Billboard Ads

1 Milyar Shalawat Nariyah Mulai Digelar Peringati #HariSantri Nasional 22 Oktober
1 Milyar Shalawat Nariyah Mulai Digelar Peringati #HariSantri Nasional 22 Oktober

Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqofah
Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqofah. Photo NU Bogor
KHAZANAH ISLAM, ARRAHMAH.CO.ID - Menyambut Peringatan #HariSantri 22 Oktober 2016, Nahdlatul Ulama menggelar acara 1 Milyar Shalawat Nariyah untuk Keselematan Bangsa. Kegiatan ini mulai dilakukan Jum'at pagi, (21/10/2016).

Acara yang bertempat di PP Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan yang diasuh oleh Kiai Said Aqil Siroj ini selain diikuti oleh puluhan ta’mir masjid dari Kecamatan Jagakarsa, juga dihadiri oleh utusan LTM PCNU Kab. Bogor, LTM PCNU Kab. Tegal, dan puluhan ta’mir masjid dari Kota Tangerang.

Rangkaian acara ini diawali dengan pembacaan Shalawat Nariyah sebanyak 5 paket di mana satu paketnya sebanyak 4444 kali shalawat.

“Shalawat Nariyah memiliki banyak faedah. Jika membaca shalawat ini maka apa yang dicita-citakan akan terkabul secara cepat, juga bermanfaat sebagai tolak bala,” kata Kiai Said Aqil seusia pembacaan shalawat.

Selepas pembacaan shalawat, acara langsung dilanjutkaan dengan Pelatihan. Hadir dalam pelatihan ini KH Abdul Manan A. Ghani (Ketua PBNU Bidang Masjid dan Dakwah), H Mansur Syaerozi (Ketua LTM PBNU), KH. Sholeh Qosim (Wakil Ketua LTM PBNU), dan Ustadz Iwan, seorang muharrik masjid dari Kecamatan Tenjo Kabupaten Bogor.

Kiai Manan menegaskan betapa pentingnya masjid dalam sejarah Islam. “Islam lahir dari masjid dan dikembangkan melalui masjid,” jelasnya.

“Masjid merupakan pusat pergerakan dan penyebaran agama Islam. Dimulai dari Masjid Quba, lalu Masjid Nabawi, dan seterusnya,” imbuh Kiai Manan.

Sementara itu H Mansur menjelaskan perihal pentingnya masjid untuk beroperasi secara mandiri. Melalui tema Membangun Kemandirian Keuangan Masjid, Mansur menyatakan bahwa peredaran uang terbesar ada di masyarakat.

“Untuk menjalankan roda pemerintahan, negara menyusun APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara). APBN tidak lain diperoleh dari rakyat, minta ke masyarakat, melalui pajak dan cukai,” jelas Mansur.

“Oleh karena itu, ta’mir masjid harus mendekati masyarakat, mendekati jamaahnya, tidak lain dengan program-program yang mereka butuhkan,” tambahnya.

Setelah itu Mansur menjelaskan strategi pendapatan masjid melalui Gismas (Gerakan Infak Sedekah Memakmurkan Masjid dan Masyarakat).

Penjelasan Mansur dilanjutkan oleh Ustadz Iwan yang memberikan testimoni proses perjuangan bagaimana menggerakkan Gismas di Kecamatan Tenjo.

“Ada ustadz yang tidak setuju, ada yang menuduh uangnya akan saya ambil, ada yang marah lalu meremas kaleng Gismas sampai peot dan membantingnya ke tanah di hadapan saya,” papar Ustadz Iwan.

“Saya tidak marah. Saya hanya menanggapinya dengan pertanyaan detail ada berapa fakir miskin dan yatim piatu di daerah situ, dan apakah sudah ada jalan untuk membantunya,” tambahnya.

“Dari situ biasanya mereka mulai terbuka,” imbuhnya.

Acara pelatihan ini dilanjutkan dengan tanya jawab dan masukan-masukan yang sangat bermanfaat bagi pengembangan kemasjidan.

Acara ini ditutup langsung oleh Ketua Umum PBNU. Disampaikan oleh Kiai Said dalam sesi penutupan bahwa pembacaan Shalawat Nariyah sudah mencapai lebih dari satu milyar dari target yang direncanakan.

“Sepuluh persen saja yang ikhlas, dan yang dikabulkan, itu sudah mampu menyelamatkan kita dan membawa keberkahan bagi Indonesia,” tutup Kiai Said yang kemudian dilanjutkan doa dan salam-salaman yang diiringi Shalawat Badar.

Sumber: NU Online
Editor: Mas Mus