1,Lebaran,1,Lebaran Ketupat,1,Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama,2,Lesbian,1,Letter of Acceptance,1,LFNU,1,LGBT,2,Liberalisme,1,Life of Mohammed,3,Life of Muhammad,2,Liga Santri,2,Liga Santri Nusantara,3,Lingkungan,1,LIPI,1,Litbang Kemenag,1,Literasi,7,Literasi Digital,3,LoA,1,Logo Muktamar NU ke-33,1,Logo NU,1,Love Peace,1,LPDP,1,LSN,5,LSN 2017,3,LTN NU,3,Lukman Hakim Saifuddin,3,Lunar System,1,M. Kholid Syeirazi,1,M. Nur Kholis Setiawan,1,M. Rikza Chamami,13,M. Rikza Khamami,1,Ma'arif NU,2,Madrasah,24,Madrasah Diniyah,5,Madrasah Lebih Baik,2,Madrasah TBS,1,Mahasiswa,2,Mahbub Ma'afi,2,Mainstream Media,1,Majelis Dzikir,1,Majelis Shalawat,1,Makalah,3,Makam Gus Dur,1,Makam Nabi,1,Makam Nabi Muhammad SAW,1,Makam Rasulullah,1,Makam Sunan Bonang,1,Makkah,1,Maklumat,3,Makna Bismillah,1,Makna Logo Muktamar NU ke-33,1,Malik bin Anas,1,Mama Falak,1,MAN IC,1,Manhaj Salafi Imam Syafi’i,1,Manhaji,1,Manusia Robot Bali,1,Mars,1,Masjid,1,Masjid Zhenjiao,1,Masjidid Haram,1,Masjidil Haram,1,Maturidiyyah,1,Maulid,4,Maulid Burdah,1,Maulid dalam Islam,1,Maulid Nabi,7,Maulid Nabi Muhammad SAW,3,Mbah Maimoen Zubair,2,Mbah Moen Sarang,2,Mbah Mun,1,Mbah Sahal,1,Mbah Sholeh Darat,1,MCA,1,Media,2,Media Sosial,1,Media Watch,1,Mehmet Gormez,1,Melangkahi Kuburan,1,Meme,1,Meme Islami,1,Menag,2,Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia,1,Mengenal Jejak Mengenal Watak,1,Menristek,1,Menulis,1,Merayakan Maulid,1,Milad,1,Minal Aidin Wal Faizin,1,Minhajul 'Abidin,5,Moment,1,MTs Surya Buana Malang,1,MTsN 2 Pamulang,1,MTT,1,Mualaf,2,Mudik Lebaran,1,Muhammad,2,Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab,2,Muhammad Nasir,1,Muhammad Niam,1,Muhammad PBUH,1,Muhammad SAW,3,Muhammad Tijany,1,Muharram,2,MUI,1,Mujaheeden,1,Mujahidin Palestina,1,Mukiyah,1,Mukjizat,2,Muktamar NU,1,Muktamar NU ke 33,2,Munas-Konbes NU,20,Munawir Aziz,1,Muntaha Azhari,1,Museum Keraton Sumenep,1,Muslim Hong Kong,1,Muslim Kagetan,1,Muslim Papua,1,Muslimat NU,2,Nabi dan Rasul,1,Nabi Ibrahim,1,Nabi Muhammad,2,Nabi Muhammad SAW,6,Nadirsyah Hosen,6,Nadlatul Ulama,2,Nahdatul Ulama,18,Nahdlatul Ulama,157,Nahdlatul Ulamata,1,Name of Allah,1,Narkoba,3,Nasehat,8,Nasihat,1,Nasional,412,Nasionalisme,1,Natal,1,Natal 2015,1,Natal dan Maulid,1,Netizen Jurnalistik,1,New,1,News,677,News Ikhbar,2,News IPPNU,1,News Pictures,17,Ngaji Live,1,Ngaji Puasa,27,Ngaji Ramadan,8,Ngaji Ramadhan,20,Ngaji Video,1,Niat Puasa,1,Nishfu Sya'ban,1,NKRI,1,NKRI Harga Mati,3,NU,7,NU ANZ,1,NU Batang,1,NU Bogor,13,NU Care,2,NU Care LazisNU,2,NU Garis Lurus,1,NU Jabar,2,NU Jatim,1,NU Klaten,1,NU Semarang,1,NUCare,4,NUPeduli,1,Nur Kholik Ridwan,1,Nur Rofiah,1,Olimpiade Kedokteran,1,Opini,283,Opinion,1,Opnion,1,Orbituari,2,Pagar Nusa,13,PAI,2,Palestina,2,Palestine,1,Palestine Mujaheeden,1,Papua,1,Parenting,1,PBNU,8,PBSB,3,PBSB 2016,1,Peace,1,Peduli Bencana,2,Pelajar NU,1,Pendaftaran PBSB 2016,1,Pendididkan Islam,18,Pendidika Islam,1,Pendidika