Billboard Ads

Pustaka Arrahmah.co.id - Kelompok Islam berideologi Hizbut Tahrir di Indonesia semangat dan optimismenya memang luar biasa. Pengkaderannya juga rapi, walaupun tidak henti-hentinya dikritik, ditentang karena membawa ideologi transnasional yang mengancam kedaulatan NKRI.

Pujian ini disampaikan oleh Direktur Indonesian Muslim Crisis Center , Robi Sugara sebagai salah satu pembicara dalam peluncuran buku “HTI, Gagal Paham Khilafah” karya Makmun Rasyid  pada Kamis, 06 Oktober  2016 di Aula Madya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Robi Ia mengatakan “Saya mengapresiasi aktivis-aktivis HTI yang tidak patah semangat dalam menyuarakan ideologinya. Dan kita juga harus belajar dari HTI, karena pengkaderannya yang bagus”.

Pembicara yang juga Dosen HI UIN Jakarta ini melihat bahwa HTI sebenarnya memperkuat demokrasi. Ia mengatakan “HTI dalam demokrasi, saya kira bagus. Bagusnya adalah dalam demokrasi , HTI ini bisa menjadi penyeimbang Pancasila”.

Ia melanjutkan “Dan kritikan-kritikan HTI ini akan memperkuat demokrasi. Dan secara langsung sebenarnya , dengan menjadi oposisi demokrasi, HTI akan memperkuat dan sangat sayang dengan demokrasi” jelasnya.

Walaupun begitu, ia mengaku akan tetap memilih demokrasi sebagai sistem pemerintahan di Indonesia. “Kalau saya ditanya memilih Demokrasi atau khilafah, saya akan memilih demokrasi. Karena di dalam demokrasi, aktivis HTI bisa hidup. Tapi di dalam sistem khilafah, demokrasi tidak bisa hidup” tandasnya.

Sedangkan menurut penulis buku, Muhammad Makmun Rasyid dari awal sudah mempertanyakan kenapa Hizbut tahri di Mesir tidak diakui. “Pertanyaan saya adalah mengapa ulama-ulama al-Azar tidak ada satupun yang memberi justifikasi atas ideologi khilafah itu sendiri” tegasnya.

“Dan ini tidak pernah dijawab oleh orang-orang Hizbut Tahrir. Tidak ada satupun yang mengulas kenapa ulama-ulama al-Azar satupun yang mendukung ideologi ini”, kembali ia menegaskan.

Penulis yang juga santri utama dari KH Hasyim Muzadi ini, juga meragukan legalitas HTI di Indonesia. “Salah satu ciri khas dari organisasi adalah mengakui Pancasila, tetapi kenapa HTI itu diakui sebagai ormas oleh pemerintah RI? Jadi jangan salahkan, kenapa HTI tetap ada, kalau pemerintah memberikan wadah “ jelasnya.

Acara yang dilaksanakan atas kerjasama penerbit buku Pustaka Compass dengan HMJ Ilmu Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin. Rangakain acara berjalan lancar. Dihadiri oleh sekitar 300 mahasiswa UIN Jakarta, yang sebagian dihadiri kader dan aktivis HTI.

Peluncuran yang dilanjutkan diskusi buku ini semakin seru karena juga dihadiri oleh pihak DPP HTI. Pembicara lain yang juga hadir andalah Ust. Shofiuddin, S.Pd., MA.Pd, (Dosen STKQ-Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an).

Sebelumnya, peluncuran buku ini dihadiri beberapa tokoh untuk menyambut dan mengapresiasi. Antara lain , Dekan Fak. Ushuluddin, Dr. Arif Zamhari (Ketua STKQ Al-Hikam Depok), KH. Mohammad Thohir, SQ (Ketua PCNU Kota Tangerang Selatan) dan Zainul Milal Bizawie (Penulis Buku “Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad” dan buku “Masterpiece Islam Nusantara”). (Dodit-Zaenal Abidin/Ibn Yaqzan)