Billboard Ads

Camp Pelatihan Jihadis ISIS
Camp Pelatihan Jihadis ISIS
ARRAHMAH.CO.ID - Abu Bakar Ba’asyir pernah menganalogikan status Suriah seperti Afghanistan sebagai “kampus jihad”. Suriah dipandang sebagai medan yang legitimate untuk berjihad.

Saat perang Afghanistan pada tahun 1980-an, ada sekitar 1.000 warga negara Indonesia (WNI) meninggalkan Tanah Air berpartisipasi dalam perang tersebut. Jumlahnya memang lebih banyak dibanding jihadis yang berangkat ke Suriah. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, ada 500 WNI yang berangkat ke Suriah, mayoritas bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Peneliti terorisme Sidney Jones dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) menyatakan, tak lebih dari 500 orang. Data yang paling akurat dari Densus: ada 127 WNI yang diketahui berada di Suriah sebagai “mujahidin”. Tapi, memang, mayoritas diduga kuat bergabung ISIS, sebagaimana dilansir deutche welle.

Dalam sejarah perang Afghanistan, saat perang mereda para jihadis ini kembali ke negaranya masing-masing. Ironisnya mereka tetap membawa doktrin dan “semangat perang”, kemudian terlibat aksi terorisme. Di Indonesia, contoh paling dahsyat adalah kasus Bom Bali tahun 2002.

Berkaca dari itu, banyak kalangan mengkhawatirkan bagaimana dengan WNI yang kini “berjihad” di Suriah seandainya mereka ini nanti kembali ke Tanah Air?

Jika dicermati, antara mereka yang dulu pergi ke Afghanistan dan yang kini ke Suriah bergabung dengan ISIS memang dilatarbelakangi oleh motivasi yang sama: “Perang Suci”. Namun, sesungguhnya ada perbedaan antara keduanya. Mereka yang bersama ISIS sejatinya tak berniat kembali ke Indonesia. Ini bisa dilihat dari ketika bergabung ke ISIS, mereka membawa serta keluarganya, termasuk anak-anak. Dari sana mereka justru mendorong WNI yang lain untuk “hijrah” ke Suriah.

Namun, kekhawatiran banyak kalangan di Tanah Air tentang kemungkinan kembalinya jihadis dari Suriah bisa dimaklumi dan masih dalam batas wajar. Terlebih Kepala BNPT Suhardi Alius belum lama ini menuturkan, ratusan WNI yang berada di Suriah dan bergabung ISIS kini mulai kembali ke Tanah Air. Karena ISIS mulai tergerus di Suriah. Kepulangan mereka dikhawatirkan akan membawa paham radikalisme (Kompas, 15 September).

Andaikata para jihadis dari Suriah itu mulai kembali ke Tanah Air, itu artinya mereka telah terpapar ideologi ekstremis. Sekalipun mereka statusnya “membelot” atau kabur dari barisan ISIS karena berbagai alasan. Seperti kecewa dengan keadaan di sana atau tidak sesuai dengan imajinasi jihad yang mereka bayangkan.

Di beberapa negara, seperti Australia, Inggris, dan Amerika, mereka yang kembali dari Suriah dan terbukti pernah terlibat kegiatan kelompok ekstremis di sana akan diadili oleh aparat penegak hukum di negaranya masing-masing. Kehadiran mereka berpotensi menjadi ancaman keamanan nasional.

Sekali lagi, jika berita bahwa para jihadis Suriah mulai kembali ke Tanah Air itu benar, aparat diharapkan tak hanya terpaku pada mereka yang bergabung ISIS, tapi juga kelompok yang lain. Sebagai contoh, Jabhat Nusrah yang belakangan memisahkan diri dari al-Qaidah. Jabhat Nusrah adalah kelompok peringkat kedua setelah ISIS yang banyak merekrut jihadis asing, termasuk dari Indonesia.

Bisa saja “perceraian” Jabhat Nusrah dengan al-Qaidah ini menimbulkan kekecewaan anggotanya, sehingga membuat mereka memutuskan kembali ke negaranya.

ISIS dan Jabhat Nusrah ibarat dua wajah dalam koin yang sama: terorisme. Siapa pun yang pernah terhubung dengan salah satunya berpotensi besar menjadi teroris di kemudian hari, seperti alumnus Afghanistan.

Di Indonesia, dampak perang Afghanistan baru dirasakan setelah peperangan usai, bahkan beberapa tahun sesudahnya. Sementara perang Suriah, meski belum usai, dampaknya sudah terasa di Indonesia, seperti aksi-aksi terorisme yang dilakukan pengikut ISIS seperti teror di Thamrin Jakarta dan yang mutakhir upaya penikaman pastor di Medan.

Maka, isu kembalinya jihadis dari Suriah ke Tanah Air, jika itu benar, adalah tantangan baru bagi aparat dalam penanggulangan ancaman terorisme Indonesia ke depan. Sebab, jika eks-jihadis yang kembali dari Suriah ini memiliki pengalaman tempur, komitmen ideologi yang mendalam, kontak dengan jihadis internasional, mereka bisa menyegarkan kembali gerakan ekstremis di Indonesia.

Oleh: Iqbal Khalidi

Sumber: Geotimes.co.id
Editor: Ibn Yaqzan