Billboard Ads

Nusron Wahid. Photo: Akun Twitter Nusron Wahid
Nusron Wahid. Photo: Akun Twitter Nusron Wahid
TOKOH, ARRAHMAH.CO.ID - Nama Nusron Wahid mencuat menyusul pernyataan yang mengkritik MUI dalam sebuah acara di televisi beberapa waktu lalu. Banyak yang mengecam Nusron karena dianggap terlalu membela Ahok, namun tak sedikit rekannya yang membela.

Indra J. Piliang, pengamat politik yang juga Ketua Umum Studi Klub Sejarah (SKS) Universitas Indonesia 1993-1994 membuat tulisan khusus untuk Nusron Wahid. Indra mengenal Nusron jauh ketika keduanya masih duduk dibangku kuliah. Berikut tulisan Indra yang berjudul, "Ada Apa dengan Nusron Wahid Kauman?"

Ketika saya memutuskan untuk melantik anggota baru Studi Klub Sejarah (SKS) Universitas Indonesia pada tahun 1994, nama Nusron Wahid terdapat dalam catatan harian saya. Begini bunyinya:

***

Sabtu, 18 Juni 1994

Pagi melantik Angkatan 1993 sebagai anggota SKS. Hanya 11 orang. Hanya 3 orang yang menonjol: Nusron Wahid, Dadang Budiana dan Dede Suryadi. Dalam membicarakan masalah struktur, terjadi perbedaan pendapat tentang fungsi dan kedudukan Sekum, terutama antara Pris dan Nusron. Akhirnya tercapai kesepakatan bahwa Sekum lebih tinggi dari Ketua I dan Ketua II.

Selain aku, yang bicara adalah Mas Luthfi, Abdurahman dan Firdaus. Mustafa Kamal dan Agus juga datang.
“Mudah-mudahan ada perubahan dalam tubuh SKS,” kata Kamal.

***


Sampai Angkatan 1993 menyelesaikan kuliahnya, ketiga nama itu memang menonjol. Dede Suryadi, misalnya, menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra UI, Pristianto (Angkatan 1992) menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakuktas Sastra UI, dan Dadang Budiana menggantikanku di SKS UI.

Tak lama setelah itu, aku terpilih sebagai Sekretaris Umum Senat Mahasiswa Fakultas Sastra UI dengan Ketua Umum Mustafa Kamal (sekarang menjadi Sekretaris Jenderal DPP Partai Keadilan Sejahtera) periode 1994-1995.

Aku memang menulis catatan harian sepanjang tahun 1991 hingga 1998. Banyak sekali nama aktivis pergerakan mahasiswa yang tercatat, termasuk Fadli Zon, Fahri Hamzah, Anies Baswedan, Chandra M Hamzah, dan ratusan nama lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tahun 1996, misalnya, aku mendirikan Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) bersama Ubaidillah Badrun (IKIP Jakarta), Hengki (Univ 17 Agustus), Danar (Univ Moestopo Beragama), dan lain-lain. FKSMJ menjadi salah satu elemen aksi mahasiswa 1998 dibawah pimpinan Sarbini, walau sebagian yang lain ikut bergabung bersama Forum Kota.


Dan di dalam lembaran-lembaran itu terdapat nama Nusron Wahid Kauman. Aku tidak tahu, kapan terakhir kali Nusron Wahid menghapus nama Kauman dari nama yang ia pilih ketika menulis. Puluhan artikel yang ia tulis dalam Majalah Suara Mahasiswa UI mencatatkan nama Nusron Wahid Kauman atau Nusron W Kauman itu. Saya tidak pernah membaca, mendengar ataupun menyaksikan Nusron Wahid (Kauman) ini menggunakan nama Purnomo.

Di mataku, Nusron lebih mirip dengan Emha Ainun Nadjib muda, ketimbang nama yang ia sebut sangat ia kagumi, yakni Abdurrahman Wahid, ketika menulis. Pikiran-pikiran yang ia taburkan, tekstur dan alur tulisannya, terasa sekali berbau Emhanian, ketimbang Gusdurian.

Dua orang yang setahu saya menjadi mentor Nusron di Majalah Suara Mahasiswa UI adalah Ihsan Abdussalam (Sastra Indonesia) dan Budi Arie Setiadi (FISIP UI, terakhir menjadi Ketua ProJo --ProJokowi-- yang aktif di PDI Perjuangan). Atau, jika menyebut nama lain, Robertus Robert, seorang sosiolog tangguh FISIP UI.

***

Hubungan saya dengan Nusron bisa dikatakan penuh dengan kritikan-kritikan pedas. Nusronlah yang telah “menjerumuskan” saya sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Depok, walau kemudian ia lebih memilih aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Depok.

