Headlines
Loading...
Keutamaan Bershalawat Kepada Nabi oleh Syekh Idrus al-Buthoni dalam Kitab Misbah Al-Raajin

Keutamaan Bershalawat Kepada Nabi oleh Syekh Idrus al-Buthoni dalam Kitab Misbah Al-Raajin

Kesultanan Buton. Photo: Wikipedia
Oleh: Mohammad Khoiron

مصباح الراجين في ذكر الصلاة والسلام على النبي شفيع المذنبين

Pendahuluan

Sebenarnya ini merupakan catatan lama, atau katakanlah review atas kitab yang saya baca. Lalu dengan beberapa pertimbangan, catatan ini penting untuk saya angkat ke permukaan setelah melakukan diskusi virtual bersama kang Iqbal. Kebetulan diskusi yang kami bahas adalah soal kontribusi ulama Nusantara terhadap aktualisasi kecintaan kepada baginda Nabi Muhammad s.a.w. dengan bentuk ragam redaksi shalawat. 

Kemudian dari situlah saya memperkenalkan sosok Syekh Muhammad Idrus Qaimuddin al-Buthoni yang tak lain seorang raja di wilayah Buton tahun 1824 M, sekaligus seorang ulama yang cukup produktif dalam melahirkan karya tulis.

Pembahasan ini saya mulai dari kata "al-Shalah", di mana kalimat tersebut mempunyai makna yang bermacam-macam sesuai dengan siyaq al-Kalam atau padanan kalimat yang melingkupinya. Misalnya, Al-Tabari mengomentari ayat “Innalaaha wa malaaikathu yushalluna alan nabi” dengan pengertian sesungguhnya Allah memberikan rahmat kepada Nabi Muhammad s.a.w.. Lalu kemudian malaikat memintakan ampun kepada Allah atas Nabi, dilanjutkan kemudian oleh manusia sebagai ungkapan dalam bentuk doa.

Dari sini dapat dipahami bahwa “al-Shalah”  yang jikalau dijamakkan, maka akan berunah menjadi “shalawat”. Ia mempunyai peran penting dan bagian yang tak terpisahkan dari ibadah bagi kaum muslimin selaku umat Nabi Muhammad s.a.w.. Hal ini dipertegas oleh sebuah hadits: "Man shalla alayya wahidan, shallallahu alaihi asyran". Barang siapa yang berdoa kepadaku satu kali, niscaya Allah merahmatinya sepuluh kali.

Mungkin itulah yang menjadi alasan saya untuk menelaah kemudian mereview kitab “Misbahurrajin Fi Dzikris Shalah Was Salam Alan Nabi Syafi’il Mudznibin”. Sebuah kitab, yang dulunya berupa manuskrip (naskah kuno) yang ditulis oleh al-Allamah Syaikh Muhammad Idrus Qaimuddin Ibnu Badruddin al-Buthoni.

Pendekatan Tahqiq dan Filologi

Sebagaimana telah saya terangkan di atas, bahwa kitab ini sebelumnya berbentuk manuskrip yang kemudian ditahqiq oleh Dr. Nasrullah Jassam, MA. Beliau adalah salah seorang dosen di UNU dan STAINU Jakarta di bawah pengawasan Kementrian Agama RI.

Jika merujuk pada model naskah, yaitu naskah berbahasa Arab. Maka ini tak bisa dilepaskan dari pendapat yang dikemukakan oleh Prof. Nabilah Lubis (1996: 27), yaitu bentuk penelitian yang dilakukan oleh Dr. Nasrullah Jassam selaku pentahqiq adalah Tahqiq al-Nusush atau Tahqiq al-Turats yaitu penelitian terhadap karya-karya ulama klasik.

Dengan demikian, apabila dirunut pada akar genealogi sejarah Tahqiq al-Nusush atau Tahqiq al-Turats ini, akan lahir semacam hipotesis bahwa historisitas akan Tahqiq al-Nushus bermuara pada usaha para sahabat di masa Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq dalam mengumpulkan naskah al-Qur’an. Menurut Prof. Nabilah Lubis (1996:51) usaha pengumpulan al-Qur’an tidak semata dilakukan untuk mengumpulkan teks yang berserakan di beberapa pohon, pelepah kurma, dan tulang onta.

Lebih dari itu, kejelian para sahabat dalam menyalin teks sehingga terkumpul ke dalam satu mushaf juga menjadi alasan kuat dari latar belakang sejarah Tahqiq al-Nusush atau Tahqiq al-Turats sebagai bagian dari ilmu filologi.

