Billboard Ads

M. Rikza Chamami
Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang dan Dosen UIN Walisongo

Pendidikan Politik, Arrahmah.co.id - Mulanya saya tidak begitu tertarik ikut arus bincang Ahok dan Nusron Wahid (saya panggil Kang Nusron, karena dia senior saya satu almamater). Namun tiba-tiba saya ingin menggerakkan jemari saya membaca gemuruh fitnah yang sudah tidak sehat.
Berawal dari diskusi kecil dengan tokoh Betawi yang malas menghidupkan WA karena penuh dengan fitnah hingga banyaknya japri yang masuk bertanya soal nama asli Kang Nusron, maka di tengah kesibukan mengikuti Semiloka se Asia Tenggara ini saya mojok untuk nulis kalimat singkat ini.

Saya paham betul Kang Nusron, tapi saya tidak paham Ahok. Saya tahu pendidikan, tapi saya tidak paham pendidikan politik. Sehingga terlalu sempit jika berbicara dua instrumen yang pincang ini. Namun harus berani ditulis untuk mengisi ruang kosong.
Kang Nusron memang selalu memberikan pencerahan sekaligus gebrakan. Saya pernah dipanggil dia ke Jakarta untuk membuat event nasional di Kudus. Saya diminta muter kesana kemari. Awalnya saya "marah" dan "jengkel". Setelah selesai semua, saya diceramahi yang pedes-pedes. Tambah marah lagi rasanya emosiku.

Tiba-tiba di akhir kalimat dia bertutur, saya baru sadar. Ternyata saya sedang dilatih untuk mengenal Jakarta. Saya dilarang olehnya hanya jadi jago kandang di Kudus atau di Semarang saja. "Ternyata dia baru memberi pendidikan politik padaku" sadarku terlambat.
Lagi, ku dibuat bingung oleh Kang Nusron. Tiba-tiba saya ditelpon oleh seorang Menteri saat Presiden SBY untuk menemani beliau ke seorang Kyai kharismatik NU. Ternyata, Menteri itu menelponku disamping Kang Nusron. Sehingga kami berlima dengan ajudan dan driver berkumpul bersama naik Fortuner menuju ndalem Kyai. Ternyata itu ujian kebingungan itu.

Terakhir, baru saja beberapa bulan yang lalu saya bersama para Kyai Kudus diundang di rumah dinas Kang Nusron untuk Manakiban dan Maulidan. Aku dibuat bingung lagi. Tamunya banyak dan kita semua duduk di pojok terasa tidak dihormati. Ternyata salah dugaanku. Dia begitu menghormati para Kyai di saat yang tepat. Kyai memimpin doa, duduk VIP makan dan tentu pulangnya dihormati.

Tiga kisah itu cukup untuk menggambarkan siapa Kang Nusron. Dan masih banyak kisah pendidikan politik dari Kang Nusron yang saya dapatkan. Intinya bahwa saya sering salah tebak, karena saya tidak paham politik. Dan di balik ketidakpahaman saya harus belajar untuk paham.

Lalu bagaimana bagi yang tidak kenal, tidak tahu, tidak dekat? Sudah dipastikan akan salah paham lebih dalam.

Itulah indahnya hidup dengan segala perbedaan. Bahwa berlatih untuk berbeda itu tidak sekejap. Butuh waktu panjang. Asalkan semua tidak disadari dan didasari rasa benci.
Jika yang muncul sudah benci pada Ahok atau benci sama Kang Nusron, maka semua yang baik akan hilang. Jadi, itu bukan lagi salah paham, tapi akan menjadi paham salah.
Padahal untuk belajar pendidikan politik perlu memahami kepahaman dan kesalahan. Kepahaman sebagai basis positif dalam membangun. Sedangkan kesalahan sebagai titik negatif untuk membenahi.

Itulah politik, kata teman saya yang ahli politik. Bahwa politik susah dipahami dan mudah disalahi. Yang terpenting hari ini adalah menjaga kerukunan dengan saling menghargai dan memahami.

Sadar atau tidak bahwa hari ini Kang Nusron sedang menjadi artis yang mengalahkan viral Mukidi dan Dimas Kanjeng. Kang Nusron sedang dipopulerkan dengan gaya khas lakon ketoprak Jawa yang ganas dan trengginas.

Inilah pendidikan politik bagi bangsa Indonesia. Ternyata, santri seperti Kang Nusron yang asli ndeso diperhitungkan oleh Indonesia.

Selamat berpaham benar. Salam pergerakan.

Photo: Kompas.com