Pernah suatu kali, sahabatnya melapor ke saya, betapa Nusron memanjat loteng di kostannya, lalu berpuisi di sana dengan bait: “Biarkan aku menyatu dengan Tuhanku.” Saya mendatanginya dan bertanya maksudnya. Ia menjawab polos, betapa kehabisan uang untuk melanjutkan kuliah. Bersama yang lain, saya memungut bantuan dari mahasiswa yang lain.

Saya juga tahu, betapa Nusron memilih tinggal di sebuah mesjid di bilangan Pasar Minggu, lalu setiap saat melantunkan azan. Ia juga mengajarkan anak-anak mengaji. Toh sikap nyelenehnya tidak hilang. Ia pernah bilang ke saya, habis menemui Putri Wong Kang Fu, seorang ahli nujum yang barangkali melebihi kharisma almarhum Mama Laurent. Nusron bilang ke saya, bahwa ia akan bepergian ke luar negeri. Kadang saya berpikir, barangkali karena itu Nusron terpilih sebagai Kepala BNP2TK).

Karier Nusron yang terbaik menurut saya adalah ketika menjadi seorang penulis. Ketika ia menjadi jurnalis Bisnis Indonesia, saya mulai meraba perubahan dalam nada bicaranya. Ia lebih banyak mengikuti perkembangan di dunia ekonomi, ketimbang aksara, dinamika dan rasa yang ia dalami dan selami bertahun-tahun di bangku kuliah.

Saya tahu proses “peralihan” Nusron, sebelum ia memenangkan posisi sebagai Ketua Umum PMII dalam Muktamar di Medan. Saya juga mengetahui cara ia membangun komunikasi dengan para elite politik, termasuk Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, lalu Setya Novanto.

***


Toh bagi saya, semua hal yang ia lakukan sekarang, tidak lebih menarik dari seorang Nusron yang saya kenal selama kuliah di UI. Maaf, ia panuan dan hampir tak yakin betapa panu itu bisa diobati.

Entahlah, apa saran saya ia ikuti, betapa panuan dengan mudah bisa diobati dengan cara memanggang lengkuas dan jahe di dalam selendang, sampai memunculkan minyak. Lalu, minyak itu dioleskan di area panuan, hingga kulit seakan merasa dikelupas. Sebagai orang kampung yang sering tidur di surau atau tikar pandan di lantai tanah rumah kami, saya juga pernah mengalami panuan.

Nusron itu nyentrik, sehingga saya mencatatnya dalam bentuk dua puisi berikut:

Kembalilah!
Kepada Weha Kauman

Kulihat keretamu berjalan pelan,
Lintasi deretan-deretan kebun dan sawah,
Serta nyanyian desiran angin di sudut jendela.

Kau bawa beban itu,
Menggumpal dalam dadamu,
Habiskan kata-kata di tenggorokan waktu.

Lama kau termenung akan arti hitamnya kehidupan.

Kawan,
Jangan biarkan anak-anak ayam kehilangan induknya,
Yang mengais dekat pintu kamarmu.
Jangan biarkan puisi-puisi tanpa makna,
Karena kau tak hadir dalam setiap upacara penguburan kata-katanya.

Kita telah saksikan,
Ketidak-adilan ditayangkan lewat layar kaca,
Kemewahan dipamerkan dalam rumah-rumah kardus di bawah jembatan,
Kemaksiatan diedarkan lewat media-media massa atas anggaran dana-dana rakyat.

Setan yang menyeringai,
Didatangkan dari neraka untuk menyiksa para demonstran dalam ruang tawanan.

Aku tak tahu,
Kapan kita sanggup membebaskan diri,
Dari kereta waktu yang bergerak cepat ini?

Di sudut stasiun ini,
Aku hanya berharap:
Kembalilah,
Dengan bekal iman yang melimpah.
Jangan biarkan dunia berdiri,
Menunggu sampai akhir zaman,
Di tengah gemerlapan kota.

Kita akan bersama lagi,
Membuka kunci mushalla-Nya,
Di setiap malam yang gelisah.
(Lenteng Agung, 26 Februari 1995)

Hampir setahun kemudian, saya mencatat lagi satu puisi tentang Nusron.

Kita Butuh Wajah, oleh Nusron

Kita butuh wajah,
Bukan topeng.
Dis ana ada aliran darah,
Sekalipun ditutupi bedak tebal dan bau alkohol.

Kita butuh wajah:
Bersih melambung bagai kapas putih.
Ke udara beku.
Indah menguakkan bilur-bilur rindu.
Di tanah gersang.

Bukan, kawan, kita tak butuh itu!

Kita butuh wajah.
Sekalipun ada tangis.
Sekalipun ada pilu.
Tanpa kebengisan.