Disadari atau tidak, khazanah peninggalan berupa naskah merupakan bagian penting dalam kajian suatu peradaban atau kebudayaan, tak terkecuali kajian keislaman. Ribuan naskah yang dihasilkan oleh suatu kebudayaan sangat disayangkan jika tidak digali lebih lanjut sebagai sumber kajian dalam mempelajari kebudayaan tersebut.

Hal ini dikarenakan pengetahuan tentang suatu kaum (peradaban) dapat dilihat dari karya yang dihasilkan oleh kaum yang bersangkutan. Sebagaimana dikutip oleh Nabilah Lubis, Prof. Baroroh Barried pun di dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Bahasa Indonesia UGM mempertegas bahwa studi filologi merupakan kunci pembuka bagi khazanah kebudayaan lama yang oleh karena itu perlu diperkenalkan kepada khalayak ramai untuk menumbuhkan minat masyarakat terhadap kebudayaan lama. Filologi merupakan satu kajian yang bertugas menelaah dan menyunting naskah untuk dapat mengetahui isinya. (Nabilah Lubis: 2007:14).

Sementara itu, gerakan tahqiq terhadap beberapa naskah kuno di Indonesia dilakukan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia untuk menjaga warisan khazanah intelektual Ulama Nusantara yang memang secara historis kaya akan hal itu. Usaha tersebut menurut direktur Pendidikan Agama dan Pondok Pesantren Kementrian Agama RI dilakukan sejak tahun 2007 M, dan terus dilakukan sampai saat ini.

Di samping karena alasan untuk menjaga warisan intelektual sebagaimana yang saya paparkan di atas, usaha pen-tahqiq-an juga untuk memberikan motivasi kepada para akademisi secara khusus dan masyarakat Indonesia secara umum untuk menumbuh-suburkan dinamika intelektual dari generasi-ke generasi.

Oleh karena itu, Studi Tahqiq sebagaimana jamak diketahui merupakan usaha dalam menyempurnakan naskah kuno dengan jalan melakukan studi ulang atas naskah, sehingga kongklusi dari usaha tersebut benar-benar sesuai  dengan apa yang diinginkan oleh si penyusun naskah. Tidak hanya itu, usaha ini juga bertujuan untuk menguatkan dan mengembangkan spirit ilmiah dalam ruang akademik.

Distingsi Kitab Misbahurrajin

Secara umum, Kitab Misbahurrajin memuat beberapa kumpulan shalawat kepada baginda Nabi Muhammad s.a.w. di mana hal itu menjadi kekhasan tersendiri dari kitab ini. Saya rasa kekhasan itulah yang kemudian menjadi alasan tersendiri bagi Dr. Nasrullah Jassam untuk melakukan tahqiq.
Di samping karena alasan sederhana di atas, ada alasan lain yang menurut saya layak untuk dipertimbangkan, yaitu bahwa Misbahurrajin merupakan satu-satunya kitab yang ditulis oleh ulama Nusantara yang khusus mengemukakan aneka ragama bentuk shalawat kepada Nabi Muhammad s.a.w.. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa kitab shalawat yang banyak ditulis dan beredar di tengah-tengah umat Islam selama ini justru berasal dari karya ulama-ulama Timur Tengah. Namun yang paling masyhur adalah Sa’adud Dzarain yang ditulis oleh Syekh Yusuf al-Nabhani.

Adapun bentuk kekhasan yang melatarbelakangi Dr. Nasrullah Jassam selaku pentahqiq sebagaimana saya ungkap di atas adalah (1) Keutaman Nabi Muhammad s.a.w. dibanding Nabi-nabi yang lain. Hal ini diperkuat oleh Firman Allah di dalam surat al-Baqarah ayat 253. “Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat”. (2) Kewajiban atas umat Nabi Muhammad s.a.w. untuk mengikutinya, hal ini ditegaskan di dalam firman Allah dalam surat al-Nisa ayat 80. “80. Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah”.
(3) kewajiban mengagungkan Rasul Muhammad s.a.w.. Hal ini dipertegas oleh temuan pentahqiq bahwa Nabi Muhammad s.a.w. sebagai seorang Rasul, Allah tidak memanggilnya dengan sebutan nama langsung, namun Allah memanggilnya lewat sebutan “Ya ayyuhar rusul atau ya ayyuhan nabi”. Sedangkan (4) Kekhusuan yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad adalah bahwa siapapun yang bershalawat, maka Allah menyampaikannya kepada beliau.

