Billboard Ads

Pesantren Mustafawiyah
Pesantren Mustafawiyah
Oleh: M. Rikza Chamami

Setiap kutatap Kyai, pandanganku mulai basah. Entah kenapa. Itu otomatis terjadi. Pagi ini nampak terbalik. Justru para Kyai yang basah menatap santrinya. Entah kenapa? Sebab santrinya bagai lautan.

Siang hari saat semua pasukan kirab pulang, teman-teman panitia masih bereskan semua perlengkapan. Mataku kembali basah. Senior kami dengan penuh kesabaran turut serta memberesi semua.

"Ini semua demi Kyai Mas" bisiknya lembut padaku. Padahal ku tahu kalau ia bukan orang biasa, melainkan sudah punya santri dan mengajar. "Itulah santri" gumamku. Tak ada istilah Kyai bagi santri kalau masih ada Kyai di atasnya.

Pagi tadi (22/10/2016) menjadi bukti. Kyai, santri, pejabat, akademisi, TNI, Polri dan seluruh masyarakat tumpah ruah menyambut hari santri. Rasanya benar-benar nyata. Bahkan ini bukan mimpi belaka. Asli bahwa Semarang masih banyak santri.

Santri Semarang melautkan Ibukota Jawa Tengah. Banyak yang unik. Kyai muda (dan masih malu disebut Kyai) mencium tangan Kyai sepuh. Kyai sepuh pun menarik tangannya.

Lain halnya santri pelajar. Ia berburu berkah dengan mencium tangan Kyainya. Itulah santri. Budaya cium tangan guru yang sangat berarti penuh sensasi.

Tak ada yang hilang dari jiwa santri. Apa itu? Keikhlasan. Ya benar. Keikhlasan. Kurang lebih 6.000 santri berkumpul dan berjalan. Semua hadir dengan penuh ikhlas. Ingin mencari berkah dan ridla Kyai.

Itulah santri. Santri biasa. Bukan santri yang luar biasa. Ini menjadi napak tilas. Kyai jaman dahulu berjuang tanpa media sosial dan tanpa internet. Tapi jasanya nyata. Apa itu? Nahdlatul ulama masih hidup hingga kini.

Santri biasa inilah yang melanjutkan para Kyai yang luar biasa. Semoga diakui sebagai santrinya Mbah Sholeh Darat, Mbah Ridwan Mujahid, Mbah Hasyim Asy'ari, Mbah Wahab Chasbullah dan segenap masyayikh.*)