Kita butuh wajah.
Meskipun dilumuri darah.

Kita butuh wajah!
Merah bagai darah!

Di hadapan muka-muka murka!
Di dalam tank-tank baja!
Di hadapan kita!

Kita butuh wajah: “Waaaaaj...aaaaaah”

(Pusgiwa UI, 21.45 WIB, 24 Januari 1996)

Dokumen Asli Identitas Nusron Wahid
Dokumen Asli Identitas Nusron Wahid
Sebagai sesama aktivis pers kampus, Badan Otonom Suara Mahasiswa UI selalu menyediakan buku tebal untuk saling berkirim pesan. Di dalam buku itulah, kami menulis apa saja, dari puisi hingga catatan harian, dari saling tegur hingga utang beli indomie yang belum dibayar, sampai bahasa-bahasa konyol orang-orang kasmaran yang dituliskan untuk seorang mahasiswi pujaan tetapi pakai nama samaran. Dan kami semua tahu, walau ditulis semirip mungkin dengan tulisan tangan sang empunya nama, tetap saja penulis aslinya kami ketahui.

Nusron lebih beruntung dari saya, dalam hal pekerjaan pascakuliah. Saya tamat tahun 1997, ketika krisis nilai tukar mata uang Bath menyerang Thailand, lalu menjadi badai krisis ekonomi yang menyerbu dunia selatan. Sekitar 19 surat lamaran pekerjaan yang saya tulis – saya tidak mau menulis surat ke 20, mengingat saya lahir tangal 19 --, tidak satupun yang dipanggil, rerata sebagai wartawan.

Nusron? Ia setahu saya menjadi wartawan Bisnis Indonesia dan lain-lainnya dengan cepat. Ia berkarier bersama Andari Karina Anom (Tempo) dan Achmad Noerhoeri (The Jakarta Post, Reuters, Bloomberg, dan sekarang tinggal di London, Inggris, menjadi seorang peneliti).

Bersama Nusron, saya ikut mementaskan musikalisasi puisi I Yudhi Sunarto yang berjudul “Memandang Indonesia dari Bulan”. Kami berdua, dalam pakaian berbaju hitam, mengapit Rossiana Silalahi, kawan saya yang selalu mendapat tempat sebagai seksi acara (marah-marah, intimidatif) dalam setiap kali penerimaan mahasiswa baru. Bersama Nusron, saya lebih banyak lagi melakukan aksi-aksi demonstrasi di kedutaan-kedutaan besar Rusia, Amerika Serikat, Inggris dan lain-lain dalam isu-isu Palestina, Libya, Chechnya, hingga Bosnia Herzegovina.

Nusron adalah orator yang baik, melotot, tapi tetap tak kehilangan nada puitis yang sering saya sebut: “Hanya Nusron yang mengerti, arti dan makna puisi yang ia tulis. Bukan hanya itu, cara ia menulis menunjukkan betapa ia pandai menggunakan diksi yang bahkan sayapun tak tahu dasar-dasar teori dan referensi yang dipakai.”
Dan suatu hari, Nusron menemukan puisi berikut di dalam catatan harian saya:

Bangun Tengah Malam

Aku terjaga dari mimpi panjang,
seorang demonstan.

Angin serempak menghalauku,
ke dedaunan hijau.

Puncak Merapi,
Jelas di sini.
Dengan berani,
Semburkan api.
Pada langit biru,
Nan mati.

Ada bisikan:
“Hentikan demonstrasi!
Mulailah mengaca diri!”

(Sleman, Yogyakarta, 07 September 1995)

Saya masih ingat, Nusron memuji satu puisi ini dengan nada yang sangat meyakinkan, dari ratusan puisi yan saya sudah tulis. “Ndra, selama ini lu ndak pernah menulis puisi. Yang lu tulis: pamflet. Ini satu-satunya puisi yang pernah lu tulis. Lu sudah layak disebut sebagai penyair dengan puisi ini,” ujarnya.

Ah, entahlah. Saya masuk UI tahun 1991, lalu Nusron tahun 1993. Ia mungkin sudah mulai mendengar cerita tentang saya, betapa setelah kalah dalam Pemilihan Raya (Pemira) Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas Indonesia (SMUI) tahun 1995, saya mulai menjadi seseorang yang egois.

Salah satu sikap egois itu, saya pacaran dengan seorang mahasiswi Jurusan Ilmu Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI. Pacar satu-satunya saya itu – sekarang menjadi istri saya – seringkali “ngambek”, akibat saya lebih mementingkan demonstrasi, bepergian keluar kota, hingga menjadi patung bergerak atau robot yang hanya peduli pada serakan koran bekas untuk dibaca, ketimbang bicara dengannya.