Di samping karena kekhasan sebagaimana saya ungkap di atas, alasan lain yang melatarbelakangi Dr. Nasrullah Jassam dalam mentahqiq kitab karya al-Buthoni ini adalah (1) Nilai-nilai besar yang terkandung di dalam kitab tersebut. (2) Asas manfaat yang begitu mahal. (3) Nilai-nilai besar dan manfaat yang begitu mahal tersebut akan berlimpah jika dicetak dan ditahqiq teksnnya demi menghindari kesalahan. Lebih-lebih karena buku ini memuat beberapa hadits yang belum ditakhrij dan beberapa pengetahuan soal pribadi seseorang yang belum ditulis biografinya, di samping juga ada beberapa tulisan di dalam naskah (manuskrip) yang yang tidak jelas sehingga perlu untuk diperjelas. (4) Kitab karya al-Buthoni mampu membuat hati seorang mukmin menjadi lembut lantaran bertambahnya kecintaan mereka kepada Rasul Muhammad s.a.w. dengan membaca shalawar dan pujian kepada beliau, di mana kesemuanya itu termaktub dalam kitab ini.
Substansi Kitab Misbahurrajin

Di dalam buku Misbahurrajin ada lima mabhats (pembahasan) di mana pada akhir pembahasan disajikan juga isi teahqiq kitab. Adapun kelima mabhats tersebut sebagaimana berikut:

Al-Mabhtsul Awwal, pada bab ini pentahqiq memaparkan pengertian shalawat dan syafaah. Di samping itu ia juga menjelaskan dalil-dalil, tatacara, serta keutamaan shalawat. Sedangkan dalam menjelaskan dalil-dalil shalawat, yang diprioritaskan oleh muhaqqiq adalah dari al-Qur’an dan al-Sunnah. Begitupun saat menerangkan tentang tatacara dan keutamaan shalawat kepada Nabi, sang muhaqqiq banyak mengutip landasan argumennya dengan dalil-dalil hadits Nabi Muhammad s.a.w..

Kemudian beralih kepada pembahasan syafaat, muhaaqiq juga memaparkan tentang etimologi dari syafaat itu sendiri, serta macam-macam syafaat yang melingkupinya. Menurut Syekh Muhammad Idrus al-Buthoni, sebagaimana muhaqqiq kutip, bahwasanya syafaat itu terbagi menjadi tujum macam. (1) Maqam Mahmud yang dimiliki oleh Rasul, (2) Masuknya kaum mukmini ke dalam surga tanpa hisab dan sika, (3) orang yang sudah pasti masuk neraka, namun karena syafaat itu, ia tidak jadi masuk neraka, (4) orang yang diangkat dari neraka, sepanjang di hatinya ada iman walau sebejar biji zarrah, (5) dikeluarkannya orang yang bertahid dari neraka. (6) Bertambahnya derajat para ahli surga, dan (6) diringankannya siksa neraka bagi kaum kafir.

Dari ketujuh pembagian syafaat sebagaimana dikemukakan oleh Syekh Idrus, muhaqqiq kemudian meringkasnya ke dalam dua diversifikasi, pertama adalah Syafaat Udzma yaitu syafaat yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Muhammad di padang mahsyar. Syafaat inilah yang oleh Syekh Idrus dinamakan dengan al-Maqam al-Mahmud. Kemudian selanjutnya adalah syafaat yang kedua yaitu al-Syafaah lil Mudznibin, maksudnya dalah syafaat bagi mereka yang melakukan dosa-dosa besar.

Al-Mabhats al-Tsani, pada buku Misbahurrajin ini berisi biografi Syekh Muhammad Idrus al-Buthoni. Beliau dilahirkan di desa Wuliyu atau Wulu atau Wolowa, penulis sendiri tidak bisa memastikan karena di dalam bab ini, muhaqqiq hanya menusliskan وولييو di mana desa tersebut berada di pulau Buton, sebuah pulau yang dekat dekat dengan pulau Sulawesi pada abad ke 18. Dari sini tampaknya muhaqqiq tidak punya data yang jelas mengenai tanggal, bulan, dan tahun lahir dari Syekh Idrus. Namun dari paparan muhaqqiq sendiri, bahwa syekh Idrus al-Buthani menjabat sebagai seorang sultan pada tahun 1824 M pada usia 40 tahun. Karena jabatan sultan inilah Syekh Idrus kemudian memperoleh gelar sebagai Qaimuddin atau yang mendirikan agama karena keluasan ilmu agama yang ia miliki.

