Billboard Ads

Grand Opening : Gebyar Hari Santri Nasional Kota Bekasi
Grand Opening : Gebyar Hari Santri Nasional Kota Bekasi

Bedah Buku Kebangkitan Santri Cendekia
Bedah Buku Kebangkitan Santri Cendekia
ARRAHMAH.CO.ID - Zainul Milal : Hubungan antara Hari Pahlawan Nasional dan Hari Santri Nasional

Bekasi adalah salah satu tempat perlawanan pejuang santri dengan KH Noer Ali yang menjadi tokoh utamanya. Ia mengkader dan menggerakkan pasukan santri melawan para penjajah. dan Cibarusa adalah titik penting dari perlawanan ini.

Perjuangan santri tidak serta merta muncul begitu saja, tapi melewati sejarah panjang dan puncaknya adalah fatwa jihad yang dikenal dengan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober.

Terkait ini, penulis buku “Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad”, Zainul Milal Bezawie, mengatakan “Saya memahami resolusi jihad sebagai kristalisasi perjuangan bangsa Indonesia, para ulama dalam menegakkan negeri ini.” Ujarnya.

“Jadi Resolusi Jihad ditetapkan tanggal 22 Oktober, tapi pengkodisiannya telah lama sekali.” Katanya.

Milal berpendapat  “Saya melihat, fatwa ini menggunakan kata "resolusi", bukan langsung "jihad" . itu artinya NU sangat menghargai buah negara Indonesia yang harus diperjuangkan. oleh karena itu, Resolusi Jihad digunakan untuk memompa semangat seluruh bangsa Indonesia, melakukan perlawanan kepada pihak sekutu yang ingin menggagalkan negara yang baru didirikan.” Katanya dengan tegas.

Hal itu disampaikan Milal dalam bedah bukunya di acara “Grand Opening : Gebyar Hari Santri Nasional Kota Bekasi” dengan tema: “Khidmat Santri Untuk Negeri”, Sabtu, 15 Oktober 2016 di Islamic Center Kh Noer Ali Kota Bekasi.

Ia melanjutkan “Hal penting yang ingin saya sampaikan adalah ada hubungan yang sangat penting, antara resolusi Jihad dengan Hari Pahlawan Nasional. Perlawanan 10 November tidak akan terjadi tanpa didahului oleh Resolusi Jihad 22 Oktober yang menggerakkan perlawanan jihad."

Jadi kenapa Soekarna-Hatta saat itu membutuhkan penguatan dari sosok ulama saat itu. Karena saat Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan , tidak ada tentara atau kekuatan militer di belakangnya.

Pria yang juga menulis buku “Masterpiece Islam Nusantara, Sanad dan Jejaring Ulama-Santri” ini berpendapat bahwa saat itu satu-satunya kekuatan militer yang tidak dibubarkan oleh Jepang adalah Laskar Hizbullah. Pasukan yang terdiri dari rakyat dan santri tanpa dipersenjatai.
“Dan Bekasi, tepat Cibarusa adalah tempat dimana para Laskar Hizbullah ditempa dan dilatih. Dimana kekuatannya hampir mencapai 50.000 laskar santri saat itu.” Tandasnya.

Wasekjen PBNU : Tidak ada 10 November, Tanpa ada 22 Oktober

Dalam bedah buku ini, hadir sebagai pembanding adalah Adung A Rochman (Sekjen PP- GP Ansor), Dr. KH. Zamakhsari Abdul Majid  (Ketua PCNU Kota Bekasi). Dan Sebelumnya disambut oleh Wakil Wali Kota Bekasi, Ahmad Syaikhu, Ketua Forum Komunikasi Podok Pesntren (FKPP), KH. Aiz Muhajirin. Dan Wasekjen PBNU, Imam Pitudu.

Adung A. Rochman,  mengapresiasi karya sejarah yang beda dengan buku kebanyakan ini.

Ia menemukan beberapa fakta yang hanya ditemukan dalam buku ini. Salah satunya adalah Cak Ashari, seorang penyobek warna biru dari bendera belandan itu. Ia adalah seorang santri, seorang Banser, dari Surabaya.

Adung juga memberika catatan positif dari buku ini. Ia mengatakan “buku ini menulis sejarah yang panjang. Menggambarkan kenegarawanan para Kiai kita dalam membela dan membentuk kedaulatan Indonesia dan menyatukan negara bangsa.”

“Buku ini mengangkat martabat ulama dan santri. Karena mempunyai saham besar dalam bangsa ini, “ pungkasnya.

Sedangkan Ketua FKPP, Aiz Muhajjirin menyampaikan bahwa acara yang diselenggarakan dari kerjasama antara FAKPP, PCNU DAN Pemerintah kota Bekasi ini berupaya untuk meneladani perjuangan pahlawan santri. Dan memberikan motivasi, khususnya para santri di Bekasi untuk membangun Bekasi.

Ia mengatakan "bagaimana kita sebagai masyarakat yang notabene sebagai santri kita khidmad, kita mampu mengisi pembangunan, kemerdekaan di negeri ini tanpa pamrih.”

Dan Santri harus turut serta dalam pembangunan ini.
“Khidmat sebagai santri adalah bagaimana kita membangun Bekasi tanpa pamrih, itulah Santri. Itulah sejatinya Santri” ujarnya.

Sementara itu, Wasekjen PBNU, menujukan pernyataannya untuk pemerintah. Bahwa pengakuan pemerintah atas peran santri itu penting. “Wajib bagi pemerintah untuk menyemarakkan hari santri ini. Pemerintah harus turun tangan. Karena keppresnya sudah jelas” tuturnya.

"Jangan hanya memaknai hari santri berdiri sendiri. Hari Santri ini adalah harinya bangsa Indonesia. Siapapun yang menghormati para ulama dan menjaga tradisi Islam di Nusantara, ia bisa merayakan hari santri,” tandasnya.

Di akhir sambutannya ia menyatakan “Hari Santri mempunyai relasi yang panjang pada 10 November. Tidak ada 10 November, tanpa 22 Oktober”.

Acara pembukaan Hari Santri Nasional Kota Bekasi ini dihadiri oleh ratusan tamu undangan. Berasal dari organisasi banom NU, mahasiswa, dan masyarakat luas.

Kontributor: Adit-Wibisono-Abidin
Editor: Cep Suryana