Saya bangun tengah malam dan langsung memikirkan itu. Ketika mampir di Jalan Malioboro, sebelum pulang ke Jakarta dengan naik kereta api -- bersama rombongan Kelompok Studi Mahasiswa UI Eka Prasetya yang habis melakukan Penelitian Besar tentang Dampak Ekonomi Pertanian Salak Pondoh di Klaten – saya lantas membeli tulisan “I Love You, Ida” yang terbuat dari plastik yang di dalamnya dialiri air warna ungu. Tulisan itu dibuat dengan cara dibakar. Akibat lama sekali memegangnya di atas kereta api sepanjang Yogyakarta – Gambir, Jakarta, saya tertidur dan tulisan itu retak.

Saya ingat, pacar saya terpaksa meneteskan plastik baru agar tulisan itu tetap bersambung. Ketika pacar saya menulis skripsi dari riset beberapa bulan yang berhasil mengubah singkong menjadi plastik – “Agar plastik itu bisa langsung dimakan,” katanya – saya langsung becanda: “Oh, bahkan skripsi kamupun terinspirasi dari tulisan retak “I Love You, Ida itu, ya?”.

Nusron seolah tahu, padahal tak pernah bertanya, tentang kenapa saya terbangun tengah malam itu. Dan sekarang, ketika ucapan-ucapannya dalam “membela” Basuki Tjahaja Purnama alias A Hok, mendapatkan reaksi sangat negatif di media-media sosial; saya ingat lagi dengan kehidupan Nusron yang bak drama riuh rendah Ana al Haq yang menjadi pusat kontroversi Syeikh Siti Djenar.

Atau ia mungkin sedang belajar dari filsuf asal Jerman Friedrich Wilhelm Nietzsche pada akhir abad ke-19 yang mengatakan “Tuhan telah mati.” Nietszche membawa lentera ke pasar-pasar malam, sambil mengatakan: “Mana Tuhan? Mana Tuhan? Lihat, Tuhan tidak ada. Tuhan telah lari. Tuhan telah mati.”

Ada apa dengan Nusron? Apakah Nusron berubah? Saya kembali ingat puisinya dulu, ketika kehabisan uang untuk membayar kuliah: “Biarkan aku menyatu dengan Tuhanku.”

Hanya Nusron yang tahu, bagaimana proses penyatuan itu. Nusron sudah mengalami perjalanan begitu panjang. Dengan bingkai yang begitu penuh dengan sentimen negatif – dan bahkan hitam sekarang – saya tidak tahu, apakah ia tahu? Sekalipun satu partai, serta pernah sama-sama menjadi ujung tombak Poros Muda Partai Golkar untuk Jokowi – JK, saya hampir tidak pernah bicara panjang dengannya.

Hanya sekali saya makan siang bersamanya, di FX Senayan, usai Pilpres 2014, dengan tujuan hendak mendirikan satu yayasan di kawasan Depok, guna membantu mahasiswa-mahasiswa “kampungan” seperti kami. Kala itu, saya sempat bertanya, apa ia bermaksud maju menjadi Walikota Depok. “Lu kayak ndak kenal gua aja,” ujar Nusron, singkat.

Entahlah, mungkin saya mengenalnya, atau sama sekali hanya meraba saja. Ia saya lihat terlalu bergegas, dalam beberapa kali kesempatan langka ketika kami berpapasan dalam acara-acara partai yang tak banyak itu. Dan pun dalam soal Ahok, saya mencoba menghubunginya, guna membicarakan sepak-terjang yang ia lakukan yang entah kenapa, saya tak menilainya sebagai gerak cepat ala Nusron.

Baca: Ini 50 Tokoh Muslim Paling Berpengaruh Dunia, Jokowi di Urutan 13

Ya, Nusron bukan orang yang berada di depan, ketika seseorang sudah ada di depan. Ia lebih mirip sebagai seorang peretas, man in crisis, bukan sebaliknya: merenangi arus sungai ke arah muara.

Ketika elektabilitas Ahok berada di atas puncaknya, lalu Nusron memimpin tim sukses pemenangannya – sebelum digantikan Prasetyo dari PDI Perjuangan – saya membatin: “Nusron tak sedang memunggungi kepala seekor kerbau sambil meniup seruling di atas badannya, dengan keyakinan penuh betapa kerbau itu tahu jalan pulangnya. Nusron sedang bekerja untuk sesuatu yang jelas ia tak seberterus-terang sebagaimana saya mengenalnya.”

Wallahu’alam Bisshawab

Talib III Dalam, Krukut, Tamansari, Jakarta Kota (Barat), 14 Oktober 2016

Indra J Piliang