Billboard Ads

Perayaan Hari Kemerdekaan Saudi
Perayaan Hari Kemerdekaan Saudi
Khazanah Islam, Arrahmah.co.id - Hari ini, 23 September, adalah Hari Kemerdekaan Saudi. Karena tahun ini hari kemerdekaan jatuh pada hari Jumat (yang merupakan hari libur rutin di Saudi), maka pemerintah memutuskan Kamis, 22 September (kemarin) sebagai hari libur nasional. Asyikkan, jadi libur tiga hari: Kamis, Jum’at dan Sabtu. Saudi termasuk negara yang jarang mempunyai hari libur. Hari libur nasional di negara-kerajaan ini cuma seminggu pada waktu musim haji (biasanya tanggal 7-13 Dzulhijah) plus hari kemerdekaan ini (23 Sept).

Apakah itu berarti masyarakat Saudi adalah masyarakat pekerja keras sehingga sangat jarang hari libur nasional? O bukan. Saudi tidak perlu banyak hari libur nasional karena hampir tiap hari warga disini “libur” he he. Mungkin Saudi adalah negara paling santai di dunia. Semua serba santai: jam kerja santai, kerja santai, urusan santai, janjian santai, dan seterusnya. Pokoknya semua-muanya santai (kecuali transfer gaji he he). Waktu efektif di Saudi mungkin habis Isya (19:30) sampai jam 10 malam. Menurutku, Saudi adalah negara yang mengikuti “teologi santai” atau “teologi insya Allah”. Jadi, semua urusan adalah “Insya Allah”. Karena itu, kalau urusan Anda tidak kunjung beres, jangan salahkan manusia karena semua itu adalah atas “kehendak Allah”.

Sebagaimana negara-negara lain yang heroik dan bersuka-cita merayakan hari kemerdekaan masing-masing, Saudi juga sama. Dari nak-kanak, da-muda, di-mudi sampai pak-bapak dan bu-ibu semua merayakan hari spesial kemerdekaan di ruang-ruang publik: stadium, pantai, lapangan, sekolahan, dlsb. Berbagai atribut berlambang bendera kerajaan dibuat untuk memeriahkan kemerdekaan: kaos, topi, baju, dlsb.

Mereka bersuka-ria melambai-lambaikan bendera kebesaran kerajaan sambil berjoget, berdansa dan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dengan hidmat dan penuh semangat nasionalisme. Bendera kerajaan dikibarkan dengan khusyuk dan penuh hormat. Anda bisa lihat di You Tube ada seabrek video tentang perayaan kemerdekaan ini. Berbagai atribut tentang pentingnya cinta terhadap bangsa dan kerajaan serta vitalnya bela negara juga dicetak, dipajang, disebarluaskan dan dipasaran di berbagai tempat publik. Toko-toko dan mall-mall menggelar diskon besar-besaran untuk menyemarakan hari kemerdekaan. Pokoknya meriah banget deh.

Sudah sering saya katakan bahwa warga Saudi itu sangat patriotik dan nasionalistik. Tentu saja ada pengecualian disana-sini. Pada waktu perayaan kemerdekaan seperti ini, berbagai “identitas kesukuan” lokal-primordial melebur menjadi “identitas kebangsaan” nasional-universal. Semua riang-gembira mengibar-ngibarkan bendera negaranya tanpa ada kekhawatiran menjadi musyrik atau menjalankan bid’ah.

Kalau bid’ah ya karena Nabi Muhammad dulu tidak menggunakan bendera. Tapi menjalankan bid’ah di dunia masa kini ya wajar lah dan memang harus karena zaman berubah, dunia berubah. Masak manusia modern sekarang harus hidup persis seperti manusia pada 14/15 abad yang lalu? Masak hormat terhadap bendera saja kok dianggap sebagai “menyekutukan Tuhan”? Masak “menghormat bendera” = “menyembah bendera”? Ayak ayak wae. Mikir dikit napa…

Prof. Sumanto al Qurtuby
Jabal Dhahran, Arabia