Billboard Ads

Peringatan Bom Kuningan
Peringatan Bom Kuningan
Oleh: Laode Arham
Counter Radikalisme, Arrahmah.co.id - Hari itu 9 September 2004. Langit di Jakarta nampak cerah. Orang-orang bergegas, bergerak menjalani hidup. Jalan Rasuna Said di kawasan Kuningan, ramai dan lancar di pukul 10an siang. Hingga muncul sebuah mobil box melewati kantor Kedutaan Besar Australia. Beberapa personel satpam Kedubes tampak berjaga di pos. Ada pula yang lalu lalang seperti patroli. Sebuah bus metromini parkir di seberang jalan berisi sopir dan 3 penumpang mahasiswa/mahasiswi yang hendak ke kampus. Beberapa kendaraan mobil dan motor berada dalam jarak yang sangat dekat dengan mobil box tersebut. Tepat pukul 10.30 mobil itu membawa pesan kekerasan yang takan pernah dilupakan. Aksi teror yang paling brutal setelah bom Bali I dan bom Bali II. Ratapan kematian dan derita karena luka bom tersebut pun mulai mengisi relung hidup para korban dan keluarganya.
Sudirman Said, salah seorang satpam Kedubes yang selamat. Albert dan Nanda adalah penumpang di bus itu. Sementara Iwan dan Lyla istrinya berboncengan motor melintas di seberang jalan mobil box tersebut. Sudarsono tengah menyetir mobilnya. Keenamnya berada dalam satu momen. 11 orang meninggal akibat ledakannya. Puluhan orang luka-luka, terpanggang, tertusuk aneka benda material di kepala dan anggota tubuh lainnya hingga mengalami cacat seumur hidup. Namun Lyla (istri Iwan), menyusul kesebelas (11) orang tersebut di 2 tahun kemudian, akibat luka-retak di pangkal tulang belakang yang membusuk dan tak tertolong lagi. Entah berapa lagi yang menyusul sang ilahi dengan asbab ideologi dan aksi kekerasan.
Sudirman, Albert, Nanda, Iwan dan Darsono menjadi korban langsung dari aksi teror maut tersebut. Mereka berada dalam jarak yang sama dengan para korban meninggal lainnya. Mereka bisa saja mengalami kematian. Tubuh mereka yang hidup meninggalkan jejak yang kasat mata: luka bakar, cacat tubuh seperti kehilangan salah satu organ mata. Bandingkan dengan beberapa gedung, bangunan, jalan dan kendaraan yang saat kejadian tak punya wujud. Hancur seketika. Namun, jejak bangunan dan kendaraan itu kini tidak ada lagi. Benda mati dapat diganti, namun nyawa dan kehidupan yang berlalu tak akan pernah kembali.
Merekalah sebagian kecil dari para survivor, penyintas. Yang selamat dari lorong kematian. Yang setelah melewati jalan kematian yang disebabkan bom dengan daya ledak yang sangat tinggi tersebut, mereka masih harus melewati lorong kematian yang mengenaskan: para dokter dan perawat di rumah sakit tidak segera menangani mereka. Siapa yang bertanggungjawab? Nanda menunggu berjam-jam, Darsono mengira akan mati perlahan-lahan. Sudirman sudah siap menyambut malakul maut. Tetapi takdir berkehendak lain. Sementara Iwan, di saat bola mata kirinya menyembul keluar, ia masih gembira dengan berita kelahiran putranya yang dicaesar . Lyla masih tak merasakan retak tulang punggungnya (akibat jatuh dari motor) karena buah hatinya yang lahir selamat. Kegembiraan muncul dalam kesakitan. Hidayah dan semangat hidup menyambangi mereka. Kebangkitan adalah satu-satunya jalan.
Pada saat itu, Albert dan Nanda masih kuliah. Darsono seorang konsultan, sedangkan Sudirman satpam, Iwan sudah diterima di sebuah perusahaan IT. Mereka dan para korban bertemu dalam satu momen yang kelak mempersatukan mereka. Selama berbulan-bulan, hingga tahunan mereka melewati fase-fase krusial
dalam hidupnya: fisik dan non-fisik, jasad dan rohaninya. Perjalanan fisik mereka dilewati dengan serangakain operasi bedah plastik, pencakokan anggota tubuh, pemasangan benda palsu dan sebagainya, hingga tindakan medis ke Australia. Sementara perjalanan rohani mereka dilewati dengan segala perasaan yang penuh amarah, tanda tanya, galau, kesal kepada kenyataan; yang bercampuraduk dengan kerinduan pada keluarga, teman dan suasana bahagia seperti sedia kala, serta bersyukur pada Tuhan atas "kesempatan yang kedua".
Pada akhirnya, bersama korban dan keluarga korban lainnya mereka menyatu dalam ikatan emosional yang saling menguatkan yakni Forum Kuningan. Bersamaan dengan itu, para korban dan keluarga korban dari peristiwa bom Bali, dan bom Marriot mengajak mereka untuk meningkatkan persatuan dan kebersamaan senasib melalui wadah Asosiasi Korban Bom di Indonesia (ASKOBI). Dengan berbagai latarbelakang kelas, pekerjaan, etnis, agama dan tingkat pendidikan, rupanya Asosiasi ini berjalan menuju kehancuran. Segelintir orang pintar dan lincah di dalam organisasi guyuban ini seakan berjalan sendiri dan berlari jauh meninggalkan kawan-kawannya yang membutuhkan banyak hal. Kebutuhan yang tidak sekadar panggung (forum-forum undangan) dan terapi healing, namun juga perhatian akan perasaan dan kebersamaan yang terbagi, tersalurkan dan termanifestasi dalam saling pengertian dan pemahaman.
Tetapi untuk bersama dalam senasib dan berjuang untuk apa yang menjadi hak mereka tidaklah mudah. Masalahnya yang utama terletak pada apa yang para psikolog sebut dengan istilah Post Traumatic Syndrome Disorder (PTSD). Yakni momen ketidakstabilan emosi karena efek trauma yang bisa muncul secara tiba-tiba, kapan saja dan di mana saja. Seseorang yang terlihat sehat dan kuat secara kasat mata, namun ternyata retak emosinya.
Tapi mereka tak putus asa. Tahun 2014 di Bali, mereka mendeklarasikan Yayasan Penyintas Indonesia (YPI). Setelah melewati pergualatan antarkelompok, emosi dan jiwa serta pikiran mereka, YPI menjadi yayasan resmi berbadan hukum di Januari 2016. Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi menyebut mereka sebagai, "orang-orang yang dipersatukan oleh Tuhan dan diberi mandat untuk menyampaikan pesan perdamaian. Kisah mereka adalah cermin utuh dari sadisme terorisme, dimana kehidupan mereka telah dipertaruhkan, sehingga harga sebuah kehidupan tak akan pernah terbayar oleh ideologi keagamaan manapun." Ya, para penyintas adalah takdir Tuhan untuk kita semua agar menghargai kehidupan dan umat manusia.
Laode Arham, Deputi Direktur AIDA (Aliansi Indonesia Damai)

Sumber: Aida.or.id

By