Islam,1,Pendidikan,171,Pendidikan Agama,1,Pendidikan Islam,158,Pendidikan Karakter,2,Pendidikan Madrasah,5,Pendidikan Politik,3,Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam,1,Pendidikn Karakter,1,Pendis Kemenag,2,Penggrebekan di Jepara,1,Pengobatan Islami,1,Penjajahan,1,Pentas PAI,1,Penulis,1,Perang,1,Perang Badar,1,Perang Uhud,1,Perguruan Tinggi NU,1,Perkemahan Rohis,1,Perppu Ormas,2,Perpres,1,Perpu Ormas,1,Perwimanas,2,Pesan Kiai,1,Pesantren,70,Pesantren Assalafiyah Cirebon. Assalafiyah,1,Pesantren Ibnu Mas'ud,1,Pesantren Lirboyo,2,Pesantren Mahasiswa,1,Pesantren Salaf,1,Photo,1,Pilihan Editor,105,Pilkada,1,Pilkada 2017,1,Pilkada DKI,1,Pilkada Jatim,1,Ploso,1,PMII,3,Polemik Sejarah Tere Liye,1,Politik,13,Ponorogo,1,Ponpes Al-Anwar,1,Pontianak,1,PPMN III,1,Pra Munas,4,Pramuka,1,Prof. Dr. Ahmad Tayyeb,1,Prof. Dr. Quraish Shihab,3,Profil,3,PTKI,1,Puasa Arafah,1,Puasa Ramadhan,1,Puisi,12,Pustaka,10,Pustaka Pesantren,8,Qawli,1,Qunut Nazilah,1,Quote,1,Qurban,5,Radicalism,1,Radikalisme,10,Rajab,1,Ramadan,2,Ramadhab,1,Ramadhan,72,Ramadhan 2015,12,Ramadhan 2016,2,Ramadhan di Hong Kong,1,Ramadhan Video,25,Rasis,1,Rasullah,1,Rasulullah SAW,6,Recommended,2,Refleksi Akhir Tahun,1,Release,2,Release PBNU,1,Religion,2,Remaja Islam,1,Resolusi Jihad,2,Resolusi Jihad NU,1,Rezeki Halal,1,Rijal Mumazziq Z,1,Risalah NU,1,RMI NU,4,Robikin Emhas,1,Robot,1,Rohingya,11,Rokok,2,Rubbubiyah,1,Ruchman Basori,2,Rukun Islam,1,Sahabat,1,Sahabat Nabi,2,Sahih Muslim,1,Said Budairy,1,Saifuddin Zuhri,1,Saifullah Ma'shum,1,Sajak,2,Salafi,2,Salam,1,Sanad Keilmuan,1,Santri,6,Santri Goes To Papua,3,Santri Menulis,1,Santri Urban,1,Sarkub Papua,1,Sastra Islam,11,Satelit,1,Satelit Indonesia,1,Save Rohingya,6,Sayembara Logo Muktamar NU ke-33,1,Science,5,Sedekah,3,Sejarah,5,Sejarah Al-Qur'an,1,Sejarah Indonesia,2,Sejarah Islam,1,Sejarah NU,2,Sekolah Lima Hari,1,Seni dan Sastra Islam,12,Seri Belajar Islam,8,Seri KH. Said Aqil Siraj,1,Seri Tokoh,1,SGTP,1,Shahih Muslim,1,Shaikh Nimr Baqir al-Nimr,1,Shalat,18,Shalat Gerhana,3,Shalat Idul Adha,1,Shalat Istiqa,1,Shalat Jum'at,6,Shalat Sunah,1,Shalat Sunnah,3,Shalat Tarawih,15,Shalawa Nabi,1,Shalawat,2,Shalawat Nabi,4,Shalawat Nabi Muhammad SAW,2,Shalawat Nariyah,3,Sholat Tarawih,1,Sholawat,1,Sholeh Darat,1,Short Course,1,Sifat Mulia Rasulullah SAW,1,Silsilah Nabi Muhammad SAW,1,Silsilah Rasulullah,1,Sindikasi Damai,15,Sindikasi Media,1,Singaparna,1,Sinopsis,1,Sirah Nabawiyah,2,Sirah Nabi,2,Siswa Berprestasi,1,Slamet Basyid,1,solar system,1,Solidaritas,1,Sponsored,2,Suara NU,1,Sudut Pandang,1,Sudut Taman Ramadhan,7,Sufistik,1,Sumanto Al Qurtuby,9,Sumenep,1,Sunnah,2,Sunnah Rasulullah,1,Sunnah Shalat,1,SUNNI,1,Sunni-Shia,1,Sunni-Syiah,1,Suraji,6,Surat Edaran Gubernur Jateng,1,Surat Terbuka,3,Suriah,2,Syafa'at Rasulullah,1,Syafaat Nabi,1,Syahid,1,Syahrozad Zalfa Nadia,1,Syaikhona Kholil Bangkalan,1,Syarat Wajib Zakat,1,Syariah,2,Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani,1,Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany,1,Syekh