Al-Mabhats al-Tsalits, berisi tentang analisis muhaqqiq atas kitab yang ditulis oleh Syekh Idrus. Pada bagian pertama muhaqqiq memastikan bahwa kitab ini bernama “Misbahurrajin Fi Dzikris Shalah Was Salam Alan Nabi Syafi’il Mudznibin” berdasarkan temuan pada mukaddimah naskah. Pada mukaddimah tersebut syekh Idrus mengatakan bahwa yang melatarbelakangi penulisannya adalah karena bermimpi bertemu Nabi Muhammad s.a.w. dan beliau bersabda kepadanya “Jika engkau menulis kitab tentang shalawat, maka namakanlah dengan Misbahurrajin”.

Kemudian pada bagian kedua muhaqqiq menerangkan bahwa keseluruhan naskah yang ditulis oleh Syekh Idrus berupa kumpulan shalawat. Inilah mengapa, pada paparan sebelumnya bahwa kitab yang berupa kumpulan shalawat umumnya ditulis oleh ulama Timur Tengah, namun setelah ditemukan naskah yang ditulis oleh Syekh Idrus, maka hipotesis terkait dominasi karya kitab kumpulan shalawat yang ditulis oleh para ulama Timur Tengah menjadi tertolak. Keunikan Syekh Idrus dalam penyusunan kitab Misbahurrajin ini terletak pada penamaannya. Di mana beliau  dituntun langsunh oleh Nabi Muhammad s.a.w.. tidak hanya itu, menurut penuturan muhaqqiq  bahwa Syekh Idrus dalam menulis naskah tersebut memakai khat naskhi yang hingga manuskrip tersebut ditahqiq, tulisan tersebut masih utuh dan tidak hilang sedikitpun.

Al-Mabhats al-Rabi’, berisi tentang metode yang dipakai oleh muhaqqiq dalam mentahqiq naskah karya Syekh Idrus al-Buthoni. Adapun langkah-langkah yang dilakukan oleh Muhaqqiq adalah:
1. Menulis kembali naskah tersebut dengan menggunakan kaedah penulisan kontemporer.
2. Menyandingkan beberapa kalimat di dalam naskah supaya maknanya utuh dengan menambah tanda (....) untuk keterangan dalam bentuk Hamisy (memberikan keterangan) yang dikemukakan muhaqqi sendiri.
3. Menelaah kembali ayat-ayat al-Qur’an yang ada di naskah.
4. Mentakhrij hadits yang tertuang di dalam naskah.
Mengulas informasi yang tidak masyhur dan tempat-tempat yang asing.
5. Mengulas kembali apa yang perlu diulas di mana hal itu oleh sang muhaqqiq ditempatkan di Hamisy dengan merujuk pada kamus-kamus bahasa.
6. Menempatkan rujukan-rujukan pada akhir nash.
Menempatkan alamat persoalan yang dianggap penting sebagai perhatian bagi pembaca
7. Menetapkan tanda-tanda berupa nomor yang lazim untuk memperterang nash dengan tanda baca (...)

Al-Mabhats al-Khamis’, bagian ini merupakan tambahan dari penulis, dan pada bab ini berisi naskah hasil tahqiq yang telah ditulis ulang oleh komputer di mana pada bab ini merupakan kumpulan dari bermacam-macam shalawat yang telah ditulis oleh Syekh Idrus al-Buthoni. Untuk mempertegas pengetahuan kita terhadap kitab Misbahurrajin, para pembaca yang budiman bisa langsung membaca kitabnya langsung.

Penutup
Pada dasarnya kitab Mishbahurrajin merupakan buku yang berkisah tentang keutamaan bershalawat kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang ditulis oleh Syekh Muhammad Idrus al-Buthani yang tidak lain merupakan salah seorang ulama sekaligus waliyullah di daerah Sulawesi. Dari review yang telah saya paparkan di atas dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya shalawat kepada Nabi s.a.w. merupakan keharusan bagi setiap umat Islam, mengingat hal tersebut akan menjadi syafaat kelak pada hari kiamat. Wallahu A'lam...

0 Comments:

Cloud Hosting Indonesia