Abdul Qadir Al-Jailani,1,Syekh Dr. Muhammad Fadhil,1,SYIAH,3,Tafsir,1,Tafsir Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani,1,Tahlilan,2,Tahun Baru 2016,1,Tahun Baru Islam,2,Tahun Baru Masehi,1,Tanah Suci,1,Tarawih,21,Tasawuf,3,Tawan,1,Tawariq,1,Tayyip Erdogan,1,Tebuireng,6,Tekno,20,Teladan,1,Teladan Nabi,3,Teologi Teror,1,Teraweeh,1,Tere Liye,1,Teror,1,Teror 2016,1,Teror Jakarta,1,Teror Sarinah,1,Teror Thamrin,1,Teroris,4,Terorism,10,Terorisme,25,Tionghoa,1,Tips and Trick,2,Tokoh,86,Tokoh Betawi,1,Tokoh Bogor,1,Tokoh Dunia,3,Tokoh Indonesia,19,Tokoh Islam,114,Tokoh Kemerdekaan,2,Tokoh Muda Islam,25,Tokoh NU,17,Tokoh NU Bogor,1,Tokoh NU Jabar,1,Tokoh Perempuan,1,Tokoh PMII,1,Tokoh Rembang,1,Tokoh Syiah,1,Tolak FDS,12,Toleransi,5,Tradisi,2,Tragedi Crane di Masjidil Haram,1,Trend Sosial,2,Tuah Pesantren,1,Tulisan Arab,1,Tuntunan Islam,1,Turats,1,Turki,1,TurnBackHoax,4,Tutorial,1,TV9,1,Ubaidillah Achmad,23,Ubaidillah Ahmad,1,Ucapan Minal Aidin Wal Faizin,1,Ucapat Selamat Natal,1,Udhiyah,1,Uhud,1,Ulama,11,Ulama Bogor,1,Ulama Indonesia,1,Ulama NU,3,Ulama Nusantara,1,Ulama Perempuan,1,Ulama Salaf,1,Uluhiyah,1,UNU,2,Ustad Ahmad Ikrom,1,Ustadz,1,Ustadz Ahmad Ali MD,2,Ustadz Ali MD,1,Ustadz Fathuri,24,Ustadz Fatoni Muhammad,1,Ustadz Lc,1,Ustadz Ma'ruf Khozin,3,Ustadz Menjawab,5,Ustadz Yusuf Mukhtar Sidayu,1,Ustadz Yusuf Suharto,1,Uswah,3,Uswatuna,3,UU Ormas,1,Video,5,Vinanda Febriani,7,VoA-Islam,1,Wahabi,4,Wahabism,2,Wahabisme,2,Wahid Foundation,6,Wali Pasemone,1,Wali Songo,2,Walisongo,5,Waliyullah,1,Wardi Taufik,1,Wawasan,79,Wawasan Islam,54,Wawasan Kebangsaan,12,Wawasan Nusantara,43,Website Islam Indonesia,1,Website Islam Nusantara,1,Wirid dan Doa,2,Wirid dan Doa Setelah Shalat,1,Women and Jihad,1,Women Fighter,1,World Peace,1,Wudhu,3,Yahya Staquf,1,Yasin,1,Yayasan Saifuddin Zuhri,1,Yenny Wahid,3,Yogyakarta,8,Z-Featured,3,Zainal Mustafa,1,Zakat,4,Zakat Fitrah,2,Zakir Naik,1,Zakky Zulhazmi,2,ZIarah,4,Ziarah Kubur,2,Zikir,1,Zuhairi Misrawi,1,Zulkilfi Hasan,1,خطبة كسوف الشمس,1,
ltr
item
Arrahmah.co.id - Portal Dunia Islam: Merindukan Gus Dur: Membangun Kepribadian Bangsa dan Relasi Agama-Negara
Merindukan Gus Dur: Membangun Kepribadian Bangsa dan Relasi Agama-Negara
Sebelum menyampaikan hasil pembacaan hermeneutika terhadap pemikiran Gus Dur, perlu ditegaskan alasan perlunya kajian ini. Perlunya kajian terhadap pemikiran Gus Dur, karena kehadiran Gus Dur sangat penting dalam memberikan pencerahan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.
http://farm6.staticflickr.com/5552/31246467701_baffa9f9c5_b.jpg
Arrahmah.co.id - Portal Dunia Islam
https://www.arrahmah.co.id/2016/12/merindukan-gus-dur-membangun.html
https://www.arrahmah.co.id/
https://www.arrahmah.co.id/
https://www.arrahmah.co.id/2016/12/merindukan-gus-dur-membangun.html
true
766049156261097024
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content